Pulau Abadi

Pulau Abadi
Wanita dalam Lukisan


__ADS_3

Adzan subuh berkumandang, dan kini, Franky berdiri di sebuah jalan yang sepi, tepatnya di depan sebuah gapura.


"Di mana ini?" tanya Franky dalam hati.


Dia melihat ke sekeliling, dan tiba-tiba dia mendengar suara dari atas.


Franky menengadahkan kepalanya, dia pun melihat lukisan yang tertempel di atas gapura itu.


"Lukisan? Lukisan siapa itu ya?"


Franky memperhatikan lukisan itu dengan seksama.


Di dalam lukisan itu, tergambar sosok wanita, berkebaya dan berkerudung serba putih, sosok wanita dalam lukisan itu pun tersenyum ke arah Franky.


Franky terkejut bukan main. "Apa aku nggak salah lihat ya?" batinnya.


Franky pun kembali mengamati lukisan itu, kali ini dia melihat sosok wanita yang berada di dalam lukisan itu, seakan bergerak hendak keluar.


Franky benar-benar heran, dia mengucek matanya, dan terus mengamati lukisan itu. Dan seketika, Franky melihat sosok wanita dalam lukisan itu, melayang keluar, dan kini berdiri membelakangi Franky.


Franky benar-benar tak percaya dengan apa yang dilihatnya, kemudian, dia pun memberanikan diri untuk bertanya.


"Siapa kamu?"


Sosok wanita itu tak menjawab pertanyaan Franky, namun dia justru berjalan perlahan, menjauhi Franky. Dan Franky pun mengikutinya, dan wanita itu, terus berjalan tanpa henti.


"Tunggu!" seru Franky.


Namun, wanita itu terus berjalan, tak menghiraukan ucapan Franky.


Franky pun mengikutinya dari belakang, dan kini mereka sampai di sebuah pantai. Wanita itu terus saja melangkahkan kakinya, hingga ke tengah-tengah laut. Franky mengerutkan keningnya, raut wajahnya memancarkan rasa ingin tahu.


"Sebenarnya, siapa wanita itu? Kenapa dia masuk ke laut itu? Aneh sekali, apa dia nggak takut tenggelam?" batinnya.


Kini, wanita itu telah berada di tengah laut, dia menoleh sebentar ke arah Franky, lalu tersenyum dan kembali berjalan hingga jauh ke tengah laut. Dan air laut itu kini telah menutupi sebagian tubuh wanita itu. Franky ingin mengikutinya, namun, dia takut dengan air laut. Akhirnya, wanita itu menghilang dari pandangan.


Franky kebingungan. "Kemana perempuan itu?"


Kemudian Franky memberanikan diri, berjalan ke tengah pantai itu. Baru beberapa langkah, ombak pun bergulung dengan dahsyatnya, menerjang tubuh Franky hingga tertarik ke tengah laut itu.


"Aaaaaaaaa!"


Franky berteriak, dan seketika itu, dia terbangun dari tidurnya.


"Ya Tuhan, untung hanya mimpi," batinnya.


Franky melirik jam dinding, waktu sudah menunjukan pukul enam pagi.


"Hah? Ternyata sudah pagi," batinnya.


Franky pun beranjak dari tempat tidurnya, dan berjalan ke arah kamar mandi. Dia hendak melaksanakan ritual mandinya.


****


Di tempat lain, Joko membuka matanya.


Dia bangun, dan duduk di kursi bambunya itu, dia melirik ke arah jam dinding.

__ADS_1


"Sudah jam enam pagi," batinnya.


Joko menoleh ke kiri dan ke kanan. "Mana hantu genit itu ya."


Joko tampak sedang merencanakan sesuatu.


Tiba-tiba, kini di hadapan Joko, muncullah Lisa.


Joko pun terkejut. "Kamu ini, bikin kaget saja!"


Lisa terkekeh.


"Kau dari mana saja? Jangan bilang, kalau kau membuat kekacauan di desa ini," tukas Joko.


"Pede sekali kamu, memangnya aku ini tukang pembuat onar," cetus Lisa.


Diam- diam Joko mengeluarkan tongkat saktinya, namun dia tetap mengajak Lisa berbicara. Saat Lisa lengah, Joko pun menempelkan tongkat sakti itu di kepala Lisa, tepat di ubun-ubunnya.


Dia menyerap seluruh energi negatif Lisa hingga habis, dan Lisa pun menjadi lemas, akhirnya tubuhnya berubah menjadi gumpalan asap putih, dan perlahan menghilang.


Joko menyunggingkan senyumnya. "Rasakan kamu, hantu genit, mulai sekarang, nggak ada lagi, lelembut lebay yang ganggu aku, enak saja kamu, bikin aku baper, hiiiyyy, jijik deh," gumamnya.


Joko pun menyimpan tongkat saktinya, kemudian dia berjalan keluar, ke belakang rumahnya. Dia melihat tanaman ubi jalarnya sudah siap dipanen, dia pun mencabut beberapa buah ubi jalar tersebut, lalu membawanya masuk ke dapur.


Joko mengupas ubi jalar itu, lalu mencucinya hingga bersih. Setelah itu dia merebus ubi itu di dalam panci berisi air, hingga matang. Setelah matang, Joko mengambil satu buah piring, dan memindah ubi rebus dari panci ke piring.


Bersamaan dengan itu, Franky datang ....


"Eh kamu, Fran, sini masuk, kita sarapan bareng yuk, aku habis rebus ubi nih, kamu suka ubi nggak?"


"Iya nih, Fran, sini duduk," ujar Joko.


Franky pun duduk di dekat Joko, dan mengambil satu buah ubi rebus, dan memakannya. Dia terlihat sangat lahap sekali.


"Kamu lapar, atau doyan, Fran?" ledek Joko.


"Lapar, Jok, aku belum makan," sahut Franky santai membuat Joko terkekeh.


"Eh, Jok, aku tadi malam mimpi aneh sekali." Franky mengawali pembicaraan.


"Mimpi apa, Fran?" tanya Joko.


"Aku mimpi tentang lukisan yang ada di gapura, di pulau abadi itu. Oh iya, aku juga lihat lukisan perempuan itu, Jok."


"Haaa? Yang benar kamu, Fran?"


"Iya Jok. Tapi, pas di mimpi aku, perempuan yang ada di dalam lukisan itu keluar, Jok."


"Hah? Keluar gimana maksud kamu, Fran?" tanya Joko, sambil mengunyah ubi jalar itu.


"Ya keluar dari lukisan itu, Jok." Franky meyakinkan.


Joko terdiam sejenak ....


"Ah hanya mimpi saja, kan? Nggak perlu dipikir," lanjutnya.


"Iya sih, Jok, aku kan hanya cerita saja, sama kamu."

__ADS_1


"Iya, Fran, aku juga dengerin kan, hehe."


Franky pun tersenyum, dengan mulut yang masih mengunyah.


"Eh, Fran, ngomong-ngomong, aku kok ngerasa aneh sama lukisan itu."


"Aneh gimana, Jok?" Franky penasaran.


"Em, gimana ya? Ya, lukisan itu seperti hidup."


"Hah? Masa sih, Jok?"


"Iya, Fran, seperti ada rahasia di balik lukisan itu."


"Ah kamu ini, ada-ada saja, Jok."


"Aku nggak mengada-ada, Fran, makanya besok kita ke pulau abadi lagi ya, aku akan mengupas tuntas, misteri yang ada di pulau itu," tutur Joko.


"Dikupas tuntas ya, Jok? Tapi, setajam silet nggak nih?" kelakar Franky.


"Nah, sekarang kamu yang mengada-ada," kata Joko.


Franky pun terkekeh, dengan mulut penuh dengan kunyahan ubi.


"Habiskan, Fran, masih banyak kok."


"Iya, Jok, kenyang aku."


Sebentar, aku ambilkan minum," kata Joko, yang kemudian beranjak dari tempat duduknya, dan menuju ke dapur, lalu kembali lagi, dengan satu gelas air putih di tangannya.


"Sorry, Fran, hanya air putih, aku nggak punya gula, kopi, atau pun teh."


"Ah aku sudah minum teh kok tadi di rumah, santai saja, air putih nggak masalah, biar nggak seret nih tenggorokan."


Joko tersenyum, dan Franky pun meminum habis, air putih yang Joko berikan.


"Kamu nggak ada acara, Fran?"


"Enggak, Jok, kenapa memangnya? Apa kamu mau pergi? Kalau begitu, aku permisi pulang."


"Eh enggak, Fran, bukan gitu maksud aku."


"Terus?"


Ya maksudnya, kalau kamu nggak ada acara apa-apa, ya kamu main sini dulu, temani aku ngobrol."


"Oh, tentu saja, Jok, aku juga bosan di rumah sendiri."


"Ya sama saja, Fran."


"Nasib jomblo," gumam Franky.


Joko terkekeh. "Memang, Kamu nggak ada niat buat nikah lagi?"


"Nikah sama siapa, Jok? Calon saja nggak punya."


"Ya sama hantu gitu," seloroh Joko.

__ADS_1


__ADS_2