Pulau Abadi

Pulau Abadi
Kembali ke Pulau Abadi


__ADS_3

Eh, stop, stop, Fran!" seru Joko, di tengah perjalanan.


Franky menghentikan mobilnya.


"Ada apa Jok?"


"Em, sekali-kali, aku yang nyetir mobilnya dong, dari pada tanganku kaku, nggak pernah gerak, hehe."


"Oh, memangnya nggak apa-apa nih Jok, takutnya kamu capek?"


"Ya nggak apa-apa lagi, masa hanya menyetir mobil saja capek," kelakar Joko.


"Ya sudah, kita tukeran duduknya."


Franky dan Joko pun turun, mereka bertukar posisi duduknya.


"Maaf ya, Fran, aku nggak pernah nyetir mobilnya hehe," celetuk Leon, diikuti kekehannya.


"Lho, nggak masalah, Le, aku santai orangnya," seloroh Franky.


Kini, Joko yang mengemudikan mobil milik Franky.


Joko terus mengemudikan mobilnya, sambil terus berkonsentrasi, seolah sedang menerawang sesuatu.


Dua jam perjalanan, Franky tampak mengerutkan keningnya. "Jok, kita mau kemana sih?"


Joko tersenyum penuh makna.


"Kita akan berpetualang, Fran, aku jamin deh, pasti seru, hehe."


"Hah? Berpetualang kemana, Jok?" sambung Leon.


"Sudah, kalian yang tenang, nanti juga sampai kok."


Franky menoleh ke jok belakang, dia dan Leon saling berpandangan, kemudian, mereka saling mengangkat bahu masing-masing. Sedangkan Joko hanya tersenyum, seakan mengerti apa yang di pikirkan oleh kedua sahabatnya itu.


Empat jam perjalanan, akhirnya mereka tiba di sebuah tempat, yang menurut Franky dan Leon sungguh tak asing. Dan saat itu, hari pun sudah menjelang sore.


"Hah? Tempat ini kan ...." Franky mencoba menebak.


"Pulau abadi!" seru Franky dan Leon secara bersamaan.


"Lho, Jok, kamu kok tahu pulau abadi? Katanya belum pernah ke sini?" tanya Franky.


"Hey, kamu lupa sobat, kalau aku ini punya ilmu terawang, yang bisa menerawang segala sesuatu," ujar Joko sambil melebarkan senyumnya.


"Oh iya, aku benar-benar lupa, kalau kamu kan orang sakti hehe," kekeh Franky membuat Joko tersipu.


"Ya sudah, ayo kita turun," ajak Joko setelah memarkirkan mobilnya di sebuah tempat. Kemudian mereka bertiga pun turun dan berjalan di sekitar tempat itu.


Tiba-tiba, ada yang menepuk bahu Franky.


Franky pun menoleh, dia melihat seseorang berwajah tak asing berdiri di belakang Franky, dan Franky pun membalikan tubuhnya, kini posisi mereka saling berhadapan.


"Bento!" seru Franky kepada seseorang itu.


Bento pun tersenyum. "Franky, Leon, kalian apa kabar?"

__ADS_1


"Baik, Ben, wah nggak nyangka kita ketemu lagi ya," sahut Franky.


"Hehe iya, Fran, oh ya Le, kamu juga baik-baik saja kan, wah kamu tambah gendut saja," kelakar Bento kepada Leon.


"Bagaimana nggak gendut, orang hobinya saja makan," kelakar Franky.


"Hehe, iya Ben, aku baik-baik saja, yah seperti yang kamu tahu, aku tambah gendut, kalau gendut itu kan empuk dan hangat," ucap Leon dengan pedenya.


"Hangat itu, kalau punya pacar, Le," sambung Joko dengan nada mencibir.


"Yeee, kamu juga belum punya pacar kan, Jok?" balas Leon.


"Ya, tapi kan aku nggak bilang, kalau aku ini hangat dan empuk," ledek Joko.


"Sudah-sudah, jangan diteruskan, nanti pasti jadi perang dunia nih," sela Franky.


Akhirnya, Joko dan Leon pun diam.


"Oh iya, kamu mau bikin novel lagi, Fran?" tanya Bento.


"Enggak juga Ben," sahut Franky santai.


"Oh, aku pikir, kamu mau bikin novel lagi, terus cari inspirasi di sini hehe."


"Kita kesasar," sambung Leon.


"Hah? Kesasar? Kok bisa?" Bento mengerutkan keningnya.


"Iya Ben, tuh supir kita yang baru, sedang belajar menyetir, eh nggak sengaja sampai di sini," ujar Leon sambil melirik ke arah Joko, namun Joko berpura-pura tidak tahu, dia hanya berusaha menahan tawanya, karena gemas dengan temannya itu.


Bento menoleh ke arah Joko.


Belum sempat Bento meneruskan ucapannya, Franky sudah menyela terlebih dahulu.


"Oh iya, Ben, kenalkan, ini Joko, tetangga sekaligus teman aku," kata Franky.


Bento menyalami Joko. "Hai, aku Bento, teman si Franky sama Leon."


Joko balas menyalami Bento. "Salam kenal juga, aku Joko."


"Oh iya, Ben, apa di sini ada penginapan? Mungkin kita akan menginap satu malam," tanya Franky.


"Lho, kok hanya satu malam? Padahal aku kangen sekali sama kalian, apa nggak satu minggu saja, kalian di sini?"


"Yah, kita saja nggak sengaja sampai di sini, dan kita nggak bawa baju ganti, lah orang mendadak nih," kata Franky.


"Kalau masalah baju, urusan gampang, kita kan sesama lelaki nih, nah, kebetulan aku punya banyak baju yang sudah lama nggak terpakai, kalian bisa memakainya sementara. Dan untuk penginapan, sepertinya ada, nanti aku tunjukkan," kata Bento antusias.


"Tapi penginapan lho, Ben, bukan rumah kontrakan," kata Franky.


"Iya ada, Fran, sekarang ke rumah aku dulu yuk, kita istirahat, ngobrol-ngobrol dulu lah, kan sudah lama sekali kita nggak ketemu," paksa Bento.


"Bagaimana Jok?" tanya Franky kepada Joko.


"Kalau aku sih oke saja, tapi, si gendut ini, mau apa enggak," kelakar Joko, sambil melirik ke arah Leon.


"Yeee, enak saja, kamu bilang aku gendut," cetus Leon.

__ADS_1


"Lho, memang kenyataannya kamu gendut, Le," ejek Joko.


"Sudah, sudah, kalian mulai lagi deh, sudah jangan bertengkar, Le, kamu bagaimana? Setuju atau enggak?" ujar Franky.


"Ya nggak apa-apa, Fran."


"Tapi nanti kamu dicari sama nyonya Nur nggak?"


"Nanti aku hubungi tante, dia nggak mungkin marah, kan aku perginya sama kamu."


"Ya sudah, oke Ben, kita setuju," kata Franky.


"Ya sudah, ayo kita ke rumahku," ajak Bento kepada ketiga pria tersebut.


"Eh Ben, mobilnya parkir di sana nggak apa-apa?" tanya Franky sambil menunjuk sebuah tempat, di mana mobilnya terparkir.


"Oh nggak masalah, Fran, di sini aman kok, tapi sudah kamu kunci kan?" tanya Bento lagi.


"Sudah kok, Ben," angguk Franky.


"Ya sudah ayo."


Mereka bertiga pun berjalan, mengikuti langkah kaki Bento.


"Eh Ben, nanti malam ke pantai yuk, lihat pemandangan di sana, aku kangen sekali dengan tempat itu," ajar Franky.


"Kangen sama pantai, atau penunggu pantainya, Fran?"


Franky terkesiap, mendengar ucapan Bento.


"Penunggu pantai? Memangnya ada?"


"Ya pasti adalah, Fran. Setiap tempat pasti ada yang nunggu," sahut Bento, sambil terus melangkahkan kakinya.


"Oh iya, masih suka ketemu sama Aisyah nggak Ben?" tanya Leon tiba-tiba.


"Aku tiap hari ketemu sama dia terus, Le, kan rumah kita hanya depan belakang hehe."


"Oh iya ya, aku lupa, hehe." Leon meringis.


"Kenapa, Le? Kok tiba-tiba kamu menanyakan Aisyah, kangen ya, hayooo, ngaku saja kamu," Bento memojokkan Leon.


Wajah Leon merah padam. "Ah, kamu apaan sih Ben, orang aku tanya saja kok," Bento berusaha menyembunyikan fakta.


Bento memandang Franky, kemudian mengedipkan sebelah matanya, seakan memberi signal kepada Franky.


Franky pun mengangguk, pertanda bahwa dia memahami, bahasa isyarat, yang diberikan oleh Bento.


Mereka bertiga terus berjalan, hingga sampailah mereka di rumah Bento, mereka langsung di sambut oleh bu Monika, yang tak lain adalah ibu Bento.


"Eh kalian, apa kabar?"


"Baik bu, oh iya, kenalkan, ini Joko, tetangga, sekaligus teman saya." Franky memperkenalkan Joko kepada bu Monika.


Bu Monika pun segera menyalami Joko, begitu pun dengan Joko.


"Ayo, silahkan duduk," perintah bu Monika.

__ADS_1


Mereka bertiga pun duduk, di atas tikar yang sudah tergelar di ruangan itu.


__ADS_2