
"Oh, ya sudah, jadi apa yang mau kamu sampaikan?"
Franky pun menceritakan apa yang baru saja terjadi. Namun, dia tak menceritakan pertemuannya dengan arwah korban, karena Franky takut, kalau ibunya tak akan percaya.
Setelah mendengar penuturan Franky, wanita paruh baya itu terduduk lemas di dekat kaki Franky. Dan Franky pun segera memapah tubuh wanita paruh baya itu, supaya berdiri kembali.
"Ibu yang sabar ya, ikhlaskan, semua sudah takdir yang kuasa, sekarang ibu saya antar di tempat kejadian."
Perlahan, wanita paruh baya itu mulai terisak, dia pun mengikuti Franky masuk ke dalam mobilnya.
"Di rumah ada siapa saja, Bu?" tanya Franky sambil mengemudikan mobilnya perlahan.
"Saya hanya hidup berdua saja sama Dina," sahut ibu itu.
Seketika itu juga, Franky menjadi terharu, dia pun teringat dengan dirinya, yang kini tak memiliki keluarga.
Beberapa lama kemudian, Franky tiba di tempat kejadian, dia melihat beberapa polisi sudah berada di tempat itu.
Franky mengajak wanita paruh baya itu turun, dan berjalan ke arah di mana mayat Dina yang tak lain adalah anaknya tergeletak di jalan beraspal. Wanita paruh baya itu berlari, menghampiri mayat anaknya, dan tangisnya pun pecah.
Kemudian, polisi segera mengurus mayat wanita beserta sopir yang masih di dalam truk itu, dan hendak mengantar serta wanita paruh baya itu ke rumah sakit. Sebelumnya, wanita paruh baya itu menghampiri Franky.
"Terimakasih ya, Mas, sudah mengantarkan saya, dan terimakasih juga informasinya."
"Sama-sama, Bu." Kemudian Franky masuk ke dalam mobilnya, hendak pulang ke rumahnya.
"Huft, capek juga hari ini, padahal aku nggak kerja apa-apa," batin Franky sambil mengemudikan mobilnya.
Di tengah perjalanan, Franky menghentikan mobilnya, dia dikejutkan oleh sosok wanita yang mirip dengan Dina, korban kecelakaan truk itu, yang berdiri di depan mobil Franky.
"Itu kan perempuan yang kecelakaan itu," batin Franky.
Sosok wanita itu pun, tersenyum ke arah Franky seakan mengucapkan terimakasih, kemudian menghilang.
__ADS_1
"Syukurlah, semoga dia tenang di alamnya," batin Franky kemudian dia melanjutkan perjalanannya.
Akhirnya, Franky pun tiba di rumahnya, dia langsung memasukan mobilnya di garasi, kemudian masuk ke dalam rumahnya.
"Duh, kok mendadak lapar ya, bikin mie saja deh," gumam Franky, kemudian berjalan ke dapur dan mengambil mie instan, kemudian mulai memasaknya. Setelah itu, Franky menyantap mie yang telah dimasaknya.
Setelah menghabiskan mie, Franky masuk ke dalam kamarnya, dia melirik jam dinding. Saat itu, waktu sudah menunjukan pukul tiga dini hari.
"Hem, cepat sekali waktu berlalu, tahu-tahu sudah hampir pagi saja, padahal besok harus ke pulau abadi lebih awal."
Franky pun mulai berkemas, menyiapkan segala sesuatunya. Memasukkan beberapa pakaian ganti ke dalam kopernya, yang akan dibawa ke pulau abadi, tak lupa juga dengan laptopnya. Dia tak tidur hari itu, karena takut bangun kesiangan.
Setelah semua dirasa siap, Franky menaruh kopernya di dekat pintu kamar. "Oh iya, aku bawa teh melati ah, buat di sana nanti."
Franky pun berjalan ke dapur, dia mengambil satu box teh melati, lalu berjalan kembali ke kamarnya, dan memasukan teh itu ke dalam kopernya.
Kini Franky duduk di bibir kasur, dia meraih ponselnya. "Leon sudah tidur belum, ya."
Hening, tak ada balasan.
"Hem, pasti sudah ngorok dia, dasar muka bantal," umpat Franky lirih kemudian meletakkan ponselnya, di samping bantal.
"Masih jam segini, mau ngapain, ya? Tidur juga nggak ngantuk, huft, benar-benar monoton hidupku. Coba Soraya masih ada, pasti aku nggak akan segalau ini."
Seketika itu, Franky teringat akan kenangan-kenangannya bersama mendiang istrinya selama masih hidup.
Bagaimana bahagianya Franky saat itu, ketika suatu pagi, Soraya berlari kecil menghampiri Franky dan menunjukkan sebuah test pack, yang menyatakan bahwa Soraya positif hamil.
Tanpa sadar, bulir bening menetes membasahi pipi Franky. "Soraya, maafkan aku, karna gagal jadi suami yang baik, aku nggak bisa melindungimu, dari bahaya maut yang mengambil kamu dari aku."
Franky pun terisak ....
"Franky, janganlah bersedih terus, aku sudah bahagia di sana, percayalah, suatu saat nanti, kamu akan menemukan penggantiku."
__ADS_1
Sebuah suara mengejutkan Franky, dia menoleh ke kiri dan ke kanan. "Seperti suara Soraya," batinnya.
"Soraya! Kau kah itu? Soraya! Aku mohon, tunjukkan wujudmu, sekali saja. Aku sangat merindukanmu," seru Franky setengah terisak.
Samar-samar, sebuah cahaya muncul di kamar itu, dan perlahan membentuk sosok Soraya.
"Soraya?" panggil Franky sambil mengucek matanya seolah tak percaya.
Sosok Soraya pun tersenyum ke arah Franky, dan Franky pun mendekati sosok Soraya, dia bermaksud hendak memeluk tubuh Soraya. Namun, tangan Franky menembus tubuh Soraya, dia sama sekali tak bisa menyentuhnya. Dan perlahan, tubuh Soraya pun memudar, hingga menghilang dari hadapan Franky.
"Soraya! Soraya! Jangan tinggalkan aku, tolong kembalilah untukku!" seru Franky histeris.
Franky pun berjalan keluar kamar, dia mencari sosok Soraya yang baru saja dia lihat, dia berjalan hingga ke dapur, namun dia tak menemukan sosok yang dimaksud.
"Soraya! Di mana kamu? Keluarlah Soraya, jangan bermain petak umpet."
Franky terus berjalan, dia kembali masuk ke dalam kamarnya. Franky tak menyadari, bahwa di depan kamarnya ada tumpahan air, sehingga lantainya menjadi licin, dan saat Franky menginjak tumpahan air itu, dia pun terpeleset dan jatuh.
Seketika, pandangan di sekeliling menjadi gelap .... Dan perlahan, Franky membuka matanya. Dia mengamati sekeliling, kemudian dia terduduk di atas kasurnya.
"Ternyata hanya mimpi saja, aku bermimpi Soraya mendatangiku, tapi kapan aku tidur ya? Perasaan aku nggak merasa tidur." Franky mencoba berpikir sejenak.
"Astaga! Aku lupa, sudah beberapa bulan sejak pulang dari pulau abadi, aku sudah nggak pernah mengunjungi makam Soraya, mungkin dia mengingatkanku lewat mimpi," gumam Franky dalam hati.
Franky pun melirik jam dinding, dia terkejut, karena waktu sudah menunjukan pukul setengah enam, dan dapat terlihat dari jendela kamar Franky yang berbahan kaca, walaupun ditutup korden, namun saat itu hari sudah terang.
Franky bergegas mandi. Setelah itu, dia memakai kemeja berwarna putih, dipadukan dengan celana panjang berwarna hitam.
Franky menaiki mobilnya ke makam Soraya. Sesampainya, Franky segera mencari makam istrinya. Dan setelah menemukan, Franky pun berjongkok di dekat makam Soraya, dia mulai khusyuk berdoa.
Selesai mendoakan mendiang istrinya, Franky merasa lega, dia pun berdiri hendak pulang. Ketika melangkahkan kakinya, dari belakang Franky berdirilah sosok Soraya, namun Franky tak menyadarinya.
Sosok Soraya tersenyum sambil memperhatikan Franky dari belakang, yang terus berjalan hingga menjauh, kemudian sosok Soraya pun perlahan menghilang. Sedangkan Franky masuk ke dalam mobilnya, dan mobil pun melaju.
__ADS_1