
"Baiklah, tapi saya mau berpesan, di sini ada tiga kamar, tolong kamar yang tertutup jangan kalian buka."
"Tapi kenapa pak?" tanya Franky.
"Sudah patuhi saja perintah saya, kalau kalian tidak ingin celaka, pokoknya apa pun yang terjadi jangan sampai kalian membuka pintu kamar itu."
Franky dan Leon saling berpandangan, kemudian mereka mengangkat bahunya masing-masing.
"Ya sudah, hanya itu pesan saya, tapi kalau kalian merasa terganggu, saya sudah bilang, kalau kalian mau mencari tempat yang lain, silahkan."
"Nggak pak, saya sudah mantap di sini, ya kan, Fran?" kata Leon.
Franky mengangguk.
"Ya sudah, saya tinggal dulu, silahkan kalau kalian mau beristiahat, kalau butuh apa-apa jangan sungkan, bilang saja sama saya."
Feanky dan Leon tersenyum dalam anggukannya.
Kemudian pak Bima tadi berlalu dari hadapan mereka.
"Memang ada apa, Le, dengan kamar itu?"
"Entahlah, Fran, aku pun nggak paham."
"Apa nggak sebaiknya kita pindah saja, cari yang rumah biasa, dan nggak ada kamar terlarangnya?" usul Franky.
"Tapi kita mau cari kemana lagi, Fran? Ya kalau dapat, kalau enggak, malah kita yang susah, sudah cape-cape cari tempat tapi nggak ketemu."
"Ya sudahlah," Franky menghembuskan nafas kasarnya.
"Atau kita coba satu bulan saja Le? Nanti kalau nggak betah kita pindah."
"Lho memang tadi kamu membayar sewa untuk berapa bulan, Fran?"
"Aku bayar untuk tiga bulan, Le, besok kalau nggak betah, kita minta lagi uang yang dua bulan, pasti pak Bima mau mengerti kok."
"Ya sudah nggak apa-apa deh, Fran."
"Ya semoga saja novelku dalam satu bulan sudah selesai, jadi kita bisa langsung pulang."
"Iya, Fran aku dukung kamu."
"Ya sudah kalau begitu, aku mau mandi dulu, Fran."
"Iya, Le, nanti gantian aku."
Leon pun segera melaksanakan ritual mandinya, selesai mandi, kini giliran Franky yang hendak mandi.
Franky masuk ke dalam kamar mandi, ketika sedang asik mandi, lampu kamar mandi pun padam.
"Kok gelap? Apa mati listrik?," batinnya.
Franky meraba-raba dinding tembok mencari saklar lampu.
Setelah menemukan, Franky menekannya, dan dalam sekejap lampu pun hidup.
"Hah? Kok nyala, memangnya aku lupa menghidupkan tadi, perasaan aku masuk kesini sudah nyala? Apa mungkin tersentuh badan aku ya? Ah Sudahlah, lebih baik aku mandi saja."
Byuurr!
__ADS_1
Terdengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi.
Tak lama Franky keluar dari kamar mandi, dia mengeringkan tubuhnya dengan handuk, kemudian berjalan masuk ke dalam kamar untuk berpakaian.
Selesai berpakaian, Franky ke luar kamar, dia hendak menuju ke ruang tamu.
Ketika melewati sebuah kamar yang tertutup, langkah kaki Franky terhenti.
Franky menatap lekat ke arah kamar tersebut, seketika bulu kuduknya meremang.
"Kenapa aku jadi merinding begini ya?" batinnya.
Franky pun kembali berjalan ke ruang tamu, di sana sudah ada Leon sedang duduk dan merokok.
"Eh kamu, Fran, sini duduk."
Franky duduk di sebelah Leon.
"Fran, tadi pas aku lewat kamar yang di tutup itu, kok aku merinding ya."
"Yang benar kamu, Le?"
"Benar, Fran."
"Kok sama Le, aku juga baru saja lewat depan kamar itu, aku pun merinding."
"Kata orang tua jaman dulu, kalau rumah atau kamar atau ruangan apalah, kalau sudah lama nggak di tempatin oleh manusia, maka lama-lama pasti akan jadi sarang hantu," tutur Leon.
Wussshhh!
Sreeekkk!
"Suara apa tuh Le?"
"Nggak tahu, Fran."
Tempat ini benar-benar seram Le."
"Iya sih, Fran, gimana ya, aku juga nggak tahu, kalau tempatnya ternyata seperti ini, benar deh, Fran, dulu aku kesini nggak seperti ini."
"Kamu yakin Le, nggak salah tempat?"
"Enggak kok, Fran, kan waktu kita lewat gapura tadi ada tulisan lembah ilusi kan, kamu baca nggak?"
"Enggak sih Le, ya maklum aku dari tadi kurang fokus."
"Ya sudahlah, Fran, nggak perlu di pikir pusing, besok sekiranya kita nggak nyaman, kita langsung pindah saja, kita minta lagi uangnya."
"Memangnya pak Bima mau kasih uangnya lagi? Kan kita sudah kasih masa mau kita minta lagi, aku nggak enak, Le."
"Tapi kan kita nggak jadi nerusin sewanya, jadi ya nggak masalah dong, kalau kamu nggak enak, aku saja yang minta."
"Ya sudah, terserah kamu saja, Le, tapi besok kalau nggak betah kita nggak perlu pindah Le, kita pulang saja, aku rencana mau melamar Rindi pakai uang tabunganku, dan setelah nikah, aku akan nulis novel di rumah saja, kalau aku punya istri, pasti bisa fokus nulis novel, karna ada yang memperhatikanku tentunya.
"Cieee, yang benar kamu, Fran? Kamu serius mau nikah sama Rindi?"
"Ya Le, minta doanya saja semoga saja aku dan Rindi berjodoh."
"Iya, Fran, pasti aku doakan yang terbaik."
__ADS_1
Franky tersenyum senang.
Tak terasa hari pun menjelang petang, Franky dan Leon sudah berada di kamarnya masing-masing.
Leon merebahkan tubuhnya di atas kasur sambil memainkan ponselnya, sedangkan Franky sibuk mencari sesuatu.
"Laptopku di mana ya? Kenapa nggak ada?"
Franky berusaha mengingatnya lagi.
"Ya ampun, laptopnya ketinggalan di kamarku, di rumah, duh gimana ini? Percuma aku kesini kalau laptopku tertinggal, buat apa aku di sini? Huft."
Franky pun berjalan ke kamar Leon.
Tok! Tok! Tok...
"Siapa ya? Franky? Mau apa dia ya?" batin Leon, dia pun membuka pintu kamar dan melihat Franky sudah berdiri di depan kamarnya.
"Ada apa, Fran?"
"Duh gawat Le."
"Gawat kenapa?"
"Laptop ku tertinggal di rumah."
Leon menepuk keningnya.
"Kok bisa sih, Fran? Memang kemarin kamu nggak cek lagi?"
"Sudah Le, tapi aku pikir laptopku sudah aku masukan ke dalam koper, ini tadi aku coba cari tapi nggak ada."
"Duh, kamu ini bagaimana sih, Fran?"
"Ya gimana lagi, Le, namanya juga lupa."
"Hem, berarti kita pulang lagi?"
"Kita pulang saja Le, terus nggak perlu kesini lagi, aku sudah nggak betah tinggal di sini, belum ada satu hari saja, perasaanku sudah nggak enak."
Leon mengelus dada.
"Maafin aku ya, Le, sudah merepotkan kamu."
"Eh, enggak kok, Fran, aku nggak merasa di repotkan juga, aku hanya kasihan sama kamu."
"Ya sudahlah, aku akan mencoba menulis novel di rumah saja."
"Okelah, kalau itu keputusan kamu, aku pun nggak bisa melarang."
"Iya Le, nanti aku akan bicara sama pak Bima, aku nggak akan meminta uangku, kalau memang pak Bima orang baik, tanpa diminta pun seharusnya dia mau mengembalikan uangnya, tapi kalau nggak di kembalikan, ya sudah ikhlaskan saja deh."
"Kamu yang sabar ya, Fran, aku juga heran, kenapa tempat ini jadi aneh, nggak seperti dulu lagi huft."
"Sudah nggak apa-apa Le, mungkin memang tempatnya sudah berubah, kan kamu sudah bilang, kalau kamu kesini sudah lama sekali kan?"
"Iya, Fran, ya sudah kita pulang besok ya, nanti agak sore, kita ke rumah pak Bima, sekarang aku mau santai dulu, cape sekali badanku."
Franky mengangguk dan kembali ke dalam kamarnya.
__ADS_1