Pulau Abadi

Pulau Abadi
Di Balik Lukisan


__ADS_3

"Jadi, kamu juga yang tenang, jangan terlalu banyak pikiran, kasihan almarhum istri kamu."


"Iya, Jok."


****


Tak terasa, malam hari pun tiba, Leon bersiap akan berangkat kerja.


"Aku berangkat dulu ya, Fran, Jok."


"Oke, Le, hati-hati," kata Franky.


"Kalau jalan lihat-lihat Le, biar nggak jatuh," kelakar Joko.


"Ah, memangnya aku anak kecil," ujar Leon.


Franky dan Joko terkekeh, dan Leon pun segera berlalu, kini hanya tinggalah Franky dan Joko.


"Kamu mau ke pantai lagi, Jok?" tanya Franky.


"Iya, Fran, aku ingin cepat-cepat menemukan jasad Rinjani terus pulang dari sini, aku sudah nggak betah lama-lama di sini."


"Ya sama, Jok, aku juga sudah kangen sama kampung halaman-ku."


"Ya sudah, aku berangkat dulu ya, kamu sini saja."


"Iya, Jok, hati-hati."


"Oke, Fran, eh aku titip si mpus ya, aku nggak akan ajak dia takut repot, karna aku akan melakukan sesuatu yang beresiko."


"Iya, tenang saja, Jok, dia selalu tidur di dapur kan."


"Iya, Fran, sebentar aku lihat dulu." Joko pun berjalan ke dapur, dia menghampiri Nawang.


"Hey pus, aku akan ke pantai, kamu tidur saja ya, kalau aku ajak, takut kenapa-napa nanti, karna aku akan melakukan sesuatu yang beresiko."


"Meooong!"


"Iya pergilah, hati-hati, kalau bertemu paman-ku," kata suara hati Nawang.


"Oh, kalau urusan itu, tenang saja, kamu jangan terlalu memikirkan, okey?"


"Meooong!"


Joko pun tersenyum, kemudian meninggalkan Nawang dan hendak menuju pantai dengan berjalan kaki, tak lupa dia membawa tongkat saktinya.


Sesampainya di pantai, Joko segera berjalan menuju hutan, yang berada di seberang pantai.


Sampai di hutan, Joko memanggil Rinjani dengan suara batinnya, dan tak lama, muncullah kepulan asap putih, dan dalam sekejap berubah menjadi sosok wanita berkebaya putih, yang tak lain adalah Rinjani.


"Anda sudah datang?" sapa Rinjani.


"Kan kamu sudah lihat aku di sini, ya berarti aku sudah datang dong," seloroh Joko.


Rinjani hanya tersenyum.


"Kamu sudah siap? Ayo kita mulai," kata Joko.


"Saya harus bagaimana?" tanya Rinjani kebingungan.


"Kamu duduk di sini," kata Joko, sambil menunjuk batang kayu yang telah tumbang.


Rinjani pun duduk di tempat yang sudah ditunjuk oleh Joko. Kemudian, Joko berdiri di belakang Rinjani.

__ADS_1


Joko menyentuh ubun-ubun Rinjani lalu Joko memejamkan matanya, dengan mulut berkomat-kamit membaca mantra.


Sedang fokus berkonsentrasi, tiba-tiba angin berhembus sangat kencang dan menumbangkan salah satu pohon yang berada di depan hutan itu. Joko terkejut, akhirnya dia kehilangan konsentrasinya.


"Huft, ada apa ini, Rin?"


Rinjani beranjak dari tempat duduknya.


"Saya pun tak tahu, sepertinya alam sedang marah," ujar Rinjani.


"Alam? Marah? Marah kenapa?" tanya Joko heran.


"Entahlah," sahut Rinjani.


"Kalau menurut-ku, sepertinya betul kamu, alam nggak mengijinkan-ku, melakukan hal ini," ujar Joko.


"Terus bagaimana dong?" Rinjani bertambah bingung.


"Ya sabar lah, aku juga sedang berusaha. Oh ya, apa kamu tahu tentang lukisan yang ada di gapura, tempat keluar masuk pulau ini?"


"Lukisan?" Rinjani mengerutkan keningnya.


"Iya lukisan perempuan," kata Joko.


"Nah itu dia, saya tak dapat mengingat apapun tentang lukisan itu."


"Hah? Kamu kok lama-lama tambah aneh saja huft," ujar Joko.


"Aneh bagaimana?" Rinjani bertambah bingung.


"Ah sudahlah, aku malah jadi gemas sama kamu," ujar Joko.


Rinjani terdiam ....


Rinjani menggeleng lemah. "Kejadiannya sudah beberapa puluh tahun silam, saya tak dapat mengingat apa-apa."


"Haduh, kamu ini hantu, sudah meresahkan, merepotkan juga," cetus Joko.


Rinjani pun kembali terdiam ....


"Kalau Franky nggak ketemu sama kamu, nggak bakal begini kejadiannya, dan aku juga nggak harus repot seperti ini."


"Kalau memang anda keberatan, buat apa anda mau repot-repot ke tempat ini?"


"Eh, kamu itu, dasar jin bucin, aku ini tinggal satu kampung dengan Franky, dan dia ada apa-apa, terus aku harus diam saja? Benar-benar kamu ya, kamu itu sudah bikin masalah di kampung-ku, mana bisa aku tinggal diam."


"Sudah, sudah, jangan marah-marah, saya hanya minta tolong carikan jasad saya, agar kematian saya sempurna dan saya bisa bereinkarnasi lagi."


"Kamu itu, mau bereinkarnasi kapan? Nunggu Franky sampai tua, jadi kakek-kakek? Hahaha!"


"Sudah jangan meledek saya, sekarang pulanglah, saya yakin, anda bisa menemukan jasad saya."


Tanpa menunggu jawaban dari Joko, Rinjani pun berubah menjadi kepulan asap, dan menghilang perlahan.


Joko pun berjalan pulang dengan langkah gontai, dalam perjalanan, dia terus teringat tentang lukisan di atas gapura.


"Aku harus menyelidiki lukisan itu, tapi bagaimana caranya? Ah besok sambil aku pikirkan deh," batinnya.


Joko sampai di rumah, dia melihat Franky masih duduk di ruang depan, bertemankan laptop di pangkuannya.


"Lho, kamu belum tidur, Fran?"


Erlangga menoleh .... "Eh kamu sudah pulang, Jok? Aku belum ngantuk, sambil nunggu kamu pulang."

__ADS_1


Joko duduk di sebelah Franky.


"Gimana hasil dari penyelidikan kamu, Jok? Apa gagal lagi?"


Kedua mata Joko membulat seketika "Kok kamu tahu, Fran?"


"Itu, kelihatan muka kamu kusut gitu, hahaha ...." Franky tertawa kecil.


"Kusut, memangnya benang," cibir Joko.


"Iya, Jok, muka kamu ibarat benang," ledek Franky.


"Huuu, awas kamu ya," ancam Joko membuat Franky terkekeh.


"Eh, Fran, aku ingin sekali menyelidiki lukisan itu, tapi bingung, gimana caranya."


"Duh, sebaiknya jangan deh, Jok, aku takut nanti ada yang lihat, terus dia lapor sama yang punya lukisan itu, malah akhirnya jadi masalah nanti."


"Tapi aku penasaran sekali sama lukisan itu, benda itu sepertinya membuat aku harus menyelidiki.


"Ya sudah, tapi pelan-pelan, kamu jangan nekat, Jok," pesan Franky.


"Iya, maka dari itu, aku akan pikirkan caranya."


"Oke, Jok, yang penting, kamu harus hati-hati."


"Iya, Fran."


Joko pun berjalan ke dapur, dia melihat Nawang sedang meringkuk.


"Apa kamu kedinginan, mpus?" tanya Joko, dalam hatinya.


"Meooong ...."


"Nggak juga," jawab suara hati Nawang.


"Kemarin baju yang aku pakaikan untuk selimut, mana?"


"Tertinggal di kursi depan, sudah aku tak merasa dingin."


"Ya sudah kalau begitu, eh apa kamu bisa membantuku? Maksud aku, membantu kasih saran atau apalah."


"Apa yang bisa aku bantu?"


"Apa kamu tahu soal lukisan yang ada di gapura itu?"


"Lukisan? Em, dulu sebelum aku menjadi kucing, aku aku pernah jalan-jalan lewat gapura itu, memang sekilas, aku seperti melihat lukisan di atas gapura."


"Maksud aku, kamu merasa ada yang aneh nggak, sama lukisan itu?"


"Aneh? Ah biasa saja sih, kalau menurutku, itu hanyalah lukisan biasa, memang ada apa?"


"Hem, ternyata kamu nggak paham, kalau aku merasa lukisan itu aneh."


"Aneh bagaimana?"


"Ya pokoknya aneh, lukisan itu sepertinya beda sama lukisan lainnya."


"Apa yang membuat terlihat beda?"


"Perempuan dalam lukisan itu, seperti hidup."


"Apa? Benarkah?"

__ADS_1


"Iya, mpus, jangan-jangan itu lukisan misteri, kan di pulau ini memang banyak hal-hal yang berbau misteri."


__ADS_2