
Keesokan harinya, Jarwo pergi ke gunung M, dia bertapa untuk mendapatkan kesaktian.
Sementara itu, Rinjani selalu menunggu kedatangan Jarwo dengan setia. Hari demi hari, bulan berganti bulan, Rinjani terus menunggu Jarwo dengan sabar.
Tiba-tiba, terbesitlah sebuah ide dalam benak Rinjani. Dia ingin awet muda dan selalu cantik, supaya saat Jarwo kembali menemuinya, Jarwo akan tergila-gila dengan Rinjani.
Suatu malam, Rinjani pergi ke pantai, dia duduk di sebuah kursi yang terbuat dari bambu.
"Saya ingin cantik dan awet muda, supaya kang Jarwo selalu ingin berada di dekat saya, dan tak pergi-pergi lagi," batinnya.
Rinjani beranjak dari tempat duduknya, dia berjalan mendekati air laut, dia menatap air laut itu dalam-dalam.
"Wahai penguasa pantai! saya mempunyai satu permintaan, apakah anda akan mengabulkannya?" seru Rinjani.
Tak lama, ombak pun bergulung dengan kencang seakan mendengar seruan Rinjani, angin dingin berhembus tak kalah kencang menerpa tubuh ramping Rinjani. Dan kini di hadapan Rinjani, berdirilah sosok wanita anggun, berpakaian serba hijau, dan di kepalanya terdapat mahkota yang menambah keanggunannya.
"Wahai manusia, ada apa kau memanggil-ku?" tanya sosok tersebut.
"Aku ingin cantik dan awet muda untuk selamanya Ratu, aku ingin terus terlihat muda setiap hari, sampai kapan pun!" sahut Rinjani dengan lantang.
"Tapi kau sudah tahu kan, kalau kau berurusan dengan dunia kami, ada persyaratan yang harus dilakukan, demi terkabulnya sebuah keinginan? Dan syarat itu tak semudah yang kau bayangkan," ucap Ratu penguasa pantai itu.
"Saya tak peduli, apa pun syaratnya, akan saya lakukan, asalkan keinginan saya terkabul." Rinjani tampak bersikeras.
"Baik, kalau begitu, besok malam datanglah ke sini, kau akan menjalankan berbagai macam ritual, jangan lupa, siapkan tumpeng beserta isinya, darah ayam cemani, kembang tujuh rupa, dan jantung pisang, lalu bawalah kesini."
"Baik Ratu, akan saya laksanakan," kata Rinjani antusias.
"Baiklah, kalau kau sudah paham." Kemudian Ratu pantai itu menghilang.
Rinjani pun pulang, dan keesokan harinya, dia menyiapkan semua yang harus dia bawa ke pantai, sesuai permintaan Ratu tersebut. Rinjani melakukan semua itu, tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya.
Dan malam hari pun tiba, Rinjani berjalan ke pantai, dengan membawa apa yang diminta oleh Ratu pantai.
"Ratu! Saya sudah datang!" seru Rinjani ketika sampai di pesisir pantai.
__ADS_1
Tak lama, ombak pun bergulung kencang, angin malam berhembus sepoi-sepoi menerpa tubuh Rinjani. Tak lama, Ratu pantai telah berdiri di hadapan Rinjani.
"Ratu, saya sudah membawa apa yang anda inginkan," kata Rinjani.
"Baik, mari kita mulai sekarang," sahut Ratu pantai.
Kemudian mereka melaksanakan sebuah ritual. Dan setelah selesai acar ritual, Rinjani melarung semua sesaji yang dibawanya, sesuai perintah Ratu pantai.
"Dan setiap tahun, kau harus memberikan tumbal manusia laki-laki, tapi yang bukan berasal dari pulau ini, kau paham kan?"
"Baik Ratu."
"Kalau kau sampai terlambat memberikan tumbal sekali saja, maka kau sendiri yang akan menjadi tumbal terakhir."
Deg!
Jantung Rinjani berdegup kencang, namun dia sudah memantapkan tujuannya.
"Sekarang kau pulanglah," kata Ratu pantai.
Kemudian, Ratu pantai pun menghilang, dan ombak laut kembali tenang, sedangkan Rinjani berjalan pulang ke rumahnya.
Pagi hari, setelah bangun tidur, Rinjani mandi dan berpakaian, setelah itu dia bercermin. Betapa terkejutnya dia, melihat wajahnya di pantulan cermin itu, dia terlihat lebih cantik dari sebelumnya, kulitnya pun lebih halus.
Rinjani sangat bahagia, dengan penampilannya sekarang, dia sangat yakin, kalau Jarwo pulang pasti akan kagum dengannya.
Hari demi hari, Rinjani menjalani kehidupannya. Para penduduk di sekitar tempat tinggal Rinjani merasa heran, karena dari tahun ke tahun, kecantikan Rinjaji tak pernah pudar. Kulitnya pun masih tetap kencang, tak berkerut sedikitpun.
Kini usia Rinjani menginjak dua puluh lima tahun, dan tiga tahun sudah Rinjani ditinggal pergi oleh Jarwo. Namun, hari demi hari, bulan dan tahun terus berganti, Jarwo tak kunjung datang menemuinya.
"Kang mas kemana, sih? Kenapa belum pulang juga? Jangan-jangan dia sudah mempunyai perempuan lain, kurang aja!" batin Rinjani dengan geram.
Setiap tahun, Rinjani terus memberikan tumbal kepada Ratu pantai, tumbal itu berwujud seorang pria, yang merupakan pendatang di pulau itu.
Suatu hari, saat itu adalah waktu Rinjani untuk memberikan tumbal, namun Rinjani tak kunjung menemukannya, dia pun heran karena tahun itu, pulau abadi sangat sepi pengunjung.
__ADS_1
"Kenapa tak ada pendatang satupun? Huft, ini aneh sekali, apa mereka ketakutan ya, mungkin mereka mendengar kabar mengenai apa yang terjadi di tempat ini, sehingga mereka sudah tak mau lagi ke tempat ini. Wah gawat, ini gawat sekali, saya bisa celaka, kalau tak mendapatkan tumbal malam ini," batin Rinjani yang tengah duduk termenung seorang diri, dengan perasaan gelisah.
Tiba-tiba, ombak bergulung dengan kencangnya, dan angin malam pun berhembus dengan sangat kencang, hingga menumbangkan salah satu batang pohon kelapa. Pohon itu jatuh tepat di hadapan Rinjani yang tengah duduk.
"Sial, untung saja tak mengenai saya," batinnya.
"Wahai manusia, bagaimana dengan tumbal selanjutnya?" sebuah suara tanpa wujud menggema di telinga Rinjani.
Rinjani pun terkesiap. "Tolong kasih saya waktu beberapa hari lagi Ratu, saya pun tak tahu, kenapa dari kemarin tak ada pendatang satu pun."
"Bukankah kau sudah mundur sepuluh hari? Aku sudah berbaik hati, dan aku akan memberimu waktu satu hari lagi, dan besok malam, kau sudah harus mendapatkan tumbal itu. Kalau sampai tak mendapatkan, ya tentunya kau tahu sendiri lah, apa yang akan terjadi," ancam Ratu pantai.
"Ratu, apa tak bisa penduduk pulau ini? Yang penting dia laki-laki," mohon Rinjani.
"Yang namanya peraturan, ya tetap peraturan, tak bisa kau rubah seenaknya."
Setelah mengucapkan itu, suara itupun menghilang, angin yang semula berhembus kencang, kini telah berhenti, begitupun ombak yang semula bergulung, kini telah tenang kembali. Sedangkan Rinjani tampak gelisah.
"Duh, bagaimana ini? Saya tak tahu harus mencari tumbal ke mana lagi," batinnya.
Kemudian, Rinjani pulang ke rumah dengan langkah gontai.
****
Malam berikutnya, Rinjani pergi ke pantai, namun keadaan pantai itu masih sepi, seperti malam-malam sebelumnya. Rinjani benar-benar putus asa, karena tak juga mendapatkan tumbal selanjutnya.
Tengah malam pun tiba, dan waktu telah menunjukan pukul dua belas.
"Waktumu sudah habis! Dan bersiaplah, sekarang kau yang akan menjadi tumbal terakhir, mewakili para tumbal berikutnya." Sebuah suara mengejutkan Rinjani. Dia menoleh ke kiri dan ke kanan, namun dia tak melihat siapa pun.
"Ampun, Ratu, jangan hukum saya, saya akan mencari sekali lagi, di luar pulau ini."
Rinjani memohon, namun ucapannya tak dihiraukan, ombak pun bergulung dengan dahsyatnya, menuju ke seberang pantai yang konon adalah sebuah desa penduduk. Dan tak lama, menyusul pusaran angin ****** beliung, bertiup mendekati sebuah desa yang terletak di seberang pantai, yang juga merupakan daerah tempat tinggal Rinjani.
Bagaimanakah nasib Rinjani selanjutnya? Nantikan bab selanjutnya. terimakasih kepada yang sudah mendukung karya ini. mohon maaf atas segala typo yang berkeliaran, kekeliruan dalam menulis nama, tempat dll.
__ADS_1
Yuk, dukung terus karya ini, supaya bisa berlanjut terus 🤗