
Pagi hari di kediaman rumah Leon...
"Leon kemana sih pak? Masih pagi sudah nggak kelihatan batang hidungnya," tanya Nurdiana.
"Tadi, dia bilang mau cari perlengkapan buat kerja besok," kata Abdul Rozak sambil memainkan ponselnya.
"Sepagi ini?" Nurdiana mengerutkan keningnya.
"Memangnya kenapa sih, Bu?" Abdul Rozak balik bertanya.
"Aku mau ke pasar, persediaan makanan sudah banyak yang habis," ujar Nurdiana.
"Terus, mau bagaimana lagi, Leon itu kalau sudah pergi, biasanya malam baru pulang, coba kamu telpon dia," perintah Abdul Rozak.
"Sudah aku telpon, tapi nggak di angkat," tutur Nurdiana dengan wajah kusut.
"Paling sedang di jalan, kamu kan bisa naik taxi atau bis sementara, Bu," ujar Abdul Rozak.
"Iya sih, tapi lama nunggu nya, ya sudah.. aku naik bis saja, di depan situ suka ada yang lewat," ujar Nurdiana.
"Ya Bu, hati-hati ya," pesan Abdul Rozak.
Nurdiana mengangguk dan segera mengambil tas kemudian keluar menuju jalan besar.
Bagai pucuk di cinta ulam pun tiba, baru saja Nurdiana sampai di pinggir jalan itu, sebuah bis melintas dan berhenti di depan Nurdiana berdiri.
Nurdiana langsung naik dan mencari tempat duduk yang kosong.
Dia pun mendapatkan tempat duduk paling belakang.
Nurdiana duduk di sebelah anak perempuan.
"Permisi dek, tante ikut duduk ya?" sapa Nurdiana sambil mendaratkan pinggulnya di tempat duduk tersebut.
Anak perempuan yang di sapa Nurdiana tak menyahut, dia diam saja sambil menunduk.
Nurdiana pun merasa aneh, karena dia melihat bis yang di naikinya tampak penuh dengan penumpang, tapi satu di antara mereka tak ada yang saling berbicara.
Tapi Nurdiana tak menghiraukan hal tersebut.
Dia melihat pemandangan di luar dari balik jendela kaca bis itu.
Setelah merasa sudah beberapa lama Nurdiana berada di dalam bis yang di naikinya, dia mulai merasa ada yang tidak beres.
"Aneh, kenapa bis ini sepertinya hanya berputar-putar di tempat ini ya, dan.. tempat apa ini? Seperti hutan, tapi, kenapa bisa sampai di sini sih?" gumam Nurdiana yang seketika bulu kuduknya meremang.
Lebih terkejutnya lagi, ketika Nurdiana hendak bertanya kepada anak perempuan yang duduk di sebelahnya, anak itu pun sudah menghilang.
"Ke mana anak yang duduk di sini tadi?" tanyanya dalam hati, Nurdiana semakin kebingungan.
Akhirnya Nurdiana berdiri dan berjalan ke depan menghampiri sopir yang sedang mengemudikan bis itu.
__ADS_1
Lagi-lagi dia di kejutkan oleh penglihatannya.
Ketika Nurdiana menoleh ke belakang, dia tak melihat satu orang pun penumpang di dalam bis itu.
"Kapan mereka turun ya, kok aku nggak lihat, padahal dari tadi aku nggak tidur," lirih Nurdiana.
"Pak, tolong turunkan saya, di sini saja," kata Nurdiana.
Namun hening tak ada jawaban.
"Pak?" panggil Nurdiana lagi.
"Pak, bisa turunkan saya sekarang nggak?" tanya Nurdiana sekali lagi.
Namun sopir bis itu masih terdiam tak bergeming dari posisinya.
Nurdiana semakin kesal dengan sopir bis itu lantaran tidak menanggapi ucapannya.
Akhirnya Nurdiana memberanikan diri menepuk bahu sopir itu.
"Pak, tolong turunkan saya sekarang."
Tiba-tiba sopir bis itu memutar kepalanya hingga seratus delapan puluh derajat dengan tubuh tetap menghadap ke depan.
Seketika Nurdiana bergidik ngeri melihat adegan di depan matanya.
Wajah sopir bis itu penuh darah dan kedua bola matanya menjulur ke luar, bibirnya robek, darah bercucuran dari mulutnya.
Nurdiana berteriak sekuat tenaga, tiba-tiba pandangannya menjadi gelap.
****
Nurdiana membuka matanya perlahan.
Dia melihat Abdul Rozaq di samping tempat tidurnya, bersama Leon dan Franky.
"Di mana aku?" tanya Nurdiana, dia pun bangun dan duduk di atas kasurnya.
"Kamu ditemukan pingsan oleh pak Romli, di jalanan, Bu," ungkap Abdul Rozak.
"Hah? Aku pingsan?" Nurdiana mengerutkan keningnya.
"Iya Tante, dan Tante sudah pingsan selama dua hari," ujar Leon.
Nurdiana membulatkan kedua bola matanya, tak percaya.
"Aku pingsan dua hari?"
"Betul mbak, sepertinya ada lelembut yang mencoba mengajak mbak bermain," kata seseorang yang tiba-tiba masuk, dia adalah Kiyai Romli yang menyelamatkan Nurdiana dari lelembut itu.
"Maksud Pak Kyai, apa ya?" tanya Nurdiana.
__ADS_1
"Jadi, kemarin ada kecelakaan di jalan itu, bis bertabrakan dengan truk, dan semua penumpang termasuk sopir bisnya, nggak ada yang selamat, hanya sopir truk yang luka parah, tapi masih bisa di selamatkan, sepertinya arwah mereka penasaran dan belum di terima di alamnya, jadi mereka bergentayangan mencari korban lain untuk menemani mereka, dan kemarin itu saya melihat dengan mata batin saya, kalau Mbak mau naik bis berhantu itu, saya sudah mengingatkan Mbak Nur, supaya jangan naik, tapi sayangnya Mbak Nur nggak dengar, karna kuping Mbak Nur ditutup oleh tangan para penumpang bis, yang sudah menjadi hantu, dan Mbak Nur tetap naik.
Lalu saya melakukan rukiyah, alhamdulilah roh Mbak Nur bisa kembali ke raga Mbak," ungkap Kyai Romli.
Nurdiana bergidik ngeri, begitupun Leon dan Abdul Rozak, sedangkan Franky hanya diam santai.
"Maafkan aku ya Bu, sudah menyuruh kamu pergi, naik bis," sesal Abdul Rozak.
"Aku juga minta maaf Tante, aku nggak tahu kalau Tante mau pakai mobilnya, besok, kalau aku sudah kerja, aku mau beli mobil sendiri," ujar Leon yang juga merasa bersalah.
Nurdiana tersenyum.
"Sudah, nggak perlu di ambil pusing, tadi itu kebetulan persediaan makanan untuk satu bulan hampir habis, nah.. kebetulan tante hari ini libur nggak ke kantor, jadi tante pikir, mau belanja sekalian buat persediaan," papar Nurdiana mencoba mencairkan suasana.
"Ya sudah, saya permisi dulu Mbak, Mas," timpal kyai Romli.
"Baik Pak, terimakasih, sudah membantu istri saya," sahut Abdul Rozak sopan.
Kyai Romli mengangguk kemudian keluar dari kamar itu dan berjalan pulang ke rumahnya.
Franky mengajak Leon duduk di depan rumah.
"Besok, kalau mau kerja, pakai mobilku saja Le, kita berangkat bareng, lagian mobilku juga nganggur, kasihan tante kamu, nggak ada kendaraan."
"Iya Fran, sebenarnya, om aku ada motor, tapi, sedang di bengkel, dan mobil itu memang untuk di pakai bersama," sahut Leon.
Franky mengangguk.
"Nila mana Fran,?" tanya Leon.
"Tadi dia bilang, mau cari baju dia yang hilang, aku juga nggak tahu, baju apa yang di maksud," sahut Franky.
"Tuh kan, dia itu memang misterius," tukas Leon.
"Hem, sudah biarin sajalah Le, dia mau bagaimana, aku juga hanya menolong dia, kalau dia suka, ya aku ikut senang, tapi kalau dia sudah menemukan keluarganya, ya terserah dia juga, kalau mau pergi."
Tiba-tiba angin dingin berhembus menerpa wajah kedua insan tersebut.
"Fran, kamu merasa aneh nggak sih?" tanya Leon sambil bergidik ngeri.
"Aneh bagaimana Le?" tanya Franky penasaran.
"Setiap kita membicarakan Nila di belakang, pasti udara tiba-tiba jadi berasa dingin," ujar Leon meyakinkan temannya itu.
"Ah, biasa saja Le," sahut Franky.
"Hem, kamu itu nggak pernah peka," gumam Leon.
"Fran, ayo kita pulang..."
Sebuah suara mengejutkan mereka berdua.
__ADS_1