Pulau Abadi

Pulau Abadi
Terdampar di Negeri Kahyangan


__ADS_3

Sore itu, Franky sedang berjalan-jalan di sebuah Taman Bunga.


Tap ... tap ... tap ....


Sebuah suara langkah kaki, terdengar di telinga Franky. Pria itupun menoleh ke belakang, dia merasa seperti ada yang mengikutinya.


Namun anehnya ketika Franky menoleh ke belakang, tak ada seorang pun di sana.


Franky mendadak merasa ketakutan, dia akhirnya mengambil langkah seribu. Franky berlari dan terus berlari, hingga akhirnya terjatuh karena tersandung batu.


Tiba-tiba pandangan di sekeliling Franky berubah menjadi gelap, dan samar-samar sebuah cahaya menyilaukan, membukakan mata Franky.


Seseorang mendekat ke arah Franky membuat pria itu semakin ketakutan.


"Kamu nggak apa-apa?" tanya Seseorang tersebut, sambil mengulurkan tangannya.


Franky menengadahkan kepalanya. Betapa terpesonanya dia, melihat sosok nan cantik jelita, bergaun panjang dan berselendang sutera warna ungu.


Franky terus menatap lekat ke arah sosok di hadapannya, dia merasa tak asing dengan sosok tersebut.


Pada saat netra Franky mengarah ke sebuah selendang berwana ungu, yang dikenakan oleh sosok itu, seketika itu juga teringat dengan seseorang yang pernah hadir dalam hidupnya.


"Nila?" gumam Franky lirih.


Sosok yang ternyata adalah Nila itu tersenyum manis ke arah Franky.


"Bukankah kamu Nila?"


Nila tersenyum sekali lagi kepada Franky. "Benar, dan kamu sekarang ada di rumah aku," sahutnya.


"Rumah kamu?" Franky sungguh tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


Dia saat itu sedang berdiri di atas permadani, dan di bawahnya permadani itu adalah hamparan awan putih nan indah.


Franky sungguh kagum dengan pemandangan di sekitar tempat itu. Kemudian dia berjalan-jalan di sekitar tempat itu dan melihat para gadis-gadis cantik berselendang, sedang berlalu lalang di sekitar tempat itu.


Nila berjalan di samping Franky. "Kamu apa kabar, Fran?"


"Baik La, em ... ngomong-ngomong, apa keseharian kamu di sini?" balas Franky.


"Ya beginilah, seperti yang kamu tahu, kami hanya berjalan-jalan, menikmati keindahan di tempat ini."


"Hanya jalan-jalan saja? Memang nggak tidur?"


"Kami tidur hanya satu bulan sekali."


"Hah?" Franky terbelalak.


"Biasa saja dong, nggak perlu kaget begitu," cibir Nila.


"Apa nggak ngantuk?"


"Ya, kehidupan setiap makhluk hidup, kan berbeda dong, kamu dan aku saja beda."


Tiba-tiba Franky melihat sebuah cahaya berwarna-warni, membentuk sebuah tangga di hadapannya.


"Itu ...." Franky menunjuk ke arah cahaya itu.


Nila tersenyum.

__ADS_1


"Ya, itu adalah tangga yang menghubungkan antara kahyangan dan bumi."


"Hah?" Franky terbelalak lagi.


"Nanti malam, para bidadari akan mandi di bumi, karna di sini nggak ada air, jadi setiap satu bulan sekali, kami turun ke bumi untuk mandi."


"Di danau, yang ada di hutan waktu itu?"


"Enggak juga, di sebuah danau yang sunyi dan tenang tentunya."


"Kamu juga mau mandi?"


"Enggak ah, nanti kamu mengintip dan mencuri selendangku lagi, aku yang repot, harus tinggal di rumah kamu lagi," kelakar Nila.


"Yeee, enak saja kamu bilang. Aku nggak hobi mencuri tahu, dan aku juga nggak mengintip kamu mandi, waktu itu aku sedang berkemah, dan malam itu aku merasa gerah, ingin mencari hawa segar, jadi aku memutuskan untuk berjalan-jalan. Sampai akhirnya aku melewati danau, terus aku tuh nggak sengaja lihat kamu mandi, dan waktu aku mau kembali ke tenda, angin bertiup sangat kencang, dan tiba-tiba ada selendang terbang, terus nempel di muka aku, jadi aku bawa saja, aku mana tahu kalau itu punya kamu."


Nila terkekeh. "Iya, aku tahu, dan aku hanya bercanda saja."


"Berarti, nanti malam kamu mandi?"


"Enggak, Fran, aku sudah mandi kemarin, dan di tempat ini, ada empat puluh dua bidadari, jadi dibagi menjadi tujuh orang yang akan mandi, secara bergantian."


"Empat puluh bidadari? Banyak sekali."


"Ya masih banyakan manusia yang ada di bumilah, Fran."


"Hehe, iya juga ya." Franky meringis.


Tiba-tiba Franky merasa lapar, dia memegangi perutnya.


"Duh, aku lapar sekali, apa kamu punya sedikit makanan?"


Nila menggandeng tangan Franky berjalan memasuki kahyangan. Di sana ada sebuah meja besar, di atas meja itu, tertata rapi beberapa makanan yang sangat lezat, dan menggiurkan.


"Wah banyak sekali makanannya, ini makanan para bidadari ya?"


"Iya, tapi para bidadari nggak boleh makan banyak."


"Lho memang kenapa?"


"Karna kami harus menjaga body kami, biar tetap ideal, memangnya kamu pernah lihat ada bidadari gendut? Enggak kan?"


"Tapi kalau kamu gendut, aku tetap suka kok, hehe." Franky terkekeh.


"Apa katamu?"


"Nggak apa-apa, eh La, kamu sudah punya pacar?"


"Kalaupun belum, kamu juga nggak akan bisa jadi pacarku."


"Dih geer sekali, aku hanya bertanya saja kok."


"Nggak perlu menyangkal, kamu suka kan sama aku?"


Franky menjadi salah tingkah, dia menggaruk kepalanya tak gatal itu.


"Ayo silahkan dimakan, mumpung sepi, nanti kalau sudah pada kembali, kamu malah nggak bisa makan."


"Memangnya, pada kemana, para penghuni di sini?"

__ADS_1


"Mereka sedang berjalan-jalan, kalau hari sudah gelap, barulah mereka akan kembali."


Franky pun segera melahap beberapa makanan yang ada di atas meja itu. Setelah kenyang, Nila kembali mengajak Franky ke luar kahyangan.


"Apa kamu suka makan buah?" tanya Nila.


"Suka sekali," sahut Franky.


Nila berjalan mendekati sebuah pohon, dan memetik buah yang ada di pohon itu, lalu memberikannya kepada Franky.


Franky menerima dan memakannya. "Em, enak sekali buah ini."


"Makanlah."


Franky segera melahap habis buah tersebut. Setelah itu, Nila mengajak Franky duduk di atas awan. Awan itu sangat lembut, selembut kapas.


Hari pun perlahan menjadi gelap, Franky merasa heran dengan perputaran waktu, yang begitu cepat di tempat itu.


"Perasaan tadi masih terang, kenapa tiba-tiba gelap begini, bukankan ini belum terlalu sore?"


"Ya itulah bedanya di sini, sama di bumi, di sini waktu lebih cepat berlalu, sedangkan di bumi lama sekali, membosankan," papar Nila


"Oh begitu." Franky menganggukkan kepala.


Dan seketika, pandangan netra Franky mengarah ke beberapa sosok yang berjalan ke arahnya.


"Mereka siapa, La?" tanya Franky, sambil menunjuk ke arah yang di maksud.


Nila menoleh ke arah yang di tunjuk Franky.


"Mereka adalah penghuni kahyangan, yang akan kembali ke dalam kahyangan."


"Kalau begitu, aku pulang saja ya, karna aku nggak begitu suka sama keramaian."


"Ya sudah, ayo aku antar ke pintu gerbang."


"Pintu gerbang? Memang ada pintu gerbang di sini?"


"Memangnya kamu pikir, kamu masuk kesini lewat mana?"


"Aku lupa, hehe."


"Hem, ya sudah, ayo aku antar ke pintu gerbang."


Franky pun mengikuti Nila, namun baru beberapa langkah, tiba-tiba Franky tersandung batu yang ada di depan kakinya. Franky pun jatuh terpental jauh.


Bugh!


Franky mendarat di sebuah kasur dengan posisi terduduk. Franky terlihat keheranan, dia mengucek kedua bola matanya.


"Hah? Kok aku ada di kamarku sendiri, perasaan tadi di ... di ... di mana ya?"


Franky tampak mengingat sesuatu, namun dia tak kunjung mengingatnya.


"Ah rupanya aku bermimpi."


Franky melirik jam dindingnya, waktu sudah menunjukkan pukul enam pagi.


Franky pun segera bangun dan melaksanakan aktifitasnya seperti biasa.

__ADS_1


__ADS_2