Pulau Abadi

Pulau Abadi
Hidup Harus Diteruskan


__ADS_3

Setelah mengurus kepulangan jenazah Rindi, Leon dan Nurdiana pun pulang satu mobil, sedangkan bu Mira ikut mobil jenazah, sekalian mengantar jenazah Rindi.


Sementara itu, Franky pulang mengendarai mobilnya sendiri.


Sampai di rumah Rindi, jenazah Rindi segera dimandikan, kemudian didoakan. Dan kini hendak dikebumikan. Franky ikut serta mengantar jenazah Rindi. Sampai di pemakaman, jenazah Rindi dimakamkan dengan layak, dan didoakan.


Setelah pemakaman selesai, satu persatu orang pun segera pulang, termasuk bu Mira. Kini, tinggal Franky di temani Leon, yang masih berada di makam milik Rindi.


"Kamu yang ikhlas, Fran," kata Leon berusaha menenangkan temannya itu.


Franky masih berlinangan air mata, dia tak dapat menahan kesedihannya.


"Aku sedih Le, kenapa orang-orang yang aku sayang, semua pergi meninggalkan aku?"


Leon bingung, dan tak tahu harus berkata apa saat itu, dia hanya mengusap punggung Franky.


"Mereka sudah bahagia di sana, kamu harus ikhlas," kata Leon.


Lama Franky dan Leon berada di makam itu, dan hari pun hampir sore.


"Fran, ayo kita pulang, ini sudah mau sore," ajak Leon.


"Kamu duluan saja, Le, aku sebentar lagi."


Leon sangat prihatin dengan sahabatnya itu. "Ya sudah, aku pulang dulu ya, kamu juga cepat pulang, nggak baik berada di kuburan lama-lama."


Franky hanya mengangguk, dan dengan berat hati, Leon meninggalkan Franky, dia naik taxi, karena mobilnya dibawa oleh Nurdiana, mengantarkan bu Mira pulang.


Perlahan, Franky menghapus air matanya yang terus mengalir, dengan telapak tangannya.


"Kemarin engkau masih ada di sini ... bersamaku menikmati rasa ini ... berharap semua tak akan pernah berakhir ... bersamamu.


Kini ... sendiri di sini ... mencarimu tak tahu di mana ... semoga tenang kau di sana selamanya."


Sebaris lagu dinyanyikan dengan lirih oleh Franky.


Dan dengan langkah gontai, Franky pun meninggalkan makam Rindi.


Pria itu mengemudikan mobilnya, hingga sampai di rumahnya. Setelah memarkirkan mobilnya di garasi, Franky masuk ke dalam rumahnya.


Dia berjalan ke dapur, dia membanting piring, gelas, dan apapun yang ada di dapur itu, semua barang melayang dan jatuh hingga hancur berkeping-keping. Franky marah, dan merasa hidupnya tak berguna lagi.


"Apaan sih, semua dibanting-banting, berisik, kedengaran dari luar, norak tahu!" seru sebuah suara.


Franky menoleh ke arah suara itu, dan kini di dekatnya telah berdiri Sella, menatap tajam ke arah Franky.


"Sella?" panggil Franky lirih.


"Orang sudah mati ya sudah, untuk apa ditangisi terus, memangnya kalau kamu menangis, terus dia akan hidup lagi?" ujar Sella.


Franky terdiam, dia merenungi ucapan Sella.


"Sella benar tuh, Fran, kalau kamu terus berlarut dalam kesedihan, kamu akan tersiksa, dan kasihan juga almarhum Rindi, dia nggak akan tenang di sana." Joko yang baru saja datang ke rumah Franky dan yang kebetulan juga mendengar percakapan Sella, pun menimpali.


"Joko," gumam Franky.

__ADS_1


"Sudah, Fran, kamu jangan sedih terus, kamu harusnya tuh berdoa, supaya almarhum tenang di sana, bukan malah nangis terus," kata Joko lagi.


"Benar, Mas," sambung Sella.


"Eh, Fran, aku ada ide nih," kata Joko.


Franky mengerutkan keningnya "Apa itu Jok?"


"Besok, kalau kamu sudah nggak sedih lagi, aku akan ajak kamu ke gunung S, aku bertapa di sana. Nah, kamu bisa mencari inspirasi di sana, aku jamin kamu pasti bisa fokus nulis novel lagi," kata Joko.


Kedua mata Franky berbinar, raut wajahnya memancarkan kegembiraan. "Beneran Jok?"


Joko mengangguk ....


"Iya, Fran, dan kamu nggak perlu khawatir, di sana tempatnya sudah pasti aman, dan nggak akan ada kejadian aneh lagi yang akan kamu alami, karna aku sudah berkali-kali mencari ilmu di tempat itu."


"Iya Jok, aku mau sekali, makasih sebelumnya ya," kata Franky antusias.


"Nah gitu dong senyum, masa laki-laki cengeng, malu tuh sama anak kecil," kelakar Joko, sambil menunjuk ke arah Sella.


Sella pun tersipu ....


"Ya sudah, aku duluan, Mas, mau ke warung beli beras," kata Sella.


"Iya Sel, silahkan, maaf ya," kata Franky.


Sella mengangguk, dan segera berlalu.


"Ya ampun, ini kenapa pada dibantingin sih," ujar Joko, ketika melihat barang-barang yang sudah berserakan.


"Hahaha! Lucu kamu, Fran." Joko terbahak, membuat Franky menutup telinganya.


"Stop, jangan di teruskan ketawa kamu, telinga ku sakit nih," kata Franky.


"Ya sudah, tutup mata kamu," kata Joko.


"Mau ngapain?" tanya Franky heran.


"Sudah, nurut saja apa kataku."


Franky pun menuruti apa kata Joko, dia memejamkan matanya.


Kemudian, Joko mengumpulkan segenap tenaganya, dia menyatukan kembali barang-barang yang sudah terpecah belah Dan dalam sekejap, barang pecah belah itu, kini telah kembali utuh seperti sedia kala.


"Sekarang, buka matamu."


Franky pun membuka matanya, betapa terkejutnya dia, melihat barang-barang yang tadi dia banting, kini telah utuh, dan tertata seperti semula, di tempatnya masing-masing.


"Lho ...."


"Sssstttt," Joko menyela ucapan Franky.


"Makasih ya Jok, wah kamu hebat sekali," puji Franky.


"Ah, biasa saja, jangan memujiku terlalu berlebihan, nanti kepalaku jadi besar, hehe."

__ADS_1


Franky pun ikut terkekeh. "Sekali lagi, makasih ya Jok."


"Iya, Fran, santailah, kamu anggap saja aku ini saudara kamu, kita kan sama-sama sebatang kara," ujar Joko.


Franky tersenyum dalam anggukannya, dia tak menyangka, Joko yang dia kenal sangat cuek, ternyata punya rasa kepedulian yang tinggi.


"Oh iya, aku lapar nih, Fran, kamu ada makanan nggak?"


"Kita cari warung makan yuk, aku yang bayar," kata Franky.


"Nggak perlu lah, Fran, maksud aku, apa kamu punya persediaan mie instan, atau telur gitu?"


"Ada Jok, telur sama mie instan."


"Nah cocok tuh, ayo kita masak mie telur, terus kita makan bersama."


"Boleh deh, Jok."


Franky dan Joko pun memasak mie instan, memakai toping telur, sesuai selera mereka masing-masing.


Untuk urusan perut, Joko terbilang tak begitu tertarik dengan makanan enak, makanan dia sehari-hari hanya makanan dari alam, misalnya, nasi kerak, dia suka sekali makan makanan itu, dan singkong rebus dia jadikan makanan pokoknya, terkadang dia juga suka memetik daun umbi-umbian, lalu dia rebus, dan dia jadikan sebagai lalapan.


Bagi Joko, makanan yang dia anggap paling lezat dan istimewa adalah nasi telur goreng, entah itu diceplok atau pun didadar. Lidah Joko memang tak terbiasa makan makanan mewah.


Beberapa saat kemudian, mie telur yang mereka masak pun telah matang.


Mereka menikmatinya di teras depan rumah.


"Em, nikmat sekali, Fran," kata Joko.


"Iya Jok," angguk Franky.


Selesai makan, Franky masuk ke dalam rumahnya, kemudian kembali lagi, dengan membawa dua gelas teh melati.


"Nih minumnya, Jok."


Joko meraih gelas berisi teh melati itu, kemudian menghirupnya. "Hem segar sekali."


"Iya Jok, ayo dihabiskan.


"Ah kenyang juga, ya sudah aku pulang dulu, Fran, makasih ya makanannya," pamit Joko.


"Eh iya Jok, aku juga makasih sulapannya," sahut Franky.


"Hah? Sulapan?" Joko mengerutkan keningnya.


"Ya kan, kamu sudah menyulap barang-barang aku yang pecah tadi, hehe."


"Sssttt ... jangan keras-keras, nanti kedengaran yang lainnya," bisik Joko.


Franky pun mengangguk.


"Oh iya, kamu jangan sungkan, kalau sedang jenuh, main saja ke rumah ku, lagi pula dekat juga, kan," ujar Joko.


"Oke, Jok." Franky mengangguk.

__ADS_1


Joko pun segera berlalu dari hadapan Franky.


__ADS_2