Pulau Abadi

Pulau Abadi
Rumah Makan Berhantu


__ADS_3

Tak lama, Franky menemukan sebuah rumah makan tongseng kambing.


"Nah, ketemu rumah makan tongseng kambingnya, Le," kata Franky.


"Oke deh, ayo kita turun," kata Leon antusias.


Mereka bertiga turun, dan berjalan masuk ke dalam rumah makan itu.


Baru sampai depan, Joko sudah mencium aura jahat dari tempat itu. "Kamu yakin, Fran, ini tempatnya?"


"Iya, Jok, memang kenapa?"


"Nggak cari tempat lain saja?"


"Ah di sini saja, Jok, mau cari ke mana lagi, perutku sudah lapar sekali hehe," sambung Leon.


"Okelah terserah kalian," kata Joko.


Mereka bertiga pun masuk ke dalam.


Mereka di sambut ramah, oleh seorang pelayan.


"Silahkan, Mas."


Franky dan kedua temannya duduk, dia memesan tiga porsi tongseng kambing. Pelayan itu pun menyuruh mereka untuk menunggu.


Tiba-tiba Joko berasa ingin buang air.


Dia pun berjalan ke belakang.


"Permisi, Mas, numpang ke toilet," kata Joko kepada salah seorang di tempat itu.


"Silahkan, Mas," sahut salah seorang pelayan.


Joko masuk ke dalam toilet, kemudian melaksanakan hajatnya. Setelah itu, dia keluar. Betapa terkejutnya dia, melihat sosok perempuan, dengan rambut panjang terurai, dan sebagian menutupi wajahnya, sedang berdiri di dekat seorang pelayan, yang sedang memotong-motong daging kambing.


Terlihat sosok perempuan itu, menjulurkan lidahnya hingga memanjang, menjangkau daging yang sedang diiris oleh pelayan itu.


Joko dapat melihat, sosok perempuan itu menjilati dan menyesapi daging tersebut. Joko pun bergidik ngeri, dan mendadak perut Joko merasa mual seperti diaduk-aduk, dia pun segera kembali ke dalam toilet dan mengeluarkan isi perutnya. Setelah itu, Joko segera kembali ke depan.


"Fran, Le, lebih baik kita cari makanan lain, jangan di sini, jijik," ujar Joko setengah berbisik.


Franky dan Leon merasa heran.


"Kamu kenapa sih, Jok?" tanya Leon.


"Sudahlah, pokoknya ayo kita pergi dari sini, kalau nggak mau, ya terserah kalian, aku mau pergi, jalan kaki pun nggak apa-apa," ujar Joko.


Erlangga dan Leon saling berpandangan.


"Tapi jelaskan dulu Jok, apa alasannya, kita di suruh pergi dari sini?" tanya Leon.


"Ya nanti di mobil aku jelaskan semua, sekarang kita pergi saja." Joko bersikeras.


Akhirnya, Franky pun menyetujui kemauan Joko. Namun karena merasa tak enak hati, Franky pun berjalan ke belakang, menemui pelayan itu.

__ADS_1


"Mas, maaf ini teman saya ada urusan mendadak, jadi saya akan bayar pesanan saya, dan mas bisa memakannya."


"Lho memang nggak apa-apa?" tanya pelayan itu, dengan raut wajah keheranan.


"Nggak apa-apa, Mas," sahut Franky sambil menyerahkan sejumlah uang kepada pelayan itu.


Pelayan itupun menerimanya, dan mengucapkan terimakasih kepada Franky.


Kemudian Franky berjalan masuk ke dalam mobilnya, Leon dan Joko sudah berada di dalamnya. Franky pun mengemudikan mobilnya perlahan.


"Sebenarnya, ada apa sih, Jok?" tanya Franky dengan posisi tangan memutar stang mobil.


"Kamu nggak tahu kan, Fran, rumah makan itu ada hantunya," ujar Joko.


"Hah?" Franky dan Leon terbelalak.


"Masa sih, Jok," kata Leon sambil mengerutkan keningnya.


"Ya mungkin benar juga, apa yang dikatakan Joko, karna dia kan punya indera keenam, dan bisa lihat makhluk halus, Le," ujar Franky.


"Bukankah kamu juga punya indera ke enam, Fran?" tanya Joko.


"Tapi, kadang aku nggak bisa lihat, Jok," kata Franky.


"Memangnya, tadi kamu lihat apa Jok?" tanya Leon dengan raut wajah penasaran.


Tadi aku habis buang air, terus pas aku mau balik, aku nggak sengaja, lihat hantu sedang menjilati daging yang sedang diiris-iris sama pelayan tadi."


Franky bergidik ngeri mendengar ucapan Joko, sementara Leon memegangi tengkuk lehernya.


"Anjir, aku jadi merinding," gumam Leon.


"Kita makan di tempat biasa saja, Fran, yang dulu itu, aku makan apa sajalah, nggak harus tongseng kambing," kata Leon.


"Oh iya, kamu suka makan sayur kan, Le?"


"Ya suka lah, Fran, asal jangan sayur mentah," kelakar Leon.


"Huuu, kamu itu, Le."


Leon dan Joko pun terkekeh.


Franky pun mengajak kedua temannya, menuju rumah makan tradisional, yang kemarin dia singgahi dengan Joko.


Beberapa saat kemudian, Franky sampai di rumah makan yang dia maksud.


"Nah ini dia, rumah makan tradisional, tempatnya nyaman, masakannya sederhana tapi nikmat."


Ucapan Franky membuat Leon menelan salivanya, perutnya terasa semakin keroncongan.


"Ya sudah, ayo kita turun, jangan lama-lama, aku bisa pingsan," kata Leon seraya turun dari mobil, diikuti oleh Franky dan Joko sambil menggelengkan kepala.


Mereka bertiga masuk ke dalam rumah makan itu, dan disambut ramah oleh seorang pelayan. Setelah pelayan itu memberikan buku menu, mereka pun memilih menu kesukaan masing-masing.


Setelah menunggu beberapa saat, pesanan mereka pun matang, dan pelayan segera mengantarnya ke meja mereka.

__ADS_1


"Nah ini nih, nikmat," celetuk Joko.


"Kamu pernah ke sini, Fran?" tanya Leon kepada Franky.


"Kemarin sama Joko," sahut Franky.


"Oh, sejak kapan kalian akrab? Setahu aku, Franky nggak punya teman selain aku," kelakar Leon.


"Ya sejak kemarin itu, Le," sahut Franky.


"Oh, ya bagus deh, kalau kamu punya teman baru, jadi nggak murung lagi, aku juga ikut senang," kata Leon, sambil memasukan sendok berisi sayur ke dalam mulutnya.


Franky tersenyum, sedangkan Joko asik melahap makanannya.


Selesai makan, Franky pun membayar, kemudian mereka melanjutkan perjalanannya ke kantor penerbit, milik Nurdiana.


Tak lama, sampailah mereka di sebuah kantor penerbit. Mereka bertiga turun, dan langsung memasuki kantor itu.


"Halo, Franky! Apa kabar kamu? Kok sama Leon, kalian dari mana?" sambut Nurdiana, dengan senyum lebar.


"Baik nyonya, ini Leon tadi main ke rumah saya. Oh iya, kenalkan ini tetangga saya, Joko." Franky memperkenalkan Joko kepada Nurdiana.


Nurdiana mengangguk ....


"Em, ini novel terbaru saya," sahut Franky, sambil menyerahkan sebuah naskah kepada Nurdiana.


Nurdiana menerimanya, kemudian mengecek isi naskah tersebut. "Wah, kamu bikin novel horor?" tanya Nurdiana.


"Hehe, iya Nyonya, saya coba-coba, karna saya bosan nulis novel percintaan terus," kata Franky.


"Tapi, keren juga ini ceritanya, serem gitu, karna jarang ada yang mau bikin novel horor," ujar Nurdiana.


"Memang kenapa nyonya?" Franky mengerutkan keningnya.


"Ya sebagian ada yang bilang, katanya kalau habis nulis novel horor, pasti mereka terbawa suasana, dan selalu diganggu oleh makhluk halus."


"Ah masa sih, Nyonya?" Franky seakan tak percaya.


"Iya betul, Fran."


"Oh begitu, hehe." Franky terkekeh.


"Ya sudah, ini novel kamu, saya seleksi terlebih dahulu ya, nanti lolos enggaknya, saya akan kabari kamu secepatnya," kata Nurdiana.


"Oke, Nyonya," sahut Franky.


"Ya sudah, duduk dulu," kata Nurdiana.


"Em, saya terusan saja nyonya."


"Oh ya sudah, hati-hati ya," kata Nurdiana.


"Iya nyonya," sahut Franky.


"Oh iya tante, aku mau jalan-jalan sama Franky ya, dan mungkin pulangnya agak sore," pamit Leon kepada Nurdiana.

__ADS_1


"Silahkan, Le," kata Nurdiana ramah.


Mereka bertiga pun berlalu dari hadapan Nurdiana kemudian masuk ke dalam mobil.


__ADS_2