
"Tapi, aku nggak enak Jok, kamu pasti capek," lirih Franky.
"Nggak capek kok, Fran," sahut Joko.
Franky pun pasrah. "Ya sudah deh, Jok, kalau kamu memaksa, ya aku bisa apa, tapi kalau kamu capek bilang ya, biar gantian aku yang bawa mobilnya."
"Oke, Fran."
Ketiga pria itu masuk ke dalam mobil, dan Joko pun kembali mengemudikan mobilnya. Setelah mobil melaju cukup jauh, samar-samar, Franky mendengar suara perempuan memanggil namanya.
"Franky ... Franky ....!"
"Hah? Seperti ada yang memanggilku," lirihnya.
"Siapa, Fran?" tanya Joko.
"Nggak tahu, Jok, tapi suaranya nggak asing," ujar Franky.
Leon yang mendengar ucapan Franky,m, menoleh ke kiri dan ke kanan.
"Suara perempuan? Mana, nggak ada siapa-siapa," batinnya.
Joko terlihat menerawang ke suatu tempat, tak lama dia pun tersenyum sendiri. "Rinjani," batinnya.
"Ini sudah hampir sampai di pulau abadi, Fran," kata Joko.
"Benarkah? Tapi ini belum di pulau abadi, Jok," ujar Franky.
"Ya memang belum, kan aku bilang, hampir ... hampir sampai, Fran." Joko memaparkan kembali.
"Hehe, iya juga ya hampir sampai, tapi belum sampai," kekeh Franky.
Joko pun menggeleng menahan senyum, merasa geli dengan tingkah Franky. Tiba-tiba di depan mobil mereka, berdirilah sosok wanita berkebaya putih, dan berkerudung putih pula. Joko mendadak menghentikan mobilnya.
"Rinjani," panggil Franky lirih.
"Hem, jin bucin sudah muncul saja nih, sudah nggak sabar ya, ingin bertemu sang pangeran, haha," tawa Joko dalam hatinya.
Sementara Leon merasa heran, karena dia tak melihat Rinjani yang dimaksud oleh Franky. "Rinjani? Mana, Fran?" tanyanya.
"Itu, Le, di depan mobil, masa kamu nggak lihat," kata Franky menujuk ke luar mobil.
Leon mengarahkan pandangannya ke depan mobil, namun tak melihat siapa pun di sana.
"Oh iya, bukankah aku nggak bisa lihat hantu pulau itu ya," batinnya.
"Lihat nggak, Le?" tanya Franky memastikan.
"Eh, iya, Fran, hehe ...." Leon terpaksa berbohong, karena tak mau mempermasalahkan hal itu, sedangkan Joko yang mengetahui bahwa Leon telah berbohong, pun tersenyum penuh makna.
"Gimana, Fran? Apa kamu mau menemui Rinjani dulu?" tanya Joko.
"Em, iya deh, Jok, sebentar ya," angguk Franky.
__ADS_1
Joko mengangguk dalam senyumnya, dan Franky pun turun dari mobilnya. Dia berjalan menuju sosok wanita yang dia lihat dari dalam mobil. Namun, betapa terkejutnya dia, karena tak menemukan sosok tersebut.
"Lho, kok nggak ada ya, perasaan, tadi dia berdiri di sini deh," batinnya.
Franky kembali masuk ke dalam mobil. "Kok nggak ada ya, Jok?"
"Joko ikut merasa heran, dia mencoba menerawang ke depan, Joko mengerutkan keningnya.
"Kemana jin bucin itu? Apa dia mencoba bermain denganku, dan juga dengan si Franky," batinnya.
"Iya ya, Fran, kok tiba-tiba nggak ada, apa mungkin tadi kita salah lihat," ujar Joko.
"Masa sih, Jok, sepertinya aku tadi melihat jelas sekali Rinjani di depan mobil itu."
"Iya, Fran, aku juga lihat, apa mungkin dia sedang mengajak kita main petak umpet ya?" seloroh Joko.
"Ah, ada-ada saja kamu, Jok, memangnya dia anak kecil, ajak main petak umpet segala," gumam Franky.
Ya, siapa tahu saja si Rinjani itu, masa kecilnya kurang bahagia," kelakar Joko.
Franky pun terkekeh, sedangkan Leon hanya tersenyum, tanpa mengetahui hal apa pun.
"Ya sudah, lanjut lagi ya," ucap Joko.
"Iya deh, Jok, jalan lagi saja," sambung Franky.
Joko kembali melajukan mobilnya. "Nanti kita menginap di tempat kemarin, atau mau cari lainnya, Fran?"
"Di tempatnya bu Regina lagi saja, yang sudah pasti ada, aku malas cari-cari tempat lagi. Ya kalau ada, kalau nggak ada, malah kita capek," ujar Franky.
"Serem gimana, Le?" tanya Franky.
"Masa kamu nggak merasa aneh, sama tempat itu?" kata Leon.
"Ah enggak tuh, Le, biasa saja, justru kalau menurut aku, tempatnya nyaman," tutur Franky.
Leon terdiam, dia tak ingin terjadi perdebatan antar sahabatnya itu.
"Gimana, Le? Apa kamu mau cari tempat menginap yang lainnya, biar kita cari dulu, kalau nggak ada lagi, ya terpaksa kita tidur di tempat kemarin itu," sela Joko.
"Eh, enggak kok, Jok, sudah di tempat kemarin saja nggak apa-apa," kata Leon, merasa tak enak hati.
"Ya sudah Le, kita cari tempat lain juga nggak apa-apa kok, kalau kamu merasa nggak nyaman di tempat kemarin," sambung Franky.
"Ah nggak perlu, Fran, di tempat kemarin saja nggak apa-apa kok," kata Leon.
"Beneran nih, Le?" Joko memastikan sekali lagi.
"Benar, Jok." Leon berusaha meyakinkan.
"Aku nggak mau lho, kalau kamu terpaksa." Franky menimpali.
"Ah enggak kok, Fran ... aku nggak terpaksa, kita di tempat kemarin saja," kata Leon.
__ADS_1
"Atau mau di rumah kontrakannya pak Yusuf saja? Seperti waktu pertama kita ke pulau abadi? Di sana malah besar, kamarnya ada dua," usul Franky.
"Ya terserah kamu saja deh, Fran, aku ngikut saja," kata Leon pasrah.
"Lho, ya jangan terserah, aku nggak mau nanti kamu nggak nyaman sama tempat tinggal kita nanti," ujar Franky.
"Ya sudah begini saja, nanti kita temui tuh si Bento, terus kita minta dia mengantar kita mencari penginapan atau kontrakan lain ...." Joko menengahi.
"Oke lah, Jok, seperti itu juga boleh," ujar Leon.
Joko pun mengangguk, sambil terus mengemudikan mobilnya. Dari jauh, Joko melihat kucing hitam melintas di depan mobil mereka, dan dengan cekatan, Joko pun menginjak rem mobil, dan mobil pun berhenti.
"Kenapa Jok?" tanya Franky heran.
"Sialan, kucing hitam, mengganggu saja," lirih Joko.
Kucing hitam?" gumam Franky.
"Hah? Kucing hitam?" Leon pun tak mau kalah.
"Itu, coba lihat di depan," tunjuk Joko.
Franky dan Leon mengarahkan pandangannya ke depan mobil, dan benar saja, mereka melihat seekor kucing hitam sedang tergeletak di tengah jalan.
"Oh iya, itu ada kucing hitam, tapi kenapa dia malah tidur di tengah jalan, memang dia nggak lihat ada mobil ya," gumam Leon.
"Iya, Le, mengganggu saja," sambung Franky.
"Sepertinya, itu bukan sembarang kucing," celetuk Joko.
"Maksud kamu apa, Jok?" Franky mengerutkan keningnya.
"Em, kalau menurut aku, itu kucing siluman, alias kucing jadi-jadian," ungkap Joko.
"Hah?" Franky dan Leon terbelalak.
"Dia mencoba menghalangi jalan kita," tutur Joko.
"Terus, kita harus gimana, Jok?" tanya Franky.
"Kalian tunggu di sini ya, jangan ikut turun, aku akan mengatasi masalah ini," kata Joko.
"Apa nggak sebaiknya kita putar balik, lewat jalan lain saja, Jok?" tanya Leon.
"Jalan ini, adalah jalan satu-satunya yang menghubungkan dengan pulau abadi, Le," jelas Joko.
"Oh, ya sudah, Jok, kamu hati-hati ya," kata Leon.
"Oke." Joko pun turun dari mobil, dia berjalan menghampiri kucing tersebut. Joko mencoba mengajak berkomunikasi kucing itu, dari hati ke hati.
"Hey, siluman kucing, apa yang kamu lakukan di tempat ini? Mengapa kamu menghalangi jalan kami?" tanya Joko dalam hati.
Kucing itu pun mengubah posisinya, yang semula tertidur, kini dia terduduk. "Wahai pemuda, tolonglah aku, aku adalah manusia, yang dikutuk menjadi seekor kucing," sahutnya dalam hati.
__ADS_1
Joko mengamati kucing tersebut dengan seksama, tiba-tiba netranya mengarah pada sebuah cincin yang melingkar di salah satu jari kucing hitam itu.
"Hah? Cincin itu ...." Joko membatin.