
"Benarkah?" tanya Joko.
"Iya benar," kata Via.
"Ayo kita tolong dia," sambung Franky.
"Sudah, biar aku saja yang menolong dia," kata Via.
"Ya sudah cepat sana, Vi," ujar Franky.
Via pun turun dari mobil, dan menghampiri gadis tersebut.
"Kamu kenapa?" tanyanya.
Gadis itu menoleh ke arah Via.
"Perutku sakit," sahut gadis itu singkat.
"Ayo ikut aku, kamu pasti habis donorin ginjal kamu, kan di salon itu?"
Pertanyaan Via membuat kedua bola mata gadis itu membulat.
"Dari mana kamu tahu?"
"Sudah ayo kita masuk mobil, aku jamin kamu bakal aman."
Akhirnya gadis itu mengikuti Via, masuk ke dalam mobil. Mobil kembali melaju.
"Aduh, sakit!" seru gadis itu.
"Fran, sebaiknya kita ke rumah sakit dulu ya," kata Via.
"Oke, Vi." Franky mengemudikan mobilnya menuju ke rumah sakit.
"Kamu kok mau-maunya sih donorin ginjal kamu, kan itu beresiko, apa lagi kamu masih muda," kata Via.
"Aku dipaksa, ya memang salahku juga, aku diiming-iming uang, jujur aku butuh uang buat biaya kuliah, karna ayahku orang nggak mampu, untuk biaya makan kami sehari-hari saja, ayah-ku sering berhutang sama tetangga," papar gadis itu, di sela isak tangisnya.
Via menjadi iba dengan gadis itu. "Siapa nama kamu?"
"Sasa."
Tak lama, mobil yang dikemudikan Franky berhenti di sebuah rumah sakit, kemudian Via mengajak Sasa turun dibantu oleh Franky dan Joko.
Mereka memapah tubuh Sasa, masuk ke dalam rumah sakit. Sampai di dalam rumah sakit, mereka disambut oleh seorang perawat.
"Ada yang bisa saya bantu?"
Via pun menjelaskan kronologi yang dirasakan oleh Sasa, kemudian perawat itu membawa Sasa ke ruang perawatan, dan menyuruh Via dan kedua pria itu menunggu di depan.
Tak lama, dokter keluar dari ruang perawatan, dan mengatakan bahwa kondisi Sasa sudah membaik, dokter menyarankan Sasa agar banyak istirahat, dan memberikan resep obat untuk ditebusnya.
"Biar aku yang menebusnya," kata Franky.
"Tapi ...." ucapan Sasa terputus.
"Sudah, nggak apa-apa, yang penting kamu cepat sehat," sela Franky.
Setelah Franky menebus obat tersebut, dia mengantar Sasa pulang ke rumahnya.
__ADS_1
"Ayo masuk dulu," Sasa mempersilahkan Via dan kedua pria itu.
Franky dan Joko saling berpandangan.
"Sudahlah, ayo kita masuk, kasihan dia, mungkin ini sebagai ucapan terimakasihnya juga," celetuk Via.
Akhirnya mereka pun masuk ke rumah Sasa. Sampai di dalam rumah, mereka disambut oleh lelaki tua, yang ternyata adalah ayah Sasa.
"Sasa? Kamu dari mana saja? Bapak cemas cari kamu ke mana-mana tapi nggak ketemu, bapak juga cari kamu di salon itu, tapi kamu nggak ada, apa benar kamu donorin ginjal kamu?"
Sasa terdiam ....
"Pak sebaiknya kita berbicara sebentar," sambung Via.
Lelaki tua itu mempersilahkan Via dan dua pria itu untuk duduk. Kemudian Via menceritakan, bagaimana dia bertemu dengan Sasa.
"Jadi, kalian sudah repot-repot membawa anak saya ke rumah sakit?"
"Susah nggak apa-apa, Pak, yang penting anak Bapak cepat sehat ya," kata Via.
"Terimakasih ya, nak, semoga Tuhan membalas kebaikan kalian."
"Sama-sama, Pak, ya sudah kami permisi dulu, karna ada yang harus kami selesaikan. Mereka bertiga pun berpamitan, dan kembali ke dalam mobil.
"Kita langsung ke salon itu saja, Mas," kata Via kepada Franky.
Franky mengangguk, dan kembali mengemudikan mobilnya menuju tempat yang di maksud.
Sesampainya di sekitar salon, dengan jarak cukup jauh, Franky menghentikan mobilnya, mereka mengintai salon itu, dan saat itu hari telah menjelang petang, langit pun sudah terlihat gelap.
"Aku akan menyusup ke dalam, kalian tunggu di sini dulu ya," ujar Joko.
"Kamu hati-hati, karna kalau sampai ketahuan, mereka pasti nggak akan segan membunuh kamu," kata Via.
"Okey."
Joko pun turun dari mobil, tak lama dia berhasil masuk ke dalam salon itu.
Joko berjalan hingga masuk sampai ke dalam salon ruangan belakang, ruangan itu cukup besar dan terlihat seperti sebuah laboratorium.
"Ruangan apa ini? Sepertinya ini tempat penelitian dan uji coba suatu produk," batin Joko.
Joko segera mengambil ponselnya, dan memotret beberapa sudut ruangan.
"Apa ini?" Joko mengambil salah satu contoh produk yang hendak dipacking.
Saat Joko hendak meneliti lebih lanjut, tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya.
"Sedang apa kau di sini? Dan apa yang kau lakukan?"
Joko pun terkejut, namun dia tetap berusaha tenang.
"Gawat, siapa laki-laki ini? Apa jangan-jangan dia pemilik salon ini, aku harus gerak cepat," batin Joko.
"Eh, ini saya mau buang air, tapi kesasar ke sini, saya pikir ini toilet," ucap Joko mengeles.
Lelaki itu sepertinya mencurigai Joko.
"Ya sudah, saya permisi."
__ADS_1
Joko berjalan perlahan, meninggalkan lelaki itu.
"Tunggu!"
Lelaki itu berseru, membuat Joko menghentikan langkahnya, dan lelaki itupun mendekati Joko.
Buggghhh!
Joko segera melepaskan tendangan ke arah lelaki itu hingga terkulai lemas di lantai, kemudian Joko segera berlari meninggalkan salon itu.
"Aaarrrggghhh! Dasar pemuda brengsek! Kejar dia!"
Perintah lelaki itu, kepada anak buahnya.
Lelaki itu adalah Anton, yang tak lain pemilik salon itu. Kemudian, kedua anak buah Anton mengejar Joko.
"Itu dia!" seru salah seorang anak buah Anton.
Dugghh!
Sebuah balok kayu melesat tepat mengenai kepala Joko, hingga dia rubuh ke jalan.
"Mampus kau pemuda brengsek! Dasar penyusup sialan!" seru kedua anak buah Anton, sambil menendang tubuh Joko.
"Siapapun yang mendengarku, datanglah, tolonglah aku," batin Joko sambil memegangi kepalanya yang terasa sakit.
Dalam keadaan setengah sadar, Joko melihat sebuah bayangan melesat ke arahnya dan menyerang kedua anak buah Anton satu persatu.
Bayangan itu kini merasuki Joko, Joko pun bangun dan menatap nyalang ke arah kedua lelaki di hadapannya.
Kedua anak buah Anton tampak ketakutan, melihat Joko mengamuk menyerang mereka berdua hingga akhirnya kedua anak buah Anton jatuh tersungkur. Namun salah seorang anak buahnya masih sanggup berdiri, dia menghampiri Joko.
"Dasar preman tengik! Maju dan lawan aku!" serunya.
Joko segera maju, dan melayangkan pukulannya ke arah lelaki itu. Pertarungan sengit berlangsung, diantara keduanya sama-sama kuat, keduanya saling pukul dan baku hantam.
Setengah jam mereka berdua bertarung, akhirnya lelaki itu tewas di tangan Joko, dan Joko pun tersenyum smirk dan meninggalkan kedua anak buah Anton.
****
"Apa kamu bilang? Temanmu tewas?" tanya anton kepada salah satu anak buahnya yang selamat.
"Benar, Bos, pemuda itu cukup sakti."
Brakkkk!
Anton menggebrak meja dan melemparkan benda-benda yang berada di meja itu, untuk melampiaskan amarahnya.
"Sebenarnya, siapa pemuda itu?"
"Saya juga kurang paham, Bos, tapi sepertinya dia berusaha menyelidiki salon ini."
"Sialan, cepat cari dia, dan bawa ke hadapanku, hidup ataupun mati!"
"Baik bos."
Lelaki itu pun keluar dari salon dan pergi. Sementara Anton duduk di kursi, dia tampak terlihat kesal.
"Berani sekali pemuda itu, dia ingin menghancurkan karirku, lihat saja nanti, aku atau kau yang akan hancur," gumam Anton dalam hati.
__ADS_1