
Beberapa jam kemudian Franky dan Leon tiba di kota mereka.
"Akhirnya kita sampai juga di kota, Fran!" seru Leon dengan raut wajah bahagia.
"Alhamdulillah, Le."
"Nggak nyangka ya, kita sepertinya lama sekali berada di Pulau Abadi."
"Iya juga ya Le, berapa bulan ya kita disana? nggak mungkin satu bulan, sepertinya lebih," ujar Franky.
"Kurang lebih tiga bulan kalau nggak salah Fran aku juga lupa hehe," Leon terkekeh.
"Mungkin juga, Le, aku pun nggak memperhatikan, berapa bulan kita tinggal di sana, karna terlalu banyak kejadian aneh yang kita alami di Pulau Abadi itu," ujar Franky.
Wuuussshhhh ....
Tiba-tiba angin menembus masuk kedalam mobil mereka berdua, seketika suhu udara di dalam mobil itu menjadi sangat dingin.
Tak lama sekelebat bayangan melintas kemudian menghilang dengan cepat.
Setelah itu terdengar suara deburan ombak.
"Suara apaan tuh, Fran?" tanya Leon mengerutkan keningnya.
"Nggak tahu, Le, tapi ... kok seperti ada suara ombak ya?" sahut Franky.
"Ah, masa di mobil ada ombak, kamu ada-ada saja, hehe," kekeh Leon.
Franky kebingungan.
"Kok aku jadi merinding ya," kata Leon lagi.
"AC-nya kecilkan Le, dingin nih," sambung Franky.
"Lho, aku nggak nyalain AC, kaca mobil kan terbuka semua, lagian udara dari luar sudah sejuk," ujar Leon.
"Hah? Iyakah? Kenapa aku merasa dingin sekali?" Franky semakin penasaran.
Leon hanya mengangkat bahunya sambil terus menyetir.
"Ya sudah, ayo lanjut gas lagi, Le," titah Franky.
Seketika suasana kembali seperti semula, suara hembusan angin dan deburan ombak kini tiada lagi.
"Kamu mau langsung pulang, atau ke mana dulu, Fran?" tanya Leon.
"Langsung ke kantor tante kamu sajalah, Le, aku mau sekalian kasih tugasku," ucap Franky.
"Oke deh, Fran," angguk Leon.
Leon mengendarai mobilnya hingga sampai di sebuah Kantor penerbit buku.
Mereka berdua pun turun dari mobil dan memasuki sebuah kantor yang ada di hadapan mereka.
"Halo, haloooo, kalian!" sambut Nurdiana sambil beranjak dari tempat duduknya.
"Apa kabar, dan bagaimana petualangan kalian selama di Pulau Abadi?" tanya Nurdiana dengan wajah ceria.
Franky tersenyum.
__ADS_1
"Seru juga Nyonya," sahut Franky.
"Asik sih Tante, tapi tempatnya ang ...."
Belum sempat Leon meneruskan ucapannya Franky menginjak kaki Leon.
"Auuu!" seru Leon, seketika dia paham dengan maksud Franky.
"Kamu kenapa, Le?" tanya Nurdiana heran.
"Hehe, ini ada yang gigit kakiku, mungkin semut ya, oh iya tempatnya asik, Tante," ucap Leon di sela kekehannya.
"Oh ya? Ya sudah, silahkan kalian duduk," kata Nurdiana.
Tiba-tiba ponsel Leon berdering, ada panggilan masuk, dia pun menerima panggilan itu dan beberapa saat kemudian ....
"Em, maaf Tante, Fran, aku pulang dulu ya, ada urusan yang harus aku tangani," kata Leon.
"Oh iya, silahkan, Le," kata Nurdiana.
"Terimakasih ya Le, sudah mengantarkanku," kata Franky.
"Santai saja, Fran."
Kemudian Leon keluar dari kantor itu, tak lama dia kembali lagi membawa koper milik Franky.
"Fran, ini barang kamu aku taruh disini ya," kata Leon sambil menaruh koper di samping pintu kantor.
"Oke Le," kata Franky.
Lalu Franky menyerahkan file berisi susunan cerita-cerita yang selama ini di tulis olehnya.
Nurdiana menerima file tersebut kemudian mengecek di komputernya. Saat tengah mengecek Nurdiana tercengang, hal itu membuat Franky heran.
Selesai membaca karya Franky dari awal hingga akhir Nurdiana mematikan komputernya dan berdiri.
"Hebat sekali, selamat Franky, novel kamu yang berjudul 'TRAGEDI SILAM' benar-benar is the best," tutur Nurdiana sambil bertepuk tangan.
Franky tersenyum bahagia, dia tak menyangka kalau karyanya ternyata lulus.
Tak lama Ponsel Nurdiana berdering.
"Halo? Iya, dengan saya sendiri, ada apa, Ana?" kata Nurdiana.
"Halo, nyonya Nurdiana, ini ada nona Rindi wakil dari PT. Bintang Media," sahut suara di seberang sana.
"Oke, suruh dia masuk," perintah Nurdiana.
Lalu Nurdiana mengakhiri panggilan itu dan tak lama masuklah seorang perempuan muda dan cantik ke dalam ruangan Nurdiana.
Dia adalah Rindi, wakil dari salah satu kantor penerbit novel.
Nurdiana menyalami Rindi.
"Halo, Nona Rindi, apa kabar? Oh iya, kenalkan ini Franky, dan Franky, kenalkan ini Rindi," Nurdiana saling memperkenalkan mereka berdua.
Betapa terkejutnya Franky dia benar-benar tak percaya melihat sosok yang berada di hadapannya, Franky beranjak dari duduknya dan memperhatikan Rindi dengan seksama dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Siapa dia? Cantik sekali," batin Franky.
__ADS_1
Sedangkan Rindi tersenyum penuh arti dan menatap lekat ke arah Franky.
"Halo Franky, saya senang sekali, akhirnya bisa bertemu dengan kamu novelis terkenal itu, dan saya juga suka membaca novel-novel kamu," kata Rindi.
"Ada kalanya, dalam kehidupan ini, mimpi menjadi kenyataan dan hidup memang harus di teruskan," ungkap suara hati Franky.
"Oh iya, Nona Rindi, ini hasil karya Franky untuk yang ke sekian kalinya," celetuk Nurdiana sambil menyerahkan sebuah file milik Franky.
Rindi menerimanya dan tersenyum.
"Oke Nyonya, nanti akan saya serahkan kepada ketua pengurus novel di PT saya, terimakasih dan saya permisi dulu."
Nurdiana mengangguk dan Rindi pun keluar dari ruangan Nurdiana.
"Nyonya, dia ...."
"Ya, dia adalah anak dari ketua PT. Bintang Media, yang tugaskan untuk mewakili mengorbitkan karya-karya novel dari beberapa novelis ternama di kota ini," sela Nurdiana.
Nurdiana merasa heran melihat mimik wajah Franky.
"Kamu kenapa, Fran? Oh ... saya tahu, kamu pasti ada rasa ya sama dia?" kelakar Nurdiana.
"Eh itu ... em ... enggak kok Nyonya," jawab Franky terbata.
"Kejar Fran, dia adalah gadis yang baik, dan masih single, siapa tahu kalian berjodoh, saya tahu, kamu sampai sekarang masih belum bisa melupakan istri kamu yang sudah meninggal, tapi Fran, kamu nggak mungkin akan seperti ini terus, saya mengerti perasaan kamu, tapi kamu juga harus bisa mengikhlaskan Soraya, supaya dia bisa tenang di alam sana, kasihan almarhum kalau kamu terus bersedih," hibur Nurdiana.
"I ... iya Nyonya, ya sudah, saya permisi pulang dulu," pamit Franky.
"Kamu mau naik apa, Fran? Atau saya hubungi Leon untuk mengantar kamu pulang?" tanya Nurdiana.
"Oh jangan Nyonya, kasihan dia pasti capek, saya nggak enak kalau harus merepotkan dia terus, saya bisa naik taxi kok," kata Franky.
"Ya sudah, kamu hati-hati, Fran," kata Nurdiana.
Franky mengangguk dan keluar menuju jalan raya.
Dia menyetop taxi yang melintas di jalan itu.
Kemudian Franky naik dan duduk di depan bersebelahan dengan supir taxi itu.
Franky melamun, dia masih memikirkan Rindi.
"Cantik sekali dia," batin Franky.
Wuuusssh ....
Seketika angin dingin berhembus dan menyeruak ke dalam mobil, dan seketika itu juga bulu kuduk Franky meremang.
"Kok dingin ya Pak," kata Franky.
"Dingin? Saya enggak tuh Mas, ini sudah sore tapi saya justru merasa gerah, ya maklumlah ini kan musim panas, Mas," ujar Sopir tersebut.
Franky mengerutkan keningnya, dia tak paham dengan ucapan supir tersebut.
Tak lama Franky tiba di rumahnya, dia pun membayar ongkos taxi kemudian turun.
Franky masuk ke dalam rumahnya dan menaruh barang-barangnya di dalam.
Kemudian dia menutup dan mengunci pintu rumah lalu masuk ke dalam kamar dan merebahkan dirinya di atas kasur melepas penat yang dia rasakan seharian itu.
__ADS_1
*****
terimakasih sudah mampir di karya recehku, mohon maaf bila banyak typo berkeliaran 🙏