
Tak terasa, waktu kini telah menunjukkan pukul sepuluh malam.
"Eh sudah malam, pulang yuk," ajak Leon.
"Kalian berdua pulang sana, aku menyusul," kata Joko.
"Lho, kamu masih mau di sini, Jok?" tanya Leon.
"Ya enggaklah, aku mau bawa si Franky pulang, maklum orang yang sedang kasmaran, pasti lupa pulang," kata Joko sambil mengerlingkan matanya.
Leon dan Bento saling berpandangan.
"Ya sudah ayo, Ben, kita pulang," ajak Leon.
"Oke, ayo."
Mereka berdua pun berlalu dari hadapan Joko.
Sedangkan Joko berjalan ke seberang pantai, dia menghampiri Franky dan Rinjani, yang tengah asik berduaan.
"Hey, sudah malam, jin bucin, waktunya Franky pulang, kamu juga pulang, besok kan bisa ketemuan lagi," kelakar Joko.
Rinjani melirik sinis ke arah Joko.
"Ya sudah, Fran, saya pulang dulu ya," pamit Rinjani kepada Franky.
"Biar aku antar," kata Franky.
"Tak perlu lah, saya bisa sendiri."
"Kamu itu, dari dulu nggak berubah, nggak pernah mau diantar, apa kamu nggak takut, di dalam hutan itu ada hewan buas, kalau kamu di makan bagaimana?"
"Hahaha! Dia nggak bakal dimakan hewan buas, Fran, lah dia sendiri saja sudah buas, justru hewan buasnya pada takut sama dia," kata Joko dengan nada mengejek.
"Banyak bicara anda," kata Rinjani, kemudian berjalan meninggalkan mereka berdua, masuk ke dalam hutan, dan menghilang.
"Rin! Tunggu!" seru Franky, dia hendak membuntuti Rinjani.
Namun Joko segera memegang tangan Franky, kemudian Joko mengusap wajah Franky, dan seketika itu juga Franky tersadar dari lamunannya.
"Hah? Kita di mana Jok?" tanya Franky kebingungan.
"Masa kamu lupa, Fran, kita kan sedang di pantai. Nah, itu pantainya," kata Joko sembari tangannya menunjuk ke arah pantai.
"Astaga, iya ya, kita kan tadi ke pantai, kenapa aku bisa lupa."
"Kamu kebanyakan pacaran kok."
"Pacaran? Siapa yang pacaran?"
"Hem, lupa juga? Ya sudah nggak perlu dibahas, sekarang kita pulang, sudah malam."
"Lho, Leon sama Bento mana?"
"Mereka sudah pulang duluan."
Franky dan Joko pun berjalan bersama. Sementara itu, Bento dan Leon masih berjalan, dan mereka berpisah di tikungan jalan.
__ADS_1
"Aku duluan ya Le, tuh rumahku sudah dekat."
"Iya Ben."
Kemudian Leon berjalan menuju ke penginapannya. Sesampainya, dia membuka pintu penginapan, dan masuk ke dalam. Sampai di dalam kamar, tiba-tiba perut Leon merasa lapar, dia pun teringat dengan mie telur yang diberikan oleh Bento.
"Ah aku masak mie saja, deh."
Leon mengambil satu bungkus mie instan, dan satu butir telur, kemudian berjalan ke arah dapur.
"Si Franky sama Joko lama sekali sih," gumam Leon dalam hati.
Sampai di dapur, Leon pun mengambil panci kecil, yang telah tersedia di dapur, kemudian mengisinya dengan air secukupnya. Setelah itu, dia meletakkan panci berisi air di atas kompor, dan menyalakan apinya.
Samar-samar, Leon mendengar suara langkah kaki ....
"Itu pasti si Franky sama Joko," batinnya.
Suara langkah kaki itu pun semakin dekat, dan jelas terdengar di telinga. Leon mengintai ke arah kamarnya, namun tak ada seseorang pun di tempat itu.
"Hah? Perasaan tadi aku dengar suara orang jalan deh, kenapa nggak ada orang? Aneh," gumam Leon dalam hati.
Tiba-tiba angin berhembus, menyeruak masuk, dan menerpa tubuh gemuk Leon, dan seketika itu pula, bulu kuduk Leon meremang.
"Kok serem ya," batin Leon kemudian melanjutkan memasak mie.
Setelah mie matang, Leon memindahnya ke dalam mangkuk. Ketika Leon hendak membawa mangkuk berisi mie itu, tiba-tiba dia berasa ingin buang air.
"Duh malah kebelet lagi," batinnya.
"Lho, mana mie nya? Kok nggak ada, perasaan tadi aku taruh di sini," gumam Leon dalam hati, sambil mencari mangkuk mie itu.
Leon mencari ke sekitar dapur itu, namun dia tak menemukannya. Leon pun merasa kesal.
"Siapa sih yang mencuri mie ku? Masa iya tikus, kalau tikus, nggak mungkin sama mangkoknya, ini pasti perbuatan orang, jangan-jangan si Joko, atau si Franky ... ya, bisa jadi."
Leon pun berjalan masuk ke dalam kamarnya, dan lagi-lagi, dia dikejutkan oleh kenyataan. Di dalam kamar, Leon tak melihat Franky dan Joko.
"Apa mereka belum pulang? Terus, siapa dong yang mengambil mie ku?"
"Ah sudahlah, paling hantu yang lagi kelaparan," gumam Leon lirih, dan bersamaan dengan itu, angin dingin berhembus, menyeruak masuk, dan meniup tengkuk leher Leon. Seketika Bulu kuduk Leon pun meremang.
"Hiii, kenapa aku jadi merinding begini?" ujar Leon sambil memegangi tengkuk lehernya.
Kemudian, Leon membuka bungkusan yang berisi mie telur, dia kembali mengambil mie dan telur, dia berniat akan memasaknya lagi.
"Aku akan memasak lagi, tapi kali ini, nggak bakal aku tinggal-tinggal lagi," batin Leon.
Leon pun kembali ke dapur, dan memasak mie, setelah matang, dia memindah ke sebuah mangkuk, lalu berjalan sambil membawanya.
Pada saat melewati gudang, Leon menghentikan langkah kakinya, tepat di depan gudang itu. Leon menoleh ke arah gudang itu, tiba-tiba dia bergidik ngeri.
"Ini gudang, misterius sekali, sebenarnya, apa yang ada di dalam gudang ini ya?"
Dan seketika, Leon teringat pesan Joko.
"Hiii, serem ...." Akhirnya Leon berjalan masuk ke dalam kamarnya.
__ADS_1
Di dalam kamar, Leon meletakan mangkuknya di atas meja, yang terdapat di dalam kamarnya, kemudian duduk, menikmati mie instan yang asapnya masih mengebul. Tak lama, pintu kamar terbuka, Franky dan Joko masuk ke dalam.
"Wah enak tuh, malam-malam makan mie," kata Joko.
"Bikin sana Jok, kalau kamu lapar," sahut Leon.
"Enggak ah, aku maunya nyicip punya kamu saja," kata Joko, yang langsung menyendok sebagian mie itu, dan memasukan ke dalam mulutnya.
Franky hanya menggeleng, melihat tingkah Joko.
"Yeee, dasar kamu, Jok, nggak sopan," gerutu Leon kesal.
"Biarin lah, sama teman jangan pelit-pelit." Kemudian, Joko merebahkan tubuhnya di atas kasur, sementara Franky duduk di sebelah tubuh Joko yang terbaring.
"Eh, Fran, tadi pas aku masak mie, aku dengar suara," celetuk Leon kepada Franky.
"Suara apa, Le?" tanya Franky.
"Suara orang jalan, Fran."
"Terus?" Franky meminta Leon meneruskan ucapannya.
"Ya, pas aku lihat, nggak ada siapa-siapa."
"Hah? Masa sih, Le."
"Beneran, Fran, aku nggak bohong."
"Aku sudah bilang, kalau dengar suara, jangan ditanggapin," Joko menimpali.
"Yeee, orang suara orang jalan, aku pikir kalian sudah pulang, lagian kalian ke mana saja sih? Kok lama sekali."
"Itu, si Franky tadi pakai acara kesandung segala, jatuh deh dia, jadi ya tadi berhenti sebentar, orang dia kesakitan," papar Joko.
"Huuu, sudah besar, masih suka jatuh segala," cibir Leon.
"Ya namanya juga lagi sial, Le," kata Franky tersipu.
Leon pun menghabiskan mie nya, setelah itu menaruh mangkuknya, di sudut lamar dekat pintu.
"Taruh di tempatnya, Le," kelakar Joko.
"Besok sajalah."
"Bilang saja takut."
"Nah, tuh kamu tahu."
Joko terkekeh.
Kemudian, Leon merebahkan tubuhnya di samping Joko, diikuti oleh Feanky. Dan kini posisi Joko berada di tengah, di antara kedua temannya itu.
"Tidur yuk, besok berpetualang lagi," kata Joko.
"Ayok deh," kata Leon.
"Aku juga sudah ngantuk," sambung Franky.
__ADS_1