Pulau Abadi

Pulau Abadi
Sebuah Petunjuk


__ADS_3

Malam hari pun tiba, Franky masuk ke dalam kamarnya dan merebahkan tubuhnya di atas kasur sambil termenung.


"Sebenarnya, besok aku akan ke Lembah Ilusi, untuk mulai merilis buku baruku, tapi ada saja sih masalahnya huft," keluhnya dalam hati.


Franky pun meraih ponselnya dan mengirim pesan kepada Leon.


"Le, kamu kesini dong, temani aku sekali-kali, aku ingin sekali mengobrol sama kamu."


Isi pesan dari Franky.


"Ah, besok kan kita mau ke lembah ilusi, kan bisa ngobrol setiap hari," balas Leon.


"Nggak besok Le, mungkin lusa."


"Lho, memang kenapa?"


"Ada urusan penting yang harus aku kerjakan, makannya aku mau cerita sama kamu, tapi kamunya nggak mau, ya sudah aku nggak jadi cerita."


"Ya sudah besok saja, Fran ceritanya, kalau kita sudah di lembah ilusi, maaf ya."


"Huft, ya sudahlah, Le."


Pesan pun berakhir...


"Hem.. sial sekali sih aku hari ini."


Tak lama Franky pun memejamkan matanya hingga terlelap dalam tidurnya.


"Franky.. Franky....!"


Franky saat itu sedang berdiri di depan sebuah rumah makan, dia mendengar namanya di panggil.


"Siapa yang memanggilku?" gumamnya.


Tiba-tiba sosok wanita cantik telah berdiri di hadapan Franky.


Sosok itu berjalan ke dalam, tanpa sadar Franky mengikutinya.


Sosok itu berjalan sampai di depan sebuah kamar, kemudian dia masuk, namun pintu tetap di biarkan terbuka.


Franky yang penasaran mendekati kamar itu, dia mengintip perlahan ke dalam, betapa terkejutnya dia melihat pemandangan di dalam kamar tersebut.


Seorang pria dan sosok wanita tadi sedang bergumul.


Franky pun segera berjalan mundur beberapa langkah dari kamar tersebut, dan tak lama, Franky melihat pria tersebut keluar dari kamar itu.


"Hey tunggu!" seru Franky memanggil pria itu, namun pria itu mengabaikannya seolah dia tak mendengar dan tak melihat keberadaan Franky.


"Aneh, kenapa dia diam saja? Apa dia bisu? Hem...."


Setelah pria itu menghilang dari pandangan, Franky pun perlahan berjalan ke arah kamar tersebut, dia mengintip ke dalam dengan hati-hati.


Franky tercengang ketika mendapati kamar itu kosong, namun netranya justru mengarah ke sebuah kasur di dalam kamar itu, Franky berjalan masuk dan mendekati kasur tersebut.

__ADS_1


Di atas kasur itu ada bercak darah yang cukup banyak, Franky meraba sprei itu lalu menciumnya, seketika bau anyir menyeruak menusuk hidungnya.


Seketika perut Franky seperti di aduk-aduk, dia pun berlari ke kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya.


"Gila, darah apaan sih itu? Kok bau sekali, terus kemana perempuan cantik tadi?" gumam Franky dalam hati.


Kemudian Feanky berjalan kembali ke arah kamar yang dia lihat tadi, dan lagi-lagi Franky terkejut karena kamar yang dia lihat tadi telah berubah menjadi sebuah ruangan kosong.


"Hah? Kok kamarnya hilang? Ini aneh sekali, sebenarnya ini tempat apa sih?"


Tiba-tiba sebuah sinar menyilaukan menerpa wajah Franky, dia pun memejamkan matanya.


Beberapa saat kemudian, Franky membuka matanya perlahan, dia pun terduduk di kasurnya.


"Ternyata hanya mimpi, tapi serem juga ya mimpinya," gumamnya.


Seketika bulu kuduk Franky meremang.


"Eh tunggu deh, mimpi tadi kok seperti sebuah petunjuk ya."


Franky tampak mengingat sesuatu.


"Rumah makan itu! Ya rumah makan yang aku datangi sama Roy tadi siang, tempatnya sama persis dengan yang ada di dalam mimpiku."


Kemudian Franky teringat dengan ucapan seorang ibu yang dia temui sewaktu di jalan.


"Anak ibu itu? Di perkosa? Kamar? Lelaki itu? Ya aku paham sekarang, oke sebentar lagi teka teki akan segera terpecahkan!" seru Franky dalam hati.


Franky pun melanjutkan tidurnya.


Keesokan harinya, Franky bangun, dia bergegas mandi dan berpakaian rapi, kemudian mengemudikan mobilnya.


Empat puluh menit kemudian, Feanky sampai di rumah makan bebek goreng.


Franky turun dan berjalan masuk ke dalam rumah makan itu.


"Silahkan, Mas," seorang ibu paruh baya menyapa Franky.


Franky sangat terkejut, karena ibu itu mirip sekali seperti ibu-ibu yang dia temui di jalan kemarin siang.


"Lho, ibu bukannya yang kemarin ya?"


"Eh, maksud kamu apa, Mas?" ibu itu mengernyitkan dahinya.


"Bukannya kemarin siang ibu ada di jalan sana mencegah mobil saya, terus ibu bilang saya di suruh mencari jasad anak ibu."


Deg!


Jantung ibu paruh baya itu berdetak kencang.


"Ka... kamu, kok bisa tahu?"


Kini giliran Franky yang mengernyitkan dahinya.

__ADS_1


"Bukannya ibu yang cerita sendiri?"


Ibu itu bertambah bingung.


"Tapi ... kapan saya pernah cerita sama kamu? Bahkan saya kenal kamu pun baru sekarang ini."


Franky tampak berpikir sejenak.


"Apa ibu ini lupa ya? Secara, dia kan sudah tua, tapi masa segitunya sih," kata suara hati Franky.


"Maaf bu, begini saja, apa saya boleh duduk dulu?"


"Oh ya, silahkan mas."


Franky pun duduk di temani ibu paruh baya itu.


"Jadi begini bu, kemarin siang ada ibu-ibu yang mukanya mirip seperti ibu juga, terus dia bilang minta tolong kepada saya, yang saya harus membantu mencari jasad anak ibu, katanya dia diperkosa sama pacarnya dan kemungkinan dia di bunuh."


Ibu paruh baya itu terbelalak.


"Kenapa ucapan lelaki ini bisa sama ya, sama apa yang di alami anak saya?"


"Mungkin saya hanya bermimpi, dan mungkin juga mimpi itu sebuah petunjuk buat aku, ya walaupun kita nggak saling mengenal, tapi mungkin saya di kasih petunjuk untuk membantu orang yang sedang membutuhkan pertolongan."


Franky berbicara begitu lancar, sampai dia sendiri pun heran mengapa dapat berbicara selancar itu.


Perlahan ibu itu meneteskan bulir bening.


"Jadi begini mas, saya punya anak perempuan namanya Ririn, dia anak semata wayang, dan dia itu pacaran sama laki-laki namanya Roy."


Deg!


Jantung Franky berdegup seketika mendengar nama Roy disebut.


"Roy? Roy siapa, Bu?"


"Sebentar...."


Kemudian ibu itu berjalan masuk ke dalam kamar dan kembali lagi membawa sebuah foto.


"Ini lho, yang namanya Roy," ibu itu menyerahkan sebuah foto, dan Franky menerimanya, dia pun memperhatikan foto itu, seketika dia menutup mulutnya dengan salah satu tangannya.


"Ya Tuhan, i.. ini kan ... si Roy, kok bisa ya? Bagaimana ceritanya?" batin Franky.


"Ririn sama Roy berpacaran sekitar dua bulan, dan suatu hari, dia mengajak pacarnya ke rumah ini, ibu juga senang kalau ada yang menyukai anak ibu, tapi entah bagaimana ceritanya, saat itu ibu sedang melayani pembeli," ibu itu mulai bercerita di sela isak tangisnya.


Franky mendengarkan dengan seksama.


"Dan saat ibu selesai berjualan, hari sudah hampir maghrib, ibu menutup warung."


****


maaf telat up bulan puasa author sibuk sekali 🙏

__ADS_1


__ADS_2