Pulau Abadi

Pulau Abadi
Makhluk Ghaib Bertarung


__ADS_3

Pagi hari Franky bangun dari tidurnya, hidungnya mengendus aroma sedap dari dapur, dia berjalan menuju dapur, di sana Franky mendapati Nila telah selesai memasak dan mencuci pakaian milik Franky.


Pandangan netra Franky tertuju ke arah meja makan, di sana sudah ada nasi, sayur mayur beserta lauk pauknya.


"Kamu kapan kesini La? Kok sudah masak sebanyak ini?" Franky merasa terheran-heran.


Nila tersenyum.


"Eh, kamu sudah bangun Fran, sana mandi dulu, terus kita makan yuk," kata Nila.


"Baiklah, perutku juga sudah merasa lapar," sahut Franky antusias, dia segera meraih handuk yang berada di gantungan, lalu masuk ke dalam kamar mandi.


Selesai mandi, Franky berpakaian rapih, dia menyemprotkan parfum ke seluruh tubuhnya.


Setelah itu Franky berjalan menuju meja makan di mana Nila sudah menunggunya.


Mereka pun makan bersama.


"Wangi sekali kamu Fran, mau kencan ya sama pacar kamu?" tanya Nila dengan nada sedikit mengejek.


"Ah, enggak kok La, hari ini aku ada perlu sama Leon."


"Yang kemarin itu?"


"Iya, kita ada urusan sedikit," jawab Franky.


"Ya sudah, tidak apa-apa, aku kembali saja ke kos."


"Tapi aku mungkin pulang agak lama," kata Franky lagi.


"Ya nggak masalah, memangnya kenapa?"


"Ya nggak apa-apa hehe."


Nila menggeleng melihat tingkah Franky.


"Ya sudah, aku tinggal dulu, kamu kalau mau kembali ke kos, kunci rumah gantungin saja di deket pintu."


Nila mengangguk.


Setelah itu, Franky keluar dan mengendarai mobilnya menuju Alun-Alun kota.


Sampai di tempat yang dimaksud, Franky menghubungi Leon.


Satu jam kemudian, Leon tiba di Alun-Alun dan menghampiri Franky.


"Hai Fran, apa kabar?" tanya Leon.


"Baik Le," jawab Franky sambil tersenyum ceria.


"Kelihatannya kamu sedang bahagia nih," kata Leon yang kemudian duduk di sebelah Franky.


"Justru aku lagi bingung nih Le."


"Bingung kenapa?"


"Aku suka sama Nila, tapi.. aku juga suka sama Rindi, nggak tahu kenapa aku nggak bisa berhenti memikirkan mereka berdua."


"Wah, gila benar kamu, beruntung sekali nasib kamu, selalu di kelilingi perempuan cantik, aku satu saja belum ada yang nyantol huft," keluh Leon.

__ADS_1


"Hehehe, itu dia aku sedang bingung Le, selain mukanya yang cantik, mereka juga punya kepribadian yang lembut, yang membuat aku jadi ingin memiliki keduanya."


"Nah, ini dia penyakit jelek kamu, kalau saja semua perempuan di dunia ini seperti mereka berdua, pasti semuanya mau kamu nikahin 'kan? Hahahaha, Franky, Franky." Leon terbahak.


Wajah Franky merah padam.


"Terus, bagaimana menurut kamu Le?"


"Yah, selama mereka berdua mau menerima satu sama lain, nggak ada masalah kamu berpoligami," kata Leon.


"Begitu ya, hehe, tapi.. memangnya mereka berdua mau sama aku Le, aku sudah kepedean saja nih," kekeh Franky.


"Nah, itu dia masalahnya Fran."


"Kamu sudah makan belum Le?" tanya Franky.


"Belum nih Fran," jawab Leon.


"Ya sudah, ayo aku traktir makan," ajak Franky.


Franky dan Leon berjalan ke arah sudut lapangan itu, di sana terdapat sebuah rumah makan.


Mereka berdua masuk dan memesan makanan.


Sementara di rumah Franky, Nila sedang bernyanyi sambil membersihkan rumah, dia menyapunya dari debu dan kotoran, dan mengepelnya supaya terlihat mengkilap.


Nila melakukan semua itu hanya dengan memutarkan jari telunjuknya, dan dalam sekejap mata, rumah Franky menjadi bersih dan rapi.


Tiba-tiba muncul gumpalan asap putih memenuhi ruangan itu.


Nila mengerutkan keningnya, menyaksikan gumpalan asap itu.


Dia adalah Rinjani, makhluk halus asal Pulau Abadi.


Nila mengerutkan keningnya, dia merasa heran, karena tak merasa mempunyai urusan dengannya Rinjani.


"Bukankah dia Jin? Tapi kenapa dia kesini? Apa dia ada hubungannya dengan Franky?" batin Nila.


"Mau apa kau datang kesini? Tidak ada yang mengundangmu!" seru Nila ketus.


"Saya hanya ingin memperingatkan anda, wahai Bidadari dari Kahyangan, kalau Franky adalah kekasih saya," ujar Rinjani sengit.


"Lantas, ada masalah apa denganku?" balas Nila.


"Saya hanya ingin mengatakan, kalau Franky adalah suami saya, anda tidak punya perasaan apa-apa terhadapnya bukan?"


"Itu bukan urusan kamu, wahai Jin genit!" seru Nila.


"Rupanya, anda tak bisa diberi tahu dengan cara halus, mungkin cara kasar akan menyadarkan anda, bahwa merebut sesuatu milik orang lain adalah di larang," kata Rinjani.


"Hahaha!" Nila tertawa menggelegar, membuat seisi rumah bergetar.


"Kita lihat saja Jin genit, siapa yang akan di pilih oleh Franky," ujar Nila.


"Jangan terlalu percaya diri, Bidadari murahan, anda dan saya tentunya sudah paham, kalau kebanyakan dari laki-laki, pasti imannya lemah, dia mudah tertarik kepada setiap perempuan yang baru saja di temuinya," tutur Rinjani.


"Itu sih deritamu, hahaha!" Nila kembali terbahak, membuat Rinjani geram.


Rinjani bersiap menyerang Nila, dia memutar jari tangannya, kemudian mengeluarkan kilatan cahaya berwarna hijau.

__ADS_1


Rupanya Nila sudah membaca aksi yang akan di lakukan oleh Rinjani, oleh karena itu, dengan sigap Nila menangkis serangan dari Rinjani, dia pun mengeluarkan kilatan cahaya berwarna ungu untuk melawan Rinjani.


Terjadilah pertarungan sengit antara kedua makhluk halus itu.


Mereka berdua sama kuatnya.


"Sudahlah, menyerah saja kamu, Jin genit!" seru Nila.


"Tidak semudah itu, Bidadari murahan!" Rinjani tak mau kalah.


Cukup lama mereka bertarung, akhirnya mereka berdua terpental ke belakang membentur dinding tembok.


Mereka berdua kelelahan karena sama kuatnya.


"Tunggu saya, Bidadari murahan, saya pasti akan kembali lagi, supaya anda bisa enyah dari sini," kata Rinjani dengan bengis.


"Silahkan saja Jin Genit, aku tidak gentar sedikitpun," balas Nila.


Tubuh Rinjani pun berubah menjadi gumpalan asap putih, kemudian menghilang perlahan.


"Sial, kenapa aku bisa punya musuh? Aku akui, kalau aku di sini hanya menumpang hidup, sampai selendangku ketemu, aku akan meninggalkan dunia terkutuk ini," batin Nila.


Nila berjalan menuju ke arah jemuran baju, dia mengangkat pakaian Franky yang sudah kering dan membawanya masuk, kemudian dengan satu gerakan jari jemarinya, dia membuat semua pakaian itu terlipat rapi.


Kemudian dengan gerakan tangannya juga, dia memindahkan baju-baju tersebut ke dalam lemari milik Franky di dalam kamar.


Franky dan Leon masih asik mengobrol.


"Pulang yuk Le, sudah hampir sore, atau kamu mau main ke rumahku," ajak Franky.


"Em, boleh deh, oh iya, apa Nila sudah dapat kost?"


"Sudah Le, di dekat rumahku."


"Wah, enak tuh, bisa kencan setiap hari, hehe."


"Ah, apaan sih kamu Le, ya sudah yuk."


Sesampainya, mereka berdua turun dari mobilnya, Franky mengajak Leon masuk ke dalam rumahnya.


"Kamu sudah pulang Fran?" sambut Nila.


"Lho, kamu masih di sini La?"


"Iya Fran, maaf ya, aku jenuh di kost sendiri."


"Em, ya sudah, nggak masalah."


Franky menyuruh Leon duduk, Leon menatap lekat ke arah Nila.


Seketika hawa dingin menyeruak masuk dan menerpa tubuh Leon, Leon menjadi kedinginan, dia pun merasa aneh dengan hal itu.


"Kenapa ya, kalau aku dekat sama perempuan ini, kok aku jadi merinding, aneh sekali," batin Leon.


"Saya pulang kost sekarang ya Fran," pamit Nila.


"Iya La, hati-hati."


Nila pun keluar dari rumah rumah, tak lama Leon berpamitan pulang.

__ADS_1


__ADS_2