
Hari hampir siang, Franky dan Leon masih berada di dalam mobil.
Di sepanjang jalan itu sangatlah sepi tak ada manusia atau kendaraan satupun yang melintas.
"Sebenarnya ini tempat apa sih, Le? Kenapa seperti kuburan ya, dari tadi kita belum ketemu orang satu pun kan?" tanya Franky merasa heran.
"Lah kan tadi malam sudah ketemu perempuan cantik, Fran."
"Perempuan cantik apaan, Le?"
"Yang jual roti itu."
"Ah, perempuan itu juga nggak jelas sepertinya, tempat ini sangat aneh."
"Aneh gimana sih, Fran? Biasa saja ah," kata Leon.
"Kamu bilang pernah kesini, Le."
"Ya memang pernah, tapi ya nggak tahu juga kok sekarang jadi seperti ini keadaannya, mungkin sudah berubah, kan aku ke tempat ini sudah beberapa tahun yang lalu."
"Berubah sih berubah, tapi nggak sepi seperti ini juga kali, Le."
Leon memperhatikan sekeliling, "iya juga ya, kenapa nggak ada orang sama sekali, mobil atau motor pun nggak ada."
Tiba-tiba mereka mendengar sebuah suara yang berasal dari seorang perempuan.
"Tolong.. tolong.."
"Kamu dengar apa enggak?" ada yang minta tolong itu?" tanya Leon.
"Iya, aku dengar Le," jawab Franky.
Kemudian Leon menoleh ke belakang.
Kali ini dia melihat seorang perempuan berpakaian serba hijau, sedang berdiri, wajahnya terlihat sendu, dia terus berteriak minta tolong, suaranya sungguh menyayat hati dan terdengar pilu.
"Itu ada orang, Fran," kata Leon menunjuk ke arah perempuan yang di maksud.
Franky pun menoleh ke arah yang di tunjuk Leon.
"Siapa dia? Kenapa seorang diri saja? Sepertinya dia butuh pertolongan, ayo kita hampiri dia," ucap Franky.
Mereka berdua pun turun dari mobil dan menuju ke arah perempuan yang di lihatnya tadi.
Betapa terkejutnya mereka, karena perempuan yang baru saja mereka lihat sudah menghilang.
"Mana perempuan tadi ya?" tanya Leon.
"Iya Le, kok cepat sekali hilangnya," sahut Franky.
Mereka pun mengedarkan pandangannya, mencari perempuan tadi kesana dan kemari.
Tiba-tiba netra Leon menangkap sosok perempuan tadi di sebuah pohon besar di pinggir jalan itu.
"Itu dia, Fran! Ayo kita kita kesana," ajak Leon.
Kedua insan itu berjalan menghampiri sosok perempuan yang di maksud.
Setelah Franky dan Leon mendekat, perempuan itu menundukkan wajahnya.
"Maaf, kamu siapa? Dan kenapa berada di tempat ini sendiri?" tanya Franky.
Perempuan itu tiba-tiba berlari hingga jauh dan menghilang dari pandangan.
__ADS_1
Franky dan Leon saling berpandangan.
"Jangan ikuti perempuan itu!" seru sebuah suara.
Franky dan Leon bingung, mereka mencari sumber suara itu.
"Suara siapa itu?" tanya Leon.
"Nggak tahu Le," kata Franky.
"Eh tunggu deh, kok seperti suara kakek yang tadi malam aku temui," batin Franky.
"Kita kembali ke mobil saja yuk Le," ajak Franky.
"Ya sudah ayo, Fran."
"Le, kenapa juga kita bisa berada di tempat seperti ini, tempat ini seperti sarang hantu," lirih Franky.
"Aku juga nggak tahu, Fran, dulu nggak seperti ini kok, ya sudah ayo kita jalan lagi saja yuk," ajak Leon.
"Kemana Le?"
"Ya, kita coba ikutin jalan ini tembusnya sampai di mana, siapa tahu ada orang yang bisa kita mintai tolong."
Mereka berdua kembali masuk ke dalam mobil, Franky menghidupkan mesin mobilnya hingga mobil melaju.
Mobil terus melaju mengikuti arah jalan itu.
Hingga akhirnya mereka sampai di jalan besar di mana orang-orang dan kendaraan ramai berlalu lalang.
"Akhirnya, Fran, kita menemukan manusia haha," Leon tertawa.
Franky pun tersenyum.
"Sama Le, aku juga lapar, ya sudah kita cari warung makan," sahut Franky.
Franky mengendarai mobilnya, berkeliling di jalan itu mencari warung makan.
"Itu dia ada warung nasi," tunjuk Leon.
"Iya Le, ayo kita kesana," kata Franky.
Franky memarkirkan mobilnya di samping warung tersebut, lalu mereka berdua turun dan masuk ke dalam warung itu.
"Selamat siang, Mas, silahkan," sapa seorang ibu di dalam warung tersebut.
Franky dan Leon mengangguk dan tersenyum, mereka memesan apa yang akan mereka makan.
Pemilik warung pun melayani mereka.
"Mas-mas ini dari mana dan mau kemana? Kok sepertinya kalian bukan asli penduduk sini," tanya ibu itu.
"Kami mau ke lembah ilusi bu," sahut Leon.
"Apa? Lembah ilusi? Apa saya nggak salah dengar?" heran ibu itu.
"Enggak Bu, Ibu nggak salah dengar kok," kata Franky.
"Tapi.. maksud kalian lembah ilusi itu, sarang hantu?" ibu itu memastikan.
"Hah? Sarang Hantu? Memangnya ada Bu, sarang hantu?" tanya Franky mengerutkan keningnya.
Ibu itu terdiam sejenak....
__ADS_1
"Lembah ilusi yang kalian maksud itu...."
"Sudah Bu, jangan ikut campur dengan urusan orang," sela seorang bapak tua yang ternyata suami dari ibu penjual warung itu.
Ibu penjual warung itu pun mengangguk, dia pun akhirnya diam.
Selesai makan, Franky membayar makanan mereka, kemudian kembali lagi ke dalam mobil.
"Le, maksud ibu tadi apa ya?"
"Nggak tahu, Fran, sudahlah nggak perlu di pikir."
"Iya Le, terus kita sekarang mau kemana nih?"
"Yah kamu ini, kamu kesini tujuannya mau apa?"
"Ya mau cari suasana yang tenang untuk bikin novellah, Le."
"Nah, kalau begitu, ayo kita cari rumah sewa."
"Iya, tapi kita cari kemana?"
"Kita tanya sama penduduk yuk."
Franky mengangguk, kemudian dia memarkirkan mobilnya di suatu tempat.
Lalu Franky dan Leon turun, dan berjalan, mereka melihat ada seorang bapak sedang mencabuti rumput di depan rumahnya.
"Itu ada orang Le."
"Iya Fran, ayo kita tanya."
Mereka berdua berjalan mendekati bapak tersebut.
"Permisi pak," sapa Leon.
Bapak itu menoleh ke arah mereka berdua.
"Iya mas, ada yang bisa saya bantu?"
"Begini, Pak, kami dari kota seberang, ingin mencari rumah sewa, apakah ada di sekitar sini? Mungkin bapak tahu."
"Oh kebetulan rumah di belakang saya itu adalah rumah sewa, dan saya pemiliknya, oh iya kenalkan nama saya Bima."
"Oh pak Bima, saya Leon dan ini teman saya Franky.
Franky dan Leon menyalami pak Bima secara bergantian.
"Mari ikut saya, saya akan tunjukan rumahnya."
Franky dan Leon mengekor di belakang pak Bima.
Mereka pun sampai di sebuah rumah minimalis.
"Nah, ini rumahnya, silahkan masuk dan di lihat-lihat dulu, apakah kalian cocok atau enggak, kalau enggak cocok, kalian bisa cari yang lainnya."
Franky dan Leon masuk ke dalam melihat-lihat keadaan di dalam rumah tersebut.
"Gimana, Fran?"
"Lumayan kok ini, Le, sudahlah ambil ini saja, selagi ada, nggak perlu cari lainnya."
"Ya sudah, Pak, kami ambil rumah ini," kata Leon.
__ADS_1
"Dan saya akan bayar untuk beberapa bulan ke depan," sambung Franky.