Pulau Abadi

Pulau Abadi
Komunikasi Dua Alam


__ADS_3

Malam hari, hantu Rindi sedang berduaan bersama Franky di kamarnya.


Seperti biasa, hantu Rindi kini menjelma menjadi manusia yang dapat di sentuh oleh Franky dan mereka saat itu baru saja selesai menjalankan aktifitas ranjangnya.


"Rin."


"Iya, Fran?"


"Kamu nikmat sekali."


"Kamu pikir aku makanan, kok nikmat sih."


"Hehe, tubuhmu yang nikmat, andai saja kamu masih hidup, kita pasti sudah bahagia."


"Sudahlah, Fran, jangan mulai deh, kamu selalu saja mengungkit masa lalu, kamu nggak perlu sedih, setiap malam aku akan selalu ada untukmu, walaupun wujudku bukan lagi manusia biasa."


"Iya, Rin, trimakasih ya."


Hantu Rindi mengangguk, dan Franky pun mengusap kepala hantu Rindi kemudian membelai surainya, hantu Rindi pun membenamkan kepalanya di bahu Franky. Mereka terlihat seperti pasangan yang sangat romantis.


"Rin, kamu sudah datang bulan atau belum?"


"Hah? Datang bulan? Pertanyaan kamu kok aneh sekali, Fran?"


"Lho, aneh bagaimana, Rin? Perempuan bukannya setiap bulan itu, mengalami datang bulan ya?"


"Memang benar, tapi memangnya berlaku untuk para hantu?"


"Hey, aku kan tanya sama kamu, kenapa kamu justru bertanya balik?"


"Ya aku nggak tahulah, selama aku menjadi hantu, aku belum pernah mengalami datang bulan, memangnya kenapa, kok kamu bertanya soal itu?"


"Ya nggak apa-apa, maksud aku, kalau kamu datang bulan, berarti kita nggak bisa bermain, nanti spreiku jadi horor lagi."


Hantu Rindi mengerutkan keningnya.


"Maksud kamu apa sih, Fran?"


"Ya kan jadi sprei berdarah-darah, hahaha!"


Franky terbahak.


Bletak!


Sebuah jitakan mendarat di kepala Franky.


"Au! Sakit, Rin." Franky meringis.


"Kamu itu, otaknya kotor sekali huft."


"Hehehe ...." Franky terkekeh sambil meringis.


Dan di sisi lain, kiyai Romli sedang meraga sukma, yaitu mengeluarkan jiwa dari tubuhnya, tanpa menyebabkan kematian. Kiyai Romli meraga sukma di dalam kamarnya, dan sehari sebelumnya, kiyai Romli berpuasa mutih terlebih dahulu.

__ADS_1


Kiyai Romli adalah, seorang ulama yang disegani di tempat tinggalnya, dia hidup seorang diri, anak dan istrinya telah meninggal dalam sebuah kecelakaan tragis. Keseharian kiyai Romli hanya mengajar agama, di desa tempat tinggalnya.


Sementara itu, mulut kiyai Romli berkomat-kamit membaca mantera.


“BISMILLAH…..


SHALALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM,


ALLAHUMMA KHULKUALLAH,


DZAT GUMILANG TANPA SANGKAN,


LIYEP, CUT PRUCUT, SUKMANINGSUN METU SAKA RAGA,


GAMPANG SAKA SARINING GAMPANG SAK NIATKU,


LAN SLAMET SAKA KERSARING ALLAH,


LAILAHA ILLALLAH,


MUHAMMADURRASULULLAH,”


Tak lama, keluarlah sukma kiyai Romli dari tubuhnya, melayang menuju ke tempat di mana hantu Rindi berada. Kini sukma kiyai Romli, telah berada di dalam kamar Franky.


Hantu Rindi, yang melihat kedatangan sukma kiyai Romli pun terkejut. Hantu Rindi tampak sedang berkomunikasi dengan sukma kiyai Romli, namun dalam hati, supaya Franky tak curiga dengannya.


"Siapa kamu, dan apa maksud kedatanganmu?" tanya hantu Rindi dalam hatinya.


"Aku ada urusan sebentar sama kamu, jadi mohon ikutlah denganku," jawab sukma kiyai Romli.


Franky yang menyadari kepergian hantu Rindi dengan tiba-tiba, pun mengumpat.


"Dasar hantu gila, kebiasaan sekali dia, tiba-tiba menghilang, dan tiba-tiba ada, huft, kalau saja kamu manusia, sudah aku ikat kaki kamu."


****


Sementara kedua makhluk berbeda alam itu, kini telah berada di sebuah pekarangan kosong. Mereka pun berdiri berhadapan.


"Wahai makhluk dari alam lain, bukankan kamu sudah mati, mengapa kamu tidak kembali ke alammu, dan malah berkeliaran, mengganggu manusia yang masih hidup? Apa kamu tidak kasihan sama ibumu, yang terus mencarimu?" tanya sukma kiyai Romli.


"Yang aku mau juga begitu, jasadku di makamkan dengan layak, dan didoakan pada umumnya, tapi jasadku justru di salah gunakan oleh jin dari pulau abadi," sahut hantu Rindi.


"Jadi, tubuh kamu dirasuki oleh jin itu?"


Hantu Rindi mengangguk.


"Terus, di mana keberadaan jin itu sekarang? Apa kamu tahu?" tanya sukma kiyai Romli.


Hantu Rindi segera mengeluarkan sebuah botol dari dalam saku bajunya.


"Aku masukan ke dalam sini."


Sukma kiyai Romli pun menggeleng. "Kamu ini ada-ada saja, kenapa juga kamu masukan ke botol itu?"

__ADS_1


"Ini adalah urusan pribadiku."


"Baiklah, aku juga nggak akan mencampuri urusanmu, aku hanya minta, kamu temui ibumu, dan katakan kalau kamu sudah berpulang, dan kamu kuatkan hati ibumu."


"Tapi soal jasad ku, bagaimana? Aku ingin mendapatkan kembali jasadku, sementara jin itu telah menguasai tubuhku."


"Baiklah, apa botol itu bisa aku minta? Besok aku akan mengeluarkan sukma jin itu, dari dalam jasad kamu."


"Benarkah?"


"Untuk apa aku berbohong?" kiyai Romli berusaha meyakinkan.


Hantu Rindi pun menyerahkan botol itu kepada sukma kiyai Romli.


Sukma kiyai Romli pun menerimanya.


"Baiklah, botol ini aku simpan dulu di rumahku, dan aku akan mencari cara, untuk mengeluarkan roh jin itu dari jasad mu."


"Baiklah, ya sudah, aku kembali ke rumah pacarku dulu, mau bersenang-senang, kamu ini mengganggu saja."


Kemudian, hantu Rindi melayang, dan menghilang dari pandangan.


"Dasar hantu, sudah mati, masih saja genit sama manusia, hem."


Sukma kiyai Romli menggeleng, dan kemudian, dia pun melayang, menembus kegelapan malam, hingga akhirnya kembali ke dalam raganya.


Kiyai Romli membuka matanya perlahan, kemudian dia berdiri, dan berjalan ke arah lemari pakaian, dia menyimpan botol milik hantu Rindi, di dalam lemari itu. Kemudian, kiyai Romli pun merebahkan tubuhnya di atas kasur.


Sedangkan hantu Rindi telah kembali ke kamar Franky. Saat itu Franky sudah tertidur pulas, hantu Rindi pun melayang keluar, dia memetik sehelai daun, lalu kembali masuk ke dalam kamar Franky. Hantu Rindi menggelitik hidung Franky menggunakan daun yang baru saja dia petik.


Franky menggeliat, kemudian membuka matanya.


Samar-samar, dia melihat hantu Rindi tersenyum ke arahnya.


Franky pun bangkit dari tidurnya, dan duduk di atas kasurnya. "Buat apa kamu kembali? Sana main terus saja sampai pagi," cetusnya.


Hantu Rindi terkekeh. "Marah nih yeee," ledeknya.


"Ya lagian kamu, hilang-hilang terus, lama-lama aku ikat kaki kamu."


"Coba saja kalau bisa, hihihihi."


Karena merasa gemas, Franky pun meraih tubuh hantu Rindi, dan mendekatkan ke tubuhnya. Kemudian Franky memeluk hantu Rindi dari belakang.


"Sekarang, tidur sama aku, jangan pergi lagi, dingin tahu."


Hantu Rindi tersenyum penuh makna.


Franky pun tertidur pulas, dengan posisi tubuh memeluk hantu Rindi.


Adzan subuh berkumandang, hantu Rindi pun mengubah wujudnya, ke wujud aslinya. Sejenak, dia menatap wajah Franky yang masih tertidur pulas.


"Selamat tidur, Fran," bisiknya.

__ADS_1


Kemudian, hantu Rindi melayang tinggi, di atas tubuh Franky, hingga menembus atas rumah dan akhirnya menghilang.


Franky tidur dengan wajah damai.


__ADS_2