Pulau Abadi

Pulau Abadi
Prepare


__ADS_3

Siang itu, Franky menghubungi Rindi, dia mengajak Rindi bertemu di sebuah tempat.


Franky menyewa tempat di sebuah Cafe sederhana, dia sudah menunggu Rindi di sana.


Benerapa saat kemudian, Rindi datang menghampiri Franky.


"Wah, romantis sekali tempatnya Fran."


"Iya Rin, biar kamu senang hehe."


Rindi tersenyum ramah.


"Oh iya, kamu mau makan apa?"


"Samakan saja Fran."


Franky pun memesan makanan khas jepang beserta minumannya, tak lama pelayan mengantar pesanan mereka.


"Ayo Rin di makan dulu."


"Iya Fran."


"Oh iya Rin, aku ajak kamu kesini sekaligus mau pamit."


"Pamit?"


"Iya, aku mau bikin novel baru lagi, untuk itu aku butuh inspirasi, kamu kenal sama Leon kan?"


"Oh tentu kenal, dia teman sekolahku dulu."


"Oh, pantas saja.. dia juga bilang kalau sudah lama kenal sama kamu."


"Iya Fran, memangnya kamu mau kemana?"


"Jadi gini, Leon mau ajak aku ke lembah ilusi, katanya di sana tempatnya tenang, jadi aku bisa dapat inspirasi untuk menulis.


"Begitu ya, ya sudah, kamu hati-hati ya."


"Iya Rin, dan.. sepulang dari sana setelah novelku selesai, aku akan segera melamarmu."


Deg!


Jantung Rindi berdetak, tanpa sadar pipinya merona, dia pun menunduk malu.


"Gimana Rin? Apa kamu mau?"


"Em.. iya, aku mau kok."


Setelah selesai makan, Franky mengantarkan Rindi pulang dengan mobilnya, karena Rindi menemui Franky menggunakan taxi.


Setelah sampai di rumah Rindi, Franky segera berpamitan untuk pulang.


Sampai di rumah, Franky segera masuk ke dalam kamarnya dan berkemas, dia menyiapkan segala sesuatunya untuk keberangkatannya ke lembah ilusi.


Tiba-tiba angin dingin berhembus dan menyeruak masuk ke dalam kamar Franky.


"Aneh, kok mendadak jadi dingin gini ya," gumam Franky dalam hati.


"Franky.. Franky.."


Franky di kejutkan oleh sebuah suara yang memanggilnya.


"Hah? Seperti ada yang memanggilku, tapi siapa?"

__ADS_1


Franky berjalan keluar kamar, dia menoleh ke kiri dan ke kanan serta ke depan, namun tak ada seorang pun di sana.


"Rumah ini semakin hari semakin nggak beres saja, sebel aku, lama-lama aku jual juga ni rumah," gerutu Franky.


Dalam sekejap, suara tersebut pun kini sudah tak terdengar lagi.


Franky kembali melanjutkan aktifitasnya.


Selesai berkemas, Franky merasa lelah, tanpa sadar dia pun tertidur.


"Franky.. Franky.."


Sebuah suara memanggil Franky dengan lembut, Franky pun terbangun, dia kini telah berada di sebuah taman yang di penuhi dengan bunga-bunga nan indah bermekaran.


Franky berdecak kagum menyaksikan pemandangan di sekeliling.


Pandangan netranya berhenti tertuju kepada sosok wanita cantik di depannya.


"Rinjani?"


Ternyata sosok itu adalah penghuni Pulau Abadi.


"Franky, apakah anda mau ikut dengan saya?"


Franky seolah dihipnotis, dia pun melangkahkan kakinya mengikuti Rinjani.


"Tunggu!"


Sebuah suara mengejutkan mereka berdua.


Di belakang mereka kini telah berdiri Pangeran Endro yang tak lain adalah suami Rinjani.


Rinjani menatap sengit ke arah Pangeran Endro.


"Anda hobi sekali mengganggu kesenangan saya."


"Aturan apa?"


"Kau kan sudah punya anak, tapi kenapa masih juga berkeliaran tak jelas?"


"Saya sudah katakan berkali-kali, berhentilah mencampuri urusan saya."


"Kau benar-benar keras kepala, Rin."


"Sudah tahu saya keras kepala, tapi, mengapa anda masih mau dengan saya? Carilah perempuan lain untuk menjadi istri anda."


"Kau benar-benar sudah membuat aku marah!"


Pangeran Endro menatap Franky dengan tatapan penuh kebencian.


"Hai manusia sialan, semua ini gara-gara kau, istriku jadi berpaling dariku!" hardik Pangeran Endro.


Franky nampak bingung dan ketakutan dengan Pangeran Endro.


"Maafkan aku pangeran, tapi aku sama sekali nggak pernah mengganggu istri anda."


"Banyak bicara kau manusia! Apakah kau mau aku buat sakit seperti dulu?"


"Cukup!" seru Rinjani.


"Kenapa kau selalu saja membela manusia tak berguna ini, Rin?"


"Pergilah Pangeran, saya hari ini akan bersenang-senang dengan kekasih saya!"

__ADS_1


"Cih, kekasih kau bilang? Kau benar-benar sudah melecehkanku! Akan aku hancurkan kekasihmu sekarang juga!"


Pangeran Endro pun mengeluarkan kilatan cahaya berwarna kuning, dan mengarahkannya ke arah Franky.


Sebelum kilatan tersebut mengenai tubuh Franky, sebuah kilatan berwarna ungu pun menyerang Pangen Endro.


Seketika tubuh pangeran Endro tumbang, dia menoleh arah pemilik kilatan cahaya berwarna ungu itu.


"Rupanya kau lagi, Bidadari sialan!"


Di hadapan pangeran Endro berdirilah sosok Bidadari yang cantik dan anggun, dia tak lain adalah Nila.


"Nila," lirih Franky.


Nila tersenyum ramah ke arah Franky.


"Pulanglah Fran, di sini bukan tempatmu."


"Pulang? Pulang kemana?" heran Franky.


Nila tersenyum penuh arti, kemudian mulutnya tampak berkomat-kamit membacakan sesuatu, setelah itu dia meniupkan sesuatu ke arah Franky, dan dalam sekejap saja Franky jatuh pingsan.


Kemudian Nila menggerakkan jari telunjuknya dan mengarahkan ke arah tubuh Franky, tanpa hitungan menit tubuh Franky pun menghilang.


"Hey kenapa anda lancang sekali?" cetus Rinjani.


"Lancang bagaimana? Kamu sadarlah, kalau kalian berbeda alam, kamu tidak bosan-bosan mengganggu manusia lemah itu."


"Bukankah sudah sering saya bilang, jangan suka ikut campur dengan urusan saya."


"Dengar ya, Jin genit, tugas saya melindungi manusia di bumi dari gangguan Jin jahat sepertimu."


"Tapi Franky milik saya."


"Dia bukan milikmu, dan kamu tidak akan pernah bisa memilikinya, ingat itu baik-baik."


"Sudah-sudah tak perlu berdebat, Rin, sekarang kau pulanglah."


Rinjani yang sudah malas berdebat dengan Pangeran Endro pun akhirnya berubah menjadi kepulan asap putih dan menghilang dalam sekejap di ikuti Pangeran Endro.


Sedangkan Nila kembali ke kahyangan.


Di dalam kamar, Franky membuka matanya perlahan, dia pun terduduk di atas kasurnya.


"Sepertinya, tadi Nila datang kesini," batinnya.


Franky keluar kamar dan mencari keberadaan Nila ke seluruh sudut rumahnya, namun apa yang di carinya tak juga kelihatan.


"Kok nggak ada ya? Apa dia sudah pulang?"


Franky duduk di kursi ruang depan, saat itu hari sudah sore.


"Tadi beneran Nila, atau siapa ya? Atau aku hanya mimpi? Tapi nyata sekali."


Franky tampak sedang mengingat sesuatu, namun kepalanya justru terasa sakit.


"Aku jadi bingung, kenapa sih aku selalu mengalami hal-hal aneh, semenjak pulang dari Pulau Abadi itu."


Tiba-tiba Franky merasa haus, lalu dia pun berjalan ke dapur dan membasahi tenggorokannya dengan segelas air putih.


"Gerah sekali, lebih baik aku mandi saja biar segar."


Franky pun masuk ke dalam kamar mandi dan melaksanakan ritual mandinya.

__ADS_1


Sedang asik mandi, tiba-tiba lampu kamar mandi padam, Franky terkejut, namun seketika lampu menyala kembali.


"Hem, bener-bener deh ini rumah, minta aku jual, apa aku jual saja rumah ini? Terus beli rumah di tempat lain? Tapi aku nggak bisa menjualnya, karna di rumah ini terlalu banyak kenangan bersama Soraya, dan aku nggak akan pernah bisa melupakannya."


__ADS_2