Pulau Abadi

Pulau Abadi
Diikuti Sosok Baju Hijau


__ADS_3

Beberapa saat kemudian, mobil yang di kendarai Joko pun sampai di rumah Franky.


"Ngga, bangun, sudah sampai." Joko mengguncang tubuh Franky.


Perlahan, Franky menggeliat, dan membuka matanya. "Hah? Ini di mana, Jok?"


"Di rumah kamu lah, Fran, masa di pantai," kelakar Joko.


Franky mengucek matanya. "Eh iya hehe, sorry ya, Jok, aku ketiduran, kamu jadi yang nyetir terus."


"Nggak masalah, ya sudah kamu masukkan mobil kamu dulu, aku pulang dulu ya," kata Joko.


"Ya Jok," angguk Franky.


Joko pun turun dari mobilnya, dia berjalan menuju ke rumahnya. Baru beberapa langkah Joko berjalan, dia merasa seperti ada yang mengikutinya.


"Kok seperti ada yang membuntutiku," batin Joko.


Joko berjalan lagi, namun, semakin dia berjalan, semakin terasa pula, suara langkah kali yang mengikutinya. Joko menghentikan langkahnya, dia menoleh dan benar saja, di belakangnya berdiri sosok wanita berpakaian serba hijau.


"Ini kan perempuan yang di dekat jalan pulau abadi itu, ngapain dia ikut aku?" gumam Joko dalam hati.


"Hey, ngapain kamu ikutin aku?" tanya Joko cetus.


Perempuan itu tertawa terkekeh mengerikan.


"Hiiii.. hiiii.. hiiiii."


"Dih, malah ketawa lagi, diam kamu, berisik tahu nggak, mending kalau ketawanya merdu, lah ini seperti lebah, berdengung."


Sosok wanita itu diam, dia tersenyum ke arah Joko, Joko yang melihat hal itu, pun menjadi ilfil.


"Ish, senyum-senyum segala, ngapain sih, jangan bilang, kamu naksir sama aku."


"Memang kenapa, kalau aku naksir sama kamu?" kata sosok wanita itu dengan suara lembut.


"Gila kali, aku ini manusia, masih suka sama manusia juga, nggak level ah sama lelembut seperti kamu."


"Kamu yang sudah membawaku ke mari, jadi ya jangan salahkan aku, kalau sekarang aku selalu mengikutimu, kemanapun kamu pergi," ujar sosok wanita itu.


"Dih, siapa juga yang bawa kami kesini? Jangan ge-er kamu, kamu saja yang ngebet sama aku, terus ngikutin aku kesini."


Dan bersamaan dengan itu, lewatlah Tomo, pemuda indigo di desa itu, dia baru saja pulang dari ronda malam.


Tomo melihat Joko berbicara sendiri, setelah Tomo melihat dengan mata batinnya, dia pun paham seketika.


"Eh kamu Mo, dari mana?" sapa Joko.


"Biasa, Jok, ronda," jawab Tomo, sambil tersenyum penuh arti.


"Oh, sendiri saja?"


"Ya enggak lah, ada lima orang tadi, mereka sudah pada pulang, cieee, dapat pacar baru nih," ledek Tomo


"Pacar apaan, buat kamu saja tuh."

__ADS_1


"Hahaha, aku masih suka sama manusia kali, Jok."


"Ya sama lah, Mo."


"Ya sudah, aku duluan, nanti ganggu lagi, selamat berkencan ya," kelakar Tomo, sambil tersenyum, kemudian berlalu dari hadapan Joko.


"Hem, dasar tuh anak, nggak sopan," batin Joko.


Kemudian Joko melirik ke arah sosok wanita itu. "Siapa nama kamu?"


"Namaku Lisa," sahut sosok wanita itu.


"Kamu kenapa bergentayangan?"


"Ceritanya panjang, dan aku harap kamu bisa membantuku."


"Huft, kenapa semua hantu jadi pada minta bantuan sama aku sih, sama yang lain kenapa," gumam Joko.


"Karna hanya kamu, yang bisa diandalkan," sahut Lisa.


Joko menghembuskan nafas kasarnya. "Ya sudah, ayo ikut aku pulang, dari pada kamu membuat onar di sini, menakut-nakuti warga, aku paling nggak suka, kalau desa ku ada keributan."


Joko pun berjalan pulang, diikuti Lisa mengekor di belakang Joko. Sampai di depan rumah, Joko dan Lisa masuk ke dalam.


"Aku mau tidur, kamu jangan ganggu, itu ada kamar, kalau kamu mau tidur. Awas, jangan macam-macam, kalau nggak mau aku musnahkan!" ancam Joko.


"Baiklah, tapi aku pesan, besok, tolong sediakan aku kembang kantil sama kapur barus setiap hari," kata Lisa.


"Iya, iya, baru saja numpang, sudah nuntut, huft."


Sementara itu, Lisa memperhatikan wajah Joko, yang telah memejamkan matanya. "Tampan sekali kamu manusia, aku harus memilikimu," gumamnya lirih.


Seketika Joko pun bangkit dari tidurnya. "Hey, jangan macam-macam kamu ya."


"Memang kenapa? Kamu kan jomblo, apa salahnya sih kita berpacaran?" sahut Lisa.


"Memang nggak ada salahnya, hanya saja, satu yang sangat disayangkan."


"Apa itu?" Lisa mengerutkan keningnya.


"Kita itu berbeda alam, jadi mustahil untuk kita berpacaran," ujar Joko.


"Kalau aku manusia, apa kamu mau berpacaran dengan ku?"


Joko menggeleng kepala. "Hem, heran sekali aku, ternyata semua hantu itu sama saja, genit dan bucin."


"Kamu jangan suka merendahkan kaum hantu, anak muda! Suatu saat, kamu juga suka sama hantu, baru tahu rasa!"


"Dih nggak level, aku masih waras, masih suka sama manusia," papar Joko.


"Buktinya, kamu sudah lama jomblo, dan belum ada perempuan pun, yang mendekati kamu," ledek Lisa.


"Itu karna aku belum memikirkan perempuan, aku mau mengumpulkan ilmu ku dulu, sampai kesaktianku sempurna.


"Cih, dasar manusia, kamu mencari ilmu pun dengan bantuan lelembut, begitu kok kamu meremehkan lelembut," cibir Lisa.

__ADS_1


"Aku memang berteman baik sama lelembut, tapi tidak, kalau untuk pacaran."


"Lihat saja nanti, kamu akan tunduk di hadapanku."


"Ah bicara apa sih kamu? Sudah, aku mau istirahat, capek nih."


"Biar aku pijat," ujar Lisa.


Joko terbelalak. "Hah? Eh, nggak perlu, hehe."


Dan seketika, Joko menjadi salah tingkah.


Lisa pun mendekati Joko, yang sedang terbaring di kursi bambunya. Dia pun menjalankan aksinya.


Lisa menyentuh pergelangan kaki Joko, kemudian, Lisa menggunakan kekuatannya untuk memijat kedua kaki Joko secara bergantian.


Deg!


Tanpa sadar, jantung Joko berdegup kencang.


"Duh kenapa jadi gini sih?" batinnya.


Lisa tersenyum smirk, mendengar suara hati Joko, dia terus memijat kaki Joko.


Joko pun, tak kuasa menolak apa yang dilakukan oleh Lisa, dia benar-benar menikmati pijatan Lisa. Setelah di rasa cukup, Lisa pun menghentikan aksinya.


"Bagaimana? Apa sudah enakan?" tanya Lisa.


"Wah pijatan kamu benar-benar luar biasa, tapi jangan keseringan," ujar Joko.


"Memang kenapa?" Lisa merasa heran.


"Ya nanti, aku jadi ketagihan lho, hehe." Joko terkekeh.


Lisa tersenyum puas, dia merasa, bahwa usahanya mengambil hati pemuda di hadapannya itu, telah berhasil.


"Ya sudah istirahatlah, biar besok bangun tidur agak enakan," kata Lisa.


"Oke, makasih ya, sudah mijat aku, sekarang aku tidur dulu."


Joko pun memejamkan matanya, dan sebuah kecupan mendarat di keningnya. Joko terkesiap, dia pun kembali membuka matanya, dan di sampingnya kini, Joko.melihat Lisa sedang duduk.


Deg!


Jantung Joko berdetak, iramanya tak beraturan, dia pun merasakan sebuah perasaan aneh, yang seumur hidupnya belum pernah dia rasakan.


"Duh, ada apa sih denganku? Kenapa jadi begini?" gumamnya dalam hati.


"Hey, kamu pergi sana, kalau seperti ini terus, kapan aku tidurnya? Lihat tuh, sudah hampir pagi, kalau aku nggak tidur lemes tahu."


"Baiklah, aku akan pergi, tapi ingat besok kamu harus menyediakan apa yang aku pesan tadi, jangan sampai lupa."


"Kamu bawel sekali sih, aku bilang iya, ya iya lah, sudah sana pergi."


Lisa pun menghilang dari hadapan Joko.

__ADS_1


__ADS_2