Pulau Abadi

Pulau Abadi
Bertemu Aisyah


__ADS_3

Waktu terus berlalu, Leon melirik jak dinding di dalam ruangannya.


"Jam enam," lirihnya.


Tiba-tiba pintu di buka, dan Leon menoleh, ternyata Eki sudah siap menggantikan tugas Leon.


"Eh Mas Eki sudah datang."


"Iya, Mas, sekarang Mas Leon sudah bisa pulang."


"Oke mas."


Leon pun melepas baju seragamnya, kemudian menggantungnya di belakang pintu, dan dia pun turun ke bawah dan keluar dari apartemen, kemudian berjalan hendak pulang.


Ketika langkah kaki Leon sampai di sekitar rumah Bento, dia bertemu dengan Aisyah.


"Lho, Mas Leon, dari mana?" tanya Aisyah dengan senyum ramahnya.


"Ini Syah, aku sekarang kerja di apartemen yang kamu tunjukan."


"Oh berarti Mas Leon jadi melamar di sana?"


Leon mengangguk lembut, sambil memasang senyum tipisnya.


"Wah, selamat kalau begitu."


"Hehe, iya, Syah, terus ini kamu sendiri mau kemana?"


"Aku mau ngajar ngaji, Mas, di belakang pulau ini."


"Oh, sendiri saja? Jalan kaki?"


"Hehe iya, Mas, dekat kok, ya sudah aku duluan mas, takut kesiangan."


"Aku antar mau? Tapi ambil mobil dulu."


"Eh, nggak perlu, Mas, dekat kok."


"Beneran nih nggak mau?"


Aisyah mengangguk.


"Ya sudah, Syah, hati-hati ya," kata Leon dengan nada setengah kecewa.


"Iya, Mas."


Kemudian Aisyah berjalan meninggalkan Leon, dan Leon pun berjalan pulang ke penginapan. Sampai di penginapan, Leon duduk di ruang depan.


"Huft, capek sekali hari ini, padahal nggak ngapa-ngapain, hanya saja begadang, nggak tidur, si Franky sama Joko belum bangun ya? Kok sepi sekali, tapi masih pagi juga sih, mereka kan biasa bangun jam sembilan," batin Leon.


Kemudian, hidung Leon merasakan aroma sedap yang berasal dari dapur, dia pun mengenduskan hidungnya, lalu berjalan ke arah asal bau sedap tersebut.


Leon berjalan sampai ke dapur, dia sana dia melihat asap yang sangat tebal, dan perlahan menghilang.


Leon mendekati meja yang berada di dekat wastafel, dia terbelalak, melihat beragam masakan tertata rapi di sana. Aromanya sungguh menggoda selera.


"Siapa yang masak sebanyak ini? batinnya, dia pun menoleh ke belakang, dan netranya pun mengarah ke seekor kucing hitam, yang sedang meringkuk di sudut dapur.


"Eh, ini kan kucingnya Joko," batin Leon, kemudian mengamati masakan di hadapannya, dan dia melihat ikan asin, di antara lauk yang tertata.


Leon pun mengambil satu buah ikan asin itu, dan memberikannya kepada kucing tersebut.


"Makan ya pus, kamu pasti lapar,"

__ADS_1


"Meooong." kucing itu mengeong, seolah mengucapkan terimakasih kepada Leon.


Leon pun tersenyum, kemudian dia mengambil piring dan mengisinya dengan nasi dan lauknya, setelah itu, dia berjalan ke ruang depan.


Sedang asik menikmati makanannya, sebuah suara mengejutkan Leon.


"Wah, wah, wah, enak benar sih, pulang kerja makan, haha!"


Leon menoleh ke asal suara, dan di hadapannya telah berdiri Joko.


"Eh, kamu sudah bangun, Jok, Franky mana?"


"Belum bangun, paling sebentar lagi, kamu beli makan di mana?"


"Lah masa kamu nggak tahu, Jok, ini kan makanan yang biasa kita dapat."


Joko pun menepuk keningnya. "Ataga! Iya ya aduh kenapa aku lupa terus sih."


"Kenapa, Jok?" Leon tampak keheranan dengan tingkah Joko.


"Aku tuh mau menyelidiki, siapa sebenarnya yang suka masak sebanyak itu," ujar Joko.


"Oh gitu ... iya, Jok, aku juga heran sebenarnya siapa ya yang masak sebanyak ini," sahut Leon.


"Nah itu, tapi aku selalu ketiduran, dan lupa bangun."


"Ah sudahlah, Jok, nggak perlu kamu pusing memikirkan siapa yang masak ini, yang penting setiap hari kita nggak kelaparan."


"Hem, kamu itu, kalau sudah lihat makanan, nggak mikir lainnya."


Leon terkekeh, sambil melanjutkan makannya, tanpa menghiraukan Joko yang sedang kebingungan.


"Ya sudah, aku mau kasih makan si mpus," kata Joko, sambil membalikan tubuhnya.


"Eh tunggu, Jok," cegah Leon.


"Sudah aku kasih ikan asin tadi."


"Oh, ya sudah kalau begitu, makasih ya, Le."


"Iya, Jok, kamu makan juga sana."


"Ah nanti lah, Le, aku belum lapar."


"Ya sudah, Jok, terserah kamu saja."


Joko pun kembali masuk ke dalam kamar, dia merebahkan diri di atas kasur, entah mengapa, hari itu dia sangat malas sekali.


"Nanti malam aku akan menemui jin bucin itu, aku harus korek info tentang keberadaan jasadnya, masa jasad sendiri nggak tahu di mana, dia kan hantu, harusnya dia tahu," batin Joko.


Bersamaan dengan itu, Franky pun bangun, dia duduk di atas kasur dan menoleh ke arah Joko yang sedang terbaring dengan mata terbuka.


"Jam berapa ini, Jok?" tanyanya.


Joko menoleh ke arah Franky. "Sudah bangun kamu, Fran? Itu jam delapan."


"Em, berarti si Leon sudah pulang."


"Sudah dari tadi, sedang asik makan dia."


"Makan? Makan masakan yang selalu di kirim orang misterius itu?"


"Yups betul, Fran."

__ADS_1


"Terus, apa kamu sudah menyelidiki?"


"Gagal lagi, Fran."


"Gagal?"


"Iya, aku selalu telat bangun jam lima pagi."


"Em, sebenarnya siapa ya, yang selalu masak untuk kita?"


"Ya nggak tahu, Fran, aku juga bingung."


"Ya sudah, Jok, kita makan yuk hehe, aku sudah lapar," kata Franky sambil meringis.


"Hem, sejak kapan ya, kita jadi pasukan jorok, bangun tidur langsung makan," kelakar Joko.


"Ya nggak apa-apa lah, Jok, lagi pula, siapa juga yang mau nilai kita? Istri saja nggak punya, hehe."


Joko menggeleng kepala, merasa geli dengan tingkah Franky.


"Ya sudah deh yuk, tadinya aku belum lapar, tapi aku temani kamu makan, kasihan kalau makan sendiri, nanti nggak habis."


"Ah kamu, Jok, bisa saja. Bilang saja kamu juga sudah lapar," ledek Franky.


Joko terkekeh, kemudian kedua pria itu pun keluar kamar, dan berjalan menuju ke ruang depan. Di sana Leon telah selesai makan.


"Eh, sudah bangun kamu, Fran," sapa Leon.


"Sudah, Le, capek tidur terus," sahut Franky.


"Haha, capek apa lapar?" Ledek Leon.


"Ya, dua-duanya."


Ketiga pria itu pun terkekeh, kemudian Franky dan Joko makan bersama.


"Aku mandi dulu, ya," kata Leon yang sudah selesai makan.


"Iya, mandi saja Le," kata Franky.


"Habis mandi, aku mau tiduran sebentar hehe."


Tidur sampai malam nggak ada yang melarang kok Le," kelakar Joko.


"Ya jangan dong, Jok, nanti aku nggak bisa kerja."


"Ya kalau mau kerja aku akan bangunkan kamu."


"Hem, oke lah," sahut Leon atusias.


Leon pun masuk ke dalam kamar, kemudian keluar dengan membawa handuk, dan melaksanakan ritual mandinya.


"Itu orang, kalau di suruh tidur kok bahagia sekali," gumam Joko.


"Ya begitulah Leon, Jok, kalau nggak begitu, bukan Leon namanya," ujar Franky.


Joko tersenyum geli, sambil melanjutkan makannya, tak lama mereka pun selesai makan.


"Sini biar aku saja yang mencuci," kata Franky.


"Kalau capek, biar aku saja, Fran."


"Ah, masa makan kok capek, ada-ada saja kamu, Jok."

__ADS_1


Joko terkekeh dan membiarkan Franky membawa piring kotor ke dapur, untuk di cucinya. Sementara itu, Leon selesai mandi, dan kini giliran Joko yang akan mandi.


Setelah Joko selesai mandi, saat itu Franky pun telah selesai mencuci peralatan makan, dan kemudian, Franky segera mandi.


__ADS_2