Pulau Abadi

Pulau Abadi
Anak Kecil Misterius


__ADS_3

Waktu menunjukkan pukul dua belas malam, Franky tiba-tiba berasa ingin buang air.


Dia membangunkan Leon namun temannya itu terlalu lelap tidurnya sehingga susah untuk di bangunkan.


Terpaksa Franky bangun dan berjalan menuju kamar mandi sendiri. Sampai di kamar mandi dia melaksanakan hajatnya buang air kecil.


Selesai buang air Franky hendak kembali ke kamarnya namun langkahnya terhenti manakala dia melihat seorang anak perempuan berusia kisaran delapan tahun di hadapannya. Franky menatap intens ke arah anak itu.


"Adik ini, siapa ya?"


Anak itu diam tak menjawab, dia menurunkan pandangannya.


"Adik? Apakah kamu, mau ke kamar mandi juga?" tanya Franky lagi.


"Pergi dari sini," bisik anak itu.


Franky mengerutkan keningnya.


"Hah? Pergi dari sini?" Franky mengulangi ucapan anak kecil itu.


"Pergi dari sini sekarang juga, sebelum kau menyesal," bisik anak itu lagi.


"Tapi kenapa?" Franky semakin heran.


Anak itu tidak menjawab melainkan berbalik arah dan berjalan hingga menghilang. Karena penasaran Franky berjalan mencari anak tersebut.


"Siapa anak itu? Apakah dia cucu dari pak Prapto ya?" Franky mencoba menebak.


Franky semakin heran karena anak kecil itu sudah menghilang.


"Kemana anak itu? Cepat sekali perginya, mungkin dia sudah kembali ke kamarnya," pikirnya.


Franky kembali ke dalam kamarnya, dia sangat terkejut karena tak mendapati Leon di sana.


"Leon ke mana? Kok nggak ada?" batinnya.


Franky panik kemudian dia keluar kamar, tanpa sengaja netranya melihat pintu rumah sudah terbuka lebar.


Franky berjalan keluar, dia mencari Leon ke setiap sudut di sekitar tempat itu.


"Le ... Le ...." kamu di mana?" panggil Franky.


Setelah berjalan cukup jauh secara tak sengaja Franky melihat Leon sedang berjalan dengan tatapan kosong.


Franky mengejarnya, ketika dia sudah mendekati Leon Franky meraih tangan Leon.


Seketika itu juga Leon tersadar.


"Franky?" gumam Leon.


"Kamu mau kemana, Le? Ini sudah malam," tanya Franky cemas.


Leon seperti orang linglung.


"Lho, bukannya kamu yang mengajak aku keluar?" Leon balik bertanya.


"Hah? Kamu mimpi mungkin, Le," ujar Franky.

__ADS_1


Leon menggaruk kepalanya yang tak gatal itu.


"Le ... perasaanku kok nggak enak ya, kita pergi saja dari sini yuk, kita dorong mobilnya pelan-pelan nggak apa-apalah, sampai kita menemukan Pom bensin," tutur Franky.


"Iya Fran, aku sendiri juga merasa asing di tempat ini," jawab Leon.


Tiba-tiba dihadapan mereka sudah berdiri seorang anak perempuan yang di lihat oleh Franky di rumah Prapto.


"Pergi dari sini, sekarang juga!" seru anak itu.


"Tapi ... bisa tolong jelaskan alasannya?" tanya Franky.


"Jangan banyak bicara, pergilah sekarang juga, dan jangan menengok ke belakang, bila bertemu dengan seseorang, tundukkan pandangan kalian, dan jangan melihatnya," tutur anak itu.


"Baiklah, kalau begitu," ucap Franky, dia menggandeng tangan Leon yang masih kebingungan.


"Ikuti cahaya putih ini," kata anak itu sambil menggerakkan tangannya, kemudian muncullah cahaya kecil berwarna putih yang bersinar cukup terang.


Franky menuntun Leon mengikuti cahaya tersebut, mereka terus berjalan melewati hutan dan pepohonan.


Tiba-tiba ada yang memanggil nama Leon, tanpa sadar Leon pun menoleh ke belakang.


Leon sangat terkejut karena yang dia lihat adalah beberapa kuburan yang jumlahnya banyak sekali.


"Fran, coba lihat di belakang kita, kenapa jadi banyak sekali kuburan," ujar Leon.


"Astaga, Le, berarti tadi kamu menengok ke belakang? Aduh Le, gawat ini, kan sudah dibilang, jangan menengok ke belakang," cemas Franky.


"Duh ... maaf Fran, tadi itu ada yang memanggilku, jadi aku nggak sengaja menengok ke arah suara itu," jawab Leon penuh penyesalan.


"Ya sudah, sekarang kita cepat-cepat pergi dari sini," ajak Franky antusias.


"Le, kenapa kita nggak sampai-sampai ke jalan besar ya, dari tadi kita jalan terus, ini sudah jauh sekali tapi, kok kita masih tetap ada disini," ujar Franky.


"Iya juga ya Fran, aku capek sekali nih, kakiku sakit, aku sudah nggak kuat berjalan, kita istirahat dulu yuk," mohon Leon.


Karena tak tega Franky pun menyetujui ajakan Leon, mereka duduk di sebuah batu besar.


"Sebenarnya, ini tempat apa sih, Fran?" tanya Leon.


"Aku juga nggak tahu, Le," sahut Franky.


Sudah beberapa jam mereka berada di tempat itu, kini mereka merasakan suatu keanehan.


"Eh Fran, sekarang jam berapa, ya?" tanya Leon.


"Ponselku mati, Le," kata Franky.


"Sama Fran, Ponselku juga aku tinggal di mobil, karna nggak ada sinyal," Leon menimpali.


"Aku heran, kenapa ini malam nggak ada habisnya, kenapa pagi nggak datang juga, perasaan kita disini sudah seharian lebih," tapi kenapa hari masih gelap?" Leon menggaruk tengkuk lehernya.


"Sepertinya, tempat ini angker Le, dari tadi aku merinding," bisik Franky.


Leon pun merasakan sesuatu yang sama dengan temannya itu, seketika bulu kuduknya meremang.


Seketika itu sosok anak perempuan tadi muncul lagi di hadapan mereka.

__ADS_1


"Kenapa kalian masih disini? Apakah kalian ingin mati?" tanya anak itu dengan nada datar.


Franky dan Leon terkejut.


"Maaf, kami sudah berjalan terus, tapi nggak menemukan jalanan, dan kita masih tetap berada di sini," papar Franky.


"Itu karena kalian melanggar laranganku, kalian pasti menengok ke belakang kan, aku sudah mengingatkan berkali-kali, jangan menengok ke belakang, apapun alasannya, tapi kalian tetap keras kepala!" anak itu mulai geram.


"Sekarang kalian pergi, dan ikuti tali ini, ingat ... jangan menengok ke belakang lagi, kalau kalian melanggar lagi, aku sudah tidak bisa lagi membantu kalian," ucap anak itu tegas.


Franky dan Leon tampak keheranan, mereka keheranan kenapa ada sebuah tali di hadapan mereka.


"Dari mana tali ini? Kapan anak itu membawanya? Sepertinya, tadi aku nggak melihatnya sama sekali," batin Franky.


"Sekarang, cepatlah pergi dari sini!" seru anak itu.


Franky menarik tangan Leon dan berlari mengikuti tali yang terulur di sepanjang jalan di hadapannya.


Mereka berlari kencang, lagi-lagi Leon mendengar sebuah suara yang memanggil namanya tapi kali ini dia tak menghiraukannya, dia terus berlari bersama Franky.


Sesekali mereka terjatuh karena tersandung batu, tapi hal itu tak membuat mereka menyerah, mereka terus berlari dan berlari.


Hingga akhirnya mereka menemukan mobil Leon masih terparkir di pinggir jalan yang tempo hari mereka lalui.


"Itu mobilnya, Le!" teriak Franky.


Bersamaan dengan itu pagi pun merayap, langit terlihat cerah, matahari pun memancarkan sinarnya.


"Sudah pagi, Fran," gumam Leon.


Franky terlihat senang.


"Aku akan coba memanaskan mobilnya," kata Leon.


Leon pun masuk ke dalam mobil, dia mencoba menghidupkan mobilnya, Leon merasa heran karena mobilnya normal saja dan tidak mogok sama sekali.


Leon menyuruh Franky masuk ke dalam mobil.


"Lho, nggak mogok, Le?" tanya Franky.


"Nggak nih Fran, aku juga bingung, kemarin kan nggak bisa menyala sama sekali," sahut Leon.


"Iya Le, kok aneh, oh iya Le, kamu tuh bilang katanya aku mengajak kamu keluar rumah pak Prapto, padahal tadi itu, aku kan sedang di kamar mandi," papar Franky.


"Iya Fran, jadi aku kan sedang tidur pulas, tiba-tiba kamu membangunkanku dan minta di antar ke kamar mandi, ya aku antarlah," sahut Leon.


"Hah? Kok aneh ya, padahal aku memang membangunkan kamu minta antar ke kamar mandi, tapi kamu nggak bangun-bangun, jadi aku ke kamar mandi sendiri," ungkap Franky.


"Hah? Yang benar saja kamu, Fran, berarti yang membangunkan aku itu ... hiiiyyy." Leon bergidik ngeri.


"Sudah yuk kita jalan, jangan bahas itu lagi deh, serem ah," ujar Franky.


Leon pun melajukan mobilnya mengikuti jalanan yang ada di hadapan mereka. Tak lama mereka pun sampai di jalan besar.


"Akhirnya ... kita sampai juga, di jalan besar Fran," ucap Leon gembira.


"Iya Le, tapi ... tunggu deh, kok jalanan sepi sekali Le, kenapa nggak ada satu pun orang atau kendaraan yang lewat ya."

__ADS_1


"Mungkin masih pagi kali, Fran," sahut Leon.


Leon pun terus menggerakkan stang bundarnya sambil bersiul.


__ADS_2