
Franky bergegas mandi, setelah itu, dia membuat teh melati kesukaannya, kemudian meletakkannya di ruang tamu. Sebenarnya dia ingin duduk di teras depan rumah, sambil menikmati udara segar pagi itu. Namun, entah mengapa, dia merasa sangat malas hari itu. Kemudian Franky masuk ke dalam kamarnya, dan kembali lagi ke ruang tamu, dengan sebuah laptop di tangannya.
Franky duduk, kemudian dia mengangkat gelas berisi teh, meniup uap sebentar, lalu menyesapnya perlahan.
"Uhh, nikmat sekali teh melati ini, cocok sebagai temanku mencari inspirasi," batinnya.
Franky meminumnya sampai habis.
Lalu dia meletakan kembali gelas yang sudah kosong itu. Franky lanjut memangku laptopnya, kemudian dia membukanya.
"Kemarin sampai mana ya, cerita yang sudah aku tulis," gumam Franky lirih.
"Ah ini dia!" seru Franky.
Franky pun menulis kelanjutan cerita tersebut.
Dalam novel itu, Franky menceritakan seorang gadis indigo, bernama Vivin yang setiap malam selalu didatangi oleh tangan buntung.
Bukannya merasa takut, Vivin justru penasaran, sebenarnya ada misteri apa di balik penampakan tangan itu?"
Malam berikutnya, Vivin kembali didatangi sepotong tangan, seperti yang dia lihat malam-malam sebelumnya.
Tangan itu bergerak perlahan, menuju ke kolong tempat tidur, Vivi turun dari tempat tidurnya, dia mengintip ke arah kolong itu, dan Vivin melihat tangan itu bergerak, menepuk-nepuk lantai.
Vivin mengerutkan keningnya, kemudian, dia terlihat sedang menerawang ke arah lantai yang telah ditepuk-tepuk oleh sepotong tangan itu.
Konon, rumah yang ditempati oleh Vivin saat ini, merupakan rumah kontrakan, dan Vivin tinggal sendiri di rumah itu, karena dia pun sudah sebatang kara.
Dalam penerawangannya, Vivin melihat seorang wanita berusia kisaran dua puluh lima tahun, wanita itu bernama Yeni, dia mempunyai seorang kekasih, dan setiap hari kekasihnya selalu berkunjung ke rumah wanita tersebut.
Suatu hari, kekasih Yeni mengajaknya melakukan hubungan intim, layaknya suami istri. Awalnya Yeni menolak, namun kekasihnya memaksa.
Hari berikutnya, kekasih Yeni kembali mengajaknya, memenuhi hasratnya. Namun seperti biasa, Yeni selalu menolak.
Akhirnya, kekasihnya hilang kesabaran, kerena hasrat kelakiannya tak dapat terlampiaskan. Pria itu membunuh Yeni, dengan cara menusuk jantung Yeni, dengan sebuah pisau tajam yang dia bawa dari rumahnya, dan dimasukan di dalam saku celananya.
Setelah ditusuk jantungnya, tubuh wanita itu jatuh ke lantai. Belum puas begitu saja, kekasihnya pun menebas tangan kanan wanita itu. Setelah Yeni tewas, kekasihnya memperkosa Yeni hingga puas, lalu dia mengubur Yeni di kolong tempat tidurnya, beserta potongan tangan milik wanita itu, di atasnya.
Konsentrasi Vivin buyar, ketika adzan subuh berkumandang, dan menyejukkan hati bagi yang mendengarnya. Vivin segera pergi ke gudang, tempat menyimpan barang-barang yang sudah tak terpakai lagi.
Dia mengambil cangkul yang tersimpan di gudang tersebut.
Vivin masuk ke dalam kamarnya, dengan membawa cangkul di tangannya.
__ADS_1
Dia menggeser tempat tidurnya, dan mulai menggali lantai itu.
Setelah menggali cukup dalam, Vivin terkejut, tubuhnya menggigil tegang, karena mendapati tengkorak manusia. Dia juga melihat potongan tangan yang sudah menjadi tengkorak juga.
Dan, Vivin berpikir kalau itu adalah jasad dari wanita yang ada dalam penerawangannya.
Akhirnya Vivin mengambil tengkorak itu, dan memasukannya ke dalam karung.
Vivin membawanya ke sebuah pemakaman, dia segera menguburkan tengkorak itu.
Malam berikutnya, ketika hendak tidur, Vivin didatangi lagi oleh seorang wanita nan cantik jelita, dia tersenyum dan melambaikan tangannya ke arah Vivin, kemudian segera menghilang dari hadapan.
Vivin yakin, bahwa wanita itu adalah arwah dari tengkorak yang dia kubur, dan kini Vivin merasa lega, karena semenjak kejadian itu, dia tak lagi diganggu oleh sepotong tangan misterius.
Franky pun menutup laptopnya, sambil tersenyum.
"Akhirnya, selesai juga novel horor ku," batinnya.
Dia meletakan laptopnya di atas meja.
"Besok, aku akan menyerahkan ceritaku ke nyonya Nur," batinnya lagi.
Farnky pun merebahkan tubuhnya di kursi panjang, di ruang tamu itu.
Terdengar pintu diketuk, Franky pun bangun.
"Siapa ya?" gumamnya.
Franky melangkah dan membuka pintu.
"Eh kamu, Jok, sini masuk."
"Kamu sedang apa, Fran? Apa aku ganggu?" tanya Joko.
"Oh nggak ganggu kok, aku sedang santai saja, ini baru saja aku menyelesaikan novelku," sahut Franky.
"Wah, hebat, sudah selesai dalam waktu satu hari?"
"Hehe, iya nih Jok, nggak tahu kenapa, ide hari ini sangat lancar sekali, mungkin juga karna mood ku yang sedang bagus."
"Aku ikut senang, Fran, semoga makin sukses ya."
"Amin, makasih, Jok."
__ADS_1
"Oh iya, aku lapar nih, aku ajak makan yuk di warung, sekali-sekali nggak apa-apa kan, aku tahu, kamu nggak suka makan di warung-warung makan, dan aku juga tahu, kalau kamu nggak suka makanan mewah, tapi hari ini, aku akan mengajak kamu ke rumah makan tradisional, di sana masakannya sederhana, tapi nikmat, Jok."
Joko terdiam sejenak ....
"Ayolah Jok, sekali-kali, kan nggak setiap hari juga, aku traktir deh."
"Em, ya sudah deh, tapi aku nggak enak lho, jadi merepotkan kamu."
"Ah, aku nggak pernah merasa direpotkan kok Jok, aku sudah menganggap kamu sebagai saudaraku sendiri."
Joko tersenyum gembira. "Makasih ya, maaf kalau dulu aku cuek sama kamu."
"Sudahlah, nggak perlu diungkit yang kemarin-kemarin, yang penting sekarang, kita saudaraan, kalau kamu butuh bantuan, bilang saja, jangan sungkan, aku pasti akan bantu semampunya."
"Siap, Fran."
"Ya sudah, ayo!"
Franky dan Joko pun naik ke dalam mobil, dan Franky mengemudikan mobilnya, menuju ke rumah makan.
Tak lama, mereka sampai di sebuah rumah makan tradisional. Franky mengajak Joko turun. Mereka masuk ke dalam, tempatnya lesehan, dan bangunannya terbuat dari anyaman bambu.
"Wah tempatnya benar-benar sederhana, tapi terasa nyaman ya," ujar Joko, sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling.
"Iya, Jok, duduk yuk," ajak Franky.
Tak lama, seorang pelayan keluar, dan memberikan buku daftar menu kepada mereka berdua. Franky dan Joko melihat-lihat isi menu tersebut.
Di rumah makan itu, disediakan menu utama kuliner tradisional, seperti sayur jantung pisang, yang disajikan dengan santan, ada juga sayur daun kelor, masakan jaman dulu, yang mulai dilupakan oleh kawula muda.
Selain itu, tersedia menu lain, seperti sayur terong, tempe dan tahu goreng, juga ada berbagai sambal, seperti sambal kluwak, sambal terasi, sambal korek hingga sambal gerih.
"Wah, benar-benar menu sederhana tapi nikmat ini, Fran, kamu paham sekali seleraku,"
"Iya, Jok, ayo silahkan dipilih."
Pilihan Joko jatuh pada tempe goreng, sayur daun kelor, dan sambal terasi, sedangkan Franky memilih menu sayur terong, tahu goreng, serta sambal gerih.
Beberapa saat kemudian, makanan yang mereka pesan pun datang.
"Ayo, Jok, silahkan, jangan sungkan, nanti kalau kurang tambah lagi," kelakar Franky.
"Hehe, iya, Fran, wah kalau tambah, nanti perutku seperti gentong dong, hahaha!"
__ADS_1
Franky pun ikut terkekeh, mendengar ucapan Joko, dan mereka berdua pun menikmati hidangan yang telah tersaji di hadapan mereka.