Pulau Abadi

Pulau Abadi
Mengajak Joko


__ADS_3

Selepas adzan subuh, di gunung S, Joko terlihat baru selesai bertapa, saat itu hari masih gelap, dan Joko bersiap hendak pulang.


Tiba-tiba, Joko di kejutkan oleh hantu Rindi, yang kini berdiri di hadapannya, dan menampakkan wajah seramnya,


Joko memperhatikan wajahnya, dia merasa seolah mengingat suatu hal.


"Hey, siapa kamu? Kalau manusia, tentu saja nggak mungkin, wajahmu jelek seperti setan begitu hahaha!" Joko terbahak.


"Kamu tebak aja sendiri," kata hantu Rindi ketus.


"Kamu arwah penasaran kan, kenapa kamu berkeliaran? Apa yang kamu cari?" tanya Joko dengan suara lantang.


"Sudah nggak perlu banyak bertanya, apa kekuatanmu masih kurang? Kamu ingin menambah kekuatan seberapa besar lagi?" ujar hantu Rindi.


"Apa urusanmu?" cetus Joko.


"Aku kesini hanya ingin mengajak kamu bekerja sama?"


"Bekerja sama? Untuk apa?"


"Apa kamu tahu pulau abadi?"


"Hah? Pulau abadi? Tempat Farnky mencari inspirasi beberapa bulan lalu?"


"Betul sekali, aku ingin mengajak kamu dan Franky ke tempat itu, kita musnahkan kerajaan jin yang ada di dalam hutan itu, Raja Jin beserta rakyatnya, kita tumpas habis, setelah itu, terakhir, barulah kita musnahkan bibitnya, dia lah penyebab masalah di desa tempat tinggal mu," kata hantu Rindi.


"Hey hantu baru, sebaiknya kamu jangan cari masalah dengan mereka, apa kamu nggak mikir dampaknya, kalau berurusan dengan makhluk pulau itu?"


"Tapi jin yang bernama Rinjani itu, sudah membuat kacau di desa kalian, kan?"


"Tapi, nggak mungkin ada asap, kalau nggak ada api, kau paham kan maksudku?"


"Apa maksudmu?" hantu Rindi mengerutkan keningnya.


"Aku mendapat info mengenai pulau abadi yang selalu meminta tumbal itu, sebenarnya mereka nggak salah, semua tergantung para pengunjungnya, apa kamu masih belum paham?" Joko memastikan.


Hantu Rindi terdiam sejenak, mencoba mencerna ucapan Joko.


"Gini deh, setiap tempat keramat, pasti ada peraturan dan larangannya bukan?" ujar Joko.


Hantu Rindi akhirnya mulai memahami makna dari ucapan Joko.

__ADS_1


"Nah, kemungkinan besar, si Franky itu melanggar peraturan yang ada di tempat itu," kata Joko merasa yakin.


"Ya bisa juga ya, terus menurut kamu, apa yang harus kita lakukan, untuk menghadapi jin Rinjani yang mengikuti dan mengganggu Franky?" tanya Rindi lagi.


"Berani berbuat harus berani menanggung resikonya," kata Joko santai.


"Nggak mungkin juga kan kita membiarkan Rinjanu merajalela, bahkan dia pun memakai jazadku untuk kepentingannya."


"Nah berarti kamu punya masalah sama dia, jadi masalahnya sudah jelas, kalau kamu hanya berurusan sama jin itu, jadi kamu hadapi saja jin itu sendiri, nggak perlu mengusik seluruh rakyat di kerajaan itu, itu namanya kamu cari perkara sama mereka, asal kamu tahu, mereka jumlahnya sangat banyak," ungkap Joko.


"Sekarang, mana jin itu?" tanya Joko.


"Aku kurung di dalam botol, habis aku kesal, dia selalu mengganggu Franky," sahut hantu Rindi.


"Hahahaha!" Joko tertawa menggelegar.


"Apa yang lucu?" cetus hantu Rindi.


"Sebenarnya, ini hanya masalah sepele," kata Joko dengan tenang.


"Sepele bagaimana?" hantu Rindi mengerutkan keningnya.


"Hanya masalah kecemburuan sosial saja."


"Ya sudah begini saja, sebelumnya aku minta maaf karna nggak bisa membantu, dan kalau jin itu berulah lagi, aku akan maju menghadapinya, tapi kalau untuk pergi ke pulau abadi, dengan tujuan ingin menghabisi mereka, itu sama saja dengan kita menyerahkan diri ke kandang macan, karna Frankylah yang sudah bermain api, kamu tentu paham maksud ku, kecuali kalau kamu nekat ke pulau itu sendiri," kata Joko.


Hantu Rindi tampak kecewa. "Ya sudah kalau begitu."


Kemudian hantu Rindi menghilang dari hadapan Joko.


Joko pun berjalan hendak pulang ke rumahnya.


****


Kini hantu Rindi telah berada di depan rumah Franky. Saat itu, Franky sedang duduk di teras, dengan secangkir teh melati di meja. Hantu Rindi duduk di samping Franky.


"Dari mana kamu, Rin?" tanya Franky.


"Aku tadi ke tempat Joko, dia nggak mau aku ajak ke pulau abadi," kata hantu Rindi.


"Ya sudahlah, mending nggak perlu ke tempat itu, bahaya Rin, nanti malah semakin runyam urusannya," kata Franky.

__ADS_1


"Bagaimana kalau kita ke sana berdua saja, Fran?"


"Hah? Duh, aku nggak berani deh, Rin." Franky menolak ajakan hantu Rindi dengan berat hati.


"Huft, berarti kamu mau selamanya diganggu makhluk gaib itu."


Franky menjadi bimbang, akhirnya dengan terpaksa dia menuruti ajakan hantu Rindi.


"Baiklah aku mau, tapi nggak sekarang, kapan-kapan saja, aku belum siap kalau dalam waktu dekat ini."


"Baiklah nggak masalah," kata hantu Rindi.


"Apa kamu mau minum teh melati ini? Siapa tahu, hantu suka minum teh?" tanya Franky.


Namun ketika Franky menoleh ke arah hantu Rindi, seperti biasa, dia sudah menghilang.


"Dasar hantuuuu, hem," gumam Franky merasa gemas.


Sementara itu di dalam botol, Rinjani terbangun dari tidur panjangnya. "Sial, kenapa saya masih di dalam botol ini," gerutunya. "Gimana cara saya, untuk keluar dari dalam sini?"


Rinjani tampak berpikir keras, tiba-tiba dia teringat dengan batu kristal yang ada di dalam tubuhnya.


"Oh iya, kenapa juga saya tak ingat kalau saya punya batu kristal, sumber kekuatan." Rinjani pun tampak berantusias.


Kini Rinjani duduk bersila, mulutnya berkomat-kamit, sepertinya dia sedang membaca sebuah mantera.


Namun, belum selesai Rinjani membaca mantera, botol yang dia tempati bergerak, dan posisi Rinjani pun bergeser, sehingga konsentrasi Jin itu menjadi buyar.


"Duh, apa lagi sih, kenapa juga ini botol gerak-gerak? Mengganggu saja!" ketusnya.


Ternyata hantu Rindi sedang melayang-layang, menghilangkan suntuk, oleh karena itu, botol yang berada di dalam saku bajunya pun ikut bergerak.


Rinjani tampak kesal, akhirnya dia menghentikan aktifitasnya, dan kembali ke posisi semula.


"Dasar hantu sialan, awas saja, kalau saya sudah keluar dari botol ini, gantian anda yang akan saya masukkan ke dalam botol ini."


Hantu Rindi terus melayang dan berputar-putar di udara, menghirup udara segar, sambil tertawa terkekeh, dengan suara yang mengerikan. Setelah merasa jenuh melayang dan berputar, hantu Rindi pun duduk di atas pohon. Dia mengeluarkan botol dari dalam saku bajunya, lalu memandanginya dengan seksama, Rindi hanya melihat kepulan asap di dalam botol itu.


"Halo jin botol, apa kabarmu di sana? Apa kamu kelaparan? Atau gerah gitu, dan ingin mandi? Hahaha!"


Tawa hantu Rindi membuat botol yang di pegangnya terguncang, sehingga botol itu kembali bergerak ke kanan dan ke kiri.

__ADS_1


Dan di dalam botol itu, Rinjani bertambah kesal sekali, dia berkali-kali mengumpati hantu Rindi.


Namun, hantu Rindi tak mendengar ucapan Rinjani dari dalam botol itu, karena hanya gumpalan asap yang terlihat, jadi hantu Rindi mengira, kalau Rinjani sedang tertidur


__ADS_2