
Akhirnya mobil yang di kendarai oleh Franky sampai juga di perbatasan kota L.
"Lho, kita ini mau ke mana?" tanya Nila.
"Ke kota L, Nona! Kan aku mau kerja, dan si Franky mau buat novel baru," jawab Leon sambil mengerlingkan matanya ke arah Nila.
Nila diam, dalam hatinya penuh tanda tanya.
"Sudah mau sampai Fran, nanti belok kanan, lurus terus sampai ujung jalan, sampai deh," ujar Leon antusias.
Franky menuruti ucapan Leon, dia membelokan mobilnya ke arah kanan tikungan.
Franky terkejut, karena jalanan itu sangat sepi, tak ada rumah-rumah penduduk, apa lagi kendaraan yang lewat.
"Kamu yakin Le, jalan ini yang harus kita lewati?"
"Yakin dong Fran, aku belum pikun lagi."
"Sepertinya ada yang tidak beres," batin Nila.
Seketika angin dingin menyeruak masuk ke dalam mobil, namun dengan sigap segera di hempaskan keluar mobil oleh Nila.
"Hey, aku peringatkan kalian, nanti kalau sudah sampai di tempat tujuan, tidak perlu bilang seram, bilang hantu atau apalah, yang berhubungan dengan hal-hal mistis, dan jaga bicara kalian," celetuk Nila.
"Memangnya kenapa Nona?" tanya Leon ramah.
"Kalau kalian memang sayang sama nyawa kalian, ikuti saja perintahku dan jangan banyak tanya," tandas Nila.
"Iya, iyaaa, tapi jangan pakai galak kaliii," ujar Leon.
Nila terdiam, dia sedang malas berdebat dengan Leon.
"Sepertinya aku memang harus menjaga kedua manusia ini, nyawanya benar-benar sedang diincar, aku sudah mulai merasakan adanya kekuatan jahat," batin Nila.
"Lebih baik, aku menjaga Franky dan temannya yang banyak bicara ini dari gangguan makhluk-makhluk dan Jin jahat, sampai Franky selesai membuat buku terbarunya, setelah itu barulah aku mencari selendangku, agar aku bisa kembali ke Kahyangan, sepertinya aku tidak bisa seterusnya berada di bumi, aku tidak cocok berada di tempat seperti ini," batin Nila lagi.
Akhirnya mobil yang di kendarai Franky pun berhenti di sebuah gedung, namun Leon merasa heran karena gedung itu kondisinya hangus terbakar.
"Ini tempatnya Le?" Franky merasa tak yakin.
"Iya Fran, ini hotel merpati tempat kerjaku nanti, tapi kok hangus begini ya?"
"Sepertinya, di tempat ini pernah terjadi kebakaran deh," ujar Franky.
"Kok bisa ya."
Kemudian ada seorang wanita paruh baya lewat di depan mereka bertiga.
"Eh Bu, maaf, saya mau tanya sebentar," panggil Leon.
Ibu itu menoleh, "iya Mas ada apa?"
__ADS_1
"Apa benar, ini Hotel Merpati?"
"Benar, hotel ini mengalami kebakaran satu bulan yang lalu."
Leon membelalakan matanya.
"Hah?"
"Maaf, permisi.. saya sedang terburu-buru."
Wanita itu pun berlalu dari hadapan ketiga makhluk itu.
"Kok aneh ya, perasaan tiga hari kemaren aku baru saja mendaftar disini, bahkan aku di tes, suruh masak juga sama pemilik hotel ini," gumam Leon
"Kamu salah tempat, mungkin Le," terka Franky.
"Ah, enggak kok Fran, benar ini kok tempatnya, aku masih hapal jalannya, lagi pula, Hotel Merpati kan hanya ada satu di tempat ini," yakin Leon.
Nila tampak sedang menerawang ke arah hotel yang hangus terbakar itu.
"Sepertinya kau terkena ajian ilusi jiwa," Nila menimpali.
"Ajian ilusi jiwa? Apa itu Nona?" Leon merasa tak paham.
"Jadi begini, seseorang yang terkena ajian ilusi jiwa, dia akan mengalami hal-hal yang bertentangan dengan hal yang sebenarnya," papar Nila.
Franky dan Leon mengerutkan keningnya, mereka masih belum paham dengan ucapan Nila.
"Em.. maaf La, maksud kamu bagaimana? Aku masih belum paham," kata Franky.
"Oh, aku paham sekarang, jadi Leon ini seperti sedang berhalusinasi gitu ya?" telaah Franky.
"Lebih tepatnya begitu deh," kata Nila.
"Terus gimana nih Le?"
"Mau gimana lagi Fran? Tempatnya saja sudah hancur begini, ya terpaksa kita pulang, huft gagal deh dapat pekerjaan," sahut Leon lemas.
"Sudah, tidak perlu sedih, lain kali hati-hati, kalian ini jangan suka melamun, apa lagi pandangan kosong, jadi lebih mudah di rasuki roh halus," ucap Nila.
Ya sudah Le, ayo kita pulang," ajak Franky lemas.
"Maaf ya Frank, aku sudah semangat ajak kamu buat novel baru, malah jadi begini."
"Sudahlah Le, nggak perlu di bahas lagi, aku bisa kok buat novel di rumah, dan kamu jangan sedih, masih banyak pekerjaan lain."
"Saranku, sebaiknya kalian mencari pekerjaan yang dekat-dekat sama rumah kalian, jangan jauh-jauh, menghindari terjadinya hal-hal seperti ini lagi," Nila menimpali.
Franky dan Leon mengangguk, kemudian masuk ke dalam mobil.
Leon sengaja duduk di jok belakang, dengan tujuan agar Nila duduk di depan bersama Franky, Leon memang berniat ingin mendekatkan kedua insan tersebut.
__ADS_1
"Kenapa kau duduk di sana? Bukankah itu tempat dudukku," kata Nila.
"Nggak apa-apa, kita bertukar tempat, aku mau tiduran, capek, kamu di depan sama Franky, kalau kamu ikut di sini, nanti jadi sempit dong hehe," kekeh Leon.
"Ya jelas sempit, jok dengan orangnya saja, lebih besar orangnya, hahaha!"
Tawa Nila menggelegar, lagi-lagi membuat mobil yang dinaiki oleh mereka bertiga berguncang, dan barang-barang yang berada di dalam mobil itu pun ikut bergeser.
"Ya ampun Nona, kamu ini sudah kubilang berapa kali, jangan tertawa, seram," ujar Leon merasa kesal.
Nila tersenyum, kemudian masuk ke dalam mobilnya, dia duduk di depan bersebelahan dengan Franky.
"Hanya sebuah tawa saja kau takut, apa lagi sebuah rintihan di tengah malam yang sunyi, bagaimana reaksimu," seloroh Nila.
"Dasar gila," gumam Leon.
"Kau pun sama gilanya," Nila tak mau kalah.
"Terserah, apa kata kamu deh," sahut Leon.
"Sudah, sudah, kalian ini.. nggak di sana, nggak di sini, bertengkar terus huft," Franky berusaha melerai.
Mobil pun perlahan melaju melintasi jalanan yang sepi itu.
Belum berapa jauh mobil itu melaju, seorang kakek yang ditemui mereka kembali melintas di jalan itu, kemudian menghilang, Franky dan Leon yang menyaksikan hal itu terkejut sedangkan Nila tampak tenang.
"Sekarang, aku paham maksud ucapan kakek itu," kata Leon.
"Memang apa maksudnya Le?" heran Franky.
"Kakek itu melarangku pergi ke kota L, dan ternyata dia mau memberitahu, kalau ternyata hotel merpati beserta penghuninya sudah nggak ada."
Franky mengangguk, sedangkan Nila tersenyum penuh makna.
Di tengah perjalanan, tiba-tiba telapak kaki Nila terasa gatal, Nila pun menggaruknya.
Ketika dia menggaruk telapak kakinya, tanpa sadar tangannya menyentuh sesuatu yang licin dan lembut.
"Hah? Aku menyentuh apa ini?" batin Nila.
Kemudian Nila mengecek ke bawah jok mobil itu, seketika netranya mengarah ke sebuah kain berwarna ungu.
"Apa itu? Sepertinya, aku kenal benda itu," batin Nila.
Nila pun mengambil kain yang di lihatnya, kemudian dia membentangkan kain itu.
"Lho, ini kan selendangku!" seru Nila dengan mata berbinar.
Franky dan Leon pun menoleh ke arah Nila, kemudian Franky menginjak rem, seketika mobil berhenti.
"Ya Tuhan, itu kan selendang yang aku dapat di dalam hutan, apa itu punya Nila? Kenapa juga aku nggak ingat ya," batin Franky.
__ADS_1
"Ternyata, kau yang sudah mencurinya," tukas Nila.
"Eh tunggu, siapa yang mencuri?" tanya Franky bingung.