
Pagi hari Franky dan Leon sudah bangun.
"Aku mandi dulu ya, Fran," kata Leon.
"Oke, Le."
Leon pun bergegas ke kamar mandi untuk menjalankan ritual mandinya.
Selesai Leon mandi kini giliran Franky untuk mandi. Selesai mandi dan berpakaian Leon merasa lapar.
"Eh, kita sarapan dulu yuk, Fran, di warung bu Monika," ajak Leon.
"Boleh deh," sahut Franky.
Mereka berdua pun berjalan menuju ke rumah bu Monika.
"Halo Mas-Mas tampan, sini, sini ... makan dulu," sapa bu Monika ramah.
"Saya nasi rendang, Bu," kata Leon.
"Saya nasi ikan sama sayur saja, Bu," sambung Franky.
Bu Monika pun segera membuatkan pesanan kedua pria itu, kemudian meletakkannya di atas meja.
"Kata Bento, kalian hari ini mau pulang ya?" tanya bu Monika.
"Iya, Bu, karna tugas Franky sudah selesai, jadi dia harus menyerahkannya ke kantor penerbit, kalau enggak, ya nggak dapat uang deh, hehe," ujar Leon sambil terkekeh.
Franky hanya tersenyum dan mengangguk.
"Begit, ya? Kalian hati-hati di jalan nanti, jangan sekali-kali menengok ke belakang," pesan bu Monika.
"Memangnya kenapa, Bu?" tanya Leon sambil memasukkan sendok berisi nasi ke dalam mulutnya.
"Pokoknya, kalian turuti saja apa yang saya bilang, kalau perjalanan kalian ingin lancar," kata bu Monika.
"Oke deh, Bu, terimakasih pesannya, oh iya ... Bento mana, Bu?" tanya Leon.
"Hem, biasa dia, jam segini masih bau bantal," kelakar bu Monika.
"Namanya juga laki-laki, Bu," seloroh Leon.
Setelah mereka menghabiskan makanannya Franky segera membayar nasi yang mereka makan.
"Sudah, kali ini nggak perlu bayar, simpan saja uang itu, nanti untuk membeli bahan bakar," kata bu Monika.
"Tapi Bu ...." Franky menghentikan ucapannya.
"Sudah, nggak apa-apa, anggap saja bekal dari saya, hehe," kekeh bu Monika.
"Ya sudah kalau begitu, terimakasih banyak, Bu, kami permisi dulu, salam buat Bento."
"Silahkan, Mas Franky sama Mas Leon, nanti salamnya saya sampaikan sama Bento, hati-hati dan ingat pesan saya," kata bu Monika.
Franky dan Leon tersenyum dalam anggukannya.
Sampai di rumah kontrakan mereka berdua segera memasukkan barang-barang bawaan mereka ke dalam mobil.
__ADS_1
Setelah selesai semua Leon duduk di depan karena dia yang akan mengendarai mobilnya sedangkan Franky duduk di sampingnya.
Mobil pun melaju perlahan meninggalkan Pulau Abadi.
Mereka kini sudah keluar dari Pulau tersebut dan berada di jalanan yang menghubungkan Pulau itu dengan perbatasan kota.
Jalanan yang mereka lalui sangat sepi dan berbatu, kanan kirinya adalah hutan yang di penuhi pepohonan jadi Leon sedikit kesulitan untuk menjalankan mobilnya, untuk itu dia harus extra hati-hati.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul setengah enam sore.
Leon merasa ada yang aneh dengan keadaan di sekitar mereka.
"Eh, Fran, kamu merasa ada yang aneh nggak sih?" tanya Leon.
"Aneh bagaimana, Le?"
"Ini lho, dari tadi kita tuh sepertinya nggak sampai-sampai ke jalan besar, dari tadi hanya di sekitar sini saja, mana mobilnya nggak bisa ngebut lagi, huft," keluh Leon.
Franky mengedarkan pandangan ke sekeliling jalan itu.
"Mungkin, memang jarak dari pulau ke jalan raya itu jauh sekali, Le, kamu ingat kan waktu pertama kali kita ke sini, kan pas di jalan ini juga lama sampainya," ujar Franky.
"Masa sih?" Leon mengerutkan keningnya.
"Ya sudah, sabar saja Le, terus saja, nanti lama-lama juga sampai ke jalan besar."
"Tapi, ini sudah hampir malam, Fran," Leon bersikeras.
"Terus, mau bagaimana lagi, Le? Kita juga berangkat sudah paling pagi, kan?" ucap Franky santai.
Langit mulai gelap dan matahari sudah bersembunyi di balik awan.
Tiba-tiba mobil yang mereka tumpangi mogok.
"Haduh, bagaimana ini, Fran? Pakai mogok lagi mobilnya," keluh Leon.
"Duh, iya Le, bensinnya habis mungkin," kata Franky.
"Bisa jadi, Fran, selama kita di Pulau itu, kan nggak pernah ngisi bensin, lagian juga mobilnya nggak pernah di pakai, karna kita juga nggak kemana-mana, mungkin jadi kering sendiri bensinnya," papar Leon.
"Terus bagaimana ini, Le? Jalannya sepi, dan sepertinya nggak ada orang yang jual bensin."
"Kita harus cari Pom bensin, itu artinya kita harus jalan kaki sampai menemukan Pom, Fran."
Huft," Franky mengeluh.
"Coba kamu telpon Bento, Le, aku nggak punya nomornya," usul Franky.
Leon mengeluarkan ponsel dari saku celananya.
"Sial, nggak ada sinyal, Fran," gerutu Leon.
Tiba-tiba netra Franky menangkap sosok perempuan berkebaya merah berjalan dan menghilang di balik sebuah pohon besar.
"Eh Le, kamu lihat nggak? ada perempuan lewat," tanya Franky.
"Perempuan apaan, Fran? Mimpi kali kamu," cibir Leon sambil mengerutkan keningnya.
__ADS_1
"Aku nggak mimpi, Le, tadi dia belok ke hutan itu," Franky menjelaskan.
"Ingat Fran, pesan bu Monika tadi, jangan menengok ke mana-mana," sambung Leon.
"Ke belakang," Franky menimpali.
"Hehe ... sama saja, Fran, ke belakang, ke kanan, ke kiri, intinya jangan menengok," sahut Leon menahan ingin tertawa.
"Kalau nggak nengok-nengok, nggak bisa belok nanti Le, ada-ada saja sih, kamu," seloroh Franky.
kedua pria itupun tertawa bersama, entah apa yang ditertawakan.
Cukup lama kedua pria itu berada di jalan yang sepi dan gelap, dalam kebingungan tiba-tiba lewatlah seorang pria tua memakai topi.
"Permisi, Pak," sapa Leon.
"Ada apa, Mas?" tanya pria itu dengan nada datar.
"Maaf, saya kehabisan bensin, apakah jarak ke Pom bensin masih jauh?" tanya Leon.
"Ini sudah malam, bahaya kalau melakukan perjalanan jauh, sebaiknya kalian menginap saja di rumah saya, dan besok pagi saya akan mengantar kalian ke rumah orang yang berjualan bensin, sekarang mungkin orangnya sudah tidur, mobil kalian tinggal saja di sini, tidak apa-apa, aman."
Franky dan Leon saling berpandangan.
"Jangan takut, saya bukan orang jahat, nama saya Prapto," sahut pria itu.
Akhirnya Franky dan Leon berjalan mengikuti pak Prapto.
Sampai di rumah pak Prapto mereka masuk dan duduk di dalam.
"Besok lagi, kalau lewat di jalan tadi jangan lupa mengucapkan salam dulu, biar nggak ada gangguan-gangguan yang dialami, seperti mobil mogok atau hal lainnya," kata pak Prapto dengan bijak.
Franky dan Leon mengangguk pertanda bahwa mereka berdua mengerti maksud dari ucapan pak Prapto itu.
"Bapak tinggal sendiri? Kok saya nggak melihat anak dan istri bapak?" tanya Franky.
"Istri saya sudah meninggal, dan anak saya tinggal di luar pulau ini, dia sudah berkeluarga," jawab pak Prapto.
"Oh iya Pak, tadi saya sempat melihat perempuan memakai kebaya warna merah, rambutnya panjang," ungkap Franky.
Pak Prapto memandang tajam ke arah Franky.
"Besok, kalau kalian melihat dia lagi, sebaiknya kalian alihkan pandangan, jangan menatapnya terus menerus."
"Memangnya kenapa, Pak? Dan, siapa perempuan itu? Saya tadi nggak lihat karna sibuk memeriksa mobil," sambung Leon.
"Besok bapak akan ceritakan, kalau sekarang pamali sudah malam, nggak baik membahas mereka," jawab pak Prapto.
"Mereka?" gumam Franky dalam hati.
"Masuklah, itu kamar bekas anak saya," kata pak Prapto menunjuk sebuah kamar di samping mereka berdua.
Kemudian pak Prapto masuk ke dalam kamarnya.
"Ayo, Fran, kita tidur, aku sudah ngantuk nih," ajak Leon.
Kedua pria tersebut pun masuk ke dalam kamar dan beristirahat.
__ADS_1