PULAU BERHALA

PULAU BERHALA
EPISODE 99: DITEMU ORANG


__ADS_3

    Podin memang keterlaluan. Ia tega meninggalkan bocah kecil yang tak berdaya itu tergeletak di tepi laut, yang seakan terdampar di atas pasir, dan sekali-sekali dihempas gelombang yang mencapai tubuh si bocah kecil malang tersebut. Pastinya Podin merasa jengkel, karena usahanya untuk mendapatkan harta kekayaan dari istana Pulau Berhala itu gagal. Rencananya untuk mempersembahkan anak itu sebagai korban persembahan, agar mendapatkan harta kekayaan yang mengalir dari kucuran darah bocah yang dipotong lehernya. Tetapi semuanya gagal. Ya, karena bocah itu sudah rusak. Bocah yang sudah tak bermoral. Bocah yang dikatakan sudah tidak suci lagi. Bocah yang sudah kotor dengan minuman keras dan obat-obatan terlarang, juga kebebasan dalam bergaul dengan lawan jenis.


    Podin merasa sangat kecewa karena kegagalannya itu. Podin merasa sangat jengkel dengan bocah itu. Tentunya Karena kejengkelannya itulah , maka saat hendak pulang dan menyaksikan bocah yang terhambar di pantai itu, Podin pun tidak mau mengurusi lagi bocah itu. Podin langsung meninggalkan begitu saja, dan langsung menghidupkan mesin mobilnya serta pergi tanpa menghiraukan anak yang di bawanya dari Jakarta itu lagi.


    Siapa bilang kalau nasib itu mau datang mengundang, seperti halnya yang dialami oleh bocah malang itu. Anak berandal yang ibarat kata sudah penuh dengan dosa itu, pasti akan mengalami nasib sial, pasti ketika ditinggal oleh Podin dia akan mati di tempat itu. Setidaknya akan digulung oleh ombak lautan dan dibawa ke tengah samudera, atau dimakan oleh binatang buas.


    Namun, ternyata keberuntungan masih berpihak pada bocah yang ditinggalkan oleh Podin tersebut. Anak itu tetap saja tergelempang di pantai. Ketika itu, setelah fajar menyingsing, di saat sinar matahari mulai menyinari bumi, menyebarkan hangatnya kepada setiap insan yang merindukan kasih sayang dari sang surya. Seiring dengan datangnya embun pagi, tiba-tiba ada seorang laki-laki setengah baya yang datang ke tempat itu, sekat dengat pantai yang sering didatangi Podin. Sedianya orang itu akan mencari rumput untuk pakan ternaknya. Namun saat ia berada di sekitar semak belukar, ia menyaksikan ada tubuh kecil yang tergolek di tepi pantai. Ya,  laki-laki yang akan mencari rumput itu pun mengurungkan niatnya untuk menyabit rumput yang ada di depannya. Lantas ia menghampiri tubuh bocah kecil yang tergolek di pantai itu. Lantas laki-laki itu coba untuk mengamati bocah yang tergolek tersebut. Tangannya pun mencoba menggulingkan bocah apes tersebut, dan ternyata bocah itu memang tak berdaya sama sekali.


    "Astaghfirullah .... Astaghfirullahaladzim ...." kata laki-laki itu yang mengucap kalimat istigfar, memohon ampunan dosa dan memohon dibaikkan perbuatan dirinya.


    Saat laki-laki setengah baya itu memeriksa keadaan si bocah, ia melihat kalau bocah itu masih bernafas. Tentu dikiranya bocah itu tertidur di atas pantai. Namun ia pun yakin, tidak mungkin anak ini tiduran di pantai. Pasti ini adalah bocah yang sedang mengalami nasib apes. Bocah yang sedang bermain di pantai dan terseret ombak, terbawa ke tengah lautan. Dan kini, bocah itu dikembalikan ke pantai lagi. Tetapi, anak ini sangat beruntung. Laki-laki itu yakin kalau bocah tersebut memang benar-benar masih bernafas.


    Lantas laki-laki separuh baya itu pun mengurungkan niatnya untuk menyabit rumput, tidak jadi mencari pakan ternak. Ia mengangkat bocah yang tergolek tersebut, dibopong dan membawanya ke tempat yang aman, yang jauh dari sapuan ombak lautan. Bocah itu di keletakan agak jauh dari pinggiran pantai, digeletakkan dengan alas rumput ilalang agar empuk, yang di bagian atasnya diberi alas daun pisang. Kemudian laki-laki itu mencoba untuk membangunkan si bocah kecil tersebut.


    Tidak hanya itu. Laki-laki yang sudah menolong bocah sial itu, mencoba memiringkan tubuh bocah tersebut. Siapa tahu bocah itu sudah minum atau kemasukan air laut dalam perutnya. Dan ternyata benar. Saat bocah itu diolengkan, dari mulutnya langsung memuntahkan air yang cukup banyak. Ya, bocah itu sudah lumayan meminum air laut. Orang itu pun menduga, pasti tadinya dia tenggelam di lautan, dan kemudian Yang Maha Kuasa sudah memberikan kekuatan dan menyelamatkan bocah yang bernasib sial itu.


    Kemudian, laki-laki pencari rumput itu kembali mengangkat tubuh si bocah, sambil digolekkan. Dan airnya keluar lagi. Kali ini tidak hanya air yang keluar dari mulutnya. Tetapi juga makanan-makanan dari dalam perutnya. Ya, bocah ini sudah memuntahkan seluruh isi perutnya itu. Dan kemudian, bocah itu tersedak.


    "Ahught ...."


     Ya, bocah itu mulai merasakan rasa sakit. Bocah itu sudah sadar. Lantas bocah itu pun mulai membuka matanya. Tetapi ia kelihatan bingung.


    "To ...long ..., saya ...." bocah itu mulai mengeluarkan kata-kata, merintih minta tolong.


    "Ya .... Tenang, Nak .... Kamu sudah saya tolong .... Sekarang, kamu akan saya bantu untuk saya gendong .... Tenang saja .... Sementara kamu akan saya bawa ke rumah penduduk, biar kamu bisa dirawat oleh orang-orang kampung." kata laki-laki separuh baya itu, yang kemudian mengangkat tubuh bocah kecil itu. Bocah kecil itu sudah dipondong, kemudian laki-laki itu berjalan sambil membopong si bocah yang tak berdaya tersebut, yang tentunya akan dibawa menuju ke rumah penduduk di kampungnya.


    "Permiooos ...." kata laki-laki itu saat sampai di rumah penduduk yang paling dekat dengan pantai.


    "Eh ..., Abah Jalal .... Ada apa ini, Bah ...? Anak siapa ini, Bah?" tanya perempuan yang membuka pintu rumahnya itu, dan tahu yang datang adalah Abah Jalal, tetangganya. Tetapi tentunya perempuan itu kaget, karena laki-laki yang dipanggil Abah Jalal itu datang dengan membopong seorang bocah.

__ADS_1


    "Iya, ini .... Mau minta tolong .... Ini, saya tadi menemukan bocah yang tergeletak di pantai. Kemungkinan terseret ombak. Tetapi saya belum tahu persis, yang penting kita menolong anak ini dulu, supaya anak ini selamat, supaya anak ini bisa sadar sepenuhnya." kata laki-laki yang dipanggil dengan sebutan Abah Jalal tersebut.


    "Iya, Bah .... Terus ini bagaimana? Kita mau apakan anak ini?" kata perempuan setengah baya yang sudah membantu meletakkan anak itu, dan meminta Abah Jalal meletakan anak yang mengalami nasib sial tersebut, di atas bangku yang terbuat dari bambu dan tutupi tikar anyaman daun pandan.


    "Saya akan tata anak ini lebih dahulu. Biar ia nyaman di pembaringan bangku ini dulu. Tolong buatkan air teh hangat, dikasih gula. Biar anak ini bisa mengisi perutnya yang kosong. Karena anak ini tadi sudah muntah-muntah banyak sekali, dan saya yakin perutnya sudah kosong sama sekali. Anak ini tadi banyak mengeluarkan air laut .... Pasti ia sudah banyak minum air laut. Berarti dia sudah tenggelam di dalam air laut. Beruntung masih hidup dan bisa muntah mengeluarkan isi perut semuanya. Ya, tolong segera buatkan air hangat untuk mengisi perut anak ini." kata Abah Jalal yang meminta bantuan kepada perempuan pemilik rumah itu.


    "Iya, Bah ...." jawab perempuan itu, lantas perempuan itu pun pergi ke dapurnya. Tentu untuk membuat dan minuman teh hangat yang diberi gula sebagai energinya. Dan sebentar kemudian, perempuan itu sudah keluar kembali, sambil membawa segelas teh hangat.


    "Ini minumnya, Bah ...." kata perempuan itu sambil memberikan minuman teh dalam gelas.


    "Iya .... Terima kasih ...." kata Abah Jalal yang langsung menerima gelas berisi teh buatan perempuan itu. Kemudian diminumkan kepada bocah kecil yang masih sangat lemas dan tak berdaya tersebut.


    Dengan dibantu Abah Jalal, anak itu mulai meneguk air teh hangat dalam gelasnya. Mulanya hanya sanggup minum sedikit saja. Tetapi setelah beberapa kali menelan minuman, dia mulai mempunyai tenaga. Setelah ia sadar dan kuat, anak itu langsung meminum habis air teh yang disuguhkan tersebut.


    "Ini .... Ini .... Anak ini pasti lapar .... Pasti anak ini sudah kehabisan tenaga." kata Abah Jalal yang menyaksikan minumnya anak tersebut. Segelas teh hangat langsung habis diteguknya.


    "Apa perlu saya carikan bubur, Bah?" tanya perempuan itu kepada laki-laki yang masih memijat-mijat kaki dan tangan si bocah tersebut.


    Ya, memang karena saat anak ini keluar dari Pulau Berhala, dia terseret oleh perahu, dan tentunya anak itu berada di dalam perairan. Pasti baju dan celananya semuanya basah kuyup. Bahkan ia juga tergeletak di atas pasir pantai, yang pastinya berkali-kali bocah ini diterpa oleh gelombang laut, dan juga diterjang oleh air lautan. Pasti tubuhnya sudah mengalami sakit-sakit semuanya. Perempuan itu lantas mengganti pakaian yang sudah basah itu, diganti dengan baju anaknya yang paling kecil.


    "Sudah, Bah .... Ini sudah saya kasih pakaian amak saya ...." kata perempuan itu yang sudah menyalini si bocah sial itu.


    "Nah, sekarang ..., kamu punya minyak kayu putih apa tidak? Atau kalau tidak punya minyak kayu putih, ya balsem atau minyak gosok. Gosokan di punggung anak itu, sama perutnya .... Biar anak ini anginnya bisa keluar. Pasti anak ini masuk angin berat, karena dia sudah kedinginan sepanjang malam. Paling tidak pasti anak ini semalaman tidur di atas pasir pantai yang basah, dan tentunya itu menyebabkan penyakit masuk angin." kata Abah Jalal yang meminta pemilik rumah itu memberi minyak gosok yang diurutkan pada punggung dan perut si bocah yang nasibnya malang tersebut.


    "Sudah, Bah .... Sekarang saya mau carikan bubur untuk anak ini, mumpung masih pagi, mumpung belum kehabisan." kata perempuan itu yang langsung keluar rumah sambil membawa piring untuk membeli bubur. Dan tentunya, anaknya yang masih kecil mengikuti ibunya.


    Dan sebentar kemudian, rumah perempuan itu sudah ramai oleh para tetangga yang berdatangan, yang ingin menyaksikan anak yang katanya tergeletak di pantai, yang ditemukan oleh Abah Jalal tersebut. Tua, muda, laki-laki, perempuan, bahkan juga anak-anak, langsung mengerubung bocah yang bernasib sial itu. Dan mereka,  pastinya ingin tahu, seperti apa anak itu, siapa anak itu, dari mana anak itu, di mana rumahnya. dan siapa orang tuanya.


    Ya, orang-orang kampung itu tentu ingin tahu juga asal-usul anak itu, setidaknya nanti mereka bisa mengabarkan nasib anaknya itu kepada kerabat keluarganya atau orang tuanya. Dan pastinya, mereka juga ingin tahu bagaimana ceritanya hingga anak itu bisa terkapar di pantai yang tidak pernah didatangi orang tersebut.

__ADS_1


    Setelah anak itu benar-benar sadar, setelah menghabiskan bubur satu piring, anak itu sudah bertenaga, anak itu sudah bisa bergerak, anak itu sudah bisa bicara, maka orang-orang yang mengerubungi mulai menanyai anak itu. Tentu suasana menjadi sangat ramai.


    "Tenang .... Tenang .... Jangan mengeroyok pertanyaan seperti itu .... Nanti anak ini malah jadi bingung ...." kata Abah Jalal menenangkan para tetangganya yang ribut.


    "Iya, Bah ...." jawab orang-orang.


    "Nak .... Nama kamu siapa ...? Rumah kamu di mana ...?" tanya Abah Jalal pada anak yang baru saja ditolongnya itu.


    "Saya ..., Momon .... Rumah saya di Jakarta ...." jawab anak itu.


    "Hah ...?! Dari Jakarta ...?! Jauh amat ...?!" orang-orang pun mulai terbelalak ketika mendengar pengakuan anak itu, mendengar nama yang disebutnya, dan mendengar asalnya dari Jakarta. Heran, ada anak dari Jakarta terdampar di pantai kampungnya.


    "Kok bisa ...?! Sampai kamu terdampar di pantai sini ...?" tanya Abah Jalal kembali.


    "Saya di lempar orang, jatuh di laut ...." jawab bocah itu.


    "Hah ...?! Dilempar orang ...?!" orang-orang pun menjadi terbelalak, heran dengan perlakuan orang yang melempar bocah itu.


    "Tega sekali orang yang melempar itu ...."


    "Keterlaluan ...."


    "Wah ..., bener-bener, deh ...."


    "Ya, sudah, Momon .... Sambil memulihkan kesehatanmu, untuk sementara kamu tinggal di rumah Kakek ...." kata Abah Jalal pada bocah kecil tersebut.


    "Iya, Kakek ...." sahut bocah yang sudah mulai tenang itu.


    "Besok kalau kamu sudah sehat, sudah kuat, sudah pulih ..., kita antar ke Jakarta." kata Abah Jalal lagi, yang menawarkan agar bocah itu untuk memulihkan kesehatannya dahulu.

__ADS_1


    "Terima kasih, Kek ...." jawab bocah cilik yang sebenarnya hanyalah pengemis jalanan tersebut.


__ADS_2