PULAU BERHALA

PULAU BERHALA
EPISODE 162: PODIN HILANG


__ADS_3

    Podin tidak sanggup untuk menahan dirinya yang ditarik oleh kekuatan aneh. Podin tidak bisa untuk mempertahankan tubuhnya saat ada kekuatan yang membawanya masuk dalam ruang rahasia miliknya. Podin tetap terlepas meski sudah menguatkan pegangannya. Sehingga Podin terseret masuk dalam pusaran angin yang entah datangnya dari mana. Podin tidak tahu apa yang sebenarnya sudah membawanya. Podin tidak tahu kekuatan apa yang menimbulkan angin sangat dahsyat, tetapi pusaran angin itu seakan semakin kencang, semakin kuat dan terus menyeret tubuh Podin yang berusaha untuk mempertahankan dirinya agar tidak terbawa oleh pusaran angin itu.


    Namun kenyataannya, ia gagal, Podin terjatuh. Ia ikut berputar dalam pusaran angin, yang kemudian angin itu seakan membawa tubuhnya melayang dan menghilang entah ke mana. Ya, Podin sudah tidak berada di dalam kamar itu lagi, kamar rahasia yang selama ini ia kunci, dan tak seorangpun boleh masuk ke dalamnya.


    "Papah ...!! Papah ...!! Papah ...!! Papah di mana ...?! Papah kenapa ...?! Papah ada apa ...?!" begitu teriak Cik Melan yang mencoba berkomunikasi dengan suaminya yang ada di dalam kamar rahasianya. Berkali-kali Cik Melan mengetuk pintu kamar itu, memanggil suaminya, tetapi tidak ada jawaban, tidak ada respon dari siapapun. Bahkan tidak terdengar suara dari Podin sama sekali. Cik Melan tentu bingung dengan suaminya yang terseret masuk ke dalam kamar yang tidak boleh dibuka itu.


    "Tok ..., tok ..., tok ...!" kembali Cik Melan mengetuk pintu kamar itu. Namun tetap saja senyap, tidak terdengar suara apa-apa.


    "Pah ...!! Papah ...!!" Cik Melan kembali berteriak memanggil suaminya. Kali ini ia menempelkan daun telinganya di dinding pintu. Tentunya ingin mengetahui keadaan di dalam kamar yang tidak boleh dibuka oleh suaminya itu. Tentunya, Cik Melan penasaran, ada apa suaminya di dalam kamar itu? Apa yang terjadi dengan suaminya?


    Beberapa lamanya Cik Melan menunggu di depan pintu kamar yang dirahasiakan oleh suaminya itu, dan tentunya berharap akan mendengar kata-kata dari suaminya. Tetapi kenyataannya, kamar itu tetap saja hening, tidak ada suara apapun. Tentu Cik Melan yang penasaran, mulai ingin membuka pintu itu.


    Dan akhirnya, tanpa disadari, tangannya Cik Melan pun sudah menempel pada handle pintu. Tangan mungil yng lembut dan mulus itu pun sudah menarik gagang handle pintu. Namun kenyataan, pintu itu tertutup rapat dan tidak bisa dibuka. Tentunya Cik Melan kesal dan semakin penasaran.


    "Pah ...!! Papah ...!!" Cik Melan berteriak keras memanggil suaminya. Tentunya ia mulai khawatir dengan suaminya.

__ADS_1


    Dan kali ini, Cik Melan menggebrak pintu itu dengan telapak tangannya.


    "Gdobrak ...!! Gobrak ...!!" suara pintu dipukul tangan Cik Melan.


    "Papah ...!! Papah ...!! Papah kenapa ...?!" kembali Cik Melan berteriak keras memanggil suaminya sambil menggebrak-gebrak pintu.


    Namun tetap tidak ada juga jawaban dari suaminya. Ruangan itu tetap saja sepi, tidak ada suara sama sekali. Maka rasa khawatir Cik Melan pun mulai muncul. Khawatir terhadap suaminya, khawatir terhadap apa yang terjadi, khawatir terhadap kemungkinan-kemungkinan. Ya, tentu Cik Melan mulai berpikiran yang tidak karuan. Cik Melan mulai mengkhawatirkan suaminya. Maka ia pun kembali berusaha mendobrak pintu itu agar terbuka. Beberapa kali pintu itu didobrak dengan tubuhnya, hingga akhirnya pintu itu pun terbuka. Ya, ruangan yang selama ini dirahasiakan oleh suaminya, ruangan yang selama ini tidak boleh dimasuki oleh siapapun termasuk istrinya, ruangan yang selama ini tidak boleh disentuh, kini sudah didobrak, dan Cik Melan bisa membukanya.


     Alangkah terkejutnya Cik Melan ketika melihat ruangan yang baru ia dobrak itu, yang ternyata ruangan tersebut terdapat banyak benda-benda yang di luar dugaan dari Cik Melan. Yang jelas Cik Melan menyaksikan hal aneh di ruangan itu, yang terdapat berbagai benda aneh, terdapat peti-peti antik yang mencurigakan. Benda-benda seperti layaknya yang pernah ia lihat dalam cerita-cerita zaman kuno, seperti peti harta karun, peti yang sering diperebutkan oleh para bajak laut, peti yang sering ia lihat dalam film Aladin ataupun Alibaba. Itu adalah peti harta karun.


    Benarkah semua ini milik Podin? Benarkah peti ini yang memberikan kekayaan kepada Podin? Benarkah peti-peti ini adalah peti harta karun yang dimiliki oleh suaminya?


    Ya, pikiran Cik Melan semakin tidak karuan. Pikiran Cik Melan bergelayut negatif. Cik Melan yang selama ini sudah menuruti kata-kata suaminya untuk tidak mendekat ke kamar itu, untuk tidak membuka kamar itu, untuk tidak masuk ke kamar itu. Dan ternyata, di kamar itu, kamar yang selalu dirahasiakan oleh Podin, kamar yang tidak boleh disentuh, kamar yang tidak di boleh dimasuki oleh siapa saja, ternyata ada sesuatu yang aneh, ada sesuatu yang sangat membuat Cik Melan bertanya-tanya, benarkah ini semua milik suaminya?


    Rasa ingin tahu Cik Melan pun mulai berlanjut. Ia ingin tahu, apa isi dari peti-peti harta karun yang menumpuk di ruangan itu?

__ADS_1


    Perlahan Cik Melan mendekat ke peti-peti itu. Ia mulai membuka tutup dari peti itu. Ternyata, setelah Cik Melan membuka peti yang pertama, di dalamnya kosong, tidak ada isinya apa-apa. Lantas Cik Melan penasaran, ingin membuka tutup peti yang kedua. Ia pun bergegas menuju ke peti yang ke dua. Dan ternyata, peti itu pun juga kosong, tidak ada isinya apa-apa. Cik Melan masih penasaran, lantas ia pun langsung membuka tutup peti yang ketiga. Namun ternyata juga kosong. Selanjutnya ia membuka tutup peti yang keempat, yang juga sama, tidak ada isinya sama sekali. Demikian juga dengan peti yang kelima, dan ternyata semuanya memang kosong, tidak ada isinya apa-apa.


    Dalam pikiran Cik Melan kembali bertanya, benarkah ini merupakan tempat penyimpanan harta karun? Benarkah peti-peti ini merupakan sumber dari kekayaan Podin? Benarkah peti-peti ini digunakan sebagai tempat menyimpan uang yang oleh suaminya dibilang sudah habis?


    Mungkin Podin memang menyimpan uangnya di peti-peti harta karun itu. Makanya kamar tempat menyimpan peti harta karun itu tidak boleh dibuka atau dimasuki oleh siapa saja. Termasuk istrinya sendiri, juga tidak boleh tahu. Namun karena Podin sudah mengeluarkan uang banyak untuk membangun tempatptempat usahanya, yang tentu butuh uang banyak, butuh modal besar, maka peti-peti itu kini sudah tidak ada isinya lagi. Bahkan Podin juga sudah mengatakan kepada istrinya kalau harta kekayaannya sudah habis. Pastinya kata-kata Podin itu bisa diterima oleh istrinya, setelah ia membuka semua peti harta karun yang ada di dalam kamar rahasia itu memang kosong semua.


    Cik Melan diam. Cik Melan tidak menggapai apa-apa lagi. Ia hanya bisa menatap barang-barang yang tergeletak di ruangan itu. Pandangannya hanya sanggup menyaksikan ruangan yang tidak pernah dibersihkan itu. Dan tentunya, baunya juga pengap karena udaranya tidak pernah berganti.


    Namun tiba-tiba, Cik Melan tergagap kembali. Ia teringat kepada suaminya yang tadi ia ketahui kalau masuk ke dalam ruangan itu. Tapi, di mana suaminya? Di mana Podin yang tadi barusan bangun dari tempat tidur dan seakan ada yang membawanya masuk ke dalam kamar itu? Tetapi sekarang, meski Cik Melan sudah bisa mendobrak pintu ruangan itu, kenyataannya suaminya tidak ada dalam ruangan itu.


    "Papah ...?! Papah ...?! Papah di mana ...?!" kembali Cik Melan memanggil suaminya. Ia berharap suaminya akan mendengar dan menjawab panggilan itu.


    Namun kenyataannya, setelah berkali-kali Cik Melan memanggil suaminya, tetap saja tidak ada jawaban. Cik Melan pun mulai mencari. Mengamati di seluruh ruangan itu. Ia yakin betul melihat suaminya masuk ke dalam ruang itu. Tapi ke mana? Kini suaminya tidak ada, tidak diketemukan di ruangan itu. Mungkin suaminya tidak terlihat. Maklum di malam hari, apalagi bulan sedang mengalami gerhana. Suaminya sama sekali tidak terlihat. Cik Melan terus memandangi ke sekeliling tempat itu. Cik Melan juga membuka kembali peti-peti yang ada di situ. Bahkan ia juga mengamati hingga ke atap kamar itu. Cik Melan sudah memandang, memeriksa seluruh ruangan itu, namun suaminya memang tidak ada. Suaminya menghilang entah ke mana.


    "Papah ...!! Papah ...!! Papah kenapa ...?!" kembali Cik Melan berteriak keras memanggil suaminya. Namun tetap saja tidak ada jawaban sama sekali.

__ADS_1


    Lemas sekujur tubuh Cik Melan, seakan tiada daya, seakan tulang-tulangnya langsung merosot bahkan menghilang. Tubuhnya langsung melorot ke lantai. Kakinya selonjor di lantai ruangan itu. Cik Melan tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Ia kehilangan suaminya yang pergi entah ke mana. Padahal di dalam ruangan itu tidak ada lubang sama sekali kecuali pintu yang kini berada di sampingnya. Tetapi di mana suaminya? Podin tidak terlihat sama sekali. Podin tidak ditemukan di ruangan itu. Podin sudah hilang, lenyap entah ke mana.


    Tanpa terasa, air mata Cik Melan menetes membasahi pipinya. Ia menangis sesenggrukan. Cik Melan khawatir dengan suaminya. Cik Melan takut akan terjadi sesuatu dengan suaminya. Cik Melan khawatir akan kehilangan suaminya.


__ADS_2