PULAU BERHALA

PULAU BERHALA
EPISODE 163: DIMAKAN GERHANA


__ADS_3

    Tubuh Podin terlempar dan jatuh tepat di altar istana Pulau Berhala. Podin menyaksikan di altar tersebut sudah berkeliling para ponggawa dan algojo istana Pulau Berhala, yang seakan mereka bergembira menyambut orang yang jatuh begitu saja di altar istana itu. Para ponggawa dan algojo itu seperti menari-nari, mengelilingi tubuh Podin yang tergeletak berada tepat di tengah-tengah lingkaran mereka yang menari mengelilingi Podin. Ya, para algojo itu, yang hanya mengenakan kain penutup sahwat, dengan dada dan anggota badan lainnya tidak berpakaian, sambil menari-nari, menyanyi seperti irama ritual, terus berputar mengelilingi tubuh yang baru saja jatuh di atas altar istana tersebut. Bahkan tangannya yang mengarahkan jemarinya seakan sebagai cakar yang akan menerkam, seakan mereka akan memangsa Podin. Bahkan tangan-tangan itu sebentar-sebentar mengarah ke tubuh Podin, seakan mau merekam tubuh yang ada di hadapannya itu, yang mereka kelilingi sambil menari berputar-putar. Bahkan berkali-kali mulutnya menyeringai, meringis menampakkan gigi-giginya, juga seperti mau menggigit tubuh Podin yang tergeletak di altar istana tersebut. Mereka terus menari, tariannya seolah-olah merupakan ritual dalam sebuah acara persembahan. Ya, memang Podin kini berada di tempat persembahan.


    Gerhana bulan masih berlanjut. Bulan masih tertutup rapat oleh bayang-bayang bumi. Bulan tidak terlihat sebagaimana layaknya bulan bulan purnama, tetapi hanya menampakan sinar merah kehitaman. Bulat di langit, ibarat seperti mata berhala yang besar, yang sedang mengamati seseorang. Mata berhala yang merah itu, seakan-akan memperlihatkan tanda kemarahan seorang berhala kepada seseorang yang melakukan kesalahan.


    Yah, malam itu memang merupakan malam gerhana bulan yang paling lama. Suasana hening sepi malam benar-benar mencekam, benar-benar menakutkan. Dan suasana alam yang sangat sepi itu pun sangat mendukung suasana mistis yang sedang terjadi di istana Pulau Berhala. Ya, gerhana bulan itu tempat terjadi pada jam dua belas malam. Malam yang seharusnya berganti hari. Bulan yang seharusnya tepat berada di atas istana Pulau Berhala. Dan biasanya, malam-malam seperti itu, adalah malam para pemuja penguasa Pulau Berhala melangsungkan acara persembahan.


    Tetapi malam itu benar-benar menjadi malam yang mencekam. Bahkan suara binatang-binatang malam tidak ada yang terdengar sama sekali. Tidak terdengar suara jangkrik yang mengerik. Tidak terdengar suara belalang yang mengderek mengadu bulu-bulunya. Tidak ada suara penggerek batang yang mengkerek. Tidak ada suara orang-orang yang beraktivitas. Bahkan burung hantu pun seakan sudah sirna, tidak ada suaranya sama sekali. Ya, ini adalah malam yang hening. Malam yang sepi, di saat bulan yang mestinya bersinar penuh tetapi justru tertutup oleh bayangan bumi. Gerhana bulan yang sangat mencekam, gerhana bulan yang hanya akan terjadi sekitar delapan tahun sekali.


    Dari lubang hitam langit, seakan keluar bayangan hitam yang menakutkan. Bayangan makhluk raksasa besar dengan ukurannya sebesar sebuah pulau. Ya, itulah Pulau Berhala. Pulau yang selalu didatangi orang untuk meminta pesugihan. Pulau di mana Podin juga pernah mendapatkan harta kekayaan. Riwayatnya dulu, di mana saat bulan-bulan purnama, setiap kehadiran bulan purnama, semua orang yang datang ke istana Pulau Berhala, semuanya pada meminta pesugihan. Pulau yang saat bulan purnama, di mana orang-orang serakah mempersembahkan bocah-bocah tak berdosa, kemudian menyembelihnya di atas altar batu persembahan. Dan kini, yang semestinya adalah bulan purnama, malam yang mestinya orang-orang pada berdatangan ke Pulau Berhala untuk mempersembahkan korban, untuk ditukar menjadi harta kekayaan, namun malam itu adalah malam yang berbeda. Malam itu bukanlah malam bulan purnama yang terang benderang, malam bulan purnama yang selalu ditunggu-tunggu oleh para pemuja setan. Ya, malam itu bulan purnama tertutup oleh bayangan bumi. Bulan purnama berubah menjadi mata berhala. Bulan purnama berubah menjadi malam yang mencekam.


    Beberapa orang ponggawa yang ada di dalam istana itu, menarik tambang dan menyeret rembulan yang berwarna hitam kemerahan itu. Rembulan itu diikat dengan dadung besar, kemudian diseret hingga mendekat di atas istana. Sehingga bulan yang sedng mengalami gerhana itu terlihat semakin dekat dan sangat besar. Besarnya satu tambir, berwarna merah pucat kehitaman. Untuk apa rembulan itu diikat dan ditarik ke istana. Rupa-rupanya, para ponggawa istana itu menarik rembulan, seakan rembulan itu akan ditempatkan di dekat albar istana. Akan ditempelkan di atap istana. Mungkin itu sebagai pertanda bahwa rembulan yang sedang mengalami gerhana total, mempunyai kekuatan magis yang sangat dahsyat.


    Namun tiba-tiba, Podin terkaget oleh jatuhnya sesosok tubuh di sampingnya. Ada sesosok tubuh lagi yang dilempar, dan jatuh tepat berada di samping kanannya. Ya, seorang laki-laki yang sudah bersanding, bahkan sudah menyentuh tubuh Podin. Keduanya, Podin dan laki-laki yang baru saja terjatuh itu, sama-sama berada di atas batu kisaran yang biasa digunakan untuk menyembelih korban persembahan.


    Podin pun melirik laki-laki yang baru saja terlempar dan jatuh menyentuh tubuhnya itu. Bahkan dua orang itu kini saling memandang, dan tentunya ingin tahu siapa laki-laki yang baru saja terjatuh disampingnya itu. Namun alangkah kagetnya Podin saat melihat laki-laki itu. Ternyata orang itu tidak memiliki wajah. Ya, mukanya hilang. Wajahnya hanya polos begitu saja, yang seolah-olah hanya sebuah kepala yang datar dan rata tanpa ada lekuk-lekuk. Seperti halnya bulan yang sedang mengalami gerhana tersebut. Tentunya Podin tidak tahu dan tidak bisa mengenali siapa laki-laki yang baru saja dilempar dan terjatuh berada di sampingnya itu.


    Namun begitu pula sebaliknya, seakan laki-laki itu juga memandangi Podin dangan kecurigaan yang sama. Walaupun tanpa wajah, tetapi kepala itu terlihat, menoleh ke arah Podin. Dan ternyata kepala yang menoleh ke arah Podin pun hanya sebentar saja memandangi. Kemudian memalingkan kepalanya lagi.


    Podin penasaran, apakah benar dirinya juga tidak punya wajah seperti laki-laki yang baru saja jatuh di sampingnya itu? Tangan Podin berusaha meraba kepalanya sendiri. Dan ternyata, alangkah kagetnya Podin, karena memang kepalanya sendiri itu juga tanpa wajah. Kepala yang ia raba, ternyata rata. Hanya berupa bulatan saja, seperti halnya sebuah bola tanpa ada lekuk-lekuk mata, hidung maupun bibir. Podin baru sadar, ternyata dirinya yang bisa melihat orang yang ada di sampingnya itu, yang ia amatai kalau orang itu  tidak punya wajah, dan kini, kenyataannya, dirinya sendiri juga tidak memiliki wajah. Tetapi itulah kenyataan.


    Para algojo itu terus menari-nari, terus menyanyi-nyanyi, tarian dan nyanyian ritual, dengan suara aneh yang seolah-olah itu adalah pemujaan dalam menyambut malam gerhana bulan total. Sementara itu, para ponggawa masih terus menyeret rembulan yang sedang mengalami gerhana total itu, rembulan yang mestinya bercaya terang. Tetapi rembulan itu kini menjadi gelap karena sedang mengalami gerhana total. Seakan para ponggawa itu terus menarik rembulan sekuat tenaganya, agar segera sampai di altar istana Pulau Berhala tersebut.


*******


    "Tolong ........!!! Tolong ..., Pak Podin hilang ....!!!" Cik Melan berteriak minta tolong, tentu suaranya langsung didengar oleh para tetangga di kampungnya. Walaupun rumahnya agak berjauhan dengan para tetangga, tetapi di malam yang sepi dan sunyi itu, jeritan seorang wanita yang berteriak minta tolong, pasti langsung kedengaran oleh orang lain.


    "Ada yang menjerit minta tolong ...."


    "Iya .... Ada suara orang minta tolong ...."


    "Siapa ...?!"


    "Suara perempuan ...."


    "Tolong ........!!! Tolong ..., Pak Podin digondol gerhana ....!!!" Cik Melan kembali berteriak, dan tentunya lebih keras.

__ADS_1


    "Itu suara Cik Melan ...."


    "Iya, betul ...."


    "Tong ..., tong ..., tong ....!!" orang-orang yang mendengar teriakan Cik Melan yang meminta tolong, langsung memukul kentongan. Ada juga yang memukul tanjidor. Bahkan ada juga yang memukul seng kaleng bekas. Ya, semuanya dilakukan agar para tetangganya mendengar kalau ada teriakan orang minta tolong.


    "Tolong ........!!! Tolong ..., Pak Podin hilang ....!!!" lagi, Cik Melan kembali berteriak minta tolong.


    Para tetangganya langsung berlarian menuju ke rumah Cik Melan. Beberapa orang yang berlari sambil memukul kentongan, langsung datang ke rumah Podin. Tentunya mereka ingin tahu apa yang terjadi.


    "Ada apa ...?! Ada apa ...?!"


    "Pak Podin kenapa ...?!"


    Orang-orang langsung pada bertanya pada Cik Melan. Orang-orang yang sudah sampai duluan di rumah Podin langsung nerocos menanyai Cik Melan. Pastinya mereka ingin tahu, apa sebenarnya yang terjadi dengan Podin.        "Pak Podin kenapa, Cik ...?!"


    "Pak Podin hilang ..... Huhuhu ....." jawab Cik Melan yang langsung menangis.


    "Pak Podin ...?!"


    "Pak Podin hilang ...?! Kenapa ...?! Hilang di mana ...?!"


    "Pak Podin kenapa ...?!"


    Orang-orang Pun saling bertanya, ingin tahu apa sebenarnya yang terjadi.


    "Bagaimana ini sebenarnya, Cik Melan?" tanya salah seorang warga, yang mungkin dia mewakili warga yang lain.


    "Tadi ..., bersamaan dengan terjadinya gerhana bulan, Pak Podin yang berada di kamar bersama saya, tiba-tiba seperti di seret oleh makhluk yang tidak kelihatan mata .... Dan Pak Podin yang seperti diseret itu, kemudian hilang .... Saya sudah mencari kemana-mana ..., tetapi Pak Podin tidak ketemu .... Huhuhu .... Tolong bantu kami untuk mencari Pak Podin .... Huhuhu ...." kata Cik Melan yang menceritakan kalau suaminya hilang, dan tentunya meminta tolong kepada para warga yang sudah pada berdatangan di rumahnya.


    "Pak Podin digondol gerhana ...."


    "Hash ..., gerhana bulan bisa membawa orang ...?!"


    "Pak Podin ke mana ...?!"

__ADS_1


    "Digondol gerhana ...."


    "Itu pasti bukan digondol gerhana bulan .... Tapi pasti yang menggondol Pak Podin itu genderuwo ...."


    "Ya ampun .... Pak Podin hilang digondol genderuwo ...?!"


    "Ayo dicari ...!!"


    "Dombreng ..., dombreng ......."


    "Tung ..., tong ..., tong ...!!"


    "Pak Podin ........!!!"


    "Pak Podin ........!!!"


    Orang-orang pun langsung beramai-ramai mencari Podin. Ada yang memukul kentongan, ada yang memukul kaleng-kaleng bekas. Mereka berteriak-teriak memanggil Podin, sambil menyorotkan senter baterai, mencari Podin. Mereka mengelilingi rumah Podin.


    "Ayo ..., rumahnya dikelilingi ...."


    "Ya, rumah Pak Podin dikelilingi .... Siapa tahu Pak Podin ada di pojokan, ada di pohon, ada di kolong ...."


    "Tolong ada yang masuk ke rumah Pak Podin .... Mencari seluruh tempat di ruangan rumah Pak Podin .... Dan juga menengok kolong-kolong yang ada di rumah itu."


    "Tolong juga, ada yang mengelilingi rumah Pak Podin, mencari di setiap sudut rumah itu."


    "Iya betul ...."


    "Tolong juga, ada yang menyorotkan baterai senternya ke pohon-pohon yang ada di sekitar rumah Pak Podin ...!"


    "Siap ...."


    Tentunya para tetangga ini langsung mencari ke segala penjuru, baik di dalam rumah, di sekitar pinggiran rumah, di pohon-pohon yang rimbun di sekitar rumahnya, bahkan ada juga yang sudah sampai ke tempat-tempat yang seram dan dipercaya sebagai tempat tinggal para demit. Ya, para tetangga Podin ini memang baik dan tentunya mau membantu Cik Melan untuk mencari suaminya yang hilang. Tentunya para warga menganggap kalau Podin maupun Cik Melan memang orang baik. Buktinya, mereka diberi pekerjaan, dan bahkan beberapa orang tetangganya ini dipercaya disuruh mengelola usahanya. Maka ketika mendengar Podin hilang, mereka pasti langsung membantu mencari.


    Tentunya, para warga mengira kalau Podin hilang digondol demit. Podin digondol hantu. Podin dibawa kabur oleh setan. Makanya, mereka terus mencari, mereka terus menyorotkan lampu senternya ke tempat yang gelap-gelap. Pastinya sambil memukul kentongan dan alat-alat lainnya. Dan tentunya hal itu juga dibantu dengan ritual dukun. Biasa, orang kampung masih percaya dengan hal yang tak bisa dilihat mata, makhluk halus seperti itu. Dan tentu dengan suara yang ramai, dengan suara berteriak-teriak, dengan pemukulan kentongan, pemukulan kaleng-kaleng bekas, bahkan ada yang menyalakan oncor dari bambu, itu tujuannya agar demit yang menyembunyikan Podin, agar setan yang menggondol Podin, segera melepaskannya, dan Podin dikembalikan ke alamnya.

__ADS_1


    Ya, orang-orang percaya, masyarakat kampung di tempat tinggal Podin percaya kalau ada orang yang hilang seperti Podin saat ini, biasanya orang itu digondol oleh makhluk halus, makhluk gaib, makhluk yang tidak bisa dilihat oleh mata. Dan biasanya mereka disembunyikan di sebuah tempat persinggahan dari para demit tersebut.


    Hingga hampir pagi, Podin tidak ketemu. Orang-orang masih terus mencari. Namun tentunya, mereka juga merasa aneh, karena Podin, orang yang setua itu, bisa hilang digondol oleh setan. Anehnya lagi, kata orang-orang, juga Cik Melan, Podin hilang digondol gerhana.


__ADS_2