
Setelah uang Podin terkuras habis, tentunya Podin tidak bisa berbuat banyak, terutama untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Apalagi untuk menambah modal usaha toko Lesti. Walaupun Lesti sudah menjalankan usaha, dan tentunya usaha Lesti juga laris, dan pastinya mendapatkan pemasukan uang yang cukup banyak, tetapi kata Podin, uang usaha itu harusnya untuk usaha, untuk mengembangkan modalnya, untuk membesarkan tokonya. Podin tidak mau kalau uang hasil usaha dari toko Lesti itu digunakan untuk banyak memenuhi keperluan rumah tangga, terutama untuk kebutuhan makan. Podin ingin menjadi seorang laki-laki yang bertanggung jawab. Podin ingin menghidupi keluarganya, ingin mencukupi semua kebutuhan keluarganya. Tentu untuk makan dan kebutuhan sehari-hari dari bapak dan ibu mertuanya, termasuk kepada istrinya sendiri, bahkan juga untuk dirinya, Podin harus berusaha untuk merogoh kantongnya. Sebagai seorang laki-laki yang bertanggung jawab, Podin akan memenuhi seluruh kebutuhan keluarganya.
"Lesti ..., Akang mohon izin untuk berangkat ke Jakarta. Akang ingin melihat usaha yang ada di Jakarta, dan tentunya Akang juga akan mengambil sedikit uang untuk kebutuhan kita sehari-hari." kata Podin pada istrinya di saat makan pagi bersama dengan keluarganya.
"Kenapa Nak Podin harus ke Jakarta? Ada apa di Jakarta?" tanya ibu mertuanya yang tentu ingin tahu apa yang akan dikerjakan oleh Podin di Jakarta.
"Maaf, Ibu .... Saya harus menengok usaha yang ada di sana. Setidaknya saya akan melihat perkembangan tempat usaha di Jakarta." jawab Podin yang tentu dia sangat sopan terhadap mertuanya.
"Oh ..., begitu .... Ya, kalau memang Nak Podin punya usaha di Jakarta, dan akan dilihat, diawas-awasi. ya itu kewajiban Nak Podin." kata bapak mertuanya yang tentu akan sangat mengizinkan jika Podin akan menengok usahanya di Jakarta.
"Tapi ..., Akang ngapain repot-repot ke Jakarta kalau hanya sekedar mau minta uang hasil usaha? Kan, saya mah bisa telepon Cik Melan, supaya Cik Melan mengirim uang, ditransfer, begitu .... Akang tidak perlu ke Jakarta .... Zaman sekarang mah, sudah gampang .... Kita bisa transfer uang secepat kilat .... Akang tidak capek, tidak beresiko ...." kata Lesti yang tentuknya agak keberatan kalau suaminya berangkat ke Jakarta sendirian, karena Lesti tahu bahwa di Jakarta kehidupannya sangat keras, bersaing ketat dan jalanannya yang macet di sana sini. Kasihan kalau sampai suaminya harus bercapai-capek berangkat ke Jakarta hanya untuk meminta uang hasil usahanya.
"Begini, Lesti .... Akang ke Jakarta itu bukan sekedar untuk minta uang perusahaan saja, tetapi setidaknya, Akang juga harus tahu bagaimana perkembangan usaha di sana. Akang juga harus ketemu dengan para karyawan, untuk memberi semangat agar mereka rajin, agar mereka tetap komit dalam bekerja di tempat usaha Akang .... Jangan sampai usaha kita itu dibiarkan begitu saja. Kita hanya dapat uangnya, tapi tadak mau mengurusinya. Itu tidak baik, Lesti .... Itu mah, namanya kita mau uang tanpa mau bersusah payah." begitu jawab Podin pada istrinya, yang tentunya juga memberi gambaran kalau tempat usaha itu mestinya memang sering ditengok, sering dilihat, sering dicek, dan setidaknya melakukan kontrol. Itu istilah dalam sebuah manajemen perusahaan.
Dan Podin pun tentu tidak keliru kalau dia harus mengontrol tempat usahanya yang sudah lama tidak ia tengok. Setidaknya Podin bisa mengetahui bagaimana perkembangan tempat hiburannya itu setelah beberapa waktu yang lalu pernah mengalami musibah kebakaran, walaupun kata karyawannya yang berkomunikasi dengan Lesti, dan dikatakan bahwa tempat usaha itu sudah berjalan lagi dengan baik, dan tentu sudah kembali normal.
"Iya, Akang .... Kalau memang seperti itu, mangga silakan, Akang Podin berangkat ke Jakarta. Tapi hati-hati, Akang nyetir sendiri. tidak ada teman .... Di Jakarta mah, ramai pisan .... Di Jakarta mah, mobilnya banyak pisan dan di sana macet. Apa perlu Lesti nemani Akang?" kata Lesti kepada suaminya, yang tentunya juga khawatir dengan suaminya kalau ke Jakarta sendirian tanpa teman.
"Lesti .... Baiknya kamu di sini saja .... Urusi toko kamu. Ini mah, usaha masih baru. Jangan ditinggal-tinggal. Kasihan Bapak sama Ibu kalau disuruh ngurusi. Kalau ada apa-apa nanti bagaimana?" kata Podin yang melarang istrinya ikut ke Jakarta untuk menemani.
"Iya, Akang .... Lesti juga kepikiran begitu." kata Lesti.
"Akang tahu itu .... Jakarta memang begitu. Tapi nanti mungkin, Akang mau tinggal beberapa hari di Jakarta. Di sana, tentunya Akang mencoba untuk melihat bagaimana perkembangan perusahaan yang di sana, apakah sudah baik atau belum. Dan paling tidak, Akang ingin tahu prospek kedepannya." kata Podin yang seolah-olah menjadi seorang pengusaha yang hebat.
"Iya, Akang .... Hati-hati di jalan ...." kata Lesti yang tentu terlihat sedih saat akan ditinggalkan suaminya.
Akhirnya Podin berangkat menuju Jakarta. Tujuan utamanya adalah ingin mengecek tempat usahanya yang sudah dipasrahkan kepada Cik Melan, sebagai karyawan bagian keuangan yang sudah dipercaya oleh Podin untuk menjalankan bisnisnya tersebut. Podin menyetir mobilnya sendirian. Tentunya rasa jenuh menyelimuti dalam kesendiriannya itu. Apalagi saat masuk Jakarta. Semua jalanan macet. Pasti membuat Podin semakin capek.
__ADS_1
Hingga sore hari, Podin pun sampai di tempat tujuan. Podin sudah sampai di depan gedung karaoke, tempat usaha miliknya. Memang, Podin sekalian ingin menyaksikan bagaimana perkembangan usahanya yang ada di Jakarta itu. Dan tempat hiburan itu, tempat karaoke, tentunya memang banyak didatangi pengunjung pada saat sore hingga malam hari. Dan kala itu, Podin pun datangnya pas dengan waktu yang sudah direncanakan. Sampai di depan gedung usahanya itu pas dengan saat orang-orang yang ingin cari hiburan mulai berdatangan.
Maka, setelah memarkirkan mobilnya, Podin langsung turun dari mobilmya itu. Si John yang bertugas sebagai keamanan di tempat itu, begitu tahu ada bos-nya yang datang, ia langsung menyambut kedatangan Podin. Ya, karyawan bagian keamanan itu masih setia mengikuti usaha di tempat hiburan, menjaga gedung karaoke milik Podin tersebut.
"Pak Podin .... Selamat sore, Pak .... Wah, ini tumben Pak Podin meninjau kemari ...." kata petugas keamanan yang juga mengatur mobil yang pada parkir di halaman gedung itu.
"Iya, Jhon .... Ini ..., mau melihat kondisi tempat usaha kita. Bagaimana keadaannya?" tanya Podin pada pegawai bagian keamanan itu.
"Tenang, Pak .... Semuanya aman terkendali ...." begitu jawab Si Jhon yang tentu dengan gagah berani langsung mengatakan kalau tempat usahanya itu aman tidak ada masalah.
Lantas Podin melangkah jalan, mengamati keadaan sekeliling tempat usahanya itu, yang tentunya Podin juga ingin tahu bekas-bekas gedungnya yang mengalami kebakaran. Ternyata sudah hilang semua, sudah tidak terlihat, sudah rapi, bahkan warna gedungnya pun sudah berubah, sudah dicat dengan warna yang baru yang lebih cerah dan lebih menarik. Dalam hati Podin, ia kagum dengan para karyawannya. Ternyata anak buahnya memang bisa diandalkan.
"Cik Melan ada, John?" tanya Podin pada pegawai keamanan itu.
"Ada, Pak Podin .... Di atas, Pak, masih berada di ruangnya di bagian administrasi, Pak. Cik Melan biasa, kalau pulang larut malam. Kadang juga sampai para tamu itu habis, dia baru pulang. Maklum, Pak ..., Cik Melan masih perawan, belum punya tanggungan keluarga, Bapak ...." kata si Jhon yang menjawab pertanyaan Bosnya.
"Siap, Pak ...." kata si Jhon.
"Tok ..., tok ..., tok ...." suara pintu diketuk. Setelah sampai di ruang administrasi, Podin mengetuk pintu di ruang bagian keuangan.
"Eh ..., ada Pak Podin .... Mari, Pak ..., silakan masuk." kata karyawan perempuan muda yang bekerja di bagian keuangan tersebut.
Lantas Podin masuk ke ruang itu, dan duduk berhadapan dengan karyawannya yang masih perawan itu.
"Bagaimana kabarnya, Cik ...? Apakah ada masalah dalam usaha kita?" tanya Podin yang tentunya ingin tahu keadaan perusahaannya.
"Iya, Pak .... Maaf, saya lancang. Kemarin untuk perbaikan masalah gedung kita yang mengalami kebakaran, saya belum menyampaikan kepada Bapak. Tetapi terus terang, kami memang sudah mulai menatanya, dan kami juga sudah memperbaikinya, Pak" kata perempuan muda itu pada Podin.
__ADS_1
"Iya .... Tadi saat parkir, saya sudah melihat .... Keren dan bagus. Tentu nanti para pelanggan akan senang, dan tentunya bangunanmu menjadi sangat menarik. Dilihat dari kejauhan saja sudah membuat orang bertanya-tanya ingin tahu, ada apa di tempat ini." begitu kata Podin yang memuji pada karyawannya itu.
"Iya, Pak .... Terima kasih. Tetapi perlu kami sampaikan kepada Bapak, bahwa kami, untuk memperbaiki dan membangun gedung itu menggunakan jasa perbaikan renovasi bangunan, Pak .... Terus terang kemarin kami sudah berembuk dengan pihak pemborong renovasi, dan ternyata kami masih mempunyai tanggungan, Pak. Perusahaan kita masih punya hutang dengan pihak jasa renovasi." begitu yang dikatakan oleh perempuan muda yang menjadi karyawan bagian keuangan, yang dipercaya oleh Podin untuk mengurusi segala masalah perusahaan itu.
"Jadi ..., yang dimaksud dengan Cik Melan, bahwa tempat usaha kita ini masih punya hutang, begitu?" tanya Podin kepada karyawannya itu, yang tentu dengan nada perlahan. Tentunya Podin kaget dan juga kecewa, karena ternyata perusahaannya masih punya hutang dengan pihak jasa renovasi bangunan.
"Iya, Pak. Maaf, kami memang sengaja melakukan ini, karena harapan kami, tempat ini bisa menjadi lebih menarik, lebih terkenal dan lebih bagus, Pak. Dan juga untuk upgrade semua peralatan karaoke, dan juga mengganti layar-layar monitornya dengan LCD proyektor. Ruang karaoke kita ubah menjadi yang lebih bagus dan lebih menarik, Pak. Terutama kami meminta perbaikan yang lebih bagus pada bagian ruang yang kemarin mengalami kebakaran. Ruang itu semuanya kita upgrade. Justru di ruang itu barang-barangnya, sarana prasarananya, sound system dan peralatannya semuanya menjadi paling bagus, Pak." kata karyawannya itu yang tentu juga agak takut kalau sampai dimarahi oleh Podin.
"Begini .... Saya sebenarnya khawatir, Cik Melan .... Bagaimana dengan karyawan kita, kalau perusahaan ini masih punya hutang kepada pihak pengembang? Dan tentu keuangan kita jadi kosong. Bagaimana nanti Cicik mau membayar karyawan?" tanya Podin kepada karyawannya itu. Padahal yang sebenarnya dalam hati Podin agak kecewa, karena harapannya dia datang bisa mendapatkan uang. Tetapi kenyataannya justru ia disodori dengan nota keuangan yang minus.
"Iya, Pak .... Kami sudah memikirkannya. Sebenarnya kami sudah memprediksi dari pemasukan-pemasukkan yang biasanya kita peroleh. Setidaknya dalam kurun waktu sampai tiga bulan, kita sudah surplus kembali. Sehingga kita tidak bakalan khawatir dengan keuangan. Kita bisa membayar hutang pada pengembang dalam tiga bulan itu, dan tentunya saya juga tidak khawatir untuk membayar karyawan-karyawan, Pak .... Namun dengan kondisi seperti ini, memang nanti fokus keuangan yang masuk, semuanya untuk kita gunakan membayar karyawan. Sementara waktu tidak ada saving, Pak." kata karyawan bagian keuangan Itu, yang menjelaskan kepada Podin, yang sebenarnya Podin sendiri tidak paham dengan masalah keuangan seperti itu. Aapalagi kata-kata dari pegawainya itu terlalu rumit, terlalu sulit untuk dipahami, terlalu muluk-muluk, terlalu sangat accounting sekali. Sehingga tentunya Podin justru bingung. Tetapi yang jelas, Podin paham kalau perusahaannya saat ini punya hutang yang lumayan banyak, dan karyawan bagian Keuangan itu sudah memprediksi kalau pemasukannya selama ini bisa digunakan untuk membayar karyawan seluruhnya.
Podin masih bisa tenang hatinya, karena dia tidak akan mengeluarkan uang untuk membayar hutang. Walaupun niat sebenarnya, dia ingin mendapatkan bagian hasil keintingan. Namun tentunya dengan kondisi seperti itu, Podin tidak bakalan bisa mengambil uang dari perusahaannya itu.
"Ya, baiklah Cik Melan .... Saya percaya sama kamu, saya serahkan sepenuhnya untuk mengelola perusahaan ini kepada Cicik. Makanya dari pertama kali saya datang ke sini, saya sudah yakin bahwa kamu bisa mengatur perusahaan ini, dan bisa membawa kemajuan perusahaan ini. Tapi mohon maaf, untuk saat ini saya tidak bisa memberi bantuan tambahan keuangan, saya tidak bisa menolong membayar hutang perusahaan ini lagi. Terus terang, saya juga sedang kebingungan masalah modal, saya juga butuh uang, saya sedang buka tempat usaha yang baru, Cik. Jadi mohon maaf, kalau seandainya nanti saya tidak bisa membantu banyak tentang masalah keuangan di tempat ini. Modal saya akan saya gunakan untuk mengembangkan usaha yang di tempat lain. Yang di sini tetap saya serahkan kepada Cicik untuk menjalankannya. Saya percaya, kamu bisa menyelesaikannya." begitu kata Podin kepada karyawan bagian keuangan itu, yang tentunya Podin beralasan kalau dirinya tidak bisa membantu keuangan. Bahkan sebenarnya dirinya memang butuh uang untuk kebutuhan hidupnya.
"Maaf, Pak .... Terus terang untuk saat ini kami tidak bisa membantu Bapak, belum bisa membagikan keuntungan buat Bapak. Tolong dimaafkan, Pak ..., karena memang perusahaan kita sedang butuh uang sangat banyak, terutama untuk memperbaiki kembali kondisi dari tempat karaoke ini yang memang kemarin mengalami masalah pada kecelakaan kebakaran. Sekali lagi, terus terang kami, walaupun kemarin dapat dana dari asuransi, tetapi kami juga harus mengeluarkan uang itu seluruhnya, Pak .... Ya, kami harus memberikan amplop untuk beberapa personil keamanan, Pak .... Itu penting, Pak ..., untuk menjamin bahwa tempat usaha kita ini akan dijaga oleh mereka." kata perempuan itu, yang tentunya dia juga memaparkan bahwa dalam usahanya itu, dia pun harus memberikan amplop pada petugas-petugas keamanan, setidaknya uang untuk beli rokok.
"Ya ..., ya ..., ya .... Bagus .... Saya setuju. Tidak masalah, oke .... Yang penting semua terkendali. Silakan dilanjutkan untuk bekerja lebih semangat. Saya akan keliling untuk melihat-lihat." kata Podin yang tentu mendukung dengan apa yang dilakukan oleh karyawannya itu.
"Iya, Pak Podin .... Silakan, Pak .... Mari saya antar untuk melihat ruangan-ruangan yang direhab, Pak." kata perempuan muda yang tentu akan menemani Podin keliling.
"Tidak perlu, Cik .... Tidak usah diantar .... Saya akan keliling sendiri, dan terusan ke tempat lain." kata Podin yang sudah melangkah keluar meninggalkan karyawannya itu. Dan ia pun yakin kalau karyawannya itu akan sanggup mengembangkan kembali tempat usahanya itu.
Selanjutnya Podin berkeliling mengamati ruang-ruang karaoke miliknya, yang tentu sudah mengalami banyak perubahan. Dan yang disaksikan oleh Podin adalah banyaknya perbedaan yang sangat mencolok jika dibandingkan dengan pada saat Maya masih sering ikut campur tangan ingin mengatur tempat itu.
Namun Podin, meski senang dengan perubahan gedung karaoke miliknya yang semakin bagus itu, ia tetap bingung, karena niat kedatangannya untuk memperoleh uang tidak terpenuhi. Podin gagal mendapatkan uang. Niatnya mencari uang, malah disodori utang.
__ADS_1