PULAU BERHALA

PULAU BERHALA
EPISODE 180: KANG ZAKI KE PULAU BERHALA


__ADS_3

    Seperti yang sudah diniati oleh Kang Zaki, ia sengaja ingin datang ke Pulau Berhala, yang pernah disebut oleh Podin, dan juga sudah ditunjukkan tempatnya oleh teman kerjanya di proyek bangunan. Pastinya, Kang Zaki ingin mendapatkan harta kekayaan dari Pulau berhala itu. Ia ingin menjadi orang yang kaya raya. Kang Zaki tidak ingin menjadi orang yang terus menerus menderita dalam kemiskinan. Ia ingin mengubah takdir.


    Pagi itu, tanpa berpamitan istrinya, tanpa izin dengan pihak mandor bangunan, dengan tekad bulat, Kang Zaki naik bus menuju arah Tasik. Ia akan mencari pulau yang bernama Pulau Berhala. Pulau dimana yang ada dalam angan-angannya adalah tempat keberadaan harta kekayaan, seperti yang ia dengar dari cerita Pak Podin yang sempat dikupingnya. Pulau yang sudah ditunjukkan arah tempatnya oleh teman seprofesinya di proyek bangunan. Tentunya dengan harapan yang melambung tinggi.


    Perjalanan dimulai dari kampungnya di Parung, naik angkutan desa menuju terminal Bogor. Kemudian dari terminal Bogor naik Bus ke jurusan Bandung. Dari Bandung naik bus lagi menuju Karangnunggal Tasikmalaya. Selanjutnya, Kang Zaki harus naik angkudes menuju kawasan Pantai Karang Tawulan. Delapan jam lebih perjalanan yang dilakukan oleh Kang Zaki, dari terminal ke terminal, dari naik angkot, bus hingga angkudes.


    Setelah tiba di kawasan obyek wisata Pantai Karang Tawulan, Kang Zaki bertanya-tanya, di mana sebenarnya letak Pulau Berhala.


    "Maaf, Pak .... Kalau mau ke Pulau Behala, naik kapalnya dari mana ya, Pak ...?" tanya Kang Zaki pada salah seorang penjaga loket masuk di obyek wisata Pantai Karang Tawulan.


    "Tidak ada kapal yang ke sana, Mas .... Kalau sewa ke nelayan mungkin ada yang mau mengantar ...." jawab petugas tiket yang ditanyai.


    "Ooo .... Memang tempatnya ada di mana, Pak ...?" tanya Kang Zaki lagi.


    "Si Mas, jalan saja ke arah timur .... Terus saja .... Karena tidak ada angkutan kendaraan yang ke sana .... Nanti Anjeun (kamu bahasa Tasikmalaya) akan ketemu perkampungan nelayan. Coba tanya pada para nelayan yang ada di sana, barangkali ada yang mau mengantarkan Anjeun ke sana." kata si tukang karcis itu lagi.


    "Terima kasih, Pak ...." kata Kang Zaki yang lega mendapat jawaban itu. Tentunya ia sudah dapat keterangan yang jelas dan pasti.


    Maka Kang Zaki langsung meninggalkan tempat itu, dan melangkahkan kaki menuju tempat yang ditunjukkan oleh orang yang ditanyai tadi. Dan tidak berapa lama, Kang Zaki pun sampai di sebuah perkampungan yang secara umum terlihat agak kumuh. Yah, perkampungan yang tidak begitu banyak rumahnya, tetapi di depannya, banyak bergelantungan jaring-jaring jala penangkap ikan. Pasti ini yang dimaksud kampung nelayan oleh tukang karcis di obyek wisata tadi.

__ADS_1


    Begitu melihat orang yang ada di kampung itu, Kang Zaki langsung menemui. Dan tentunya langsung bertanya untuk menyewa kapalnya.


    "Maaf, Pak .... Mau tanya .... Kalau saya mau menyewa kapal untuk mengantarkan saya ke Pulau Berhala, apa bisa, Pak ...?" tanya Kang Zaki pada laki-laki tua yang sedang memperbaiki alat jalanya.


    Laki-laki separo baya itu diam tak menjawab. Hanya matanya yang memandangi sekujur tubuh Zaki, dari atas hingga bawah. Seakan menyelidiki, siapa laki-laki yang mau ke Pulau Berhala itu?


    Setelah beberapa lama memandangi Kang Zaki. lantas jawab laki-laki itu, "Anjeun orang pemberani .... Kalau saya tidak berani .... Coba saja cari orang lain yang berani mengantarkanmu ...."


    "Baik, Pak .... Terima kasih." jawab Kang Zaki yang selanjutnya meninggalkan laki-laki yang sedang memperbaiki jala di depan rumahnya itu, kemudian melangkah menghampiri orang lain yang ada di perkampungan nelayan itu.


    "Maaf, Pak .... Mau tanya .... Kalau saya mau menyewa kapal untuk mengantarkan saya ke Pulau Berhala, apa Bapak bisa ...?" tanya Kang Zaki, kali ini kepada laki-laki separo baya yang sedang memperbaiki tali tambang pengikat kapalnya.


    "Saya kira kalau orang-orang di kampung ini, tidak ada yang berani melaut ke Pulau Berhala." jawab laki-laki separo baya yang masih memegangi tambang kapalnya.


    "Maaf, Pak .... Kira-kira, kepada siapa saya bisa meminta tolong untuk diantarkan ke Pulau Berhala?" tanya Kang Zaki yang tentunya ingin tahu penjelasan dari laki-laki itu.


    Laki-laki itu menggelengkan kepalanya. Pertandan ia tidak tahu, atau setidaknya tidak menghendaki para tetangganya pergi ke Pulau Berhala.


    "Coba Salira pergi ke kampung sana .... Itu kampung terdekat dengan Pulau Berhala. Mungkin ada yang bersedia mengantarkan Salira ...." kata lelaki separo baya itu, yang tentunya menolak secara halus niatan Kang Zaki yang meminta mengantarkan ke Pulau Berhala.

__ADS_1


    "Terima kasih, Pak ...." kata Kang Zaki, yang selanjutnya melangkahkan kakinya berjalan ke arah timur, seperti yang ditunjukkan oleh nelayan yang ia tanyai tadi.


    Kaki Kang Zaki terus berjalan menyusuri jalan setapak di tepi pantai. Lumayan jauh, hingga meninggalkan perkampungan nelayan, bahkan sudah sampai di tempat yang sepi, tidak ada rumah, tidak ada orang. Karena perjalanan kaki yang cukup jauh, tentunya keringat mengucur dari seluruh tubuhnya, Kang Zaki merasa kelelahan.


    Sejauh mata memandang, Kang Zaki melihat hamparan pantai yang sangat indah. Dan di depannya, mata Kang Zaki memandang sebuah pulau yang rimbun menghijau. Tentu itu adalah Pulau Berhala, seperti yang ditunjukkan oleh tukang karcis di tempat wisata. Tentu ia segera mendekat, ingin menceburkan diri ke air laut yang menghempaskan gelombangnya ke pantai, dan ingin tahu Pulau Berhala secara jelas. Pasti Kang Zaki juga ingin menikmati keindahan pantai dengan hamparan pasir yang indah serta hempasan-hempasan gelombang dengan air yang jernih. Apalagi hari sudah sore, saat matahari sudah akan tenggelam, suasana yang sangat indah dan menawan.


    "Hoei ...! Mau ikut ke Pulau Berhala apa tidak ...?!"


    Kang Zaki langsung menoleh, mendengar ada teriakan orang yang menawarkan ikut ke Pulau Berhala. Dan tentu Kang Zaki kaget, karena tiba-tiba di sampingnya sudah bertengger sebuah perahu, yang dibagian buritannya berdiri seorang laki-laki dengan pakaian yang seperti jubah menutup seluruh tubuhnya. Di bagian kepalanya tertutup oleh topi dari anyaman bambu yang sangat lebar. Sedang tangannya memegang bambu semacam galah, yang digunakan untuk menjalankan perahunya.


    Tentu saja, Kang Zaki langsung berdiri dan girang. Tujuannya untuk pergi ke Pulau Berhala direstui. Maka serta merta Kang Zaki langsung melangkah mendekat ke arah perahu itu.


    "Ya .... Saya mau ikut ...!" begitu teriak Kang Zaki yang langsung melompat ke dalam perahu.


    Tanpa berkata-kata lagi, orang yang menjalankan perahu itu langsung mendorong galahnya. Dan perahu itu langsung melaju menuju pulau yang ada di seberang, yaitu Pulau Berhala. Dan sekali dayung, perahu yang ditumpangi oleh Kang Zaki, sudah sampai di pantai seberang.


    Kang Zaki langsung turun dari perahu yang ditumpanginya. Ia langsung menginjakkan kakinya di pantai pulau itu. Dan tentunya, perahu yang ditumpangi tadi langsung pergi meninggalkan Zaki. Belum sempat Kang Zaki mengucapkan terima kasih, tetapi perahu itu sudah menghilang. ditelan kabut.


    "Tidak apa-apa .... Yang penting saya sudah sampai di Pulau Berhala." demikian gumam Kang Zaki yang langsung melangkahkan kaki menuju ke dalam pulau itu.

__ADS_1


__ADS_2