PULAU BERHALA

PULAU BERHALA
EPISODE 113: RINA MENEMUKAN PETI


__ADS_3

    Dan selanjutnya, kita akan menilik bagaimana kehidupan Rina.


    Rina adalah istri Podin yang ketiga, yang dinikahi oleh Podin, karena saat itu Podin ingin melepaskan diri dari Maya yang selalu meminta uang. Awalnya Rina yang janda ditinggal pergi oleh suaminya, menjadi seorang pelayan di warung makan tempatnya Bu Hendro, bertemu dengan Podin yang kost di dekatnya, karena Podin sering makan di warung itu. Dan Podin serta Rina pun sama-sama tertarik dan jatuh cinta.


    Namun setelah Rina mau menikah dengan Podin, oleh Podin diajak untuk membuka usaha, diberi modal untuk usaha sendiri, melepaskan diri dari kerjanya sebagai pelayan di warung makan. Waktu itu, Podin membeli rumah, dan bersama dengan Rina membuka warung makan sendiri di daerah Karawang, pinggiran Jakarta. Ya, daerah yang banyak pabrik, daerah kawasan industri, daerah yang banyak karyawan pada butuh makan.


    Kala itu, warung makan milik Rina memang ramai. Warung Rina memang penuh sesak. Dan pastinya Rina mendapatkan pelanggan yang banyak, sehingga keuntungannya pun besar. Beruntung Rina dipersunting oleh Podin, walaupun ia hanya sebagai istri yang tidak bisa dinikah secara resmi, dengan alasan Podin tidak bisa mendapatkan surat cerai, karena istrinya hilang tidak ada yang tahu. Namun kala itu, mereka berdua memang rajin untuk berjualan warung makan. Terutama Rina, yang memang dulunya seorang pelayan di rumah makan, tentunya ketika ia membuka rumah makan sendiri pastinya sudah terbiasa dan sudah lihai dalam memasak, menyiapkan sajian, maupun cara-cara melayani para pelanggannya.


    Namun sayang, waktu itu warung makan milik Rina yang sudah laris itu, warung makan yang sudah ramai dengan para pelanggan itu, yang akhirnya Rina harus meminta bantuan tenaga untuk menjadi pelayan di rumah makan miliknya, dan Rina pun mendapatkan gadis dari desa yang masih lugu dan polos, keponakan Pak Mitro karyawan pabrik yang kost di dekat warung Rina, untuk membantu menjadi pelayan di rumah makannya. Pekerjaannya melayani dan membantu segala yang ada di warung makan milik Rina tersebut. Sehingga akan meringankan beban pekerjaan dari Rina yang warung makannya semakin banyak pembeli dan semakin laris.


    Tetapi ulah Podin yang memang sangat bernafsu melihat gadis yang cantik yang membantu di warung istrinya itu, pastinya Podin merasa ingin menggagahi gadis desa tersebut. Ya, Puput yang menjadi pelayan di warung Rina, menjadi sasaran Podin untuk melampiaskan nafsunya.


    Akibatnya, dengan tersiarnya masalah itu pun membuat orang-orang yang ada di kampungnya, terutama para pelanggan di warung makan Rina, menjadi geger. Tentu orang-orang pada mencibir dan mengolok Podin dan Rina. Makanya, dengan terpaksa Rina harus mengusir Podin, suaminya yang sudah membuatkan tempat usaha itu, menyuruhnya pergi dari rumahnya, karena Rina tidak ingin malu dengan para pelanggan, dengan para tetangga, dengan orang-orang yang selalu datang membeli masakan Rina. Ya, Rina akhirnya harus mengusir suaminya sendiri dari rumahnya.


    Namun, setelah kepergian Podin, hal lain terjadi pada Rina. Kalau dulu sewaktu masih ada Podin, setiap pagi sebelum pelanggan-pelanggannya pada datang, Rina selalu melihat pengemis cilik, perempuan kecil yang wajahnya pucat pasi, dengan pakaian compang-camping, selalu berdiri di depan rumahnya, berdiri di pinggir jalan di depan warungnya, dan Rina selalu memberi makanan kepada gadis cilik yang dianggap sebagai pengemis itu. Seperti yang kala itu diperintahkan oleh Podin, suaminya, yang mengatakan kalau pengemis cilik itu kurang gizi, dan harus diberi makanan yang sebaik-baiknya sebagai amalan Rina, biar warungnya tambah laris. Namun setelah sekarang Podin sudah tidak ada di warung itu lagi, pengemis cilik itu hampir tidak pernah datang lagi ke depan warungnya.


    Kini, Rina harus bekerja keras seorang diri. Tidak hanya belanja semdiri, tetapi juga masak, juga meladeni para pelanggan-pelanggannya yang selalu minta diladeni secara cepat, tentu Rina kewalahan. Bahkan saat Rina memesan kepada Pak Mitro agar Puput kembali lagi membantu di warungnya, ternyata Puput sudah tidak mau kembali ke warungnya Rina. Katanya malu, katanya tidak ingin dibincangkan atau ditanyai oleh orang-orang yang makan di warungnya Rina. Ya, Puput, gadis yang masih belum paham tentang asmara itu memang tidak bisa menerima kenyataan kalau dirinya akan diperkosa oleh Podin. Tentu hal itu menyebabkan Puput menjadi trauma. Makanya dia tidak mau kembali lagi ke kota metropolitan tersebut.


    Sejak itulah Rina tidak lagi begitu memperhatikan pengemis cilik yang selalu berdiri di depan rumahnya setiap pagi, atau bahkan juga siang hari di saat-saat orang mengalami serangan perut lapar. Ya, tentu karena kesibukan Rina sehingga dia memang tidak begitu bisa mengurusi hal-hal kecil yang tidak menjadi tanggung jawabnya.


    Namun, di suatu hari, Rina kaget oleh perempuan kecil yang compang-camping dan pucat pasi itu. Anak itu tiba-tiba saja sudah berdiri di depan pintu rumahnya. Tidak lagi di jalan, tetapi sudah berada di depan pintu rumah. Bukan di warung yang tersedia banyak makanan, tetapi tepat berada di pintu utama rumah yang tertutup itu.


    Rina melihatnya dan kaget. Pastinya ia memanggil agar gadis kecil yang memelas itu agar mau ke warungnya. Tetapi gadis kecil itu tetap saja berdiri terus dan menatap pintu rumah Rina. Rina yang melihatnya dari tempat berjualan, tentu bingung. Kenapa anak itu dipanggil tidak mau menoleh sama sekali? Ada apa gadis kecil itu berdiri dan menatap pintu rumahnya terus?


    Tentunya setelah lama Rina melupakan anak itu, tidak pernah memberi makanan, lantas serta merta Rina langsung mengambil kertas nasi, kemudian membungkuskan nasi beserta dengan lauk pauknya, seperti itu yang pernah dan sering ia lakukan, dan tentu bungkusan makanan itu akan diberikan kepada anak itu. Tentunya Rina agak tergesa menyiapkan bungkusan nasi untuk anak itu. Dan setelah selesai, bungkusan makan itu langsung dimasukkan ke dalam kantong plastik kresek, dan Rina beranjak akan memberikan bungkusan nasi itu kepada si bocah pengemis cilik yang sudah beberapa hari terlupakan olehnya.


    Namun, saat Rina berjalan menuju ke depan pintu utama rumahnya itu, bocah kecil tersebut, perempuan pengemis cilik itu sudah hilang. Anak kecil kurang gizi itu sudah tidak ada lagi di situ. Rina menengok ke kanan dan ke kiri, tetapi kenyataannya tidak ada siapa-siapa. Dan bocah pengemis cilik itu pun memang sudah hilang begitu saja. Bahkan Rina langsung berlari kecil menuju ke jalan depan rumahnya, ia pun mengamati ke arah biasanya di mana anak kecil itu pergi. Tetapi di jalan itu, Rina juga tidak melihatnya.

__ADS_1


    Seketika itu juga, langsung berdiri bulu kuduk Rina. Merinding seluruh tubuhnya. Seakan ada sesuatu yang aneh pada pengemis cilik yang pucat pasi itu. Rina tiba-tiba merasa ketakutan sendiri. Rina tiba-tiba merasa ada sesuatu yang ganjil, yang aneh. Ada sesuatu yang tidak lazim, ada sesuatu mestinya tidak mungkin hilang begitu saja pada seorang bocah yang belum bisa berfikir.


    Hilang kesadaran Rina. Dan tiba-tiba saja, ia sudah terjatuh pingsan di pinggir jalan.


    "Ada apa ...?!"


    "Kenapa ...?!"


    "Pok Rina pingsan ...!"


    "Hah ...?!"


    "Ya ampun ...."


    "Tolong ...!"


    Setelah Rina sadar, tentu mereka pun pada bertanya, apa yang terjadi? Kenapa sampai Rina bisa pingsan di pinggir jalan? Ya, tentu mereka semua ingin tahu apa sebenarnya yang terjadi? Ada apa dengan Rina?


    Dan setelah Rina bisa membangunkan tubuhnya, setelah Rina sadar, dan setelah bisa duduk, ia pun menceritakan apa yang sedang ia alami. Rina menceritakan tentang bocah kecil yang mengemis, yang selalu ia beri nasi sebungkus, dan selalu ia beri makanan, dan tadi, baru saja, bocah perempuan kecil itu tuba-tuba bisa menghilang begitu saja. Tentu hal itu membuat Rina ketakutan.


    Orang-orang pun saling pandang, saling bertanya, siapa sebenarnya bocah kecil yang mengemis itu? Karena para tetangganya, para pembeli di warungnya, bahkan para pelanggan yang hampir setiap hari datang ke warung Rina, mereka tidak pernah menyaksikan ada bocah perempuan cilik, mereka tidak pernah melihat bahkan tidak pernah tahu kalau ada pengemis cilik yang sering datang ke warung Rina. Dan tentunya di tempat mereka pun tidak pernah ada pengemis cilik seperti yang diceritakan oleh Rina itu.


    Tentunya, mereka mulai menduga-duga, mereka mulai berspekulasi, mereka mulai bertanya-tanya. Mungkinkah pengemis cilik yang dimaksud oleh Rina itu adalah makhluk jadi-jadian atau hantu atau mungkin juga itu arwah gentayangan? Mamun pastinya, mereka tidak ada yang tahu dan tidak ada yang bisa menjawab semua pertanyaan itu. Karena mereka memang tidak pernah melihat anak kecil yang pucat pasti, yang katanya Rina sangat menyedihkan itu. Tetapi yang mereka yakini, pasti itu arwah gentayangan yang matinya tidak sempurna.


    "Coba, Pok Rina ikuti terus bocah itu." kata salah seorang yang ada di situ, yang ikut mengerubung Rina.


    "Iya .... Ikuti saja sampai dia itu menghilang di mana." sahut yang lain.

__ADS_1


    "Saya yakin itu arwah gentayangan yang sebenarnya mau minta tolong."


    "Benar juga .... Mungkin bocah itu mati tidak wajar ...."


    "Bisa jadi bocah itu ingin menunjukkan tempat mayatnya .... Mungkin dikubur sembarangan."


    Dan tentunya, cerita tentang bocah itu terus bergantian, dengan berbagai kisah yang menyeramkan.


    Hari berikutnya, Rina mencoba betul mengamati sekitar rumahnya. Meski takut, Rina tetap penasaran dengan bocah perempuan cilik itu. Ya, hari itu, Rina bersiap untuk menerima kenyataan bahwa bocah kecil itu memang ada dan mencari sesuatu yang terdapat di rumah Rina. Rina pun berniat untuk mengikuti bocah aneh itu, seperti yang disarankan oleh para tetangganya. Rina sengaja tidak mengunci pintu rumahnya. Bahkan ditutup tidak rapat. Ia yakin, pasti bocah itu ingin masuk ke dalam rumahnya. Karena dari dulu, ia selalu mengamati pintu rumah itu. Dan kini. Rina sudah bersiap mengawasi, kalau sewaktu-waktu bocah perempuan kecil yang pucat tanpa darah itu datang ke rumahnya, Rina pun akan langsung membukakan pintu itu, agar anak itu mau masuk ke rumahnya. Karena Rina berpendapat anak itu mestinya ingin masuk ke dalam rumahnya. Seperti kata orang-orang, baik tetangganya dan para pelanggan di warungnya yang mengatakan kalau anak itu kemungkinan besar ingin masuk ke rumah Rina, karena bocah itu selalu memandangi rumah itu, selalu memandangi pintu, bahkan ia juga sudah berdiri di depan pintu rumah itu.


    Benar seperti yang diduga oleh Rina. Anak itu pun datang sebelum para pelanggan makan pagi masuk ke warung Rina. Anak itu pun tahu-tahu sudah berdiri di depan pintu rumahnya. Dan anak itu pun kembali menatap pintu rumah Rina. Seketika itu, Rina langsung berlari kecil menuju ke depan rumahnya. Rina langsung membuka pintu utama rumah yang sudah tidak ia kunci itu. Ya, rumah itu pintunya langsung terbuka.


    Sesuatu terjadi, anak perempuan kecil itu, begitu menyaksikan pintu itu dibuka oleh Rina, ia langsung masuk tanpa memperhatikan Rina yang membukakan pintunya. Anak itu langsung ke dalam rumah tanpa ada rasa takut kepada pemiliknya. Bahkan seolah-olah, anak itu tidak melihat kalau di sekitarnya ada orang, ada pemilik rumahnya.


    Rina diam saja. Ia mengikuti dari belakang, anak yang berjalan seakan melayang itu. Rina ingin tahu, apa yang akan dilakukan oleh anak itu. Dan alangkah kagetnya Rina, saat anak itu masuk ke dalam kamarnya. Rina yang mengikuti dari belakang, tentu agak cemas dan was-was. Namun tiba-tiba saja, saat Rina yang mengikuti anak itu masuk ke dalam kamar, ternyata anak itu sudah hilang. Anak itu tidak ada di dalam kamar Rina. Anak itu tidak berada di dalam kamarnya. Kamar Rina tetap kosong tanpa ada sosok bocah yang tadi jelas-jelas masuk ke kamarnya.


    Tentu bulu kuduk Rina langsung berdiri. Merinding sekujur tubuhnya. Dan Rina pun mulai ketakutan kembali. Tetapi Rina mencoba memberanikan diri untuk mencari anak itu.


    "Sembunyi di mana bocah itu?" gumam Rina bertanya pada dirinya sendiri.


    Cukup lama mencari. Bahkan juga membuka lemari pakaian. Dan kenyataannya, Rina memang tidak menemukan anak itu. Hingga akhirnya, Rina pun melongok ke kolong tempat tidurnya. Dan alangkah kagetnya saat ia melihat di kolong tempat tidur itu, ternyata ada dua buah peti yang aneh. Ya, itu semacam peti harta karun. Peti yang unik. Peti yang tidak lazim ia lihat. Itu bukan peti semacam kotak dari kayu biasa. Tetapi semacam peti yang ada di dongeng-dongeng cerita. Ya, peti harta karun.


    Akhirnya, Rina mencoba mengambil peti itu. Rina meraih peti yang tersembunyi di kolang tempat tidur tersebut, untuk mengeluarkannya dari tempat persembunyiannya. Rina menduga, mungkinkah bocah perempuan kecil tadi bersembunyi di dalam peti ini.


    Dan setelah Rina mengambil peti itu, tanpa sabar, Rina langsung membuka tutupnya. Ternyata peti itu kosong belaka. Peti itu tidak ada isinya.


    "Pok ...! Pok Rina ...! Makan, Pok ...!"

__ADS_1


    Rasa penasaran Rina pada bocah perempuan aneh itu pun buyar oleh suara pelanggannya yang datang ke warungnya untuk sarapan pagi. Rina langsung menyimpan peti itu lagi di kamarnya. Tentu nanti akan dilihat kembali, untuk memastikan peti aneh itu.


__ADS_2