PULAU BERHALA

PULAU BERHALA
EPISODE 117: PENDERITAAN MAYA


__ADS_3

    Kita tinggalkan sejenak cerita tentang Rina maupun Podin.


    Kini kita akan melihat bagaimana nasib Maya.


    Maua yang ditangkap oleh para ponggawa istana di Pulau Berhala, setelah ketahuan kalau Maya mencuri perhiasan yang menempel di dinding istana, maka tidak khayal lagi, kalau Maya ditangkap oleh para penjaga istana, lantas harus mendapatkan hukuman. Ya, setelah Maya ditangkap oleh para petugas keamanan, para algojo di istana Pulau Berhala, tentu Maya tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Maya tidak bisa mengelak. Maya tidak bisa berbohong. Dan pasti, Maya tidak bisa membantah, karena di setiap kantong pakaian yang dikenakannya, penuh dengan berbagai perhiasan, emas permata yang ia ambil dari dinding istana tersebut. Ya, pastinya Maya memang sangat gampang untuk mencuri perhiasan-perhiasan itu, karena memang banyak sekali perhiasan dan permata yang tertempel menghiasi dinding istana kerajaan Pulau Berhala tersebut.


    Itu memang salah Maya, yang berani mencuri di istana Pulau Berhala. Padahal di tempat itu banyak ponggawa, banyak penjaga, dan banyak algojo yang pastinya akan menangkap siapapun yang berani mencuri di istana itu. Bahkan juga banyak orang yang berada di dalam istana tersebut. Namun, memang sudah watak Maya yang selalu tergiur dengan kemewahan, dengan harta benda, apalagi perhiasan emas dan intan permata.


    Kini, Maya hanya bisa menjerit-jerit. Maya hanya bisa merintih karena kesakitan. Maya hanya bisa mengaduh karena sering dipukuli oleh para algojo. Tentu algojo di Pulau Berhala tidak tergiur dengan kecantikan Maya. Para penjaga itu tidak mempan dengan rayuan Maya. Tidak seperti penjaga yang ada di daerahnya, yang langsung luluh ketika melihat wanita cantik, apalagi senyam-senyum merayu. Yang ujung-ujungnya mau memberikan kenikmatan nafsu. Makanya, ketika Maya ketahuan mencuri, ia harus dimasukkan ke dalam penjara. Ya, penjara Pulau Berhala yang kejam dan sadis, tanpa mengenal kompromi.


    Tentunya, di dalam penjara itu, Rina ditempatkan bersama dengan banyak orang. Ada laki-laki, perempuan. Ada yang sudah tua, ada juga yang masih muda. Ada yang besar, ada juga yang kecil. Semuanya mengalami siksaan. Semuanya mengalami penderitaan dalam penjara itu. Tanpa kecuali, termasuk Maya.


    Seperti bunyi syait lagu "Hidup Dibui", itulah kondisi yang ada dalam penjara di Pulau Berhala. Setiap bangun pagi, para tahanan harus segera bangun pagi. Tetapi mereka tidak mendapat sarapan, tidak ada makan pagi. Selanjutnya para tahanan itu, yang tidak diberi makan, langsung disuruh bekerja. Semuanya harus bekerja. Ada yang disuruh membangun bangunan-bangunan istana kerajaan. Ada juga yang disuruh bekerja membuat jalan. Ada yang disuruh menyapu halaman istana. Ada juga yang disuruh menimba air.


    Namun ada yang aneh dalam pembangunan itu. Mereka yang membangun rumah atau tembok istana, bahan materialnya tidak menggunakan pasir dan semen, namun bahan bangunannya adalah tubuh-tubuh manusia yang bergelimpangan di pinggir istana. Tubuh-tubuh tanpa kepala, hanya tubuh mulai dari leher hingga kaki, itu ditata, ditumpuk seperti menumpuk bata besar, hingga menjadi sebuah dinding atau tembol. Ya, bangunan yang batanya dari tubuh manusia tanpa ada kepalanya.


    Yang menakutkan lagi adalah yang kebagian menata batu-batu untuk membuat jalan. Ternyata batu-batu yang ditata oleh para tahanan itu adalah kepala-kepala manusia. Hanya kepala saja yang diambil dari pinggir istana. Dan tentunya, kepala-kepala manusia itu ada yang menangis, ada yang merintih, ada yang kesakitan, tetapi ada juga yang matanya membelalak marah, dan tentunya ada yang mulutnya menyeringai menampakkan giginya, seakan mau menggigit orang-orang yang menatanya di jalanan itu.


    Ada juga tahanan yang disuruh mengepel seluruh istana. Mereka membersihkan ceceran darah yang mengotori lantai. Bukan darah nyamuk atau ayam. Tetapi itu adalah darah manusia. Darah para korban yang disembelih untuk dipersembahkan kepada penguasa Pulau Berhala. Tentu baunya sangat amis dan menjijikkan.

__ADS_1


    Banyak sekali pekerjaan yang harus dilakukan oleh para tahanan ini. Dan tentunya, para tahanan itu harus ikut bekerja, untuk bisa mendapatkan makan dari para punggawa keraton. Mereka tidak bisa melarikan diri, karena kaki mereka diikat dengan rantai. Dan di ujung rantai itu diberi bandol beban. Bukan beban dari besi sebesar bola, bukan dari batu yang besar, tetapi di ujung rantai itu terdapat kepala manusia yang siap untuk menggigitnya apabila para tahanan itu mau melarikan diri.


    Ya, itulah nasib dari para orang-orang yang sudah menyalahgunakan kekuasaan, orang-orang yang sudah menyalahgunakan wewenang, orang-orang yang sudah menyalahgunakan jabatan, dan orang-orang yang sudah berani mencuri harta kekayaan di istana Pulau Berhala.


    Maya bersama dengan para tahanan yang lain, yang kakinya juga dirantai, dan di ujung rantai itu jiga diberi beban ikatan rantai kepala manusia. Ya, kepala-kepala tanpa tubuh, yang hanya bulatan sebesar buah kelapa itu diikatkan dengan rantai pada kaki dari para tahanan. Bukan beratnya kepala yang diseret itu yang membuat mereka tidak bisa pergi atau melarikan diri, tetapi jika para tahanan itu berusaha akan melawan, berusaha akan melarikan diri, maka kepala-kepala yang menggantung di kaki itu akan menggigit orang yang diikatnya. Ya, itulah kekejaman tahanan yang ada di Pulau Berhala.


    Demikian juga Maya, yang tentu dia sudah tidak sanggup lagi untuk menangis, karena sudah kehabisan air mata yang terkucur setiap hari, yang tertumpah setiap saat, yang menetes dalam setiap kesedihannya. Maya yang dulu menjadi perempuan yang berkuasa di tempat karaoke, menjadi pemandu karaoke yang mampu menggaet semua laki-laki yang datang mencari hiburan, bahkan Maya juga sanggup menundukkan Podin yang menjadi pemilik tempat usaha hiburan itu, dan yang akhirnya menikah siri dengan bosnya. Maya yang selalu dituruti jika minta apa saja, dan pasti dipenuhi oleh Podin. Tapi kini, ia menderita lahir dan batin. Maya tidak bisa berbuat banyak. Maya tidak bisa melepaskan diri dari tempat yang menyeramkan itu. Maya tidak bisa berlari untuk meninggalkan Pulau Berhala. Maya tidak bisa apa-apa lagi. Iya hanya sanggup untuk menerima perintah dari para algojo yang menjaga para tahanan itu di Pulau berhala.


    Tentunya, Maya selalu ketakutan menyaksikan kepala-kepala tanpa tubuh yang bergelindingan di halaman istana. Bahkan juga, Maya harus mengangkat kepala-kepala tanpa tubuh itu, untuk kemudian ditata bagaikan batu-batu yang ditata di jalanan. Ya, kepala-kepala itu digunakan untuk landasan jalan. Pastinya, Maya sangat merinding menyaksikan hal itu. Bahkan juga sering kaget dan takut, juga menjerit, saat kepala-kepala yang diangkatnya itu tiba-tiba membelalakkan mata kepada Maya, sebagai tanda marah, bahkan juga menggigit tangan Maya yang mau mengangkatnya.


    Namun apa boleh buat. Maya tidak sanggup untuk melarikan diri. Dia tidak sanggup untuk berbuat apapun, karena kalau sampai Maya berani melawan, maka hadiahnya adalah pukulan, cambukan, tendangan dari para algojo yang menjaganya. Dan belum lagi, kepala-kepala yang ada di bawahnya itu, kepala yang menjadi beban dalam kakinya itu, akan menggigit kaki Maya jika berusaha melawan.


    "Kamu kenapa sampai di tempat ini?" tanya salah seorang perempuan yang bernasib sama kepada Maya. Tentu sambil berbisik, karena takut kalau sampai terdengar algojo yang menjaganya.


    "Saya mencuri perhiasan, saat diajak suami saya. Katanya istana ini memang untuk mendapatkan harta kekayaan dari penguasa istana sini. Tak tahunya, setelah saya ditangkap, malah ditinggal begitu saja oleh suami saya." jawab Maya yang juga berbisik, sambil menata kepala-kepala itu menjadi tempat landasan jalan menuju istana.


    "Kasihan dirimu, sudah dikorbankan oleh suamimu. Pasti suami kamu tidak tulus mencintaimu." kata orang itu yang tentu juga merasa kasihan karena melihat Maya yang sebenarnya cantik, namun kini tubuhnya penuh dengan bilur, penuh dengan luka, dan penuh dengan nanah yang berada di sekujur tubuhnya.


    "Kalau kamu kenapa?" tanya Maya kepada perempuan yang ada di dekatnya itu, sambil menata kepala-kepala manusia menjadi jalan.

__ADS_1


    "Aku tidak tahu .... Tapi tiba-tiba saja,  aku dilempar dari meja istana, dan tahu-tahu sudah sampai di sini, dan langsung diseret oleh algojo-algojo itu." jawab perempuan yang ada di samping Maya, yang tentu sama-sama menderitanya.


    Ya, tidak ada orang yang baik di tempat itu. Tidak ada orang yang sehat di tempat itu. Tidak ada orang yang utuh di tempat itu. Tidak ada orang yang waras di Pulau Berhala. Apalagi bagi perempuan-perempuan yang sering merawat kecantikan, di sini tidak ada perempuan yang cantik dengan kulit yang mulus dan wajah yang glowing. Tetapi semuanya hancur. Semuanya rusak karena harus mengalami cambukan dan pukulan dari para algojo, serta gigitan-gigitan dari kepala-kepala yang bergelindingan dengan tanpa tubuh.


    "Kita akan dihukum di sini sampai kapan?" tanya Maya kepada sesama tahanan itu.


    "Tidak tahu ...." bisik temannya.


    "Apakah kita bisa keluar dari tempay ini?" tanya Maya.


    "Jangan pernah bermimpi." sahut perempuan yang di sampingnya.


    "Tapi saya tidak betah berada di tempat ini." kata Maya.


    "Hei ...!! Siapa itu yang bicara ...?!!" tiba-tiba algojo yang ada di dekatnya sudah menegur.


    "Ctar ....!!! Ctar ....!!!"


    Tidak hanya ditegur. Tetapi cambukan algojo itu sudah mendarat di punggung Maya dan perempuan yang mengajak Maya bicara.

__ADS_1


    "Aduh ..., sakit ....!!!" Maya dan perempuan satunya sudah menjerit kesakitan.


__ADS_2