
"Kita mau pindah ke mana, Lesti ...?" tanya ibunya yang sudah sangat bingung karena harus pergi dari rumahnya sendiri. Rumah yang dibangun dengan keringat kedua orang yang kini sudah tua itu.
"Yang tahu Kang Podin, Bu .... Kita nurut saja sama Kang Podin ...." jawab Lesti.
"Tidak ke kampungnya Podin, kan ...?" tanya ibunya lagi.
"Tidak, Bu ...." sahut Podin.
Setelah meninggalkan rumah warisan, rumah keluarga Lesti, dan berpindah ke tempay lain, tentu juga dirasa sangat berat bagi kedua orang tua Lesti itu. Pastinya, banyak histori yang menempel pada dinding-dinding rumah tersebut, dari cucuran keringat orang tua Lesti. Namun apa boleh buat, kedua orang tua itu, tentunya juga takut dengan anak bungsunya yang sudah kesetanan memaksa meminta warisan itu.
Podin yang menyuruh istrinya untuk mengalah, tentunya harus bersiap untuk memberikan tempat tinggal pada Lesti beserta dengan bapak dan ibunya. Dan Podin pun harus bisa membelikan rumah sebagai tempat tinggal. Tidak hanya untuk dirinya, tetapi juga istri dan mertuanya.
Podin sudah mengincar sebuah ruko, yang memang ketika kemarin lusa melintas menuju ke arah kota, Podin melihat kalau di situ ada ruko yang bertuliskan dijual. Bangunan ruko baru yang sudah jadi dan siap ditempati. Makanya waktu pulang dari Jakarta, Podin sudah melirik kembali. Saat istrinya di dalam kamar hotel memutuskan untuk membuka usaha di kampung, Podin sudah kepikiran untuk membeli ruko itu. Tentu, waktu membahas masalah usaha berjualan kecil-kecilan dengan istrinya, saat berada di dalam kamar hotel di Jakarta, Podin sudah berniat akan membeli salah satu ruko itu sebagai tempat membuka usaha. Ya, Podin ingat saat istrinya kala itu yang ingin membuka usaha, justru Podin yang ingin beli ruko untuk digunakan tempat usaha istrinya.
Dan kini, Podin pun kembali ingin beli ruko itu, tidak hanya untuk tempat usaha istri keempatnya, melainkan juga untuk tempat tinggal dirinya bersama istri dan mertuanya. Maka saat pagi itu, adiknya Lesti, Si Joni, datang dan marah-marah meminta warisan, bahkan sudah mengusir Lesti beserta dengan keluarganya, bapak ibunya, dan tentu juga Podin, maka setelah Joni serakah itu pulang dengan membawa sertifikat, saat istri dan orang tuanya menata pakaiannya, Podin langsung menjalankan mobilnya menuju ke tempat bangunan ruko yang sudah beberapa kali dilihatnya itu, dan di situ ada tulisannya dijual. Podin pun langsung menanyakan kepada bagian pemasaran yang ada di sana.
"Selamat pagi, Bapak .... Ada yang bisa kami bantu?" kata dua orang, laki-laki dan perempuan yang duduk di ruang pemasaran.
"Betul .... Saya mau beli ruko ini .... Bagaimana, ya?" jawab Podin.
"Iya, Bapak .... Ini tinggal dua unit .... Bapak mau pilih yang mana?" kata pegawai pemasaran yang perempuan.
"Yang sebelah mana, ya?" tanya Podin pada pegawai pemasaran itu.
Akhirnya, Podin diajak menyaksikan bangunan ruko itu, oleh dua orang yang tadi ditemuinya. Tentunya pegawai itu menjelaskan secara detail dari semua ruko itu. Termasuk menjelaskan harga ruko itu. Bahkan juga dikatakan oleh pegawai itu, kalau ruko yang ditawarkan itu nantinya sudah termasuk asuransi.
Tentu Podin senang. Apalagi memburu waktu cepat agar bisa segera punya tenpat tinggal. Makanya Podin tidak banyak debat maupun tawar menawar. Dan apa yang ditawarkan oleh pegawai pemasaran itu, langsung disetujui. Proses jual beli pun sangat cepat, karena memang Podin juga sangat tergesa, agar istri dan mertuanya bisa segera berpindah. Dan akhirnya, ruko itu pun sudah dibayar secara tunai oleh Podin. Walaupun harganya lumayan tinggi, karena memang sudah masuk di kota, dan tempatnya juga strategis. Halamannya yang luas serta tempat yang berada di pintu masuk tengah kota. Maka pastilah harganya juga lumayan mahal.
"Deal, Pak ...." kata pegawai pemasaran yang tentu senang dengan proses penjualan yang sangat cepat tersebut.
"Ya .... Setuju ...." jawab Podin.
"Nah, sekarang ruko ini sudah menjadi milik Bapak. Dan saya serahkan seluruhnya kunci ruko ini kepada Bapak. Untuk pengurusan kepemilikan dan balik nama, besok akan kami sampaikan kepada pihak Notaris yang mengurusi sertifikat kepemilikan ruko ini. Terima kasih, Pak Podin, atas kerjasamanya dalam pembelian ruko ini. Dan saya senang, Pak Podin bisa menempati ruko ini. Semoga usaha Bapak berhasil lancar dan sukses." kata pegawai pemasaran itu yang menyerahkan kinci-kunci pintu ruko kepada Podin.
"Terima kasih kembali, Mbak, Mas .... Dan kami berharap ruko ini akan membawa rezeki untuk saya dan keluarga. Oh, ya .... Nanti siang rencananya akan langsung saya tempati ...." kata Podin yang sudah beres membayar kontan ruko itu.
"Boleh, Pak .... Silahkan .... Kuncinya sudah saya serahkan semuanya." kata pegawai itu.
Podin sangat sengang, gembira bisa mendapatkan ruko itu. Ia langsung kembali ke rumah, untuk memboyong istri serta mertuanya. Dan tentunya akan membawa mereka untuk masuk ke ruko itu, serta membawa barang-barang bawaannya. Meskipun hanya beberapa potong pakaian.
Tentunya nanti Podin akan mengajak Lesti untuk berbelanja perabot rumah tangga. Memang, melihat Joni yang serakah dan tamak itu, tidak perlu hanya sekedar berebut barang yang tidak berharga. Apalah artinya gelas dan piring jika hal itu menjadikan keributan. Podin tidak mau ribut dengan adik iparnya. Demikian juga Lesti yang tidak ingin dan tidak diperbolehkan ribut dengan adiknya. Memang waktu itu Podin sudah memesan kepada Lesti, jangan sampai ada keributan dengan keluarga hanya gara-gara rebutan warisan. Orang yang mau mengalah, orang yang bisa melepaskan dengan ikhlas, dia akan mendapatkan karomah dari Yang Maha Kuasa.
"Lesti .... Ayo kita bersiap berangkat. Mana Bapak? Mana Ibu? Kita tinggalkan tempat ini. Kita akan berangkat ke tempat tinggal kita. Saya akan menunjukkan tempat baru untuk tempat tinggal kita." kata Podin pada istrinya.
"Yang benar, Kang ...?!" tanya Lesti yang tentu senang tapi juga bingung.
__ADS_1
"Iya .... Ayo, kita berangkat sekarang ...." jawab Podin.
"Bu ...! Pak ...! Kita pindah sekarang ...!" teriak Lesti mengajak ibu dan bapaknya.
"Ayo ..., semuanya saja .... Mana pakaian-pakaianmya? Sudah dibungkus, sudah dipak, sudah masuk koper, sudah masuk tas ...? Bila perlu, masih terlalu banyak, masukkan saja ke dalam plastik kresek ...." kata Podin yang sudah bersiap berangkat mengajak pindahan keluarganya.
"Kita mau pindah ke mana, Lesti ...?" tanya ibunya yang masih bingung.
"Yang tahu Kang Podin, Bu .... Kita ngikut saja ...." jawab Lesti.
"Terus ..., lemari pakaiannya bagaimana?" tanya ibunya lagi.
"Gak usah dipikirin .... Nanti saya akan belikan kalian lemari untuk menaruh pakaian masing-masing." kata Podin yang mengajak mertuanya.
"Iya, Kang .... Ini beneran, Kang ...? Kita mau pindahan sekarang ...?" tanya Lesti yang tentu gembira menyambut ajakan suaminya, tetapi juga penasaran. Tentunya seperti mimpi saat diajak Podin yang sudah bersiap untuk membawa keluarga Lesti berpindah tempat tinggal.
"Nak Podin .... Apa benar ini kita mau pindah? Kita pindah ke mana, Nak Podin?" begitu juga tanya bapak mertuanya yang tentu merasa bingung. Barusan diusir anaknya sendiri, kini akan diajak ke tempat baru oleh menantunya.
"Iya, Pak .... Yang penting kita berangkat .... Tempatnya sebentar .... Ini masih rahasia. Yang pasti saya akan membawa Bapak, Ibu, dan Lesti untuk berpindah ke tempat yang baru." jawab Podin.
"Hahahaha .... Iya, Nak Podin .... Pakai masih dirahasiakan .... Terima kasih, Nak Podin .... Ternyata menantu saya ini, suaminya Lesti adalah orang yang baik, orang yang tahu dengan kebutuhan kami, orang yang tidak mau ribut dengan keluarga." kata ibunya Lesti kepada menantunya yang sudah mengajak untuk berpindah tersebut.
"Ayo, kita sudah selesai berkemas? Kita berangkat sekarang ...." begitu kata Podin yang sudah menyuruh mertuanya masuk mobil.
"Tidak usah .... Tinggalkan saja semua barang-barang rumah tangga itu, biar semuanya ada di sini, biar semua itu diwarisi oleh adikmu Si Joni. Biar dia puas, biar tidak menuntut lagi, biar tidak menanyakan lagi tentang warisan-warisan dari ibu dan bapak. Nanti kita menata rumah tangga yang baru, kita membeli barang-barang kebutuhan yang baru. Semuanya dari Akang .... Tidak ada yang bisa diakui oleh adikmu lagi, Lesti .... Si Joni itu serakah .... Nanti kalau sampai ada barang-barang dari sini yang kita bawa ke rumah kita yang baru, pasti dia akan menuntut lagi, dia akan meminta lagi, malah nanti jadi ribet lagi. Tidak baik, Lesti ...." kata Podin yang melarang istrinya membawa perabitan.
"Tapi ..., itu kan barang-barang yang dibeli sama Bapak .... Kursi itu yang beli Bapak, rak piring itu yang beli Ibu .... Kenapa tidak boleh di bawa?" kata ibunya kepada Podin yang tentu juga berharap mereka bisa membawa barang-barang miliknya ke rumah yang baru.
"Tidak perlu, Ibu .... Tidak usah, Bapak .... Ikhlaskan saja .... Relakan, jangan sampai nanti justru akan membawa keributan lagi. Nanti saya ganti semuanya .... Kalau sampai barang itu kita bawa, si Joni nanti bisa minta lagi, karena kita dituduh membawa barang-barang dari rumah ini. Kan tadi pagi sudah dikatakan oleh si Joni, kalau kita pergi begitu saja tanpa membawa barang-barang. Dia itu sudah mengusir kita .... Itu mah, kita harus pergi dengan hampa, tidak membawa apa-apa." begitu kata Podin yang menjelaskan kepada ibunya bapak mertuanya serta Lesti. Tentunya, kali ini Podin ingin membuktikan bahwa dirinya masih sanggup untuk membelikan barang-barang kebutuhan rumah tangga yang diperlukan oleh keluarganya. Dan setidaknya, dia akan dianggap menantu yang baik, suami yang setia.
Akhirnya mereka pun sudah masuk mobil semuanya. Podin menjalankan mobilnya yang sudah mengangkut ibu dan bapak mertuanya yang ada di jok tengah, serta Lesti yang duduk di samping kiri Podin. Sedangkan di belakang ada tas koper serta kantong-kantong plastik kresek yang berisi pakaian milik mereka. Podin langsung menjalankan mobilnya menuju ke ruko yang tadi sudah dibayarnya secara kontan.
Tidak begitu lama. Podin pun sudah sampai di depan ruko yang halamannya sangat luas itu. Tentu itu adalah halaman parkir dari ruko yang dibangun oleh pengembangnya. Podin langsung menghentikan mobilnya, tepat di depan pintu ruko miliknya.
"Kita sudah sampai .... Ini dia yempat tinggal kita yang baru .... Ruko yang akan kita tempati ...." kata Podin kepada istri dan mertuanya.
"Kita tinggal di sini, Kang?" Lesti kaget, dan tentu juga tercengang saat melihat ruko yang berada di depan mobil Poding yang terparkir.
"Mana rumahnya ...?" tanya ibu mertuanya.
"Itu, Bu .... Yang ada di depan kita itu ...." jawab Podin.
"Gedung ini ...?!" tanya bapak mertuanya.
"Iya, Pak .... Kita akan tinggal di sini." jawab Podin.
__ADS_1
"Lhah ...?! Ini punya siapa?" tanya bapaknya yang tentu bingung. Maklum, orang tua dari kampung yang diajak ke kota.
"Milik kita, Pak .... Ini bangunan yang saya belikan untuk tenmpat tinggal kita ...." jawab Podin.
"Tidak salah ini ...?! Memang kita mau bertempat tinggal di sini?" tanya ibunya Lesti, ibu mertua Podin yang masih bingung dengan bangunan ruko yang ada di depannya itu.
Bapaknya Lesti turun dari mobil, dan ia langsung menatap bangunan dua lantai yang ada di depannya itu. Dan tentunya dia terheran sambil mengamati bangunan yang ada di hadapannya itu. Pasti laki-laki tua itu sangat heran dengan menantunya, yang ternyata sangat baik. Bisa membelikan sebuah gedung yang megah, gedung yang besar, gedung yang tinggi. Pasti menantunya sangat kaya, dan uangnya sangat banyak. Ya, laki-laki tua itu lantas menuju ke depan bangunan yang akan ditempati. Tangannya meraba bangunan itu. Tentu sangat kagum.
"Ini punya kita, Kang Podin?" tanya Lesti pada suaminya, ketika melihat bapaknya mengelus bangunan ruko yang ada di depan mobil Podin.
Podin mengambil kunci dari kantong celananya, lantas membuka pintu ruko tersebut.
"Iya, Lesti .... Ini ruko milik kita. Silakan masuk .... Ayo, Ibu ..., Bapak ..., kita masuk .... Ini tempat tinggal kita ...." kata Podin yang langsung mempersilahkan istrinya, ibu dan bapak mertuanya untuk memasuki ruko yang baru saja dibuka pintunya itu.
Namun tentunya laki-laki tua bapaknya Lesti itu bingung dengan apa yang dilihatnya. Ia masih saja mengamatu bangunan ruka yang sangat banyak itu. Tentu dia bertanya-tanya, apa gedung sebesar itu milik menantunya semua. Kalau di kampung, dia tinggal hanya di rumah separuh bata dan bagian atasnya terbuat dari papan, lantainya pun hanya lantai biasa yang tidak mengkilap, hanya lantai dari semen. Dan pastinya, rumah besar di kampung itu miliknya sendiri. Tetapi di sini, saat ia akan masuk ke dalam bangunan ruko itu, pastinya ia terheran, karena lantainya putih bersih, temboknya semuanya kuat, bahkan tidak hanya separuh saja, tidak hanya satu lantai saja, tetapi bangunan itu dua lantai, bangunan yang bertingkat, yang tentunya menurut orang-orang kampung di tempatnya Lesti, itu adalah bangunan milik orang kaya. Dan pastinya, orang tua Lesti, mertua Podin, mereka terganggu-kagum dengan yang sudah diberikan oleh menantunya itu kepada keluarganya, istri dan mertuanya.
"Wah .... Nak Podin .... Ini gedung yang bagus sekali .... Nak Podin punya uang banyak ..., kok bisa beli gedung ini? Aduh Nak Podin ..., Ibu berterima kasih sekali sama kamu .... Lesti mah, tidak keliru punya suami kamu .... Lesti mah, beruntung sekali bisa punya suami kamu ...." kata ibunya kepada Podin yang tentu sangat memuji, sangat senang dan sangat berterima kasih, karena mereka sudah dibelikan gedung baru, sebuah ruko yang besar, dan tentu mereka akan hidup dengan senang, tidak lagi dikejar-kejar oleh si Joni yang selalu menuntut warisan.
"Bapak juga berterima kasih, Nak Podin .... Bapak senang punya menantu Nak Podin ..., dan tentunya, kalau tidak ada Nak Podin, kalau tidak dibantu sama Nak Podin, Bapak sama Ibu kalian mau tinggal di mana? Kami tidak punya tempat lagi .... Terima kasih, Nak Podin .... Semoga nanti Nak Podin selalu mendapatkan rezeki yang besar." kata bapaknya kepada Podin, yang tentu juga sangat berterima kasih atas apa yang sudah diberikan oleh Podin kepada keluarganya.
"Iya, Pak .... Sama-sama .... Semoga saja ruko ini bisa bermanfaat, bisa mendapatkan berkah, dan nantinya untuk usaha Lesti bersama ibu dan bapak, bisa jadi tempat usaha yang menyenangkan, bisa mendapatkan untung, bisa mendapatkan hasil, paling tidak bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup." begitu kata Podin kepada kedua mertuanya.
"Akang .... Akang Podin .... Ya ampun, Kang Podin .... Ini mah, gedung yang bagus .... Tempat usaha yang bagus .... Ruko yang bagus .... Terima kasih, Akang .... Akang Podin uangnya banyak sekali ..., bisa membelikan ruko sebesar ini." kata Lesti yang tentu sambil memegangi tangan Podin, dan senyum yang mengembang. Tentu sangat senang sekali, karena ternyata suaminya memang benar-benar orang kaya yang bisa membelikan ruko yang besar untuk nanti tinggal bersama ibu bapaknya, dan juga nantinya akan ia gunakan untuk usaha berjualan.
"Iya, Lesti .... Pakailah tempat ini untuk usaha kamu ...." jawab Podin yang juga merasa puas.
"Terima kasih ya, Kang Podin .... Lesti tentu sangat senang dan gembira. Lesti sekarang tinggal mikirin bagaimana nanti membuka usaha di sini." kata Lesti pada suaminya.
"Kamu mau buka usaha apa?" tanya Podin kepada Lesti.
"Ya, nantilah, Akang .... Kita pikirin nanti. Sekarang mah, kita menata dulu rumah tangga ini. Ibu dan Bapak biar bisa tenang .... Ayo, barang kita ambil dulu, biar nanti Akang Podin bisa menghitung kekurangannya apa saja, apa yang perlu ditambahkan di sini." kata Lesti yang langsung mengangkat barang-barangnya dari mobil di bawa masuk ke dalam ruko.
Begitu juga bapak dan ibunya, yang langsung mengambil tas, mengambil barang-barang bawaannya, mengambil bungkusan-bungkusan berisi pakaiannya.
"Maaf ..., Bapak, Ibu .... Tapi ini masih kosong, belum ada apa-apanya. Sekarang Akang mau ke toko mebel, mau ke toko perlengkapan rumah tangga. Untuk beli kasur sama almari .... Lesti mau ikut, apa di sini bersama ibu dan bapak menata barang-barang?" kata Podin kepada istrinya.
"Iya, Akang .... Lesti ikut .... Kita kan butuh tempat tidur, butuh almari, kita mesti ke toko mebel. Terus kita butuh peralatan dapur, belum ada kompornya, belum ada pancinya, belum ada penggorengannya. Kita juga belum punya piring, kita belum punya gelas, kita mesti pergi ke toko perabot. Sama kita butuh kulkas, Kang .... Kita mesti beli semua itu." kata Lesti yang mengusulkan kepada suaminya.
"Iya, Lesti .... Ayo kita berangkat ...." ajak Podin pada istrinya.
Akhirnya, Lesti berpamitan dengan ibu dan bapaknya, akan membelikan tempat tidur untuk ibu dan bapaknya, dan tentunya juga untuk Lesti bersama dengan Podin. Selain itu, mereka juga harus membeli perabot-perabot, perkakas dapur, serta kebutuhan lainnya. Karena memang ketika dia meninggalkan rumahnya, mereka tidak membawa apa-apa, kecuali hanya membawa pakaiannya saja.
"Wah ..., Nak Podin ini memang menantu yang sangat baik .... Beruntunglah Lesti dapat suami orang baik ...." kata ibunya Lesti pada suaminya.
"Iya, Bu .... Sudah baik ..., kaya pisan ...." sahut suaminya.
__ADS_1