
Podin senang dengan kesuksesannya membuka toko sembako. Podin gembira setelah usahanya dalam membuka toko sembako itu sangat laris. Bahkan usahanya toko sembako yang ada di Parung itu bisa menghasilkan keuntungan yang lumayan besar. Dan toko sembako Podin itu menjadi toko yang terbesar di Parung, bahkan menjadi pusat belanja bagi para penjual di daerah Parung.
Dengan kesuksesan usahanya itu, maka Podin justru jadi seperti ketagihan untuk membuka usaha lagi. Ya, tentu karena usahanya itu bisa mendtangkan keuntungan yang besar, menghasilkan uang yang banyak. Makanya Podin berencana ingin membuka usaha lagi di tempat lain.
"Mah ..., usaha kita ..., toko sembako milik kita ..., ternyata laris ya, Mah .... Dan ternyata bisa menghasilkan keuntungan yang lumayan besar." kata Podin pada istrinya, saat mereka berdua di toko sembako miliknya.
Ya, kali itu Cik Melan sengaja menunggu toko sembako bersama suaminya. Pastinya Cik Melan juga ingin tahu bagaimana perkembangan usaha di toko sembakonya itu. Dan tentunya, mendengar kata-kata suaminya itu Cik Melan tersenyum, karena memang toko sembakonya itu sangat laris.
"Iya, Pah .... Kita mesti bersyukur kepada Tuhan, bahwa semuanya ini adalah berkah dari Tuhan, pemberian kemurahan dari Tuhan." kata Cik Melan kepada suaminya, yang tentunya dia juga sambil melihat catatan pembukuan keuangan yang diterima dari perempuan yang sudah dipercaya untuk menangani pemasukan keuangan di tokonya itu. Ya, soal catatan keuangan, Cik Melan inilah ahlinya, ia sarjana manajemen keuangan.
"Mah ..., bagaimana misalnya, kalau kita membuka usaha lagi?" kata Podin yang tentu menyampaikan usulan kepada istrinya, sambil tersenyum.
"Pah .... Kita mau buka usaha apa lagi? Ini saja saya sudah pontang-panting, bolak-balik Jakarta - Parung. Kalau kita buka usha lagi, siapa yang disuruh mengelola tempat usaha kita yang di Jakarta? Siapa yang disuruh mengurus toko yang di Parung? Siapa yang disuruh mengelola tempat usaha yang baru?" tanya istrinya pada Podin, yang tentu sambil mengeluh karena kecapaian mengurus dua usaha.
"Yah ..., kalau bisa .... Kita buka usaha yang dekat saja dengan rumah. Mungkin di sekitar Parung sini saja .... Dekat dengan toko sembako kita ini, Mah .... Tidak terlalu jauh dari rumah. Sehingga kita juga dekat kalau mau menengok ataupun melihat keadaan tempat usaha yang baru itu." kata Podin kepada istrinya yang tentu memberi gambaran usaha yang tidak terlalu jauh dari rumah ataupun tokonya yang sudah berjalan.
__ADS_1
"Iya, Pah .... Tapi, Papah mau buka usaha apa? Usaha yang kira-kira menurut Papah cocok, menurut Papah sesuai ...." kata Cik Melan pada suaminya.
Dan tentunya, sebenarnya Cik Melan juga senang mendengar niatan suaminya itu, karena suaminya pikirannya sudah terbuka, pikirannya mulai ada gambaran tentang usaha, tentang bisnis, yang tentunya hal itu tidak membuat suaminya cuma puas menjadi seorang yang hanya duduk manis di rumah saja. Tetapi setidaknya, suaminya nanti akan berkeliling untuk menengok, untuk mengawasi, untuk mengamati usaha-usahanya. Ya, memang seperti itulah yang dikehendaki oleh istrinya, Cik Melan, yang tentu suaminya itu bisa mengembangkan usaha.
Memang, dasarnya Cik Melan adalah orang yang dilahirkan dari keluarga pedagang, dari keluarga yang berwirausaha, dari keluarga yang berjualan. Bahkan keluarganya memasarkan aneka ragam dagangan. Ya, tentunya darah pedagang dari keluarganya itu yang menurun di dalam bakat Cik Melan. Dan memang tidak salah kalau Cik Melan kuliah mengambil jurusan manajemen keuangan. Tentunya itu sesuai dengan apa yang dilakukan oleh keluarganya. Setidaknya Cik Melan bisa mengatur, bisa menata, bisa mengoreksi, bisa memeriksa laporan-laporan keuangan dari usaha keluarganya.
Dan kini, setelah Cik Melan mendapatkan suami Podin, orang yang punya uang banyak, orang yang kaya, orang yang gampang untuk memberikan modal usaha, pastinya Cik Melan pun bertambah semangat untuk diajak berbisnis oleh suaminya itu. Pastinya, Cik Melan bisa mengembangkan potensi yang dimiliki. Bahkan kini, saat ia menjadi istri Podin, dalam pengelolaan tempat hiburan, juga lebih serius dalam mengurusinya. Karena Cik Melan bukan lagi sebagai karyawan di tempat hiburan itu, tetapi sekarang menjadi pemilik usaha itu. Begitu juga dengan toko sembako yang selalu ditunggui oleh suaminya.
Podin sendiri, punya istri perempuan seperti Cik Melan adalah sebuah keberuntungan. Ya, perempuan yang tidak menuntut banyak hal dari suaminya itu, perempuan yang tidak menuntut harta benda dan kekayaan dari suaminya, perempuan yang tidak menuntut perhiasan-perhiasan, perempuan yang tidak menuntut hidup untuk berfoya-foya. Tidak seperti istrinya yang terdahulu, terutama Maya, mantan pemandu karaoke yang ada di tempat hiburannya. Apalagi Lesti, yang masih saja meladeni laki-laki lain, meski sudah dibelikan ruko dan seluruh perabotnya. Cik Melan adalah perempuan yang pandai, perempuan yang bisa mengatur perusahaan, perempuan yang bisa mengatur keuangan, perempuan yang bisa mengatur semua tempat usaha yang dimiliki Podin.
"Mah ..., apa perlu kita membuka toko sembako lagi?" tanya Podin pada istrinya, yang mengusulkan rencana usaha tambahannya.
"Lah ..., Pah .... Kenapa mesti toko sembako lagi? Itu artinya kita bersaing dengan diri sendiri. Masak mendirikan toko sembako dua berjejeran .... Nanti yang beli bingung, Pah .... Kalau memang kita punya toko sembako satu ini masih kurang, ya tokonya dibesarkan saja .... Ditambah luasnya, ditambah ruangnya, ditambah barang-barangnya. Tidak mendirikan lagi .... Itu artinya kita bersaing dengan diri sendiri, percuma, Pah .... Mana ada orang berlomba kok sendirian .... Tidak bagus lah, Pah ...." kata Cik Melan kepada suaminya, yang tentu memberi gambaran kalau mau membuka usaha memang mestinya tidak satu jenis, tidak sama, tidak membuka kembali toko sembako yang sudah ia kembangkan di Parung tersebut.
"Lha ..., terus enaknya kita mau usaha apa, Mah?" tanya Podin pada istrinya, yang tentu minta saran dan pertimbangan. Memang terus terang, Podin dalam hal ini tidak sanggup untuk memikirkan apa kira-kira yang pantas untuk dikembangkan sebagai tempat usaha baru.
__ADS_1
"Ya, begini ..., Pah .... Mestinya kalau mau buka usaha, kita itu perlu melakukan analisis dulu .... Kalau di dalam dunia ekonomi, namanya analisis SWOT. Itu kita akan melihat apa kekuatan kita, apa kelemahan kita, apa yang menjadi daya tarik, dan apa yang menjadi penghambat untuk usaha kita itu. Misalnya saja, contoh sederhana kita mau buka usaha di dekat kampus perkuliahan, yang paling cocok ya fotocopy dan penjilidan, atau warung makan. Karena di sana, di dekat kampus itu, banyak mahasiswa yang nanti akan fotocopy, yang akan menjilidkan, dan juga banyak mahasiswa yang butuh makan. Kalau kita mendirikan warung makan, ya tentu ramai. Mahasiswa pada beli di situ. Kalau warung makannya murah dan enak, pasti laris." begitu penjelasan dari Cik Melan pada suaminya, yang tentu memberi gambaran kepada Podin, agar suaminya bisa menalar manakala mau membuka usaha.
"Oh .... Seperti itu ya, Mah .... Ya ..., apa kita mau buka warung makan di dekat kampus saja? Atau kita mau buka fotocopy di tempat kampus .... Begitu, Mah?" sahut Podin yang mengikut saja dengan contoh-contoh yang diberikan oleh istrinya.
"Ya tidak harus seperti itu, Pah .... Lihat dulu tempatnya berada di mana kita akan buka usaha. Contohnya lagi, kalau kita misalnya mau buka usaha di daerah pertanian, daerah yang subur, banyak sawah, banyak warga yang berusaha di bidang pertanian, maka yang paling cocok untuk membuka usaha di sana, kita jualan pupuk .... Begitu, Pah." kata Cik Melan yang memberi gambaran kepada suaminya, agar suaminya bisa paham, agar suaminya bisa melogika, agar suaminya bisa menalar, rencana apa yang akan dikembangkan untuk membuka usaha.
"Oh, begitu ya, Ma .... Lah kalau begitu, ya sebaiknya kita usaha apa ya, Mah?" tanya Podin pada istrinya.
"Pah ..., kita itu rencananya mau buka usaha di mana? Kira-kira Papah punya gambaran tempat usaha ada di mana? Kalau bisa jangan terlalu jauh dari rumah. Kalau Papah mau bangun tempat usaha yang jauh dari rumah, jauh dari jangkauan kita, maka Papah mesti harus tunjuk orang yang bisa Papah percaya, yang bisa mengelola tempat usaha itu. Sekarang saja saya harus pontang-panting pulang balik dari Jakarta ke Parung. Itu karena di sini belum ada yang bisa mengelola, Pah .... Masih saya semuanya yang melakukan pengontrolan keuangan. Mana Papah menghitung aja salah terus ...." begitu ledek Cik Melan pada suaminya.
"hehehe .... Iya, Mah .... Maaf .... Maklum, saya tidak pernah sekolah, sehingga kalau menghitung masih banyak salah." kata Podin yang tertawa saat diejek oleh istrinya.
"Iya, Pah .... Makanya Papah musti latihan menghitung uang, Papah musti banyak belajar, supaya nanti kalau sewaktu-waktu Papah buka usaha lagi, tidak harus mencari tenaga ahli. Papah sendiri bisa mengelola tempat usaha itu. Coba toko sembako kita ini, kalau tidak ada Teh Ririn, siapa yang akan membantu menghitung uang." begitu Cik Melan menjelaskan pada suaminya.
"Iya Mah, nanti saya akan coba lihat ..., akan saya pikirkan, rencana untuk membuka tempat usaha lain yang sekiranya nanti bisa dikelola dan bisa kita awasi bersama." begitu kata Podin yang tentunya pikirannya mulai terbuka dan tentunya Podin juga termotivasi karena ketika ia membuka usaha ternyata keuntungannya juga lumayan. Paling tidak bisa untuk menghidupi karyawan-karyawannya dan bisa untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
__ADS_1
Tentu, Podin langsung mengembangkan usaha-usaha barunya. Terus menambah dan memperbanyak usahanya. Dan pastinya, usaha Podin semakin banyak. Berkembang di mana-mana. Membuka cabang-cabang di daerah lain. Dan pastinya, nama Podin menjadi terkenal sebagai pengusaha.