PULAU BERHALA

PULAU BERHALA
EPISODE 93: CERITA PESUGIHAN


__ADS_3

    Pikiran Podin semakin bingung, semakin tidak menentu, bahkan semakin gusar. Ternyata saat ia datang ke Jakarta, ke tempat usahanya yang ada di Jakarta itu, niatnya yang ingin mendapatkan uang bagian keuntungan dari usahanya itu, hanyalah sia-sia belaka. Ternyata perusahaannya belum bisa memberikan uang keuntungan. Perusahaannya sedang menata keuangan, yang oleh Cik Melan dikatakan bahwa perusahaannya masih menanggung hutang dengan pihak jasa renovasi gedung. Ya, tentunya saat dipercaya oleh Bosnya itu, pegawai perempuan muda yang masih perawan, yang bekerja di bagian keuangan itu, langsung membenahi semua tempat usahanya, membenahi gedung yang mengalami kebakaran, dan tentu juga membenahi peralatan-peralatan yang ikut terbakar. Bahkan ia juga merenovasi bagian depan gedung, agar terlihat lebih eksentrik dan menarik. Tentu hal itu membutuhkan biaya yang cukup banyak, membutuhkan uang yang tidak sedikit. Walaupun pihak asuransi yang dikatakan oleh pegawai keuangan itu akan menanggung kerugian kebakaran, tetapi yang ditanggung hanyalah bagian-bagian yang rusak karena faktor musibah saja. Sedangkan bagian yang tidak mengalami kerusakan, tentu tidak mendapatkan ganti.


    Memang, apa yang sudah disampaikan oleh Melan, pegawai yang mengelola keuangan perusahaan Podin, ia sudah bekerja sama dengan pihak jasa renovasi bangunan. Melan minta gedung hiburan itu, tempat karaoke tersebut disulap sedemikian rupa, hingga menjadi tempat yang indah, sarana hiburan yang menarik, dan tentunya menjadi gedung yang mencolok bagi orang-orang yang lewat dan melihatnya. Namun tentunya, perusahaan harus menanggung hutang yang lumayan banyak kepada pihak jasa renovasi gedung, yang sudah menyulap gedung karaoke milik Podin tersebut.


    Podin yang tujuannya ingin mengambil uang keuntungan usaha, begitu disodori hutang oleh pegawainya, tentu kepalanya semakin pusing. Sementara di rumahnya, Lesti yang sedang buka usaha juga masih butuh banyak dana untuk menambah modalnya. Podin uangnya sudah sangat menipis. Bisa disebut sudah habis. Harta kekayaan yang diperoleh dari Pulau Berhala, semuanya sudah habis. Sudah dijual seluruhnya. Bahkan peti tempat harta karun itu juga sudah ikut dijual. Podin kehabisan akal. Sudah tidak bisa memikir lagi.


   Podin keluar dari halaman parkir gedung karaoke miliknya. Tentunya dengan membawa segudang permasalahan. Yang jelas memikirkan tentang uang yang sudah habis-habisan. Setelah keluar dan meninggalkan tempat karaoke itu, Podin sengaja mencari tempat untuk istirahat, tempat untuk menenangkan pikirannya. Podin ingin mencoba menenangkan diri, untuk mencari solusi bagaimana caranya mengatur keuangan dalam hidupnya.


    Dalam suntuknya itu, Podin teringat, warung angkringan yang dulu sering ia gunakan untuk nongkrong saat ia berpura-pura kerja, ketika ia masih kontrak bersama istrinya yang ke tiga, Rina. Ya, setiap malam Podin nongkrong di warung angkringan itu, dan membohongi Rina kalau dirinya bekerja sebagai teknisi di tempat hiburan malam. Ya, Podin langsung melajukan mobilnya ke arah warung angkringan itu. Ia akan mencari inspirasi di sana.


    "Kopi hitam satu, Bang ...." kata Podin memesan minuman kepada penjual angkringan itu.


    "Ya, Pak .... Sabar ...." sahut si penjual angkringan itu.


    Seperti biasanya, warung angkringan itu banyak pengunjung, banyak orang yang nongkrong, banyak orang yang ngobrol di tempat itu. Ada yang lesehan di tikar yang digelar di trotoar, ada yang duduk di kursi panjang, ada juga yang duduk-duduk di jok motornya, tentu sambil pada ngobrol dengan temanya masing-masing. Podin memilih duduk lesehan sambil menyandarkan bahunya di tiang telepon yang bertengger di situ. Tentu suasananya lebih rileks, lebih santai. Dan Podin pastinya berencana ingin mendengarkan cerita-cerita, obrolan obrolan, omongan-omongan yang dibahas oleh para pembeli yang nongkrong di tempat itu. Yah, untuk melepas penat. Siapa tahu dari obrolan itu bisa memberi ide.


    Dan benar, memang di tempat warung angkringan itu, tempat nongkrong tersebut, merupakan tempat ngobrolnya rakyat kecil. Tetapi sebenarnya yang ngobrol di situ bukan hanya rakyat jelata, bukan hanya rakyat kecil, bukan hanya kaum buruh, bukan hanya karyawan pabrik, tetapi juga ada dosen, ada orang-orang yang punya jabatan, bahkan ada pegawai-pegawai pemerintah yang memang sengaja nongkrong di tempat itu, untuk mencari suasana menenangkan hati, menenangkan pikiran dengan biaya yang murah. Ya, di tempat itulah mereka bisa minum kopi, mereka bisa menikmati nasi bungkus, mereka bisa menikmati gorengan dan kletikan, sambil melepas penat, sambil mencari suasana segar dan nyaman, dan tentunya bisa saling ngobrol dengan ongkos yang murah. Kalau di warung angkringan itu mereka hanya mengeluarkan uang yang tidak seberapa besarnya, sangat berbeda dengan orang-orang kaya yang ngobrolnya di restoran, di cafe-cafe megah, bahkan juga ada yang ngobrol di hotel, tentu dengan biaya yang sangat mahal.


    Ya, ini warung angkringan. Memang tempat nongkrongnya rakyat jelata yang tidak punya uang banyak, untuk saling berbagi cerita, sambil menikmati makan sederhana.


    "Ini kopinya, Pak .... Silakan diminum." kata penjual angkringan itu yang menyerahkan secangkir kopi kepada Podin.


    "Terima kasih, Bang ...." sahut Podin yang langsung menerima cangkir berisi kopi itu, dan tentunya langsung menyeruputnya kopi hitam dalam cangkir itu.


    Lantas Podin menyaut bungkusan nasi yang ada di meja dagangan. Membuka bungkusan itu dan memakannya. Tangan Podin juga menyaut gorengan, dua biji. Tentu Podin kelaparan. Maka makannya terlihat lahap. Dalam sekejap, nasi bungkus itu sudah habis dutelan.


    Podin langsung menyandarkan tubuhnya pada tiang telepon kembali. Tentunya ia juga ingin melepas penat, melepas pikiran yang sedang kacau, dan tentunya Podin juga ingin rileks, untuk mengendurkan saraf-saraf otaknya yang kali ini memang benar-benar sangat tegang. Ya, karena Podin harus memikirkan bagaimana untuk mendapatkan uang, agar kebutuhan hidupnya terpenuhi.


    "Dari mana saja, Pak .... Sudah lama nggak kelihatan ...." tanya salah seorang laki-laki di sebalah Podin yang juga nongkrong di warung itu. Rupanya laki-laki itu mengenali Podin, karena dulu Podin memang sering nongkrong di warung angkringan itu. Rupanya laki-laki yang duduk di sebelahnya itu hafal dengan Podin.


    "Tadi nengok pekerjaan bangunan .... Sebenarnya sih pengen minta uang kepada pemiliknya .... Tetapi dijanji-janji mulu .... Katanya pemiliknya belum punya uang." jawab Podin yang tentunya agak kelihatan lesu.


    Podin memang pandai untuk bersandiwara. Bisa memerankan watak yang lesu, yang seakan kelihatan sangat menyedihkan. Seyidaknya orang percaya dengan omongan Podin.


    "Ah ..., biasa, Bang .... Kalau di Jakarta mah, yang seperti gituan banyak .... Sudah biasa janji-janji begitu .... Kalau ditagih katanya belum ada uang ..., ceknya belum cait ..., nanti nunggu gajian .... Dia ingkar janji .... Sama seperti anggota dewan, kalau saat kampanye saja janjinya manis semua, tapi begitu sudah jadi, lupa dengan janji-janjinya. Makanya, Pak ..., saya malas untuk memilih, malas nyoblos anggota dewan. Paling-paling kalau jadi juga lupa dengan janji-janjinya." kata orang yang ada di sebelahnya itu, tentunya menyindir apa yang dialami dalam kehidupannya.

__ADS_1


    "Ya ..., betul ...!! Memang kenyataannya seperti itu .... Lah, Bapak ini janjinya gimana, kok tidak jadi dibayar?" kata yang lain, yang menimpa omongan dari temannya tadi.


    "Biasa lah, Bang .... Namanya saja kerja proyek, kerja bangunan .... Ya kalau tidak ditagih, kadang-kadang sampai rumahnya sudah jadi, uangnya juga belum diberikan." jawab Podin yang masih saja bersandiwara.


    "Ya ..., memang begitu itu. Kita ini mau bagaimana lagi? Kalau menolak pekerjaan, kita juga nggak dapat uang .... Tapi kalau sudah melaksanakan pekerjaan, uangnya ditunda-tunda .... Ya ..., nasibnya kita." sahut laki-laki lain yang juga duduk lesehan bersama dengan Podin.


    "Sekarang itu, cari uang susah .... Di Jakarta aja, katanya yang uangnya gede-gede, gampang nyari duit, tapi kita harus berjibaku, kita harus bersusah payah, kita harus berani untuk menghadapi tantangan usaha ...." sahut yang lainnya.


    "Memang begitu .... Kita ini bekerja buruh ..., ya harus sungguh-sungguh, harus mati-matian, harus rela berkorban. Dan tentu kita juga jangan sungkan-sungkan untuk bersikap tegas. Terutama saat menagih janji dari pemilik rumah." sahut yang lain lagi.


    "Kira-kira ..., ada nggak cara mencari uang yang gampang, yang langsung dapat banyak, tanpa susah payah?" tiba-tiba ada pembeli lain menanyakan hal yang konyol, yang pasti teman-temannya pada tertawa mendengar pertanyaan orang itu.


    "Hahahaha .... Kalau mau cepet kaya, ya pelihara tuyul saja .... Nanti tuyul-tuyulmu itu yang akan mengambil uang-uangnya orang kaya, terus ditumpuk di rumah kamu .... Pasti kamu yang jadi kaya. Tidak usah pakai kerja, duduk ongkang-ongkang di rumah, leha-leha, kipas-kipas pakai uang .... Hahaha ...." sahut yang lain Sambil tertawa.


    "Memang benar, tuyul itu ada?" tanya yang lain lagi, yang tentunya penasaran dengan cerita tentang tuyul yang suka mengambil uang.


    "Ya ada lah .... Walaupun itu cerita-cerita mistis, tapi kenyataannya ada orang yang pelihara tuyul. Dia tidak bekerja, dia nganggur, tetapi uangnya segudang." sahut yang lain, yang tentu dia hanya menerka saja, dan itu hanyalah cerita-cerita isapan jempol yang belum tahu fakta dan kenyataannya.


    "Wah ..., enak itu .... Kalau mau beli tuyul, di mana ya? Saya malah jadi kepingin pelihara tuyul biar cepet kaya .... Tidak susah bekerja, tidak perlu capek-capek, uang datang sendiri." kata laki-laki gendut.


    "Ya, cari saja dukun yang pinter, yang bisa memberikan tuyul pada kamu ...." sahut temannya.


    "Wah ..., kalau babi ngepet bahaya itu .... Nanti kalau ketahuan orang, babinya pas kelihatan, terus digebuki orang, dipukuli masyarakat, tubuh kita sendiri yang akan hancur, akan babak belur." kata yang lainnya.


    "Tapi ngepet itu kan orangnya sendiri yang bisa jadi babi ngepetnya .... Dan nanti kalau babinya digebuki, yang babak belur digebuki masa itu kan juga orangnya yang ngepet, kan? Bagaimana kalau sampai begitu? Apa yang ngepet itu tidak malu. Sudah babak belur, malu-maluin, masih di iring sama masyarakat keliling kampung .... Wah mau ditaruh di mana muka kita kalau jadi ngepet?" yang lain ada yang sangat tidak setuju kalau disuruh jadi babi ngepet.


    "Kalau begitu cari pesugihan saja ...." timpal yang lain dengan cerita pesugihan.


    "Ya, bener itu .... Misalnya cari pesugihan buto ijo ..., atau cari pesugihan pelihara genderuwo .... Itu lebih bagus, dan pasti cepat kaya." sahut yang lain lagi, yang menceritakan makhluk-makhluk pesugihan.


    "Tapi pesugihan-pesugihan semacam itu kan biasanya minta tumbal, dan kadang-kadang tumbalnya itu anaknya sendiri .... " sahut orang yang lain.


    "Dulu pernah ada itu cerita tetangga saya, katanya dia itu pelihara Buto Ijo. Lah, saat yang punya harus menyerahkan tumbal pada bulan Sura, malam Jumat Kliwon, anaknya sendiri yang dimakan oleh Buto Ijo." yang lain menceritakan.


    "Ah, yang bener kamu ini ...?! Kalau cerita jangan mengada-ada ...." sahut yang lainnya.

__ADS_1


    "Iya, betul .... Tapi maksudnya dimakan Buto Ijo itu nyawanya .... Nah, waktu itu malam Jumat Kliwon itu, anaknya baru saja keluar dari rumah, langsung tertabrak mobil di depan rumahnya sendiri. Nah gitu katanya orang-orang yang bilang kalau bapaknya itu memelihara Buto Ijo. Makanya orangnya kaya raya." sahut yang cerita.


    "Oo .... Bapaknya si anak itu pelihara buto ijo, dan anaknya itu dijadikan tumbal untuk diberikan kepada buto ijo. Ih, ngeri sekali .... Menakutkan sekali .... Aah, nggak mau pelihara buto ijo, lah ..., nanti malah anak saya yang dimakan buto ijo." uang lain merasa takut dengan anaknya yang jadi tumbal.


    "Memang kamu mau pelihara Buto Ijo?" tanya temannya.


    "Nggak, lah .... Saya masih sanggup bekerja. Saya masih sanggup cari uang dengan keringat saya." kata yang ditanyai itu.


    Mendengar obrolan-obrolan, cerita-cerita seperti itu, Podin kembali teringat, bahwa dulu ia pernah mengambil harta karun dari Pulau Berhala, lantas pada pagi harinya, sepulang ia membawa peti harta karun, akhirnya anaknya yang bernama Eko, anak laki-laki pertamanya terlindas truk saat akan sekolah, dan waktu itu kepala anaknya hilang dan tidak ditemukan. Podin sudah menjadikan anaknya sebagai tumbal untuk mencari kekayaan di Pulau Berhala. Dan saat Podin pergi lagi ke Pulau Berhala, ternyata ada kepala yang menggelinding dan menangis minta tolong serta memanggil Podin. Yang ternyata kepala manusia itu adalah kepala anaknya sendiri yang hilang saat terlindas truk.


    Tetapi memang itulah cara untuk mencari harta kekayaan yang paling mudah, untuk mendapatkan pesugihan yang paling cepat. Tanpa bersusah payah, tanpa banting tulang, tanpa peras keringat, harta karun itu diberikan begitu banyaknya oleh penguasa Pulau Berhala. Bahkan Podin juga ingat dengan bayinya yang baru saja lahir, dan bayi itu saat dipersembahkan di Pulau Berhala, dijadikan tumbal untuk penguasa Pulau Berhala, bayinya Podin yang baru lahir itu diganti menjadi harta kekayaan berupa uang emas, perhiasan, intan permata sebanyak dua peti. Ya, Podin sudah merasakan semua enaknya orang mencari pesugihan yang diceritakan oleh orang-orang yang duduk di situ.


    Lantas, Podin juga teringat, ketika ia menculik anak jalanan, yang kemudian ia bawa ke Pulau Berhala, dan anak jalanan itu pun saat dipersembahkan kepada penguasa Pulau Berhala, Podin mendapatkan perhiasan-perhiasan yang sangat banyak jumlahnya. Podin tidak perlu kerja keras. Tidak perlu peras keringat. Tidak perlu berpikir rumit. Kenyataannya, hanya dengan menumbalkan anaknya, ia mendapatkan kekayaan yang sangat berlimpah. Ya, memang untuk mencari harta kekayaan yang paling mudah adalah dengan cara mencari pesugihan.


    "Bang ..., ngapain ngelamun saja?" tanya orang yang ada di sebelahnya pada Podin.


    "Ini ceritanya menarik .... Sangat menyenangkan." jawab Podin singkat.


    "Memang Abang kepingin, mau cari pesugihan?" tanya orang-orang yang duduk di sekitar Bodin.


    "Aah ..., tidak Bang .... Jangan cerita tentang tumbal seperti itu .... Saya takut." begitu kata Podin yang berpura-pura dia takut untuk meminta harta kekayaan dengan cara mencari pesugihan. Padahal sebenarnya, Podin teringat kalau dirinya sudah berkali-kali menumbalkan korban untuk penguasa istana Pulau Berhala.


    "Lah, kalau pengen cepat dapat duit, tidak usah repot-repot menagih ke orang, tidak usah minta-minta ke orang yang sulit dipercaya, cari pesugihan saja, Bang .... Enak, Bang ...." kata yang lain pada Podin.


    "Ah, Abang ini ada-ada saja ...." Podin tersenyum, yang tentunya dalam hati kecilnya sudah paham itu semua.


    Obrolan itu pun terus berlanjut, hingga larut malam. Dan tentunya, Podin yang seharian menyetir dari Padalarang ke Jakarta, pasti capek. Ia mengantuk. Dan karena duduknya sambil menyandarkan tubuhnya di tiang telepon yang ada di belakangnya, tanpa terasa, ia pun terpejam dan tertidur. Hingga satu persatu orang yang tadi ngobrol bersamanya sudah pergi, sudah pulang, sudah berganti banyak orang yang datang dan pergi, keluar masuk yang beli dan nongkrong di situ. Tetapi Podin sudah tidak mendengar apa-apa lagi. Podin sudah tidak tahu apa-apa lagi. Ia tertidur sangat lelap. Tentu karena saking lelah dan capeknya.


    "Pak ..., bangun, Pak ...." kata si penjual angkringan yang membangunkan Podin. Tentunya karena hari sudah berganti pagi, dan pemilik warung angkringan itu harus segera mengemas barang-barangnya.


    "Kenapa ..?! Ada apa ...?!" Podin terjingkat kaget.


    "Ini sudah pagi, Pak .... Bapak tidur semalaman di sini. Kami sudah mau tutup, sudah mau memasukkan barang-barang. Nanti kalau ketahuan Satpol PP bisa digaruk, Pak .... Satpol PP di sini galak-galak." begitu kata si pedagang angkringan itu, yang sudah mengemasi barang-barangnya, dibantu oleh istri dan anaknya.


    "Ya ..., ya ...,  ya .... Saya juga mau pulang. Ini untuk bayar kopinya, sama nasi sebungkus dan gorengan dua." kata Podin yang sambil menggeliat, kemudian mengeluarkan uang lima puluh ribu dan diberikan kepada tukang angkringan itu untuk membayar minum dan makannya.

__ADS_1


    "Terima kasih, Pak .... Maaf, ya, Pak .... Saya harus meringkasi semua barang ini. Kalau tidak dimasukkan rumah, nanti bisa diangkut Satpol PP ...." begitu kata pedagang angkringan itu.


    "Ya ..., terima kasih. Saya mau pulang." kata Podin yang kemudian langsung menuju ke mobilnya, menyalakan mesin dan melanjutkan perjalanannya, entah akan kemana lagi. Podin masih bingung, belum punya tempat tujuan yang jelas.


__ADS_2