PULAU BERHALA

PULAU BERHALA
EPISODE 159: USAHA YANG LARIS


__ADS_3

    Sudah satu bulan lebih Podin membuka toko sembako. Tentunya toko itu kini sudah lengkap, sudah penuh dengan barang dagangan, sudah menyediakan berbagai kebutuhan warga yang sering ditanyakan oleh pembeli. Mulai dari beras, minyak goreng, gula, telur, kecap, saus, tepung terigu, mi instan, serta berbagai kebutuhan pokok lainnya. Yang jelas semua kebutuhan dapur ada di toko Podin. Dan kenyataannya, toko itu memang sangat laris. Pasti karena harganya yang murah, harganya yang mampu bersaing, harganya yang berada di bawah harga toko-toko yang lain. Tentu orang-orang kampung, warga masyarakat di sekitar tempat Podin, pada berbelanja di tokonya. Ya, toko sembako Podin sangat terkenal. Toko sembako Podin merupakan toko yang murah harganya. Toko sembako Podin merupakan toko yang laris, karena banyaknya pembeli yang berdatangan di toko itu. Bahkan bukan sekadar memenuhi kebutuhan orang perorangan, tidak hanya menjual eceran, tetapi toko sembako milik Podin ini juga melayani grosir. Melayani pembelian partai besar. Melayani kios-kios yang belanja untuk di jual lagi. Tentu harga eceran dengan harga grosir akan berbeda.


    Dan saat ini, pelayan yang membantu di toko Podin tidak hanya dua orang, tetapi sudah ada empat orang. Dua orang laki-laki, dan dua orang perempuan. Ya, karyawannya sudah bertambah. Seorang laki-laki yang disuruh untuk bagian mengantarkan barang-barang belanjaan ke rumah para pelanggan. Dan seorang perempuan lagi yang sudah membantu di bagian transaksi keuangan. Melayani pembayaran. Ya, semacam kasir yang membantu Podin untuk menghitung jumlah belanjaan maupun kembalian bagi para pembeli yang uangnya lebih atau harus ada kembaliannya.


    Kini Podin sudah kewalahan mengurusi tokonya yang ramai. Podin sudah tidak sanggup lagi untuk mengurusi tokonya sendirian. Memang, dari segi ilmu, Podin tidak punya pengetahuan tentang seluk beluk berdagang. Podin tidak pernah bersekolah. Dan tentunya Podin tidak paham dengan segala sesuatu yang berkaitan dengan pembukuan ataupun hitung dagang. Dari segi pengalaman, Podin pun sangat minim. Dia tidak punya latar belakang usaha dagang. Podin tidak pernah berjualan, walaupun dulu istri pertamanya juga pernah membuka usaha jualan, punya ruko yang menjual berbagai aneka dagangan. Demikian juga istri yang ketiga, ia juga berjualan, membuka usaha warung makan. Bahkan istri yang keempat juga berjualan, punya ruko dan berjualan sembako. Bahkan toko sembako milik Lesti itulah yang kemudian menginspirasi toko sembako yang kini ia buka bersama Cik Melan di Parung. Namun semuanya itu, Podin tidak pernah terlibat dalam usahanya. Bahkan saat bersama Rinia, istrinya yang ketiga, Podin hanya mengantarkan ke pasar dengan menyetir mobilnya, selebihnya ia hanya tiduran saja.


    Dan kini, setelah ia menikah dengan Cik Melan, mau tidak mau ia harus mengikuti istri yang sangat dicintai itu, istri yang dibanggakan itu. Podin harus mengikuti saran dan usulan istrinya, untuk membangun sebuah usaha, yaitu dengan membuka toko sembako. Pastinya usulan Cik Melan itu memang bertujuan agar suaminya tidak menganggur, tidak bengong, dan punya kesibukan.


    Memang, dasarnya Podin adalah orang pemalas. Dasarnya Podin adalah orang yang tidak mau bekerja. Dasarnya Podin adalah orang yang hanya mau hidup leha-leha, tidak mau berusaha, tidak mau bekerja keras, maunya hidup enak uang datang sendiri. Bahkan saat ia ikut bekerja di proyek bangunan saja, oleh mandornya ia sempat disuruh berhenti, dikeluarkan dari kerjanya, karena memang Podin itu pemalas. Maka pantas kalau sebenarnya Podin itu hanya mau duduk manis ongkang-ongkang tanpa ada pekerjaan. Tidur dengan mimpi yang indah adalah harapannya. Angan-angan hidup enak adalah cita-citanya. Dan semua itu, kenyataannya memang diizinkan oleh Yang Maha Kuasa.

__ADS_1


    Ya, manusia yang hidup di dunia ini memang punya pilihan, antara beribadah secara khusuk menyembah Tuhan sang penciptanya, atau mengabdi kepada setan untuk meminta kenikmatan. Dan Podin sudah memilih salah satu diantara pilihan itu.


    Dan kini, saat toko itu selalu ramai, saat toko Podin selalu penuh sesak dengan para pembeli, saat toko Podin selalu dipadati oleh orang-orang yang ingin memenuhi kebutuhannya, tentunya hal itu membuat dirinya kalang kabut, sibuk dan bingung.


    Tiga orang pelayannya yang membantu meladeni para pembeli itu rupa-rupanya harus bekerja ekstra keras. Ditambah seorang lagi yang membantu di bagian kasir. Tidak sekedar mengambilkan barang-barang yang dipesan oleh para pembeli, tidak sekedar mencarikan barang-barang yang akan dibeli oleh para pelanggan. Tetapi pelayan-pelayan itu juga disibukkan membantu menghitung belanjaan para pembeli, bahkan juga harus ikut terlibat di dalam proses pembayaran, termasuk jika ada uang kembalian dari pembelinya.


    Kasihan Cik Melan, ia harus pontang-panting Jakarta - Parung setiap hari. Karena memang usahanya yang ada di Jakarta juga butuh dirinya untuk mengelola keuangannya. Demikian juga tokonya yang ada di Parung, yang baru saja berdiri, tentu juga butuh dirinya untuk mengelola keuangannya. Cik Melan maklum pada suaminya, yang memang pasrah begitu saja pada dirinya, karena memang Podin tidak bisa apa-apa. Bagi Cik Melan, yang penting suaminya mau menunggui toko, itu sudah bagus. Daripada bengong di rumah, malah digoda oleh janda-janda gatal di kampungnya.


    Makanya Cik Melan mau tidak mau harus pulang pergi Jakarta - Parung untuk mengelola dua perusahaan milik suaminya itu. Apa boleh dikata, itulah tugas seorang istri yang harus membantu suaminya semaksimal mungkin. Mengelola usaha yang dimiliki suaminya. Dan pastinya, Cik Melan juga mengakui bahwa itu kesalahannya. Karena waktu suaminya hanya menganggur di rumah tanpa ada pekerjaan, Cik Melan yang meminta agar suaminya membuka usaha, agar suaminya punya kesibukan, agar suaminya tidak hanya menganggur di rumah. Dan kini, setelah usaha itu berjalan, setelah usaha itu laris, setelah usaha itu ramai, tentunya Cik Melan sendiri yang harus pontang-panting mengurusi usaha itu.

__ADS_1


    Sementara itu suaminya, Podin hanya bisa menunggu toko miliknya, hanya bisa mengawasi para karyawannya. Namun setidaknya, saat Podin berada di toko itu, pastinya anak buahnya, para karyawannya, empat orang pembantunya, pelayan-pelayan toko miliknya, mereka bekerja dengan baik, mereka merasa diawasi, dan mereka merasa mendapat semangat dari bosnya. Ya, dari sisi kemanusiaan, memang Podin itu orang yang baik, orang yang tidak tega melihat karyawannya menderita. Podin sebenarnya orang yang sangat manusiawi, ketika menyaksikan empat orang pelayan tokonya pontang-panting mengurusi dagangan-dagangannya, mengurusi para pembeli yang terus berdatangan, pastinya Podin ingin ikut terlibat di situ. Setidaknya Podin juga membantu mencarikan barang, membantu melayani pembeli, dan yang pasti Podin selalu mengawasi masalah keuangan. Ya, paling tidak Podin bisa ikut menata uangannya, bisa menyimpan uang hasil penjualannya. Dan pelayan perempuan yang selalu diminta oleh Podin untuk menjadi kasir itu, setidaknya juga merasa nyaman karena diawasi oleh Podin,  dan pekerjanya pasti akan lebih baik, lebih bersemangat dan termotivasi.


    Namun soal makan, soal minum, jangan ditanya. Podin adalah bos yang baik, bos yang murah hati, bos yang dekat dengan karyawannya. Maka saat siang hari, saat jam makan, Podin selalu menghentikan bakul makanan yang melintas di depan tokonya. Kadang bakso, kadang mie ayam, kadang batagor, kadang juga siomay. Podin membelikan jajanan itu untuk para karyawannya. Itu semua dilakukan untuk memberi makan kepada pegawainya. Tentu agar pegawainya tidak kelaparan, agar pegawainya juga kenyang dan senang. Dan yang pasti, pegawainya akan betah bekerja di toko Podin.


    Sebenarnya Podin tidak hanya sekedar membelikan makanan itu saja. Bahkan kalau ada barang-barang hadiah dari supplier, hadiah yang diberikan oleh sales yang mengirim barang ke tokonya, entah itu berupa kaos, entah itu baju, entah itu berupa sarung, maupun barang-barang lain, Podin selalu memberikan barang hadiah itu kepada para karyawannya. Terutama yang wujudnya adalah kaos atau pakaian. Yang paling sering didapat adalah kaos,  hadiah pabrik maupun pemasaran. Walaupun bentuknya sederhana, meskipun ada tulisan sponsornya, tetapi bagi karyawan jika diberi barang-barang hadiah seperti itu oleh majikannya, para karyawan itu merasa sangat senang, para karyawan merasa sangat bangga, dan tentunya mereka merasa bahwa Podin adalah bos yang baik, bos yang murah hati, bos yang suka berderma. Dan setidaknya, Podin memang dianggap sebagai majikan yang paling baik.


    Tidak hanya itu saja, bahkan Podin juga sering memberi tambahan uang kepada para karyawannya, sebagai bonus jika mereka disuruh lembur atau pulang agak terlambat.


    Cik Melan senang menyaksikan keberhasilan usaha toko sembako suaminya itu. Meskipun ia harus pontang-panting Jakarta - Parung, tapi senang melihat suaminya bisa gembira, suaminya bahagia mengurusi toko sembako miliknya. Apalagi toko sembako itu sangat laris.

__ADS_1


__ADS_2