
Hari sudah menjelang pagi. Podin yang berhasil keluar dari Pulau Berhala, yang diantar oleh tukang perahu dengan tubuh tanpa kepala itu, akhirnya Podin kembali ke daratan. Tentunya ia sangat senang dan gembira, karena bisa terbebas dari bahaya yang menimpanya. Dan ia tentunya akan menuju ke objek wisata Pantai Cipatujah, karena Podin harus mengambil mobilnya yang terparkir di sana.
Namun untuk kembali ke Pantai Cipatujah, Podin menunggu matahari terbit, agar bisa melihat jalan yang dilintasi. Dan juga agar sudah ada angkitan yang lewat di jalan raya. Podin harus berjalan lebih dahulu dari pantai tempat ia turun diantar oleh pengayuh perahu itu, menuju ke jalan raya. Memang dari pantai itu, untuk menuju ke jalan raya sebenarnya tidak ada jalan. Hanya semak belukar yang diinjak-injak, hingga dapat dilewati oleh kaki Podin yang melintasi. Beruntung ada prang pencari rumput yang sering menyabit tempat itu, sehingga dapat dilalui orang. Setidaknya, Podin harus naik angkot terlebih dahulu untuk sampai ke objek wisata Pantai Cipatujah. Tempat yang sangat jauh dari keberadaannya, dan tentunya butuh waktu lama untuk mencapai mobilnya yang diparkir di obyek wisata.
Tentunya bagi Podin yang memang niatannya adalah untuk bisa mendapatkan harta kekayaan tanpa mau bersusah payah, kalau hanya berjalan kaki sekitar satu kilo pun tentu tidak masalah. Baginya, yang sudah berkali-kali berjalan menuju tempat itu, ia sudah terbiasa untuk berjalan sampai ke jalan raya. Dan Podin pun langsung berjalan kaki dari pantai itu menuju ke jalan raya.
Dengan napas agak ngos-ngosan, akhirnya Podin sampai di jalan raya. Kemudian selanjutnya, dia mencegat dan naik angkutan pedesaan. Angkutan pedesaan yang ditumpangi oleh Podin itu langsung berjalan yang akan menuju ke terminal. Butuh beberapa waktu untuk sampai di sub terminal kota. Lantas Podin yang tadi naik angkutan mini, turun di sub terminal itu. Selanjutnya, Podin harus naik bis kecil yang menuju ke arah daerah objek wisata Pantai Cipatujah. Tentu butuh waktu yang lebih lama lagi. Akhirnya, Podin pun sampai di obyek wisata itu kembali. Waktu pun sudah siang. Memang, Podin harus datang ke tempat itu untuk mengambil kembali mobilnya yang diparkir kan di Pantai Cipatujah.
Di Pantai Cipatujah, Podin sudah mendengar desas-desus tentang hilangnya kapal wisata yang mengantarkan penyewanya menuju Pulau Berhala. Bahkan orang-orang itu juga menceritakan bagaimana nasib tukang kapal yang sial itu. Tentu bagi Podin, dia tidak urusan lagi dengan laki-laki yang menyewakan kapalnya. Ia tidak mau tahu lagi dengan orang yang tadi mengantarnya. Podin tidak mau tahu bagaimana nasib laki-laki yang sudah menyewakan kapal itu dan mengantarkan dirinya masuk ke dalam Pulau Berhala itu. Ya, Podin sendiri sebenarnya tidak tahu bagaimana nasib laki-laki itu. Yang penting baginya adalah, ia bisa keluar dan selamat dari Pulau Berhala. Dan tentunya, Podin bisa kembali untuk mengambil mobilnya. Podin pun mengambil mobil itu secara diam-diam, agar tidak diketahui banyak orang.
Podin mengendarai mobilnya berjalan perlahan, meninggalkan kawasan Cipatujah. Karena perutnya terasa lapar, sehari semalam tidak makan, maka Podin pun lantas membelokkan mobilnya, minggir di tepi warung makan. Ya, Podin akan sarapan di warung makan di pinggir kampung.
"Nasi rames, Bu ...." begitu kata Podin yang meminta sarapan kepada penjual di warung makan itu.
"Minumnya apa ...?" tanya si penjual.
"Kopi panas, Bu ...." jawab Podin.
"Ini nasinya, lauknya pilih sendiri ...." Penjual makan itu pun sudah memberikan piring berisi nasi rames kepada Podin.
Podin sambil berdiri menerima piring makan itu. Lantas tangannya pun menyaut ayam goreng, untuk menambahi lauknya.
"Ini kopinya, Om ...." seorang perempuan muda memberikan kopi di meja tempat Podin makan.
"Terima kasih ...." kata Podin sambil menoleh perempuan yang mengantarkan kopi itu. Sangat cantik. Masih muda, seakan belum menikah. Mungkin juga masih perawan. Tubuhnya masih langsing dan sintal. Kulitnya putih. Alisnya tebal. Kata orang-orang kalau perempuan itu alisnya tebal, pasti olahannya enak. Pokoknya cantik.
Tentu begitu melihat perempuan cantik seperti itu, Podin langsung melirik terus. Biasa, laki-laki kalau menyaksikan yang bening-bening, pasti matanya langsung terbelalak. Mata Podin tak berhenti mengamati perempuan pelayan warung makan itu. Nafsu buruknya langsung muncul di benaknya.
Tetapi tiba-tiba, telinga Podin mendengar kata-kata dari orang-orang yang jajan di warung itu. Orang-orang pada membicarakan masalah Pulau Berhala. Ya, orang-orang yang jajan di warung itu pada bercerita tentang kisah tukang kapal yang hilang di Pulau Berhala. Tentu Podin langsung memasang telinganya, untuk mendengarkan cerita orang-orang itu.
"Kemarin itu, ada tukang kapal yang nekat mengantar wisatawan ke Pulau Berhala." kata salah seorang yang mengawali cerita.
"Katanya hilang, ya ...?" yang lain langsung bertanya. Tentu sambil menyedot rokok dan minum kopi.
"Sudah dicari .... Tapi belum ketemu." sahut lainnya.
"Katanya sudah mati .... Dimakan berhala-berhala di pulau itu." sahut temannya.
"Makanya .... Jangan berani-beraninya pergi ke pulau berhala. Bahaya ...." kata temannya.
"Iya .... Sudah tahu dilarang. Sudah tahu tidak boleh mendekat. Kok masih nekat pergi ke sana .... Ya, itu akibatnya. Kalau sudah hilang dimakan berhala, mau menyalahkan siapa ...?" sahut lainnya.
__ADS_1
Podin hanya bisa diam. Tetapi ia mulai perlahan mengunyah nasinya. Tentu ia ingin tahu berita dari pemilik kapal yang disewanya itu. Makanya, saat sarapan itu pun, Podin sambil sesekali melirik ke orang-orang yang pada bercerita tersebut. Mendengarkan obrolan orang-orang yang jajan di warung itu.
"Berarti itu kapal dan orangnya tidak ketemu ...?" tiba-tiba ibu penjual nasi itu ikut nimbrung bertanya.
"Ya belum .... Kemarin saja istrinya nangis-nangis ...." jawab salah seorang yang jajan.
"Malah katanya, ini cerita dari orang-orang yang ikut mencari, kapalnya yang ditumpangi orang-orang yang berusaha mendekat ke Pulau Berhala itu diseret oleh ratusan tangan-tangan misterius yang muncul dari dalam laut, dan mau menenggelamkan kapal itu .... Beruntung mereka masih bisa menyelematkan diri ...." sahut yang lain, yang tentunya juga mendengar cerita dari orang-orang yang berusaha mencari temannya yang hilang itu.
"Hii .... Lhah kok menyeramkan seperti itu ...." ibu penjual nasi itu miris mendengar cerita itu.
"Iya ..., kemarin saya ke sana, istrinya nangis terus ...." sahut yang lain.
"Makanya jangan sekali-sekali berani mendekat ke Pulau Berhala .... Dimakan iblis penjaga pulau itu tahu rasa ...." kata ibu penjual nasi tersebut.
"Memang ada apa di Pulau Berhala itu ...?" Podin yang dari tadi terdiam, tiba-tiba ikut nimbrung bertanya, pura-pura tidak tahu.
"Wah, Om ..., ngeri .... Pulau itu dihuni oleh iblis-iblis berhala yang memangsa orang-orang yang berani mendekat ...." begitu jawab salah seorang yang sedang ngopi.
"Ooo ...." Podin pura-pura tidak tahu.
Podin langsung menyelesaikan makannya. Dan langsung membayar makanannya. Kemudian berpamitan. Tidak lupa, Podin melirik pelayan warung makan yang cantik itu, mengerlingkan matanya. Lantas ia melajukan mobilnya kembali.
Selanjutnya, Podin akan memikirkan kembali bagaimana caranya ia bisa datang lagi menuju ke Pulau Berhala untuk mengambil harta karun-harta karun yang ada di sana.
Seperti yang didengar dari ular raksasa penunggu pintu istana, Podin ingat betul tentang syarat-syarat untuk mendapatkan harta karun itu kembali. Yah, syarat itu adalah mempersembahkan kepala anak manusia kepada penguasa Pulau Berhala, pada saat malam bulan purnama. Tentu Podin akan berusaha untuk bisa kembali ke Pulau Berhala tersebut, dengan membawa persembahan buat sang penguasa. Ya, Podin tentu akan mencari dan memenuhi syarat itu.
Lantas, pagi itu Podin menuju ke komplek ruko milik istrinya di perumahan. Podin langsung berhenti di depan ruko tempat istrinya berjualan. Ya, tentu ia akan menemui istri dan anak-anaknya. Namun tentunya kali ini tujuannya tidak lagi untuk mengurusi anak-anaknya. Tidak lagi untuk memberikan nafkah kepada istri maupun anak-anaknya. Melainkan, Podin datang ke ruko itu, di tempat mana istri dan anak-anaknya tinggal di sana. Podin ingin menjemput anaknya. Podin akan membawa anak-anaknya. Ya, Podin sudah berniat ingin mempersembahkan anak-anaknya itu kepada sang penguasa di Pulau Berhala. Ya, seperti yang sudah disampaikan oleh penjaga Pulau Berhala, kalau Podin ingin mengambil harta karun yang ada di Pulau Berhala itu, ia harus mempersembahkan anak-anak kesayangannya.
Setelah memarkirkan mobilnya di depan ruko milik istrinya, maka Podin langsung keluar dari mobilnya, dan langsung menemui istrinya yang masih duduk di tempat kasir. Podin langsung menanyakan kepada istrinya.
"Bu .... Isti .... Anak-anak ada di mana?" tanya Podin kepada istrinya.
"Datang tidak mengucap salam, langsung mbludus saja, kayak pencuri saja. Anak-anak pergi!" jawab istrinya yang tentu dengan kata-kata tidak enak didengar. Isti tanpa ekspresi sedikitpun, walaupun sebenarnya ada rasa rindu, ada rasa kangen, ada rasa pengen bermesraan kembali dengan suaminya itu. Tetapi ia sudah terlalu jengkel karena ia ditinggal terus-terusan oleh suaminya.
"Pergi ke mana?" tanya Podin kepada istrinya, yang tentu tetap berusaha mencari anaknya. Karena nanti malam adalah malam bulan purnama. Malam yang sudah ia rencanakan dengan penuh harap.
"Tidak tahu ...!" jawab istrinya, yang lagi-lagi tentu dengan jawaban sengol.
"Loh ..., Ibu itu bagaimana sih ...?! Punya anak pergi kok tidak tahu .... Nanti kalau anak-anakmu itu diculik orang, bagaimana ...? Kalau anak-anakmu itu hilang, bagaimana ...? Kalau anak-anakmu pergi terus tidak pulang lagi, bagaimana ...? kata Podin yang tentu marah-marah kepada istrinya karena kecewa, maksudnya untuk mencari anaknya tetapi ternyata anaknya tidak ada di rumah semuanya.
"Bapak itu yang harusnya mikir ...! Bapak pernah apa tidak mengurusi anak-anak ...?! Bapak itu pernah tidak memberikan sangu kepada anak-anak ...?! Bapak itu pernah tidak memberikan makan kepada anak-anak ...?! Bapak itu sudah pergi, kawin lagi, tidak pernah pulang, tidak pernah ngurusi anak-anak, tidak pernah merawat anak, tidak pernah memberi uang anak, tidak pernah memberi nafkah, tidak pernah bayar sekolahnya, baru datang sudah marah-marah ...! Laki-laki macam apa kamu itu ...?!" begitu kata Isti yang tentu dia marah juga ketika dimarahi oleh suaminya, karena selama ini Isti sudah pontang-panting banting tulang sendirian, mencari nafkah untuk memberi makan dan kebutuhan pada anak-anaknya, tetapi masih saja diomelin sama suaminya, masih saja dimarahi oleh suaminya yang tidak bertanggung jawab itu.
__ADS_1
Akhirnya tentu, Podin kalah karena setelah dibantah seperti itu, Podin pun merasa bahwa dirinya memang bersalah karena selama ini tidak pernah mengurusi anak dan istrinya. Namun yang namanya mata hati Podin sedang dibutakan oleh pikiran Podin yang sedang galau, dia harus mendapatkan anak-anaknya itu untuk dibawa ke Pulau Berhala, untuk diserahkan kepada para penunggu Pulau Berhala, dan tentunya anak-anaknya itu akan dipersembahkan dijadikan tumbal untuk mendapatkan harta kekayaan, tentu ia tetap bersikeras untuk mendapatkan anaknya.
"Sudah ..., pokoknya sekarang saya tanya ...! Anak-anak ada di mana ?!!" kata Podin yang sudah bersiap untuk naik tangga, karena ia yakin bahwa anaknya ada di lantai dua.
"Anak-anak pergi ...! Anak-anak bermain ke mall sama orang laki-laki ...! Mereka tidak ada di rumah semuanya. Mereka sedang diajak pergi ke mall ...! Katanya akan dibelikan baju baru oleh laki-laki yang mengajaknya. Kenapa kemarin waktu lebaran kamu lebaran datang ...?! Kenapa kemarin waktu lebaran kamu tidak menemui anak ...?! Kenapa kemarin waktu lebaran kamu tidak membelikan baju-baju baru kepada anak-anak ...?! Bahkan kamu melupakan kami semua ...." begitu kata istrinya, yang tentu masih jengkel dan marah kepada suaminya.
Tetapi Podin tidak menghiraukan kata-kata istrinya itu. Iya langsung naik ke lantai dua. Ia akan mencari anaknya yang biasanya bermain atau nonton TV di lantai dua. Namun lagi-lagi Podin tidak mendapati anak-anaknya di ruangan itu. Anak-anaknya tidak ada di sana. Bahkan di kamar dan di tempat bermain semuanya tidak ada. Podin yang marah, yang mengamuk, ia melampiaskan kekesalannya. Tempat tidur itu pun sampai diacak-acak. Tempat lesehan untuk menonton TV juga diacak-acak. Tempat belajar anaknya juga diacah-acah. Podin jengkel karena tidak mendapati anaknya yang tentu hari itu ia harus segera membawa anak-anak itu untuk diajaknya pergi.
Lantas Podin kembali turun. Ia menemui istrinya lagi.
"Anak-anak di bawa pergi ke mana sama laki-laki simpananmu itu ...?! Saya akan mencarinya ...! Saya akan membawa anak-anak itu. Saya tidak percaya dengan Ibu yang sudah menyerahkan anak-anak kepada orang lain, kepada laki-laki lain ...! Pasti kamu juga sudah menikah lagi ...! Pasti kamu sudah tergoda laki-laki lain ...!! Kamu sudah punya simpanan yang lain ...! Pasti kamu sudah menjadi gendakan laki-laki lain ...!! Dasar wanita murahan ...!! Saya tidak rela, anak-anak itu harus saya bawa ...!!" Podin yang marah-marah kepada istrinya, dan bahkan sudah menuduh kalau istrinya pasti menyimpan laki-laki lain, kalau istrinya pasti sudah menikah lagi. Bahkan ia menuduh istrinya sebagai wanita murahan.
"Ya ampun, Pak ...!! kamu menuduh saya seperti itu ...?! Jangan berpikir, jangan anggap saya sama seperti dirimu ...!! Jangan samakan saya dengan perempuan yang kamu simpan itu ...! Saya bukan wanita murahan .... Saya bukan wanita gampangan seperti yang kamu simpan itu .... Seperti yang kamu jadikan gundik, seperti yang sudah kamu belikan macam-macam itu ...!! Dia itu yang wanita jelek ...! Wanita murahan ...! Wanita yang tidak tahu diri ...! Wanita yang merebut suami orang ...!! Saya tidak seperti itu .... Saya orang baik-baik .... Saya wanita baik, saya bisa menjaga diri. Bahkan saya berani membanting tulang untuk membiayai anak-anak saya sendiri tanpa mengharapkan apa-apa darimu ...! Kenapa kamu datang-datang sudah marah-marah kepada saya ...? Menuduh saya yang bukan-bukan ...?! Dasar laki-laki tidak bertanggung jawab ...!!" begitu bentak istrinya yang tentu marah saat suaminya menuduhnya yang bukan-bukan.
"Tapi kenyataannya ...?! Sekarang mana anak-anak ...?! Katanya kamu tadi bilang kalau anak-anak diajak oleh laki-laki pergi bermain .... Kemana dia ...?! Katakan, saya akan munyusulnya ke sana ...! Saya akan cari laki-laki itu ...!" kata Podin yang tentu dia emosi ketika mendengar anaknya diajak oleh seorang laki-laki pergi bermain.
"Ya, itu semua gara-gara kamu ...! Anak-anakmu tidak ada yang memberikan pakaian, anak-anakmu tidak ada yang membelikan mainan .... Makanya, sekarang anak-anakmu ketika diajak oleh seorang laki-laki, diajak pergi ke mall, diajak pergi untuk beli pakaian, diajak pergi untuk membeli mainan, diajak pergi untuk makan-makan, kenapa kamu marah-marah ...?! Apa urusan kamu ...?! Selama ini apa yang kamu lakukan ...?! Kamu hanya mencari uang untuk istri muda kamu saja ...! Kamu tidak bertanggung jawab kepada istri dan anak-anak ...! Bahkan kamu sudah rela mengusir kami. Kamu sudah menyakiti hati kami semua .... Kenapa sekarang kamu datang hanya bisa marah-marah ...?! Kalau memang kamu itu orang baik, buktikan mana kebaikanmu ...?! Tunjukkan kepada kami .... Belikan anak-anakmu pakaian, belikan anak-anakmu mainan, berikan dia uang untuk hidup sehari-hari, untuk membayar sekolahnya. Jangan hanya bisa marah-marah saja ...!" begitu kata istrinya yang tentu sangat kesal dengan suaminya, yang hanya selalu marah-marah. Dan meskipun tahu bahwa itu adalah pertanda kalau suaminya hari ini sudah tidak punya apa-apa lagi, paling suaminya sudah kehabisan uang. Makanya dia marah-marah kepada istrinya.
Podin terdiam. Tidak bisa menjawab kata-kata istrinya. Terutama ia memang merasa bahwa dirinya sudah keliru karena memang lebaran kemarin dia tidak membelikan baju kepada anak-anaknya. Dia tidak membelikan pakaian kepada anak-anaknya. Bahkan ia tidak memberikan uang sedikitpun kepada anak-anaknya. Tentu anak-anaknya pasti menanyakan tentang bapaknya. Bahkan Podin tidak pulang sama sekali untuk menjenguk anak-anaknya. Podin tidak bisa menjawab apa-apa. Ia pun tidak bisa mengatakan apa-apa lagi untuk marah kepada istrinya. Justru sekarang sebaliknya, Isti yang marah-marah kepada suaminya, laki-laki tidak bertanggung jawab, laki-laki tidak tahu diri, laki-laki yang selalu minta uang kalau datang.
Isti yang sudah ditinggal untuk mengurus anaknya sendiri, tentu sudah merasa bahwa suaminya yang tega dengan istri dan anak-anaknya itu, dia pasti akan mengusirnya lagi bilamana ia sudah tidak punya uang untuk hidup bersama istri mudanya. Maka Isti mencoba untuk memberanikan diri mengusir suaminya.
"Sekarang kamu pergi dari sini ...! Keluar dari ruko ini ...! Jangan berada di sini ...! Mengganggu orang yang mau beli ...!" begitu kata Isti yang mengusir suaminya.
Akhirnya Podin keluar dari ruko itu. Namun ia tetap akan mencari anaknya. Podin lantas pergi ke mobilnya, menghidupan mesin mobil itu, lantas pergi meninggalkan ruko di mana istrinya berjualan. Podin menjalankan mobilnya dengan gas kencang. Ia ngebut. Tentu tujuannya adalah ke arah mall.
Ya, dulu pertama kali ia mengajak anak dan istrinya untuk berbelanja pakaian, ia mengajaknya ke mall. Maka Podin yang tahu hal itu, ia pun ingin menyusul anak-anaknya yang katanya diajak pergi untuk berbelanja di mall. Podin pun langsung masuk ke mall. Ia akan mencari anaknya di sana.
Podin tidak sabar ingin segera membawa anak-anaknya. Namun saat berada di dalam mall, Podin yang sudah masuk di tempat penjualan pakaian, berkeliling ke sana kemari, namun ia tidak juga menemukan anak-anaknya. Podin sudah berkeliling mencarinya ke mana-mana. Tetapi tidak juga menemukan tiga orang anaknya yang ada di situ.
Lantas Podin mencoba mencari ke tempat penjualan mainan-mainan. Kembali Podin memandangi ke seluruh pengunjung. Podin berkeliling dan mengamati orang-orang yang ada di ruang itu, terutama mengamati anak-anak kecil yang ada di mall itu, namun kenyataannya, hingga separo hari Podin tidak juga menemukan anak-anaknya. Ia tidak melihat sama sekali anak-anaknya.
Podin putus asa. Lantas ia pun kembali ke mobilnya. Kenmudian kembali melajukan mobilnya. Kembali ke ruko istrinya. Tentu ia mengira kalau anak-anaknya pasti sudah pulang, pasti sudah sampai di rumahnya.
Dan setelah sampai di depan ruko. Setelah ia memarkirkan mobilnya di depan ruko istrinya, saat Podin turun, keluar dari mobil, tiba-tiba saja, Podin melihat anak-anaknya yang turun dari angkutan kota.
"Dewi ...!! Asri ...!! Antok ...!!" begitu teriak Podin yang tentu hatinya sangat senang, melihat anak-anaknya, ibarat pucuk dicinta, ulam pun tiba.
"Bapak .......!" tiga orang anaknbya itu pun langsung berlari memeluk bapaknya. Tentu karena saking rindunya terhadap bapaknya yang sudah lama tidak pernah pulang menjenguknya.
Mereka saling berpelukan. Anak-anaknya berharap kasih sayang orang tuanya. Tetapi Podin, sebenarnya justru akan mencelakai anaknya. Dasar orang tua tak tahu dosa.
__ADS_1
Dalam keputus-asaan itu, ternyata Podin sanggup menemukan anaknya. Yang tentu sebentar lagi anak-anak itu akan dibawa menuju Pulau Berhala.