
Harta karun Podin sudah habis. Semuanya sudah dijual untuk modal usaha, demi Lesti. Harta karunnya sudah berganti menjadi ruko dan tempat usaha milik istrinya. Dan semalam, sisa perhiasan yang sedikit jumlahnya, sudah diambil semua. Dua peti harta karun itu pun sudah kosong tanpa ada isinya apa-apa.
Namun semalam setelah sisa perhiasan itu diambil, dan dimasukkan ke dalam kantongnya, Podin lupa dengan petinya yang masih tergeletak di tempat dagangan istrinya. Saat Podin mengambil kalung, gelang dan uang-uang dari koin emas itu dimasukkan ke dalam kantongnya, ia tergesa kembali ke kamar tidur yang ada di lantai dua. Peti harta karun yang ia bawa dari Pulau Berhala itu tertinggal tertinggal begitu saja di ruko, tergeletak begitu saja di tempat dagangan istrinya.
Pagi harinya, setelah sarapan pagi, dan setelah berpamitan pada istrinya, Podin begitu saja meninggalkan rumah, langsung akan pergi, yang tentunya akan menjual perhiasannya. Dan ia memang lupa, tanpa menghiraukan peti yang semalam tertinggal di toko istrinya. Peti harta karun tempat perhiasan itu masih tergeletak di sana. Sehingga dua buah peti itu seakan juga menjadi bagian dari barang dagangan yang ada di tokonya Lesti.
Memang Podin terlihat tergesa, ingin segera menjual perhiasan-perhiasan yang masih sedikit itu. Tentu agar ia punya uang yang bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Setidaknya di dompetnya berisi uang. Makanya Podin ingin segera menjual perhiasan-perhiasannya itu, tanpa sepengetahuan dari istrinya.
"Akang Podin mau ke mana?" tanya istrinya yang tahu kalau suaminya tergesa akan pergi.
"Ini .... Mau servis mobil ...." kata Podin berbohong kepada istrinya.
"Hati-hati, Kang ...." kata Lesti berpesan.
"Iya ...." tenang hati Podin, yang tentu istrinya percaya kepadanya.
Setelah kepergian Podin, ada seorang laki-laki setengah baya yang akan belanja di toko Lesti. Orang itu sudah menjadi pelangga setia, yang selalu beli rokok maupun kebutuhan-kebutuhan lainnya di toko Lesti. Sudah selalu berbelanja sejak pertama kali toko Lesti buka.
"Selamat pagi, Teh ...." kata laki-laki brewok itu kepada Lesti.
"Eh ..., Bang Kohar .... Pagi, Bang Kohar .... Mau berangkat kerja, ya ...?" sahut Lesti pada laki-laki bertubuh gemuk dan brewokan itu, yang namanya adalah Bang Kohar, tukang membuat desain interior eksterior.
"Iya, Teh Lesti .... Mampir belanja dulu ...." jawab Bang Kohar.
"Silakan, Bang Kohar ..... Mau belanja apa?" tanya Lesti yang berada di rukonya, dan tentunya siap untuk meladeni para pembelinya ini. Dan kepandaian Lesti adalah ramah kepada para pelanggannya. Makanya para pembeli di tokonya langsung senang dan tentu menjadi pelanggan setia. Dasarnya Lesti orangnya cantik, pandai merayu pelanggan. Makanya toko Lesti langsung laris.
"Ini, Teh Lesti .... Mau belanja kecap, saos, sama mi instan .... Dan jangan lupa, Teh ..., rokok kegemaran saya .... Hehe ...." kata laki-laki gemuk yang brewokan itu.
Ya, Bang Kohar ini tinggal sendirian di rumah kontrakan. Biasa, di daerah-daerah rantau para pekerja biasanya hidup sendiri di tempat kos atau di tempat kontrak. Sehingga ia pun dengan leluasa tanpa sungkan untuk berbelanja sendiri, memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri. Kalau malas memasak, biasanya jajan di warung makan. Tetapi kalau pengin hemat, bisa belanja bahan pokok di warung dan masak sendiri. Seperti halnya Bang Kohar ini, laki-laki setengah baya yang kerjanya seakan santai, maka tanpa sungkan masuk ke toko, dia pun akan belanja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Yang namanya beli mi instan dan telur, hampir setiap hari. Makanya badannya gemuk karena sering makan mis sama telur.
"Silahkan ambil saja, pilih sendiri, Bang Kohar ...." kata Lesti yang mempersilahkan pembelinya itu untuk mengambil barang-barangnya sendiri.
Seperti biasa, Bang Kohar langsung mengambil keranjang belanja, dan memasukkan barang-barang belanjaannya ke dalam keranjang yang dicangkingnya itu. Bang Kohar keliling mencari barang-barang kebutuhannya.
"Waduh, Teh Lesti .... Ini kok ada semacam peti harta karun ...? Bentuknya bagus sekali, Teh ...." kata Bang Kohar yang saat berkeliling mencari barang belanjaannya tiba-tiba melihat ada peti bagus berada di tempat dagangan toko itu.
"Apa ..., Bang ...?" tanya Lesti yang ingin tahu, karena dia merasa tidak pernah menjual dagangan-dagangan yang aneh seperti itu.
"Ini, Teh .... Peti miliknya Alibaba ...." kata laki-laki gemuk brewok yang sudah mengangkat salah satu peti itu, dan menunjukkan kapada Lesti.
__ADS_1
"Walah ..., saya malah gak tahu ini, Bang ...." sahut Lesti yang tentu malah jadi bingung, karena memang belum pernah melihat peti yang ditunjukkan oleh Bang Kohar itu.
"Ini narang bagus, Teh .... Ini tuh seperti peti harta karun miliknya Alibaba .... Ini ada hiasannya yang seperti dilapisi emas .... Wah, ini barang antik, Teh .... Peti ini dijual nggak, Teh?" tanya Bang Kohar yang sudah memegangi peti harta karun yang ada di tempat dagangan Lesti tersebut.
"Saya kok malah tidak tahu, Bang Kohar .... Coba nanti saya tanya Kang Podin dahulu ...." kata Lesti yang tentu justru bingung setelah melihat peti antik itu. Memang di tempat dagangannya itu ada dua buah peti, semacam dongeng jaman kuno, tentang peti harta karun yang sangat antik itu. Tapi Lesti memang tidak tahu sama sekali tentang barang yang sudah diamat-amati pembelinya itu.
"Tolong nanti tanyakan Kang Podin, Teh .... Kalau peti ini mau dijual, saya mau beli ...." kata Bang Kohar yang rupanya tertarik dengan barang-barang yang antik dan unik tersebut.
"Ya, Bang Kohar .... Nanti saya tanya suami saya dulu, ya .... Saya belum tahu, itu peti harta karun punya siapa, barang antik itu milik siapa. Nanti saya tanyakan ke Kang Podin, kalau memang mau dijual silakan saja nanti sore disamperin sini lagi, Bang Kohar ...." kata Lesti yang tentunya dia juga masih ragu-ragu dengan dua barang itu, apakah milih suaminya atau milik orang lain, atau mungkin barang itu titipan dari siapapun yang menaruh di situ.
"Iya, Teh Lesti .... Nanti sore, pulang kerja saya akan mampir ke sini .... Semoga saja barang ini dijual. Saya suka, Teh .... Nanti akan saya beli, akan saya bayar .... Ya ..., mau saya buat untuk semacam hiasan barang antik. Begitu, Teh Lesti." kata pembeli itu, selanjutnya setelah membayar belanjaannya, Bang Kohar pun pulang, dan tentu menaruh harap peti milik Podin tersebut akan dijual dan akan dibelinya.
Siang hari, setelah Podin pulang dan baru saja mendapatkan uang dari hasil penjualan sisa perhiasannya, tentu Podin senang, karena sudah mendapatkan uang. Dan kini, harta kekayaannya yang didapat dari Pulau Berhala, sekarang sudah benar-benar habis semuanya. Tetapi kantong Podin tentu sudah kembali penuh dengan uang.
"Sudah selesai, Kang?" tanya istrinya yang tahu suaminya pulang.
"Iya, Lesti .... Lumayan .... Namanya juga motor tua, harus diservis secara rutin. Biar tidak mogok. Dan tadi saya harus ke bank, untuk ambil uang. Kini tabungan Akang tinggal sedikit. Yah, namanya juga sedang buka usaha .... Pasti butuh modal, Lesti .... Memang kelihatannya saya harus cari uang lagi, Lesti ...." kata Podin sambil memberikan amplop berisi uang. Memang tidak banyak, tetapi setidaknya lumayan untuk menambah modal usaha.
"Akang Podin kenapa ngerepot-repotin diri begitu ...? Lesti kan sudah bilang, kalau usaha kita nanti, uangnya kita putar .... Belanjaannya dari barang-barang yang sudah laku .... Saya, mah ..., kasihan sama Akang .... Cari uang terus-terusan untuk tambahan moda toko. Saya mah, kasihan sama Akang Podin .... Uangnya habis untuk modal Lesti ...." kata istrinya yang tentu kembali memanja kepada suaminya, dan pastinya Lesti juga merasa bersalah, karena sudah menghabiskan banyak uang untuk membuka usahanya.
"Tidak apa-apa, Lesti .... Ini uang untuk tambahan modal usaha kita. Terima saja ...." kata Podin yang sudah menyodorkan amplop berisi uang itu kepada istrinya.
"Sebaiknya, uang ini untuk Akang saja .... Biat pegangan Akang .... Jangan sampai Akang tidak bawa uang sama sekali. Nanti kalau Akang butuh apa-apa, masih ada uang di kantong Akang .... Jangan dihabiskan semuanya, Akang." kata Lesti yang tentunya ingin suaminya tetap memegang uang.
"Iya ..., betul, Akang .... Seperti itu .... Oh, iya, Kang .... Ini tadi, ada orang yang tanya ..., tentang peti yang ada di depan itu .... Kotak peti yang ada di depan itu punya siapa? Tadi mau dibeli sama orang ...." tanya Lesti pada suaminya, tentang kotak atau peti harta karun yang ada di tokonya.
"Kotak apa, Lesti?" tanya Podin yang belum sadar dengan barang yang dikatakan oleh istrinya.
"Itu, Akang .... Kotak yang ada di depan itu .... Di ujung depan toko kita itu ...." kata Lesti sambil menunjukkan kotak harta karun, semacam yang ada di dalam dongeng-dongeng kuno.
"Oh ..., ini, Lesti .... Iya, ini punya Akang. Dulu Akang pakai untuk tempat baju. Maklum, waktu di Jakarta Akang tidak punya lemari ..., maka Akang biasa pakai kotak ini untuk menyimpan baju. Waktu Akang masih kost. Dan kotak ini, kalau saya pergi ke mana-mana, saya bawa untuk tempat pakaian. Maklum saya tidak pakai koper. Akang naroh baju, naroh pakaian di dalam kotak itu .... Hehe ...." kata Podin pada istrinya, menjelaskan kalau kotak antik itu adalah miliknya, tentu sambil tersenyum karena kelihatan kampungan.
"Kotak ini dipakai untuk menyimpan pakaian, Akang? Zaman modern mah, pakainya mesti dimasukkan koper atau tas pakaian. Tidak pakai kotak semacam ini, Akang ...." kata Lesti yang memberitahu suaminya, setidaknya kalau menyimpan pakaian itu di dalam koper atau tas.
"Iya, Lesti .... Itu kenang-kenangan zaman dulu ..., waktu pertama kali Akang masuk Jakarta. Akang mah, bingung mau pakai apa .... Tidak punya koper .... Adanya cuman peti kayak itu .... Maka saya pakai .... Ya, lumayan kalau hanya untuk menyimpan pakaian masih bisa." begitu kata Podin yang berpura-pura kalau peti itu adalah tempat pakaiannya.
"Iya, Kang .... Tapi peti itu masih mau dipakai apa tidak? Tadi pagi ada yang nanya, peti itu mau dibeli, mau dibayar sama Bang Kohar .... Boleh apa tidak? Kalau Lesti mah, itu tidak apa-apa, kalau memang ada yang mau beli, ya berikan saja, kita jual saja peti itu .... Daripada menuh-menuhin tempat di sini. Kata Bang Kohar, peti itu seperti barang antik .... Dia suka, Kang .... Makanya mau dibeli." kata Lesti yang menuturkan, kalau pagi tadi peti milik Podin itu sudah akan dibeli oleh seseorang.
"Yang bener, Lesti ...? Siapa yang mau beli peti macam gituan? Itu peti biasa ..., bukan barang antik." kata Podin pada istrinya.
__ADS_1
"Iya, Akang .... Tapi Bang Kohar suka .... Dia bilang, katanya peti ini seperti peti harta karun di kisahnya Alibaba .... Dia mau beli, katanya untuk hiasan di rumahnya." kata Lesti yang tentu menyampaikan niatan Bang Kohar yang akan membeli peti itu.
"Ya, kalau Bang Kohar memang bersedia mau beli peti ini ..., ya kita jual saja .... Ngapain kita taruh barang teronggok di toko, malah menuh-menuhin tempat. Ibarat kata, kita buang barang tapi dapat uang. Katanya dia mau bayar berapa?" tanya Podin pada istrinya, yang tentu penasaran kalau petinya itu ternyata disukai orang dan akan dibelinya.
"Belum tahu, Akang .... Nanti sore dia mau ke sini lagi .... Setelah pulang kerja, dia mau datang kemari .... Mau tanya sama Akang .... Mau dijual apa kagak peti itu." kata Lesti selanjutnya.
"Iya, Lesti .... Kita jual saja, biar dapat uang untuk tambahan kebutuhan kita." kata Podin pada Lesti, yang tentu minta pendapat, kalau peti itu mau dijual saja.
"Iya, Kang .... Kita jual saja peti itu." kata Lesti pada suaminya, yang setuju kalau peti milik Podin itu akan dijual.
Ya, dua peti yang lumayan besar itu tentunya kalau berada di toko Lesti, akan memenuhi tempat. Dan pastinya juga mengganggu orang yang akan mengambil barang-barang belanjaan. Akan menutupi barang dagangan Lesti, dan tentunya justru akan mengganggu orang-orang yang akan membeli barang-barang, karena terhalang peti-peti itu. Memang tidak pas untuk ditaruh di tempat dagangan sembako. Barang semacam peti milik Podin itu pantasnya ditaruh di atas lemari hias, atau di tempat khusus sebagai barang antik, sebagai hiasan.
"Kang, kalau peti antik itu dijual, kira-kira laku berapa, Kang? tanya Lesti pada suaminya.
"Tidak tahu, Lesti .... Biar saja nanti orang itu mau bayar berapa, kita kasihkan. Yang penting barang itu mah dia ambil, tidak memenuhi tempat di sini. Kalau Bang Kohar juga ngasih uang pada kita, terima saja .... Rezeki kan, Lesti ...." kata Podin.
"Betul, Kang ...." sahut Lesti yang sangat setuju.
Dan benar. Sore itu, Bang Kohar yang pulang dari kerja, langsung mampir di toko Lesti. Ia datang ke toko Lesti, yang langsung kembali mengamati peti yang tadi pagi sudah dipegang. Laki-laki gemuk dan brewok itu lamgsung menanyakan kembali tentang barang antiknya. Peti harta karun kuno yang cantik itu, yang memang sering dilihat dalam film-film sebagai peti harta karun, seperti yang selalu menjadi rebutan oleh para bajak laut. Atau juga peti harta karun yang diambil oleh Alibaba dari goa milik sembilan perampok untuk menyembunyikan harta curiannya.
"Bagaimana, Teh Lesti ...? Apa Bapak sudah datang? Peti ini boleh dijual?" kata Bang Kohar yang tentu sudah penasaran dengan peti antik yang ada di toko Lesti itu.
"Iya, Bang Kohar .... Ini mah, boleh kalau memang mau dibeli Bang Kohar. Suami saya sudah bilang, boleh Bang Kohar ...." kata Lesti pada laki-laki gemuk brewok yang baru datang itu.
"Wah ..., seneng pisan saya ...." kata Bang Kohar yang tentu sangat gembira.
"Bang Kohar, mau beli berapa? Mau dibayar berapa?" tanya Lesti.
"Ini dua-duanya saya beli semua, Teh ...." kata Bang Kohar.
"Iya, Bang Kohar .... Silakan kalau memang mau diambil semua." kata Lesti.
"Harganya berapa, Teh?" tanya laki-laki brewok yang sudah mengincar peti itu dari pagi tadi.
"Mangga, Bang Kohar .... Silakan, mau dibayar berapa, yang penting pantas harganya menurut Bang Kohar." jawab Lesti yang tidak tahu harganya.
"Iya, Teh Lesti .... Ini Teh Lesti masak tidak kasih harga .... Baiklah, Teh Lesti ..., ini saya bayar lima ratus rubu ...." kata Bang Kohar itu, yang tentunya langsung mengeluarkan dompet dan mengambil uang dari dalam dompetnya itu.
Tentu Lesti senang, karena barang rongsokan itu, yang dianggap tidak ada artinya dan dianggap hanya memenuhi tempat, mengganggu orang belanja, kini barang itu justru akan dibayar setengah juta oleh laki-laki gemuk dan brewok itu. Lesti akan dapat uang lumayan banyak.
__ADS_1
"Iya, Bang Kohar .... Terima kasih, Bang ...." Lesti pun langsung menerima uang dari laki-laki yang gemuk dan brewok itu, yang suka dengan barang antik itu.
Laki-laki itu pun langsung mengangkat dua buah peti antik tersebut, dan dipanggul untuk dibawa pulang, seperti halnya saat Podin membawa peti itu keluar dari istana Pulau Berhala.