PULAU BERHALA

PULAU BERHALA
EPISODE 105: CURHAT


__ADS_3

    Dalam bingungnya itu akhirnya Podin kembali ke Jakarta. Rencananya Podin akan kembali ke tempat usahanya, yaitu gedung karaoke yang menjadi tempat hiburan bagi orang-orang berduit. Tentunya Podin sambil menunggu ruko yang akan dijualnya itu ada yang membeli, sehingga ia akan mendapatkan uang dari hasil penjualan rukonya. Dan saat Podin ke Jakarta, setidaknya ia bisa menghibur diri, bisa menata tempat usahanya, bisa ketemu dengan karyawan-karyawannya, dan paling tidak Podin bisa menenangkan dirinya. Sama seperti waktu diusir oleh Rina, ia akhirnya juga lari ke gedung karaoke itu. Di gedung usahanya itu, di tempat karaoke, bisa dijadikan tempat tinggal untuk sementara waktu. Ya, Podin bisa tidur di tempat itu, seperti semula dulu ketika pertama kali kali ia datang ke Jakarta, saat pertama kali Podin mempunyai usaha karaoke. Dan tentunya ia tidur di tempat usahanya itu, hingga akhirnya kena bujuk rayu Maya, sang pemandu karaoke, yang kemudian menjadi istri siri, dan meminta kepada Podin untuk membelikan rumah. Dan kini, Podin pun ingin kembali ke sana, setidaknya bisa menenangkan diri dan bisa beristirahat.


    Podin sudah sampai di tempat usahanya, yaitu tempat hiburan karaoke, di gedung yang pernah terbakar itu, dan sudah diperbaiki oleh karyawannya. Dan kini, tempat karaoke itu sudah menjadi sangat bagus, sangat keren dan sangat menarik. Tempat hiburan itu memang sangat menarik bagi orang yang melihatnya. Ya gedung itu dari kejauhan sudah terlihat, bisa disaksikan oleh masyarakat dari berbagai arah, karena ada lampu gemerlap yang ditaruh di tempat bangunan yang paling tinggi. Sehingga tulisan berbentuk lampu itu bisa disaksikan oleh orang dari kejauhan.


    Podin yang sudah memarkirkan mobilnya, lantas masuk ke ruang tempat administrasi. Tentunya ia langsung menemui Cik Melan, pegawainya yang masih muda dan perawan itu, yang menangani masalah keuangan di tempat usahanya. Ya, Podin sangat percaya dengan Cik Melan, karena perempuan muda itu sangat baik, sangat pintar dan bisa diandalkan untuk memajukan tempat usahanya itu.


    "Selamat sore, Pak Podin." begitu sapa Cik Melan yang melihat ada bosnya datang ke tempat kantornya itu.


    "Sore, Cik Melan .... Bagaimana kabarnya?" sahut Podin yang tentu juga membalas salam dari karyawannya itu.


    "Baik, Pak .... Oh, iya Pak Podin .... Kemarin Ibu Lesti beberapa kali menelepon saya, bahkan juga mengirim chat WA ke saya, menanyakan tentang Pak Podin. Apakah Bapak sudah ketemu? Atau sudah memberi kabar kepada Ibu Lesti?" tanya perempuan muda itu kepada Podin yang baru saja datang.


    "Aah ...." Podin langsung mendesah. Ya tentu karena kata-kata dari karyawannya yang ada di hadapannya itu,  yang menyebut nama Lesti, mengingatkan Podin pada masalah yang baru saja dialami di rumahnya.


    "Kenapa, Pak Podin ...?" tanya perempuan muda itu kepada bosnya.


    "Cik Melan .... Ternyata perempuan itu hampir semuanya sama .... Ya, ternyata perempuan itu rata-rata mata duitan." kata Podin yang tentu mulai berkeluh kesah tentang perempuan.


    "Saya tidak, loh, Pak ...." kata perempuan muda itu yang tentunya dia protes kalau disamakan dengan perempuan-perempuan lain yang mata duitan.


    "Iya .... Saya kan bilang kebanyakan .... Tidak semua sih. Seperti Cik Melan, pasti orangnya baik .... Tetapi banyak perempuan yang tidak baik." kata Podin kepada perempuan muda yang sudah sekian lama menjadi karyawan bagian keuangan di perusahaannya itu.


    "Memang, Ibu Lesti kenapa, Pak?" tanya perempuan muda yang cantik itu kepada Podin.


    "Ya ..., yang jelas kamu tahu kondisi saya. Saat ini saya sedang terpuruk. Keuangan saya baru kurang baik. Padahal, semuanya itu juga untuk membuka usaha. Dan bahkan yang mengelola juga Lesti .... Cik Melan tahu sendiri, saya sudah mencoba memberikan tempat usaha kepada Lesti. Namun kenyataannya, Lesti masih tergila-gila dengan laki-laki lain tang pastinya dari segi keuangan saya kalah jauh bila dengan laki-laki itu. Tetapi, ya itulah kenyataan .... Saya harus menerima, saya harus mengalah, saya harus pergi meninggalkan Lesti." kata Podin yang tentu berkeluh kesah dengan karyawannya itu, karena Podin menganggap perempuan muda itu bisa dijadikan tempat untuk curhat. Setidaknya Podin ingin mengurangi beban dalam pikirannya.


    "Loh, kok seperti itu, Pak Podin?" tanya perempuan itu kepada bosnya.


    "Pasti Lesti kemarin telepon Cik Melan ...." tebak Podin.


    "Iya, Pak ...." jawab Cik Melan.

__ADS_1


    "Telepon apa saja Lesti kepada kamu?" tanya Podin kepada karyawannya itu.


    "Ibu Lesti hanya menanyakan Pak Podin ..., apakah Pak Podin ada di sini .... Ya, saya menjawab kalau Pak Podin kemarin hanya sebentar, terus habis itu Pak Podin pergi .... Maaf, Pak Podin ..., kan memang seperti itu kenyataannya." jawab perempuan itu yang tentunya ia memang jujur.


    "Ya, betul .... Memang saya berada di tempat ini hanya dalam waktu sekejap .... Namun sebenarnya saya kan harus mencari alternatif usaha lain, harus cari solusi lain, karena saya juga harus mencari uang untuk memenuhi kebutuhan, baik kebutuhan keluarga maupun kebutuhan untuk menambah modal usaha. Apalagi di tempat kita ini juga mengalami musibah, dan bahkan masih punya utang." kata Podin kepada perempuan itu.


    "Iya, Pak .... Mestinya memang begitu. Tetapi kemarin, Ibu Lesti juga menanyakan melalui WA,  kalau katanya Pak Podin ke Jakarta, apakah dapat tambahan modal? Lantas saya menjawab tidak. Karena memang perusahaan sedang dalam perbaikan dan masih menanggung hutang kepada pengembang. Maaf, Pak Podin, saya terpaksa menyampaikan masalah ini. Tetapi itu karena saya pikir Ibu Lesti sudah mendapat restu dari Pak Podin. Dan tentunya, saya juga tidak bisa menghubungi Pak Podin, karena Pak Podin kan tidak punya HP, tidak bisa ditelepon. Maka terus terang, kami percaya begitu saja kepada Ibu Lesti. Mohon dimaafkan jika saya bersalah, Pak." begitu kata perempuan itu kepada bosnya. Tentunya juga agak takut kalau dikatakan salah.


    "Tidak apa-apa .... Memang saya yang keliru. Saya tidak punya HP, dan memang terus terang, waktu itu saya selalu dihubungi oleh Maya, istri saya yang dulu itu. Maya selalu saja menelepon saya, selalu meminta uang. Dan tentunya saya prihatin dengan keadaan Maya, tetapi juga jengkel. Karena setiap kali saya selalu ditelepon, padahal kondisi saya kan mungkin sedang bicara dengan orang lain, mungkin sedang diskusi penting, mungkin sedang rapat. Kalau Maya selalu menelepon terus, kan saya jadi nggak enak. Itulah sebabnya kenapa saya tidak mau membawa HP." kata Podin kepada karyawannya.


    "Iya, Pak .... Saya paham itu. Tetapi kan sekarang Ibu Maya sudah tidak ada. Berarti sebenarnya Pak Podin sudah tidak ada yang mengganggu lagi .... Tetapi kenapa Pak Podin tetap saja tidak mau membeli HP?" kata perempuan itu kepada Podin, yang tentu juga mempunyai pertimbangan tertentu kalau untuk mempermudah komunikasi dengannya.


    "Tapi kenyataannya, si Lesti juga sama kan? Kalau misalnya saya punya HP, pasti dia berkali-kali menelepon saya. Pasti dia berkali-kali akan menghubungi saya. Buktinya, dengan lancang dia menanyakan tentang perusahaan ini kepada Cik Melan. Ini kan bukan urusannya." kata Podin yang tentu agak emosi, mengingat istrinya, Lesti, tentunya juga sama seperti Maya yang selalu mengganggu menelepon terus menerus. Dan tentu  akhirnya juga hanya ingin meminta uang.


    "Maaf, Pak Podin .... Memang waktu itu saya tidak tahu persis kondisi Ibu Maya maupun Ibu Lesti. Karena Bapak tidak pernah bercerita. Seandainya Bapak memberitahu kepada saya seperti ini, mungkin saya juga akan menahan untuk tidak akan memberikan jawaban. Bahkan saya juga ingat, waktu Ibu Maya sering kemari, setiap kali meminta uang, setiap kali mengambil uang, itu selalu mengatakan kalau yang menyuruh adalah Pak Podin. Kalau sudah demikian, saya tidak berani menolak, Pak." kata perempuan itu kepada Podin.


    "Nah .... Kalau begitu, seandainya nanti Lesti kirim WA atau menelepon, tolong jangan diangkat. Bila perlu nomor itu diblokir saja. Saya khawatir, nanti dia akan meminta uang kepada kamu, dan pastinya mengatasnamakan saya juga." kata Podin yang memberitahu kepada karyawannya bagian keuangan itu. Dan tentunya, karyawan inilah yang lebih lihau untuk mengatur keuangan perusahaan.


    "Tuling ..., tuling ..., tuling ....."


    HP Cik Melan berdering. Perempuan muda itu pun melihat nama yang tertera pada HP, ingin tahu siapa yang memanggilnya. Dan ternyata benar seperti apa yang dikatakan oleh Podin. Lesti menghubungi Cik Melan.


    "Pak Podin ..., benar, Pak .... Ini Ibu Lesti menelepon saya .... Bagaimana, Pak? Apakah saya biarkan, atau saya angkat?" tanya perempuan itu kepada Podin, yang tentu minta persetujuan.


    "Coba diangkat ..., tapi tolong dikeluarkan suaranya, biar saya bisa ikut mendengar. Saya ingin tahu, apa yang akan ia katakan." kata Podin yang memerintahkan karyawannya itu. Tentunya Podin ingin tahu apa yang akan dikatakan oleh istrinya, yang sudah ditinggalkan itu.


    "Baik, Pak ...." perempuan itu menjawab, Lantas mengusap layar HP-nya dan menjawab telepon dari Lesti. "Halo, Ibu Lesti .... Bagaimana, Ibu? Ada yang bisa kami bantu?" tanya perempuan itu kepada Lesti, yang tentunya dia akan merahasiakan kalau Podin suaminya ada di depannya.


    "Iya ..., Cik .... Ini saya .... Maaf, ini saya .... Ee ...." kata Lesti yang kelihatan bingung.


    "Maaf, kenapa ya Bu ...? Ada apa, Bu?" tanya Cil Melan kepada Lesti, yang terdengar gugup untuk mengucapkan kata-kata. Tentu Cik Melan sudah menduga, apa yang dikatakan oleh Podin, pastinya istri Bosnya itu akan meminta uang.

__ADS_1


    "Begini Cik Melan .... Saya itu sebenarnya kan butuh uang .... Apakah di tempat usaha Pak Podin yang di Jakarta itu masih ada sisa keuntungan?" akhirnya Lesti menanyakan uang kepada wanita yang di teleponnya, yaitu karyawannya Podin bagian keuangan.


    Podin tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepala, pertanda apa yang dikatakannya tadi adalah benar.


    "Maaf, Ibu Lesti .... Kalau masalah keuangan, saya hanya bertugas dan berkewajiban sebagai pencatat keluar masuknya uang saja. Sementara untuk pembagian hasil dari keuntungan, saya tidak berani, Bu .... Itu privasi Pak Podin, Bu .... Mohon maaf, saya harus sampaikan dulu kepada Pak Podin, kalau memang harus diambil." begitu kata perempuan bagian keuangan tersebut, yang ternyata memang pandai untuk berbicara dan mengatur keuangannya.


    Podin mengangguk-anggukkan kepala, pertanda sangat setuju dan sangat yakin kalau karyawannya itu bisa mengatasi berbagai masalah.


    "Tetapi saya kan istrinya Pak Podin .... Saya akan meminta uang, meminta keuntungan untuk Pak Podin, karena saat ini kami butuh uang ...." kata Lesti yang kembali secara tidak disadari sudah memaksa perempuan itu untuk memberikan uang.


    "Maaf, Ibu kalau boleh saya tahu, apakah Pak Podin ada di situ? Biar saya bisa bicara langsung dengan Pak Podin .... Saya ingin minta penjelasan Pak Podin, bagaimana baiknya. Karena terus terang, saya tidak berani melepas keuangan tanpa sepengetahuan Pak Podin. Nanti kalau ada kekurangan malah dikira saya yang korupsi, Bu Lesti ...." begitu kata perempuan itu yang tentunya dia benar-benar cerdas untuk menjebak Lesti dan memberikan jawaban agar Lesti tidak lagi memaksa untuk meminta uang kepadanya.


Tentu mendengar kata-kata karyawannya itu, Podin langsung tersenyum dan mengacungkan jempolnya. Podin senang karyawannya itu bisa menjebak Lesti.


    "Maaf, Cik Melan .... Sementara ini Pak Podin sedang keluar. Tapi terus terang, tadi bilang kepada saya, dan kemarin-kemarin hari juga mengatakan kepada saya, kalau memang saya butuh uang bisa meminta kepada Cik Melan, itu Pesan Pak Podin." begitu kata Lesti lagi, yang kali ini sudah berbohong.


    Tentunya Podin langsung tertawa yang ditutupi mulutnya, agar tidak terdengar di HP. Bahkan perempuan muda itu juga tersenyum, karena apa yang dikatakan Bosnya itu benar adanya.


    "Maaf, Ibu .... Ini saya masih banyak pekerjaan. Nanti saja kalau Pak Podin sudah kembali, tolong Pak Podin disuruh menelepon saya, biar saya bisa membicarakannya secara langsung kepada Pak Podin. Karena di sini ada beberapa pos keuangan yang memang harus dijaga, tidak boleh keluar tanpa pertimbangan Pak Podin." begitu kata perempuan bagian keuangan tersebut, yang selanjutnya tentu Lesti tidak bisa memberikan jawaban apa-apa, karena memang di rumahnya, di dekat Lesti, sudah tidak ada Podin.


    Setelah HP itu dimatikan, Podin dan perempuan karyawannya bagian Keuangan itu tertawa geli. Karena ternyata Lesti yang baru saja dibicarakan benar-benar menelepon, dan meminta uang.


    "Hahaha .... Betul kan, Cik .... Apa yang saya katakan terjadi ...." kata Podin sambil tertawa, karena Lesti yang baru saja dibicarakan sudah meneleponnya.


    "Iya, Pak Podin .... Sekarang saya percaya, ternyata banyak perempuan yang mau dengan Pak Podin, mau menjadi istri Pak Podin, itu semua karena ingin mendapatkan uang, ingin memperoleh harta kekayaan Pak Podin." kata karyawannya itu kepada Podin.


    "Ya ..... Terus terang saya tidak sanggup punya istri yang demikian. Ini kasusnya sama denga Maya .... Dan lebih parah. Saya tidak menyangka sebelumnya. Makanya, begitu sampai di rumah, tahu kalau ternyata Lesti itu mata duitan, saya langsung pergi. Saya langsung tinggalkan rumah itu. Dan saya kembali kemari, kalaupun saya tidak punya rumah karena sudah dijual, saya bisa tidur di tempat ini. Seperti dulu, pertama kali saya datang di Jakarta, saya tidur di ruangan saya yang ada di sebelah itu. Ya, saya tidur di situ dan saya nyaman." begitu kata Podin kepada karyawan bagian keuangan itu.


    Cik Melan tersenyum. Podin juga tersenyum. Karena kini, Cik Melan sudah tahu apa yang dikatakan oleh Podin. Dan kenyataannya, semuanya yang dikatakan oleh Podin adalah benar.


    Podin merasa senang, bisa bercurhat, bisa meyakinkan karyawannya, kalau dirinya tidak pernah berbohong tentang wanita-wanita yang sudah merusak kehidupannya. Bahkan, Podin memeluk Cik Melan sebelum pergi dari ruangan keuangan itu.

__ADS_1


__ADS_2