PULAU BERHALA

PULAU BERHALA
EPISODE 44: MINTA ANAK


__ADS_3

    Setelah selamat dari bencana yang menimpanya, yaitu dikejar-kejar oleh para laskar dan para punggawa di istana Pulau Berhala, akhirnya Podin kembali ke rumah istri mudanya, di Jakarta. Tentu Podin sangat kecewa. Podin sangat tidak senang dan jengkel dengan kegagalannya itu. Karena saat dia akan menyerahkan anaknya, saat malam bulan purnama ketika Podin akan mempersembahkan anaknya, tetapi justru anaknya yang dipersembahkan di batu kisaran itu berubah menjadi seekor domba. Tentu Podin sangat malu. Bahkan Podin dikejar-kejar oleh para laskar untuk dihukum.


    Podin sendiri sangat heran, siapa seberanya yang mengganti Dewi bisa berubah menjadi seekor domba. Kenapa tiba-tiba saja anak perempuannya itu bisa berubah menjadi domba? Sipa yang menggantikan Dewi dengan seekor domba? Kapan dan di mana digantikannya? Apakah ada orang yang sengaja mempermalukan dirinya, sehingga ia tidak bisa untuk mengorbankan anaknya di Pulau Berhala itu? Tentu itu merupakan kejadian yang sangat mustahil dan tidak masuk akal.


    Dengan membawa rasa kesal itu, akhirnya Podin kembali ke Jakarta tanpa membawa hasil apa-apa. Hanya jengkel dan emosi. Dan tentu juga berimbas kepada istrinya.


    "Kenapa sih, Bang .... Kok kelihatannya kesal begitu ...?" tanya Maya pada suaminya.


    "Iya, Maya .... Abang gagal dapat uang ...." sahut Podin yang langsung melepasi semua pakaiannya yang kotor, dan membuangnya di ember yang ada di kamar mandi.


    "Memang ada apa ...? Gagal kenapa ...?" tanya Maya lagi yang sambil mengelus tubuh suaminya.


    "Yah ..., nasib apes ...." sahut Podin.


    "Apes bagaimana, Bang ...? Tidak dapat uang apa ...? Berarti gue juga tidak terima uang, dong ...." begitu kata Maya yang tentunya ingin tahu apa yang terjadi pada suaminya. Padahal sebenarnya, Maya sangat berharap untuk mendapatkan uang lagi dari Podin.


    "Sabarlah, Sayang .... Ini tadi ada kegagalan fatal .... Ini tadi saya dikecewakan oleh seseorang .... Saya dipermalukan di hadapan orang banyak .... Makanya ..., ini lihat tubuh saya ..., kecapean. Terus-terang, tadi ...,  kemarin malam saya dipermalukan oleh anak saya sendiri .... Itu, Dewi ..., yang masih bersekolah di kelas dua SD. Mohon tolong, Maya bisa pahami itu ...." kata Podin pada istrinya.


     "Tapi, Bang ..., Maya butuh uang .... Maya butuh perawatan .... Maya butuh uang untuk segala macam keperluan ...." kata Maya yang tentunya tetap ingin diberi uang suaminya.


    Podin semakin bingung, kepikiran kalau dirinya sudah tidak bisa menghasilkan uang lagi, karena kegagalannya saat akan mempersembahkan anaknya. Harapan untuk mendapatkan uang yang banyak sekali, namun ternyata bagi dirinya justru menjadi musibah, Podin harus dikejar-kejar oleh para prajurit istana itu, dan dia harus bersusah payah, berlari sampai ngos-ngosan untuk menyelamatkan dari kejaran di Pulau Berhala.


    "Maya ..., sebenarnya saya butuh anak .... Tapi kenapa sampai saat ini kamu belum hamil?" begitu tanya Podin pada istri mudanya.


    "Ya tidak gampang lah, Bang .... Itu butuh proses ...." jawab Maya.


    "Tapi aku pengin kamu beri anak kepada saya ...." kata Podin.


    "Ya ..., saya tahu itu, Bang .... Tetapi Abang sayang kepada istri, kan ...? Sayang, nanti kalau aku hamil ..., badan saya jadi jelek .... Badan saya jadi gendut .... Tubuh saya jadi tidak terawat lagi, Bang .... Nanti Abang kecewa melihat saya tidak cantik lagi ...? begitulah kata Maya pada suaminya.


    "Tapi saya butuh anak, Maya .... Saya pengen kamu punya anak untuk saya ...." jawab Podin yang tentu sangat ingin dapat anak dari Maya.


    "Tapi nanti aku jadi gembrot, Bang .... Aku takut ...." sahut Maya lagi yang tentunya memang khawatir, kalau hamil dan punya anak, pasti akan merubah kondisi tubuhnya. Ya, orang-orang sepeti Maya, yang ingin prima dengan penampilannya, tentu akan khawatir kalau tubuhnya berubah.


    "Tidak apa-apa, Maya .... Aku butuh anak dari kamu ...." kata Podin yang tetap berkeinginan agar Maya punya anak.


    "Iih, Abang .... Kenapa sih, memaksa Maya hamil ...?" tanya Maya yang memang sebenarnya tidak mau hamil, karena takut sakitnya.


    "Sayang .... Kenapa kamu tidak mau hamil ...?" kata Maya yang gemes sama suaminya.


     "Pokoknya saya pengin punya anak dari kami, Sayang ...." begitu kata Podin yang tentu saja ingin dapat anak. Tetapi Podin tetnunya masih merahasiakan niatannya.


    Akhirnya, karena saking gemesnya pada suaminya, Maya menyeret Podin masuk ke dalam kamarnya. Tentu akan memberikan anak untuk suaminya yang sudah merengek-rengek minta anak tersebut.


    "Ayo, Bang .... Kita bikin Anak sekarang .... Abang yang kerja keras ..., biar cepet jadi anak ...." begitu kata Maya yang langsung membuka seluruh pakaiannya. Dan mereka pun akhirnya melakukan pemenuhan kebutuhan biologisnya untuk mendapatkan anak.


    "Apa ini bisa langsung jadi ...?" tanya Podin pada istrinya.


    "Belum, Bang .... Kan aku ikutan KB ...." jawab Maya. Makanya selama ini ia tidak hamil.


    "Apa itu KB ...?" tanya Podin yang tidak tahu dengan maksud istrinya.

__ADS_1


    "Itu, Bang .... Pasang alat kontrasepsi .... Biar gak hamil .... Tapi kalau Bang Podin memang pengin punya anak dari saya, ya ..., besok akat kontrasepsinya aku lepas. Biar saya bisa hamil, Bang ...." kata Maya yang menjelaskan pada suaminya. Memang sebenarnya Maya tidak mau hamil, tidak mau direpotkan momong bayi. Makanya tanpa sepengetahuan Podin, Maya melakukan KB sendiri.


    "Berarti kalau tidak ikut KB, nanti bisa hamil ya ...?" tanya Podin yang baru tahu. Pantesan Maya tidak hamil-hamil, walau jatah Podin sampai diulang-ulang berkali-kali.


    "Iya, Bang .... Semoga saja besok Abang cepat punya anak dari saya. Makanya besok saya alat kontrasepsinya tidak akan saya pasang lagi." kata Maya pada suaminya.


    "Iya, Maya .... Semakin banyak anak yang kamu berikan kepada saya, Abang akan semakin senang .... Ya, itu seperti kata-kata mutiara, banyak anak banyak rezeki ...." kata Podin yang sebenarnya adalah untuk mencari alasan agar anak-anaknya itu nanti bisa dikorbankan, bisa dijadikan persembahan, bisa dijadikan tumbal untuk mendapatkan harta karun di Pulau Berhala setiap malam bulan purnama.


    "Iya, Bang .... Besok antar saya ke dokter ya, Bang ...." kata Maya.


    "Memang kenapa ...? Kamu sakit ...?" tanya Podin pada istrinya.


    "Melepas alat kontrasepsi, Bang .... Supaya bisa punya anak, Abang ...." begitu sahut Maya kepada Podin yang tentu tidak tahu permasalahan tentang KB.


    Memang, Podin itu orang desa, orang udik yang tidak tahu apa itu KB, bagaimana itu proses pengaturan kelahiran. Yang ia tahu adalah istrinya mau meladeni dan bisa menikmati malam bersama istrinya, melampiaskan nafsu biologisnya.


    Akhirnya, pagi itu Podin pun mengantarkan istrinya ke tempat dokter praktek yang melayani KB. Mengantarkan Maya untuk melepaskan alat kontrasepsi yang ada di dalam tubuhnya. Tentu setelah alat kontrasepsi itu dilepas, nanti kalau ia berhubungan dengan suaminya, maka akan terjadi pembuahan telur yang ada di dalam rahim Maya, yang dibuahi oleh zygot milik Podin yang selalu liar mencari sasaran. Tentunya, nanti Maya akan hamil.


    Malam harinya, kembali Maya menyeret Podin ke kamarnya. Ia memaksa suaminya untuk terus melakukan proses pembuatan anak.


    "Ayo, Bang .... Terus, Bang .... Lagi, Bang ...." Maya memaksa terus, hingga Podin kedodoran. Padahal itu adalah niatan Maya agar memperoleh kenikmatan dan kepuasan. Tetapi alasannya tentu agar cepat jadi anak.


    Dasar Podin orang oon. Dibohongi sama perempuan yang lebih lihai menurut saja.


    "Bagaimana rasanya ...? Sudah jadi apa belum ...?" tanya Podin pada istrinya, tentu dengan napas megap-megap, karena saking kelelahannya.


    "Ya belum lah, Bang .... Tidak secepat itu lah .... Makanya, Abang harus kuat untuk melakukan ginian terus, biar cepet jadi ...." sahut Maya yang sambil tersenyum puas.


    "Ya tidak secepat itu, lah Bang .... Kan ada prosesnya .... Saya harus hamil dulu .... Paling tidak nanti sembilan bulan, anak kita baru lahir, Bang." begitu kata Maya pada suaminya.


    "Sembilan bulan ...? Waduh ..., masih lama sekali, ya ...?" Podin sudah tidak sabar.


    "Iya lah, Bang .... Memang kalau hamil itu, manusia hamil itu, lamanya sekitar sembilan bulan sepuluh hari .... Tapi, Bang ..., besok kalau anaknya sudah lahir, kita mesti punya baby sitter, Bang .... Karena nanti tidak mungkin saya merawatnya sendiri. Nanti anak kita harus dirawat oleh baby sitter, Bang .... Setidaknya kalau kemana-mana, yang gendong, yang bawa, yang merawat, yang ngurusi semuanya baby sitter, Bang ...." begitu kata Maya kepada Podin yang sudah merencanakan untuk meminta baby sitter.


    "Kenapa harus pakai baby sitter ...? Saya butuh anak itu, akan saya berikan sebagai hadiah kepada raja yang sering memberi uang kepada saya .... Ya sang raja itu .... Dia minta anak dari saya, nanti anaknya akan diganti dengan uang, dibayar dengan harta benda ...." kata Podin yang terpaksa mengatakan niatannya untuk menukar anaknya dengan harta benda yang akan diberikan oleh sang raja.


    "Ooh ..., berarti anak kita nanti tidak kita rawat, Bang ...? Akan langsung diberikan kepada sang raja itu, Bang? Ibarat kata anak kita ini dijual ya, Bang ...?" tanya Maya kepada suaminya.


    "Bukan dijual .... Tetapi dipersembahkan untuk sang raja, diberikan .... Nantinya, anak kita yang dipersembahkan kepada raja itu akan dihganti dengan berbagai harta kekayaan dan uang .... Ini sebabnya, saya minta anak kepada kamu, anak itu nantinya memang ingin saya persembahkan kepada sang raja. Raja itu yang tinggalnya di istana, dan anak kita akan menjadi milik sang raja itu, nanti akan dibayar oleh sang raja, dengan memberikan uang kepada kita sebagai ganti dari anak kita yang diberikan kepada sang raja tersebut." kata Podin kepada Maya.


    Tentu Maya agak bingung. Belum bisa memahami dengan apa yang disampaikan oleh suaminya. Tidak tahu dengan maksud ucapan suaminya.


    "Bagaimana sih, Bang ...? Aku kok jadi bingung ...? Maksud Abang itu, terus anak kita nanti akan tinggal di istana kerajaan ...? tanya Maya kepada suaminya.


    "Iya, betul .... Nanti anak kita tinggalnya di istana kerajaan. Jadi kita yang bikin anak, begitu lahir anak itu langsung kita serahkan pada sang raja. Jadi tidak usah khawatir, kita tidak mengurusi anak kita, tidak merawat anak kita, tidak harus ambil baby sitter ...." jekas Podin pada istrinya.


    "Ooh begitu ya, Bang ...." kata Maya kepada suaminya.


    "Iya .... Gampang kan .... Masa kamu tidak mau hanya melahirkan anak, terus anaknya kita serahkan kepada sang raja, dan anak kita itu nanti hidup di istana, dirawat oleh ponggawa-ponggawa keraton di kerajaan sana. Anak kita itu tinggal di istana, dan kita diganti dengan uang yang sangat banyak. Tidak hanya uang, tetapi juga perhiasan-perhiasan." kata Podin kepada Maya, yang tentu memberikan alasan-alasan bahwa anaknya kelak akan diserahkan kepada raja. Tentunya Podin sudah punya niatan, yaitu mempersembahkan anak yang dilahirkan oleh Maya untuk dijadikan tumbal kepada penguasa Pulau Berhala. Namun tentunya Podin akan beralasan untuk merahasiakan perlakuan yang sesungguhnya. Tidak mungkin Podin akan menyampaikan itu semua kepada Maya. Alasannya hanyalah dipersembahkan kepada sang raja yang tinggal di istana.


    Tentu Maya juga senang, karena anaknya akan tinggal di istana kerajaan.

__ADS_1


    "Enak sekali ya, Bang .... Anak kita nanti bisa tinggal di istana, minta apa-apa pasti diberi, ya, Bang ...." kata Maya yang akhirnya juga tergiur dengan bujuk rayu suaminya.


    "Tidak hanya itu, Maya .... Yang jelas, ibarat kata, kita ini akan diberi uang yang banyak, akan diberi perhiasan beraneka rupa, akan diberi intan permata, akan diberi koin-koin emas oleh sang raja. Itu kalau kita bisa memberikan anak kita kepadanya." begitu kata Podin kepada Maya, yang tentu semakin membuat Maya tergiur. Podin menjelaskan kalau nanti, seandainya ia menyerahkan anaknya itu di kerajaan, maka ia akan memperoleh uang yang banyak, akan memperoleh perhiasan yang banyak.


    "Benar seperti itu, Bang ...?" sahut Maya, yang tentu dia juga penasaran betul dengan ucapan suaminya itu.


    "Iya ..., betul .... Perhiasan yang dulu saya bawa itu ..., semuanya dari sang raja." jawab Podin.


    "Kenapa bisa seperti itu, Bang ...? Memang raja itu tidak punya anak, sehingga dia butuh anak dari kita?" Maya ingin tahu apa yang dilakukan oleh sang raja, ingin tahu dengan apa yang nanti akan dilakukan oleh suaminya dalam menyerahkan anaknya itu kepada sang raja.


    "Dulunya begitu .... Tetapi sekarang banyak orang yang membawa anaknya ke situ. Raja itu, dia dulu tidak punya anak, lantas dia itu mengumpulkan anak-anak dari berbagai penjuru, dia mengumpulkan anak-anak dari siapa saja yang mau memberikan anaknya kepada dia, dan anak kita itu nanti akan dibayar dengan mahal, Maya. Iya, nanti uang kita akan menumpuk lagi, akan banyak lagi, akan berlimpah lagi. Begitu kita menyerahkan anak kita ke istana kerajaan itu, kita akan langsung menjadi kaya raya." begitu penjelasan Podin kepada Maya.


    "Waah ..., enak sekali, Bang .... Kalau misalnya kita memberikan anak itu tidak cuman satu, bagaimana ya?" tanya Maya yang justru kini semakinpenasaran. Tentunya tergiur dengan kata-kata Podin yang akan mendapat uang dan harta kekayaan yang banyak tadi.


    "Semakin sering memberikan anak kepada sang raja itu, tentunya harta kita semakin banyak .... Kalau pengin seperti itu, ya ..., kita bikin anak terus saja ...." jawab Podin.


    "Berarti anak kita dibeli sama raja itu ya, Abang ...." sahut Maya.


    "Ya .... Anak kita ditukar dengan harta karun itu." jawab Podin.


    "Wah, asik juga ya, Bang .... Kita bisa kaya mendadak, Bang." kata Maya yang langsung tersenyum bungah. Dasar perempuan matre.


    "Iya, benar .... Itulah sebabnya, maka saya pengen kamu punya anak, dan anak itu akan saya serahkan kepada sang raja. Anak itu nantinya akan diganti dengan harta kekayaan yang sangat berlimpah." kata Podin.


    "Begitu ya, Bang .... Berarti kalau kita punya anak banyak, harta kekayaan yang diberikan juga semakin banyak ya, Bang .... Waah, enak sekali, Bang .... Kita bikin anak terus saja, Bang ...." kata Maya yang semakin tergila-gila membayangkan harta kekayaan yang akan didapatkannya.


    "Betul ...." tentu menyaksikan istrinya tersenyum senang, Podin pun puas, Tentunya ia akan mendapatkan anak dari Maya untuk dipersembahkan kepada sang penguasa Pulau Berhala.


    Tentunya Maya juga senang hati, Maya akan mempunyai perhiasan yang sangat banyak, dan ia akan mengenakan perhiasan dengan aneka warna dan model. Tentu itu sangat menyenangkan. Ia bisa pamer ke kelompok sosialitanya, tidak akan malu kalau dibandingkan dengan para artis yang glamor itu. Pastinya, lamunan Maya sudah membayangkan, bagaimana nanti dirinya setiap hari akan berganti-ganti perhiasan.


    Bagi Maya, tidak masalah kalau hanya melahirkan anak. Bahkan ia siap untuk melahirkan berkali-kali. Yang penting anaknya nanti tidak dirawat sendiri, dan anaknya nanti akan diserahkan kepada raja yang sudah memberikan harta kekayaan kepada suaminya.


    Maya yang otaknya hanya berisi harta benda, yang dipikirkan selalu kemewahan, yang dipikirkan selalu kekayaan, maka ketika mendengar hal itu dari suaminya, pasti dia sangat senang. Ya, Maya yang tergila-gila dengan kekayaan itu, begitu mendengar suaminya akan menyerahkan anaknya kelak kalau sudah lahir, dan akan ditukarkan dengan harta karun kepada sang raja di istana kerajaan, maka dia pun merasa senang, merasa bahagia, dan tentu kalau hanya sekedar hamil dan melahirkan saja, itu tidak masalah bagi dirinya.


    Akhirnya, Maya pun hamil. Mengandung untuk anak yang pertama, yang tentunya sangat ditunggu-tunggu oleh Podin. Maya sudah mulai merasa, bahwa di dalam perutnya sudah ada orok yang mulai bergerak. Ia pun mulai merasakan bahwa orang hamil itu sangat berat. Ya, orang hamil itu sangat susah. Maya membawa beban dalam perunya.


    Tetapi bagi Podin, melihat istrinya hamil, adalah sesuatu yang sangat menggembirakan. Sesuatu yang sangat menyenangkan. Kandungan yang ada di dalam perut Maya adalah harta kekayaan yang ditunggu-tunggu kedatangannya.


    Podin harus bersabar. Ia harus menunggu cukup lama. Menunggu dalam kurun waktu sembilan bulan sepuluh hari. Tentunya itu bukan waktu yang pendek. Itu bukan waktu yang singkat. Itu waktu yang melelahkan. Apalagi kalau dia harus menunggu kelahiran anak, dan tentunya harus meladeni Maya, istrinya yang kembali bermanja saat hamil. Tentu Maya minta macam-macam. Minta ini, minta itu. Ingin ini, ingin itu. Ya, katanya itu adalah ngidam, bawaan sang bayi. Seperti itulah kenyataannya.


    Tentunya, Podin kembali bersedih, karena ia tidak punya uang. Uangnya hanya bersumber dari perusahaan tempat hiburan yang dikelolanya. Tempat karaoke yang memang sudah dikelola oleh Podin dan Maya. Maka Podin pun hanya pasrah kepada istri mudanya itu, yang saat ini tengah hamil. Podin pun hanya bisa menerima apa yang diatur oleh istri mudanya itu. Hasil usaha dari perusahaan yang dia miliki, yaitu tempat hiburan karaoke, yang pasti tidak begitu banyak uang yang masuk. Setiap harinya ada saja kebutuhannya. Apalagi mereka juga harus membayar karyawan, membayar segala macam kebutuhan. Pasti uang itu sudah diatur sedemikian rupa untuk memenuhi kebutuhan perusahaannya. Untuk makan, tentu mereka juga masih kebingungan. Setidaknya untuk kebutuhan hidup Maya yang sudah mulai memanja dengan alasan ngidam, katanya sebagai bawaan sang bayi. Maya kalau minta apa-apa harus dituruti.


    Podin, hanya bisa menepuk jidatnya. Dia bingung. Dia tidak bisa memenuhi semua apa yang diminta oleh istrinya. Jika sudah bicara "bawaan sang bayi" maka harus segera dipenuhi.


    "Maya .... Abang ini sudah tidak punya uang .... Janganlah minta macam-macam dengan alasan bawaan bayi .... Biarin saja bawaan bayi tidak usah dituruti .... Toh nanti kalau bayi itu lahir, akan saya bawa ke istana kerajaan .... Sudahlah, tidak usah minta macam-macam ...." kata Podin yang tentu berusaha menolak perminyaan Maya.


     Maya pun Diam. Tidak bisa berkata apa-apa, dan tidak bisa meminta apa-apa lagi. Tentu karena anak yang dia kandung itu, nantinya bukan menjadi miliknya. Tetapi akan diserahkan kepada raja yang menguasai istana kerajaan, yang oleh suaminya sudah sangat kenal dan dekat.


    Ya, Podin memang menceritakan kalau dirinya sangat dekat dengan raja itu. Sangat kenal baik dengan raja itu. Makanya ia tidak ragu-ragu untuk menceritakan kebaikan sang raja itu, yang selalu memberikan uang, selalu memberikan harta kekayaan, bahkan memberikan emas, intan permata dan berbagai perhiasan-perhiasan yang sangat menarik. Akhirnya, permintaan Maya tidak dipenuhi. Hasratnya untuk meminta ini, meminta itu yang katanya ngidam itu, tidak dipenuhi oleh Podin. Memang, sebenarnya harus dimaklumi bahwa Podin saat itu tidak punya uang sama sekali. Podin tidak banyak membawa uang perusahaan. Yang menguasai keuangan perusahaannya adalah istrinya. Keuangan perusahaannya dipegang oleh istrinya. Uang perusahaan, bahkan untuk makan pun semua yang mengatur adalah Maya. Dan semua yang mengatur rumah tangganya bersama Podin, disediakan dan diatur oleh Maya.


    Memang, ibarat kata Podin ini diperas oleh Maya. Untuk mengadakan semua kebutuhan, yang mencari uang adalah Podin. Tetapi untuk urusan memakai uang dan untuk senang-senang, adalah Maya. Tentunya Maya ingin mengikuti persaingan di dalam kehidupannya yang selalu dimunculkan pada kelompok sosial. Makanya, Maya selalu menuntut suaminya untuk memberikan uang sebagai pemenuhan kebutuhan di dalam bersosialita, bersaing hidup di kota metropolitan. Persaingan kehidupan yang selalu diwarnai dengan gengsi, yang selalu diwarnai dengan segala macam kemewahan yang harus dipamerkan.

__ADS_1


__ADS_2