PULAU BERHALA

PULAU BERHALA
EPISODE 101: KENA GODAAN


__ADS_3

    Malam itu, dalam suasana gundah, gelisah dan bingung, Lesti mencoba mengirim WA kepada Cik Melan. Isi dari chat WA yang dikirim itu, Lesti menanyakan suaminya, Podin. Apakah Podin masih ada di tempat usahanya, ataukah sudah pulang. Jika suaminya masih ada di tempat usahanya, Lesti ingin menelepon, untuk bicara dengan suaminya, dengan cara pinjam HP milik Cik Melan. Yah, Podin tidak punya HP dan tidak mau pakai HP. Itulah yang menyebabkan komunikasi dengan suaminya menjadi masalah bagi Lesti. Tentunya Lesti yang sedang menghadapi masalah dengan datangnya Om Toro itu, ia ingin menyampaikan masalah itu kepada suaminya. Dan pasti Lesti ingin agar suaminya segera pulang. Setidaknya Podin bisa menjaga istrinya di rumah, bisa mengayomi dan melindungi saat ada orang yang berniat kurang baik kepada dirinya.


    Namun kenyataannya, setelah Cik Melan menjawab WA yang dikirimnya, ternyata suaminya waktu itu hanya sebentar saja datang ke tempat usahanya. Bahkan sore itu, Podin yang datang ke tempat usahanya, hanya melihat bekas tempat yang terbakar, dan tempat itu sudah diperbaiki. Podin yang datang hanya bertemu dan bicara sebentar dengan Cik Melan, dan selanjutnya sudah pergi sebelum malam larut. Ya, pastinya Cik Melan tidak berbohong pada Lesti yang menanyakan tentang keberadaan suaminya tersebut.


    Tentu Lesti jadi kepikiran. Ke mana perginya suaminya itu? Padahal katanya, ia hanya ingin mengontrol tempat usahanya, mengawasi tempat karaoke yang ada di Jakarta itu. Namun kenyataannya, dari jawaban Cik Melan tersebut Lesti bisa menyimpulkan, bahwa Podin hanya datang sebentar saja menengok tempat usahanya itu.


    Dan kini, yang menjadi pertanyaan dalam hati Lesti adalah, ke mana sekarang suaminya berada?


    "Sial .... Akang Podin tidak punya HP, tidak bisa di WA, tidak bisa dihubungi. Akang Podin ..., sekarang kamu ada di mana, Akang?" begitu gerutu Lesti yang jengkel karena tidak tahu kabar berita dari suaminya yang sudah berhari-hari pergi berpamitan ke Jakarta tersebut.


    Pikiran Lesti jadi macam-macam. Pikiran yang buruk tentu bergemuruh dalam batinnya. Pastinya Lesti mulai curiga dengan kelakuan suaminya itu. Sedangkan pikiran yang baik tentang suaminya, Lesti belum menemukan. Yah, itu semua karena Podin kala bertemu dengan Lesti hanyalah seseorang laki-laki yang butuh pijat pada dirinya, dan kemudian ikut-ikutan mencoba diri Lesti. Sama seperti halnya orang-orang lain yang pijat kepadanya dan mengajak untuk kencan di hotel. Juga sama dengan Om Toro yang beberapa hari ini datang kepadanya.


    Namun kala itu, Podin yang mengaku duda, tidak punya keluarga, langsung mengajak Lesti untuk nikah, dan itu pun hanya nikah siri. Begitu saja gampangnya. Padahal Podin belum menunjukkan jati dirinya yang sesungguhnya. Ia hanya mengaku kalau istrinya meninggal saat melahirkan bayinya, dan mati bersamaan. Tentunya Lesti percaya begitu saja tanpa tahu bukti-buktinya. Apalagi kala itu Podin sangat terlihat sebagai orang baik dan alim. Bahkan, setelah menikah pun Lesti bersama keluarganya diboyong berpindah rumah dan menempati ruko yang kini jadi tempat tinggal dan tempat usahanya itu.


    Sudah seminggu lebih Podin pergi meninggalkan rumah, yang berpamitan pergi ke Jakarta untuk mengawasi dan melihat tempat usahanya, yaitu hiburan karaoke. Dan waktu itu, Podin pun mengatakan akan mengambil keuntungan dari tempat usahanya untuk menambah keuangannya di Padalarang.


    Namun saat Lesti mengirim chat WA kepada Cik Melan, ternyata tempat usahanya sedang mengalami kekurangan dana, karena kasus kebakaran yang harus mengganti banyak perangkat dan bangunan. Dan Podin yang datang ke tempat itu hanya sebentar, dan langsung pergi.


    Tetapi, kemana perginya Podin selama seminggu ini? Kenapa dia tidak mengabari melalui Cik Melan? Mengapa dia juga tidak bilang kepada Lesti kalau dia akan pergi ke tempat lain?


    Pikiran buruk pun berkecamuk di benak Lesti, ketika ia mendengar cerita dari Cik Melan, bahwa istrinya Podin yang dulu, yang bernama Maya, adalah mantan seorang pegawainya yang bekerja sebagai pemandu karaoke. Ya, tentu Lesti langsung membayangkan bagaimana keadaan seorang pemandu karaoke itu. Tidak lebih dari dirinya yang menjadi juru pijat jari lentik. Pasti putih juga mengalami masa-masa yang menyenangkan bersama Maya, istrinya yang sudah dikabarkan meninggal itu.


    Tetapi benarkah cerita Podin tentang istrinya yang dikatakan meninggal tersebut? Jika memang meninggal, di mana kuburannya? Jika memang masih hidup dan ditutup-tutupi oleh Podin, di mana sebenarnya istrinya yang bernama Maya itu? Apakah dia sudah benar-benar meninggal, atau itu hanya cerita karangan dari Podin belaka,  agar bisa menikah lagi dengan Lesti? Ya, pikiran Lesti kembali berkecamuk. Mungkinkah di hari-hari yang lain itu, setelah ia pulang dari tempat usahanya itu, kemudian Podin menuju ke tempat istri tuanya, yaitu Maya?


     "Hai ..., Lesti .... Gimana kabar kamu?" suara seorang laki-laki yang baru saja masuk ke toko tempat Lesti berjualan.

__ADS_1


    Lesti sudah mulai fasih dengan suara itu. Om Toro. Ya benar, laki-laki yang datang menyapanya itu adalah Om Toro. Tentu Lesti kembali bingung, karena laki-laki yang usianya lebih dari setengah abad itu, yang selalu dipanggil Om Toro itu, datang kembali ke toko Lesti. Dan pastinya, laki-laki itu tidak akan jemu-jemu untuk datang dan selalu mengganggu kehidupan Lesti. Pasti dengan alasan merindukan pijatan Lesti.


    "Baik, Om ...." jawab Lesti yang tetap sambil menata barang dagangannya.


    "Bagaimana, apakah Lesti bisa memijat saya hari ini?" tanya laki-laki yang masih mengenakan kacamata hitam dan topi bundar tersebut.


    Lesti diam tidak menjawab pertanyaan dari laki-laki tersebut. Iia justru meladeni seorang bocah yang datang ke tokonya berbelanja jajanan di tokonya itu. Namun tentu suasana hati Lesti sudah kacau. Setiap laki-laki itu datang, pasti mengatakan rindu ingin dipijat. Dipijat bagian mananya?


    Laki-laki itu sabar menunggu sampai pecah yang berbelanja itu selesai untuk mendapatkan barangnya. Dan itu pun tidak butuh waktu lama, karena pastinya bocah itu hanya belanja dalam jumlah yang sedikit, dan setelah membayar belanjaan, pasti langsung pergi. Kembali laki-laki itu mendekat kepada Lesti yang berada di meja kasir.


    "Bagaimana, Lesti? Apakah uang yang saya berikan kemarin masih kurang? Jika perlu saya tambah lagi." kata laki-laki itu kepada Lesti.


    Lesti semakin bingung, dia harus berbuat apa. Antara menolak dan menerima tawaran laki-laki itu. Tetapi bagaimana mungkin, kalau sekarang posisi Lesti sedang berjualan, sedang membuka toko?


    "Ee ..., ada tamu .... Mau beli apa?" tiba-tiba ibunya Lesti keluar dari ruang dalam, dan ke toko. Ya, seperti biasa ibunya Lesti sering membantu anaknya untuk meladeni para pelanggan yang belanja di toko itu.


    "Eealah .... Seperti itu .... Terus, Bapak ini datang kemari mau pijat lagi sama Lesti?" tanya perempuan itu kepada laki-laki yang tampan dan gagah, kelihatan sangat perlente tersebut, yang sudah berhadapan dan berbincang dengan Lesti. Kelihatannya sedang berembuk masalah minta pijat.


    "Betul, Bu .... Terus terang saya itu kangen dengan pijatan Lesti .... Sayang, Lesti sudah tidak mau memijat lagi. Padahal saya sanggup membayar mahal ongkos pijatnya, Bu." kata laki-laki itu, yang tentu sambil tersenyum.


    "Lah ..., kenapa Lesti tidak mau? Kan lumayan .... Malah pelanggannya mau batar mahal gitu." kata ibunya Lesti, yang tentunya tertarik dengan janji laki-laki itu yang katanya kalau mau memijat, akan dibayar berapapun yang diminta.


    "Maaf, Bu ..., tapi saya kan harus jaga toko. Kalau saya mijat lagi, siapa yang akan ngurusi toko ini?" sahut Lesti, yang tentunya beralasan tidak mau memijat laki-laki itu.


    "Lah ..., biar saya yang jaga toko. Kamu mijat saja .... Nanti kalau sudah selesai, baru kembali ke toko. Selama kamu memijat, ya biar saya yang jualin para pelanggan yang beli di toko ini." kata ibunya Lesti yang tentunya tidak paham dengan bagaimana pijat yang akan dilakukan oleh anaknya. Yang penting bagi perempuan tua itu ingin anaknya dapat uang dari hasil memijatnya.

__ADS_1


    "Tapi, Bu ..., biasanya kalau pijat ya harus ditempat khusus, di kamar biar tidak dilihat orang .... Saya kan sudah tidak kerja di panti pijat lagi." kata Lesti yang tentu dia beralasan, karena sebenarnya ia tidak ingin orang tuanya tahu sejarah buruknya dengan laki-laki yang kini datang menemuinya lagi itu.


    "Lah, kalau misalnya pijat di sini, kan bisa .... Kan di atas ada kamar kamu." kata ibunya memberi saran.


    "Ya, tidak apa-apa .... Saya bersedia, Lesti .... Di kamar kamu juga mau. Tidak harus ke hotel ...." tiba-tiba saja laki-laki itu mengatakan bersedia kalau dia akan dipijat di kamarnya Lesti.


    "Tapi ...." Lesti bingung, tidak bisa berbuat apa-apa. Ia kehabisan alasan.


    "Sudah, Lesti .... Sana kamu pijat saja Bapak ini .... Nggak papa, paling-paling sebentar .... Biar Ibu yang jaga warung kamu, Ibu yang melayani toko ini. Kalau ada pembeli, biar Ibu yang jualin." begitu kata ibunya Lesti, yang tentu justru memberi kesempatan kepada laki-laki itu untuk dipijat oleh Lesti.


    Namun sebenarnya, pemikiran dari perempuan tua itu jauh berbeda dengan Lesti. Kalau ibunya memikirkan hasil dari Lesti memijat. Dan jika Lesti memang pandai memijat, dan banyak orang yang datang mau pijat kepadanya, pasti lumayan, dapat uang banyak, bisa untuk tambahan penghasilannya. Tetapi bagi Lesti, sebenarnya dia menghindari laki-laki itu, karena tentu laki-laki itu nanti kalaupun dipijat, pasti akan minta layanan plus-plus yang macam-macam. Ya, Lesti sudah biasa melayani orang-orang seperti itu.


    "Sudahlah, Lesti .... Saya datang jauh-jauh ingin dipijat. Kalaupun tidak bisa di hotel, di sini juga tidak apa-apa. Kalau Lesti mau memijat saya, nanti mau minta bayaran berapa, Om Toro akan bayar kamu. Tidak usah khawatir dengan dagangan kamu. Percayalah kepada saya Lesti, kalaupun misalnya kamu ingin beli ruko lagi yang lebih besar dari ini, Om Toro siap untuk membantumu." begitu kata laki-laki itu, yang tentu kata-kata itu juga didengar oleh ibunya Lesti. Dan pasti ibunya Lesti akan senang dan tergiur dengan kata-kata dari laki-laki itu.


    "Sudahlah, Lesti .... Sana, kamu pijat saja Om yang ganteng ini, Om yang banyak duitnya ini." kata ibunya yang menyuruh Lesti untuk memijat laki-laki itu.


    Lesti kembali berpikir, suaminya sekarang ada di mana? Podin saat ini bersama siapa? Laki-laki yang sudah menikahinya itu, saat ini sedang ngapain? Suaminya sudah satu minggu lebih tidak ada kabar beritanya. Ia sudah tidak berada di tempat usahanya. Lantas, kemana sebenarnya suaminya itu? Kelakuan Podin yang tidak tahu urus itu pastinya juga membuat jengkel hati Lesti.


    Ditambah lagi, Lesti sudah menerima amplop yang ditinggal oleh Om Toro. Amplop itu ternyata berisi uang dua puluh lima juta. Dan kini laki-laki yang datang minta dipijit itu juga berjanji akan memberikan bayaran berapapun yang diminta Lesti. Bahkan siap membelikan ruko yang lebih besar. Pastinya, Om Toro bukanlah laki-laki yang mudah diremehkan. Tetapi dia adalah laki-laki yang keren. Om Toro lebih ganteng dari Podin. Om Toro lebih gagah dari suaminya. Bahkan mobilnya juga lebih mewah, tidak seperti mobil Podin yang sudah kuno dan ketinggalan zaman.


    Pikiran Lesti pun menjadi goyang. Dan akhirnya, Lesti pun menyetujui, mau memijat kembali laki-laki yang sudah ada di hadapannua itu.


    "Yakin, Om Toro mau bayar mahal pada saya?" tanya Lesti pada laki-laki itu.


    "Amplop yang saya berikan kemarin itu masih terlalu kecil, Lesti .... Itu masih terlalu sedikit untuk kamu, Lesti. Nanti Om Toro akan kasih kamu yang lebih banyak lagi. Kalau kamu tidak percaya, apa yang akan kamu minta,  pasti akan kuberikan." begitu kata laki-laki itu kepada Lesti.

__ADS_1


    Akhirnya, Lesti luluh dengan janji-janji laki-laki itu. Lesti tergoda oleh rayuan laki-laki itu. Dan tentunya, Lesti tergiur dengan uang yang ditawarkan oleh laki-laki itu. Lesti sudah kena godaan harta kekayaan yang dipamerkan oleh laki-laki yang terus merayunya.


    Mereka berdua pun langsung naik ke lantai dua. Lesti mengajak laki-laki itu, yang sengaja mengejar-ngejar dirinya, masuk ke dalam kamarnya. Ya, Lesti akan kembali berprofesi sebagai juru pijat plus-plus. Tetapi kali ini yang dipijat adalah pasien istimewa, laki-laki yang gagah dengan uang yang berlimpah.


__ADS_2