PULAU BERHALA

PULAU BERHALA
EPISODE 35: PIKNIK


__ADS_3

Setelah ketemu anaknya yang baru saja pulang dari mall itu. Saat anaknya yang turun dari angkutan kota dengan membawa banyak bungkusan plastik yang berisi aneka ragam pakaian dan mainan yang dibelikan oleh orang yang menyebut dirinya sebagai saudaranya, tentu tiga orang anak kecil itu sangat senang dan bahagia karena mendapatkan pakaian-pakaian serta mainan-mainan yang baru-baru dan bagus-bagus, yang barusan saja ya dibelikan oleh orang laki-laki yang katanya adalah saudaranya itu. Ya, mereka berbelanja di mall. Dan tentunya mereka sangat senang karena tiga orang anak itu memilihnya sendiri dan bebas untuk menentukan pilihannya sendiri-sendiri.


    Benar, Asri, Dewi maupun Antok memilih pakaian yang ia sukai. Bahkan tidak hanya satu potong baju saja. Tetapi ada beberapa potong yang mereka ambil dari rak pakaian yang ada di mall itu. Dan tentunya, mereka juga senang karena disuruh memilih mainan yang ia sukai. Seperti halnya Dewi, yang memilih boneka guling. Begitu juga Asri yang juga memilih boneka yang ia senangi. Sedangkan Antok, ia memilih mobil-mobilan. Ya, dengan membawa tiga tas plastik bertuliskan mall, yang di cangking oleh masing-masing anak itu, mereka kembali pulang ke ruko ibunya.


    "Ibu .....!!" begitu Asri yang langsung berteriak memanggil ibunya, sebagai pertanda bahwa ia sudah sampai di rumah.


    Lantas ibunya pun menyambut kedatangan tiga anaknya itu dengan senang hati. Karena anak-anaknya membawa tas plastik besar-besar yang berisi aneka ragam pakaian dan mainan. Ya, tentu Isti senang menyaksikan anak-anaknya yang hari itu bergembira.


    Tiba-tiba saja, saat tiga orang anak itu masuk ke ruko ibunya, ruko milik orang tuanya, Podin keluar dari mobil, ikut menyambut kedatangan anak-anaknya. Podin menemui anak-anaknya itu, dan langsung memegang tangan anak-anaknya. Dan tentunya, anaknya senang saat melihat kedatangan bapaknya.


    "Bapak ....!!!" begitu anak-anaknya berteriak menyambut kedatangan bapaknya.


    Mereka pun saling berpelukan. Podin yang sudah berniat akan membawa anak-anaknya itu, tentunya ia berpura-pura menawarkan akan mengajak piknik ketiga anaknya yang kecil-kecil tersebut. Tentu karena akan diajak berwisata, maka anak-anaknya pun senang.


    "Ayo ..., sekarang kita pergi sama Bapak .... Kita piknik ...." begitu kata Pudin pada ketiga anaknya itu.


    "Yang benar, Bapak ...?!" Dewi menanya.


    "Asik  ... Bapak pulang mau mengajak kita piknik ...." sambut anak-anaknya yang tentu merasa bahagia, merasa gembira, karena bapaknya sudah pulang dari rantau yang ada di Jakarta, dan kini bapaknya juga akan mengajak piknik.


    Akhirnya ketiga anak itu memeluk bapaknya, serta mencium tangan bapaknya. Karena saking gembiranya.


    "Ayo ..., kita piknik sama Bapak .... Kita bertamasya .... Kita bergembira ...." begitu kata Podin yang tentu niat jeleknya itu akan ia lancarkan saat ketemu dengan anak-anaknya. Tentunya Podin akan mengajak anak-anaknya itu untuk dijadikan tumbal berhala yang sudah disepakati dengan si penjaga yang ada di Pulau Berhala itu.


    "Asyik .... Kita mau diajak piknik sama Bapak ...." tentu anak-anaknya gembira mendengar ajakan bapaknya untuk berwisata.


    "Piknik ke mana, Pak ...?" begitu tanya Dewi yang tentu sangat ingin diajak piknik oleh orang tuanya.


    "Ya .... Nanti kita akan piknik ke pantai ...." begitu kata Podin yang tentu sudah merancang niatan jahatnya itu.


    "Asik .... Kita akan piknik ke pantai ...." begitu kata anak-anaknya yang gembira karena akan diajak piknik ke pantai oleh bapaknya.


    "Ibu diajak, Pak ...?!" tanya Dewi.


    "Tidak usah .... Kita saja ...." jawab Podin yang tentu tidak bakalan mau kalau ada ibunya. Nanti malah merusak acaranya.


    Tentunya, Isti yang mendengar kata-kata suaminya itu, dia kecewa, karena tidak diajak serta berpiknik oleh suaminya.


    "Lho ..., kok tidak diakak, Pak ...?" tanya Dewi yang agak kecewa.


    "Ibu biar jaga toko ...." jawab bapaknya.

__ADS_1


    Akhirnya, Podin bisa mengajak anak-anaknya. Dan akhirnya mereka pun bersiap untuk berangkat berpiknik.


    "Ayo .... Semuanya masuk mobil .... Kita berangkat, kita akan piknik sekarang .... Kita akan ke pantai .... Kita akan bersukaria .... Kita akan bergembira, piknik di pantai ...." begitu kata Podin yang tentu semakin membuat anak-anaknya itu ingin segera berangkat ke pantai.


    Dan selanjutnya, tiga anak itu diajak masuk ke dalam mobilnya. Tetapi ibunya, Isti, yang tidak diajak dengan alasan ibunya biar jaga toko, cari uang, ibunya biar menjaga rumahnya, supaya nanti dapat uang yang banyak, itu hanyalah alasan Podin kepada istrinya. Tentunya agar rencananya untuk mengajak anak-anaknya masuk ke Pulau Berhala bisa berjalan lancar.


    Tentu istrinya kecewa, dan dalam hatinya, pasti Isti bertanya-tanya, kenapa suaminya sekarang sudah tidak mau lagi mendekati dirinya? Kenapa suaminya sekarang sudah tidak mau lagi untuk berbaik kepada dirinya? Namun, meski dalam kekecewaan itu, Isti tidak menganggap masalah. Yang penting anak-anaknya bisa berbahagia bersama bapaknya.


    Podin sudah mulai menyalakan mesin mobilnya. Anak-anaknya yang tiga orang masih kecil-kecil itu sudah bersiap, sudah duduk di dalam mobil. Dan tentunya, anaknya yang paling kecil, yaitu Antok, duduk di tengah, berada di antara dua kakak perempuannya.  Ya, mereka bertiga berada di jok tengah, walaupun sebenarnya mereka ingin untuk melihat pemandangan di depan. Tidak jadi masalah, karena Dewi dan Asri harus menjaga Antok yang masih kecil.


    Betapa senangnya hati Podin, karena niatannya untuk membawa anak-anaknya ke Pulau Berhala berjalan sangat lancar. Bahkan sangat mudah. Niat jahatnya bakal terlaksana. Hati Podin sangat gembira, karena sebentar lagi ia akan kembali menjadi orang yang kaya raya. Podin menjadi senang, selalu bergembira, bahkan juga menggoda anak-anaknya. Tentunya, karena sebentar lagi ia akan pulang membawa harta karun yang berlimpah-limpah dari Pulau Berhala.


    Ya, tentu di dalam mobil itu pun mereka saling bercanda. Podin tidak mencurigakan sama sekali, dan tentunya anak-anak pun juga senang dan tidak ada rasa khawatir sama sekali. Karena baru kali ini dia akan diajak piknik ke pantai oleh bapaknya. Ya, tiga orang anak itu terlihat senang dan gembira dengan wajah yang ceria. Mereka sudah membayangkan akan bermain air, bermain pasir di pantai.


    Dalam waktu yang lumayan lama, sekitar satu jam perjalanan, Podin menyetir mobilnya menuju ke pantai di seberang Pulau Berhala, tempat ia selalu meminta harta karun kepada penguasa Pulau Berhala itu. Dan akhirnya, mereka berempat, Podin bersama anak-anaknya, sampai di jalanan tepi pantai. Podin memarkirkan mobilnya. Lumayan agak jauh, karena memang tidak ada jalan masuk ke pantai. Mereka turun dari mobil itu dan langsung berjalan kaki menuju ke pantai. Podin sudah hafal tempatnya. Podin sudah hafal jalan yang harus dilaluinya. Karena ia sudah berkali-kali pergi ke tempat itu. Maka Podin mengajak ketiga orang anaknya itu, langsung menuju ke pantai yang nantinya akan dijadikan sebagai tempat untuk menunggu perahu yang akan menjemputnya. Ya, mereka berempat pun sampai di pantai.


    "Asik .... Kita sampai di laut ...." anak-anaknya langsung berteriak.


    Begitu menyaksikan lautan yang terhampar luas, tiga orang anaknya itu tentu senang, tentu gembira karena mereka melihat air yang melimpah, mereka menyaksikan indahnya lautan yang maha luas, dan bahkan mereka tentu sangat gembira karena bisa bermain air di pantai itu. Ya, tentu tiga orang anak itu pun langsung menuju ke tepi pantai untuk bermain air.


    "Pak ..., kami main air di sini, ya ...." kata Dewi yang meminta izin kepada bapaknya.


    "Ya, jangan jauh-jauh ...." jawab Podin, yang tentu sudah tengaktengok memandangi ke arah lautan, memandangi ke arah Pulau Berhala, mencari tukang kapal yang akan mengantarkannya ke pulau itu.


    Tentunya, gelombang kecil yang ada di laut itu tidak berpengaruh besar terhadap anak-anak. Tidak menakutkan anak-anak bergembira bisa bermain basah-basahan untuk bersenang-senang di tepi pantai. Pasti tiga anak kecil itu sangat senang bermain air yang menyenangkan.


    Namun berbeda dengan Podin yang niatannya adalah membawa anak-anaknya masuk ke Pulau Berhala itu. Ia berdiri menatap ke lautan lepas, tentu dirinya sedang menunggu datangnya sang pemilik perahu, datangnya sang penjemput yang akan mengantarkannya menuju ke Pulau Berhala. Podin berdiri tegak di tepi pantai itu, di tempat yang biasanya dirinya selalu dijemput oleh tukang perahu itu. Pada batuan di bawah gubug kecil yang pertama kali dirinya datang ke sana. Podin terus memandangi lautan lepas ke arah Pulau Berhala, mencari datangnya sosok tubuh tanpa kepala, dengan pakaian yang rapat menutup tubuhnya. Seperti mengenakan jubah panjang hingga menutup leher, serta mengenakan caping keropak besar yang menyembunyikan kepalanya. Ya, sang tukang perahu yang akan mengantarkannya menuju ke Pulau Berhala.


    Namun rupanya, sudah cukup lama Podin menunggu, cukup tegang ia mencari sosok si tukang perahu itu. Bahkan Podin juga berharap-harap cemas, kalau sampai si tukang perahu itu tidak datang menghampiri dirinya, tentu seperti yang disampaikan oleh ular raksasa penunggu gerbang istana Pulau Berhala, kalau dirinya bisa mempersembahkan kepala anak-anaknya itu pada malam bulan purnama, dan tentu saat bulan itu berada tepat di atas Pulau Berhala, maka tentunya, hari itu, malam nanti ia akan membawa pulang harta karun.


    Ya, malam nanti adalah malam bulan purnama. Malam yang ditunggu-tunggu oleh Podin. Apalagi saat ini, Podin sudah membawa tiga anaknya yang masih kecil-kecil, yang nanti akan dipersembahkan kepada penguasa Pulau Berhala. Ya, nanti malam. Di tengah malam saat bulan purnama itu berada tepat di atas Pulau Berhala.


    Saat Podin masih tegang menunggu tukang perahu yang akan menjemputnya, anak-anak Podin justru asik bermain air dan pasir di pantai. Dan saat matahari sudah mulai tenggelam di langit barat, Podin melihat sosok tubuh manusia yang seperti biasanya, orang yang berdiri di perahu kecil. Dia adalah tukang perahu yang akan menjemputnya. Ya, Podin yakin. Itu adalah tukang perahu yang akan menjemput dirinya, untuk menuju ke Pulau Berhala. Tentu sangat senang hati Podin. Tentu niatnya untuk melakukan persembahan di malam bulan purnama itu akan terlaksana.


    Maka, begitu ia melihat sosok tukang perahu yang akan menjemputnya, Podin langsung mencari anak-anaknya yang sudah diajaknya ke pantai itu. Podin mencari ketiga orang anaknya yang tadi bermain-main pasir, bermain-main air di tepi pantai. Podin akan mengajak anaknya itu untuk naik perahu, untuk diajak ke tengah Pulau Berhala. Podin sudah merencanakan hal itu. Caranya adalah dengan mengelabui anaknya, dengan kata-kata diajak piknik. Podin bilang mengajak piknik anak-anaknya. Piknik ke pantai. Piknik ke pulau. Piknik naik perahu. Padahal niat sebenarnya adalah kemauan jahat Podin, rencana buruk seorang bapak yang ingin mengorbankan ketiga anaknya itu di tengah Pulau Berhala, untuk dipersembahkan kepada Sang Penguasa Pulau Berhala.


    "Dewi ...!! Asri ...!! Antok ...!!" Podin berteriak memanggil anak-anaknya.


    Namun berkali-kali Podin memanggil, setelah Podin menengok ke pantai, ia mencari anaknya, tiga orang anaknya yang masih kecil-kecil itu, yang tadi bermain-main di pantai, yang tadi bermain air dengan gelombang, ternyata Podin tidak melihat anak-anaknya. Ketiga anak itu hilang. Anak-anaknya sudah tidak ada di pantai itu. Tentu Podin kelabakan. Ia berlari ke tempat tadi anak-anaknya bermain, Podin mencari anaknya ke sana kemari, tetapi dia tidak juga menemukan anaknya itu.


    "Ayo, cepat ...!! Jadi berangkat apa tidak ...?!" kata tukang perahu yang sudah sampai di tempat pemberhentiannya.

__ADS_1


    Podin sudah ditunggu oleh perahu yang akan mengantarkannya ke tengah laut itu. Namun Podin bingung, karena ia belum menemukan anak-anaknya yang tadi pada bermain di pantai tadi.


    "Dewi ...!! Asri ...!! Antok ...!! Kalian ada di mana ...?!" begitu teriak Podin yang memanggil anak-anaknya, yang tentu harus segera diajak naik perahu.


    Namun anak-anaknya tidak menjawab. Tidak ada suara dari anak-anaknya. Tempat itu sepi. Hanya suara gelombang laut saja yang terdengar. Hanya suara kecipak air laut saja yang senantiasa ada di telinga Podin


    "Dewi ...!! Asri ...!! Antok ...!! Kalian ada di mana ...?! Ayo ..., cepat kemari .... Cepat ke sini ...!! Bapak menunggu kalian .... Ayo ..., kita akan naik perahu .... Kita sudah ditunggu oleh tukang perahu ...!" Podin kembali berteriak memanggil anak-anaknya. Tetap saja ia tidak menemukannya. Tetap saja anak-anaknya tidak ada yang datang.


     Tentu Podin mulai menjadi resah dan gelisah. Ia bakalan tidak bisa membawa anak-anaknya, Dewi, Asri dan Antok. Tentunya Podin kecewa. Tentunya sang bapak itu sangat menyesal, karena anaknya yang akan diajak pergi ke Pulau Berhala ternyata tidak juga muncul. Anaknya tidak kelihatan. Anaknya tidak datang. Anaknya sudah menghilang.


    "Ayo, cepat ...!! Jadi ikut apa tidak ...?!" kata tukang perahu itu lagi, yang sudah agak lama menunggu.


    Dalam kekecewaan itu, terpaksa Podin melangkah kembali menuju ke batuan tempat ia selalu berdiri menunggu datangnya perahu itu. Namun perahu itu sudah terlalu lama untuk menunggu Podin naik ke atas perahunya. Makanya tukang perahu itu sudah mulai menjalankan perahunya. Dan perahu yang menunggunya itu sudah akan berangkat, sudah siap untuk melaju ke Pulau Berhala. Tukang perahu itu pun sudah mendorong galahnya akan menjalankan perahunya.


    Melihat perahu itu sudah berangkay, tiba-tiba saja Podin dengan cepat dan tangkas melompat menuju perahu. Hingga akhirnya ia pun sampai di atas perahu itu. Ya, terpaksa Podin naik perahu itu sendirian. Podin naik perahu itu tanpa mengajak anak-anaknya. Pasti Podin yang merasa kecewa, Podin yang merasa sangat menyesal karena tidak bisa membawa tiga orang anaknya itu, memasuki Pulau Berhala hanya seorang diri. Podin tidak membawa bekal apapun, tanpa membawa calon persembahan. Tanpa mengajak anak-anaknya yang akan dikorbankan.


     Sementara itu, sebenarnya tiga orang anak Podin, yaitu Dewi, Asri, dan Antok, saat mereka bermain air, saat mereka bermain gelombang, saat mereka bermain pasir di tepi pantai, dan saat mereka dibiarkan oleh orang tuanya, dibiarkan oleh bapaknya untuk bermain-main di pantai, saat itu ada seorang laki-laki tua yang datang menghampiri tiga anak itu. Asri tidak asing dengan kakek-kakek yang mendatanginya. Antok juga tidak lupa dengan kakek itu. Bahkan Dewi sangat hafal dengan laki-laki tua yang mendatanginya itu. Ya, laki-laki yang mengenakan pakaian compang-camping, laki-laki yang mengenakan caping keropak, laki-laki yang seakan adalah seorang pengemis itu, datang menghampiri tiga anak yang sedang bermain air di lautan.


    "Hei ..., kalian ...!! Ngapain di sini ...?!" begitu tanya laki-laki tua yang sudah berada di dekat mereka.


    "Hai, Kakek .... Kami sedang piknik ...." begitu jawab Asri yang tentu sangat polos sebagai seorang anak kecil yang ditanyai oleh orang tua. Apalagi Asri sudah paham si Kakek itu.


    "Kalian sedang ngapain ...?" tanya si kakek itu yang sudah bersama mereka.


    "Ini, Kakek .... Kami sedang bermain air .... Kami sedang senang-senang .... Kami sedang kejar-kejaran dengan ombak ...." begitu jawab anak-anak itu yang tetap saja masih bermain ombak, masih bermain air. Mereka belum pernah piknik segembira ini. Mereka saling menyiram, mereka saling mengguyur, mereka saling melepaskan air laut itu untuk disiramkan kepada saudara-saudaranya. Mereka berlarian berkejaran ke sana kemari. Mereka sangat senang, mereka bisa bermain air di pantai, bisa bersenang-senang, bisa bergembira bermain-main di lautan. Apalagi mereka memang belum pernah diajak piknik ke pantai oleh orang tuanya, pasti kali ini mereka meluapkan kegembiraannya.


    "Hati-hati ...! Itu gelombangnya bisa membawa kalian ...! Nanti kalau gelombangnya besar, kalian akan terseret ke tengah lautan ...." begitu kata si kakek tua itu yang tentunya dia juga khawatir karena anak-anak itu bermain tanpa ada yang mengawasi. Anak-anak yang masih di bawah umur itu bermain tanpa ada yang menolong kalau misalnya terbawa oleh gelombang.


    "Ke sini ..., Kek .... Ini asik sekali ...." begitu saur Dewi yang sudah kelas dua SD itu, tentu senang bisa bergembira bersama adik-adiknya, bermain gelombang laut yang mengasyikkan.


    "Iya .... Tapi hati-hati .... Kalian itu harus waspada, karena gelombang laut itu nanti bisa menyeret kalian .... Bisa membawa kalian ke tengah laut. Kalau kalian tidak hati-hati, nanti bisa terjatuh diterpa gelombang, dan bisa diseret ke tengah laut. Kalian kan belum bisa berenang ...." kata si kakek.


    Dan ternyata, sesaat kemudian, ketika anak-anak itu diterpa ombak yang agak besar, mereka terjengkang dan jatuh di pantai. Bahkan langsung tersapu ombak yang mengejarnya. Akhirnya, si kakek itu, yang memang sudah memperkirakan, dan tentunya tahu hal itu akan terjadi, ia pun segera menyelamatkan ketiga anak-anak itu. Ia pun segera menolong ketiga anak yang terjatuh, yang tergelempang di atas pasir di pantai itu.


    "Nah .... Benar kan ...?!" begitu kata si kakek sambil menolong tiga anak itu.


    "Iya, Kek .... Aduh sakit, Kek ...." rintih ASri.


    Bahkan si Antok, anak yang paling kecil itu sudah meminum air laut, karena terjangan gelombang air laut yang menghantam dirinya cukup tinggi. Maka Antok tidak hanya jatuh, tetapi juga harus meminum air laut yang mengenai dirinya. Tentu ia merasa kesakitan, dan tentu merasa tidak nyaman dan langsung terbatukbatuk. Tidak enak rasanya meminum air laut. Si kakek mencoba mengeluarkan air laut yang sudah tertelan ke dalam mulutnya.


    "Iya, kan .... Benar apa yang dikatakan oleh Kakek, kan .... Nih, coba minum ini .... Biar tidak sakit tenggorokan kalian .... Biar tidak kena asin." begitu kata si kakek yang tiba-tiba mengeluarkan botol berisi air dan diminumkan kepada Antok, Bahkan Asri juga meminta minum itu. Demikian juga Dewi yang juga meminta minum air yang ada di dalam botol yang dibawa oleh si kakek tersebut.

__ADS_1


    "Nah ..., makanya kalian itu jangan main-main air terlalu jauh ke lautan. Ini berbahaya, dan tentunya ini bisa mencelakai kamu .... Ayo, sekarang kalian naik. Ayo sekarang kalian tinggalkan pantai ini. Ayo ganti pakaian. Ini pakaian kalian basah semua. Tubuh kalian kotor semua terkena pasir. Ayo ganti ...." akhirnya tiga orang anak itu pun menurut dengan kata-kata si kakek.


    Dan tentu, si kakek tua itu sudah membawanya pergi meninggalkan tempat itu.


__ADS_2