
Sementara itu, Dewi yang sudah diculik oleh bapaknya dari sekolahannya, dia memang tidak sadar. Dewi memang tidak menyangka kalau bapaknya itu akan membawanya ke Pulau Berhala untuk dikorbankan, untuk dipersembahkan kepada penguasa Pulau Berhala. Dewi hanya tahu kalau bapaknya akan mengajaknya ke Jakarta, akan tinggal bersama bapaknya dan ibu tirinya. Kala itu Dewi hanya tahu kalau bapaknya akan mengajaknya mampir berpiknik, bapaknya akan mengajaknya berwisata, bapaknya akan mengajaknya naik kapal menuju ke sebuah pulau yang katanya sangat indah dan menyenangkan. Dewi tahunya dirinya akan diajak untuk makan-makan sama bapaknya di tengah pulau yang diceritakan oleh bapaknya, kalau di tengah pulau itu ada istananya.
Tentu bocah kecil yang baru duduk di kelas dua SD, yang belum bisa memikirkan berbagai hal yang bisa merugikan dirinya. Bahkan ia juga tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh bapaknya yang sebenarnya. Tentu Dewi menurut saja, dan bahkan ia juga terlihat senang karena diajak berwisata oleh bapaknya. Apa lagi dijanjikan naik kapal dan diajak makan-makan, pasti yang namanya bocah akan senang.
Belum lagi jika mendengar janji bapaknya, kalau dirinya akan di sekolahkan di Jakarta. Tentu bagi Dewi yang mendengar sebutan Jakarta, itu adalah kota besar, kota metropolitan, kota yang megah, kota yang sangat maju, kota yang sangat terkenal, Dewi sangat senang. Apapun yang dikatakan oleh bapaknya, Dewi sangat percaya. Dewi tidak menaruh curiga sama sekali kepada bapaknya. Dewi tidak menyangka sama sekali kalau orang tuanya akan tega mempersembahkan dirinya dikorbankan untuk menjadi tumbal mencari kekayaan di Pulau Berhala.
Kala itu, pada saat matahari akan terbenam, dan pada saat perahu yang akan membawanya ke Pulau Berhala itu datang, sebenarnya tangan Dewi sudah dipegang terus oleh bapaknya. Podin tidak ingin anaknya itu terlepas dari pegangannya. Tentu Podin tidak ingin anaknya itu hilang lagi, seperti pada saat bulan purnama yang lalu, ketika ia membawa tiga orang anaknya. Di bulan purnama kali ini, tentunya Podin ingin mendapatkan harta kekayaan yang berlimpah-limpah dari pengorbanan Dewi, anaknya yang disayang itu, yang akan dipersembahkan kepada penguasa Pulau Berhala.
Namun pada saat itu, tanpa didengar oleh Podin, karena telinga Podin mungkin sudah tersumbat oleh keinginannya untuk menjadi orang kaya, untuk mendapatkan harta karun, dan juga konsentrasinya kala itu adalah perehu penjemputnya yang sudah datang. Sebenarnyam bersamaan dengan datangnya perahu yang dikemudikan oleh manusia berjubah panjang tanpa kepala itu, ada seseorang yang memanggil Dewi.
"Dewi ...."
Suara panggilan itu tidak terlalu keras, bahkan mungkin hanya didengar oleh Dewi. Dan panggilan yang mungkin hanya didengar oleh anaknya, akhirnya Dewi pun menoleh ke arah suara panggilan itu. Ternyata yang memanggil dirinya adalah seorang laki-laki tua, yang tidak lain adalah kakek pengemis yang sudah berkali-kali menolongnya.
Bersamaan dengan memanggil Dewi, kakek pengemis itu, kakek tua yang sudah memberikan rumah kepada ibu dan dirinya beserta adik-adiknya untuk menjadi tempat tinggalnya yang sekarang itu, kakek tua yang pernah memberikan koin emas kepadanya bersama adik-adiknya itu, kakek tua yang oleh Dewi dianggap sebagai orang tua yang sangat baik itu, si kakek itu sudah mengulurkan tangannya kepada Dewi.
Maka, ketika Dewi melihat sang kakek yang memanggilnya, dan tangan si kakek yang sudah diulurkan ke arah Dewi, seakan hendap memegang tangannya saat Dewi akan diajak naik ke perahu itu, pada saat itu pula Dewi melepaskan genggaman ayahnya dan langsung beralih memegang tangan si kakek tua itu. Dan entah ilmu apa yang digunakan oleh si kakek tua itu, sesaat saja Dewi sudah bersama dengan dirinya. Dewi sudah terlepas dari bapaknya, dan Dewi tidak jadi naik perahu yang sudah mengangkut bapaknya itu.
Anehnya, Podin yang memegangi erat-erat tangan anaknya, seakan tidak terasa kalau genggaman tangan itu bisa terlepas. Dan bahkan, Podin juga tidak melihat kalau anaknya ternyata tidak ikut serta dalam perahu itu. Dan yang lebih mengherankan lagi, begitu Dewi sudah dipegang oleh si kakek tua itu, perahu yang dikemudikan oleh laki-laki berjubah tanpa kepala, yang bagian atas lehernya ditutup caping keropak itu, tiba-tiba saja perahu kecil itu sudah sampai di tengah laut.
Si kakek tua itu sudah membawa Dewi menuju ke tempat yang landai dan tentunya aman. Dewi tidak kecewa ditinggal perahu yang dinaiki bapaknya. Dewi ikut bersama dengan kakek tua itu, tanpa menghiraukan bapaknya lagi yang pergi begitu saja. Dewi lebih senang bersama kakek tua itu, yang sudah menolongnya untuk menyediakan rumahnya sebagai tempat tinggal Dewi. Ia menurut saja pada genggaman tangan sang kakek.
"Dewi ..., kenapa kamu ke sini ...?" tanya si kakek tua itu.
"Saya diajak oleh Bapak .... Katanya mau diajak piknik ke pulau itu ...." jawab Dewi.
"Kenapa musti kemari lagi ....? Kemarin lalu, kalian kemari bersama adik-adik kamu. Pakaiannya sampai basah semua. Bahkan kamu bersama adik-adikmu juga diajak bapakmu kemari, dan kamu tidak diurusi sama sekali oleh bapakmu. Bahkan saat kamu bermain air itu, kan sudah jatuh sudah hampir tenggelam, sudah mau diseret oleh ombak. Kalau tidak ada kakek, siapa yang menyelamatkan kamu saat itu? Siapa yang akan menolong kalian? Bapakmu tidak peduli sama kalian .... Kenapa kamu masih percaya kepada bapakmu, datang ke sini lagi ...." tanya sih kakek tua itu kepada Dewi.
"Tapi Bapak mengajak kami kemari .... Makanya saya mau diajak piknik oleh Bapak ...," begitu jawab Dewi kepada si kakek tua itu.
"Dewi .... Ketahuilah, bapakmu itu orang serakah .... sudah menjual rumah kamu yang bagus dulu itu, bahkan bapakmu juga menjual ruko tempat usaha ibu kamu, dan mengusir kalian semuanya .... Dan sekarang bapakmu itu sudah membawa kamu ke tempat ini, akan dibawa ke pulau yang ada di sana .... Itu pulau kutukan, Dewi .... Tempatnya menyeramkan .... Kamu harus hati-hati, Dewi ..., kamu jangan percaya dengan kata-kata bapak kamu." begitu kata si kakek itu menasehati Dewi.
Tentunya Dewi mulai berpikir, memang bapaknya itu sudah menjual rumahnya, sudah menjual rukonya, sudah mengusir dirinya. Kalau tidak ada kakek tua itu, pasti mereka tidak bisa tinggal, pasti mereka tidak punya rumah. Makanya Dewi lebih memilih untuk ikut si kakek tua itu, daripada ikut bapaknya.
Dan saat itu, tanpa diketahui oleh Podin, saat kakek tua itu menarik tangan Dewi, ia sudah mengganti tangan Dewi dengan kaki seekor domba kecil yang ada di pantai itu. Ya, sebenarnya kakek tua itulah yang sudah menggantikan Dewi menjadi seekor domba. Namun entah ada kekuatan majik apa yang dimiliki oleh kakek tua itu, buktinya, Podin tidak tahu kalau anaknya sudah digantikan dengan seekor domba.
Sedangkan Dewi, ia sudah berjalan bersama dengan kakek tua itu. Dewi sudah diselamatkan oleh kakek tua yang dulu pernah dianggapnya sebagai pengemis itu.
"Kamu laper apa tidak ...?" tanya si kakek itu kepada Dewi.
"Lapar, Kek ...." jawab Dewi yang berterus terang kepada si kakek.
__ADS_1
"Emangnya tadi belum diajak makan? Sudah dikasih jajan apa belum oleh bapak kamu?" tanya si kakek itu kepada Dewi.
"Belum .... Katanya Bapak, ia berjanji akan membelikan makanan di tengah pulau itu .... Kata Bapak di tengah pulau itu ada aneka makanan yang enak-enak, yang mahal-mahal serta menarik-menarik ...." begitu jawab Dewi, yang tentu teringat dengan kata-kata bapaknya yang berjanji akan membawanya ke tengah pulau tersebut dan akan diajak makan-makan enak di tengah pulau itu, karena di sana katanya ada banyak yang menjual makanan-makanan enak.
"Orang anaknya laper saja tidak diberikan makan ..., bagaimana kamu bisa mengatakan kalau bapakmu itu orang baik ...?" tanya kakek itu kepada Dewi.
"Saya tidak tahu, Kek .... Kata Bapak, nanti makannya di tengah Pulau ...." jawab Dewi yang teringat dengan kata-kata bapaknya.
"Ya sudah ..., ayo sekarang kita makan dahulu ...." kata si Kakek itu yang kemudian mengajak Dewi masuk ke sebuah warung makan. Di warung makan yang ada di pinggir jalan itu. Selanjutnya si kakek tua itu pun menawarkan makanan yang disukai oleh Dewi.
"Dewi mau makan apa ...? Tidak usah ragu-ragu .... Bilang saja pengennya makan apa .... Sampaikan sama yang jualan itu ...." kakek tua itu menawarkan makanan, agar Dewi bisa memilih sendiri sukanya yang dia senang.
"Saya mau makan sama ayam goreng ...." begitu kata Dewi.
"Bu ..., tolong anak ini diladeni .... Katanya mau makan sama ayam goreng." kata si kakek memesankan makan buat Dewi.
"Iya, Pak .... Siap ..... Makan sama ayam goreng, kami buatkan ..... Nasinya banyak apa sedikit, Neng?" tanya ibu penjual nasi tersebut.
"Sedikit saja, Bu .... Yang penting ada ayam gorengnya." kata Dewi kepada si penjual.
"Mau pakai sayur apa?" tanya penjual itu lagi kepada Dewi.
Lantas penjual itu selesai mengambilkan makanan yang dikehendaki oleh Dewi.
"Ini nasinya .... Masih ditambah sayur sop dengan ayam goreng .... Silahkan dinikmati .... Minumnya apa, Neng?" tanya si penjual, sambil menyerahkan makanan pesanan Dewi.
"Es teh, Bu ...."jawab Dewi yang tentu juga pengen minum yang segar-segar.
Si kakek tua itu tidak makan. Ia hanya memandangi Dewi yang menikmati makanan yang disajikan oleh si penjual nasi itu. Karena saking laparnya, maka Dewi pun makan dengan sangat lahap dan dalam waktu sekejap, nasi dengan sayur sop dan ayam goreng itu pun langsung habis bersih. Kemudian, setelah nasi dalam piring itu sudah habis, Dewi pun langsung minum es teh satu gelas besar. Juga langsung habis. Itu menunjukkan bahwa anak ini memang kelaparan dan kehausan. Makanya ketika diajak makan, Dewi pun langsung menghabiskan makanan itu secara cepat.
"Mau tambah lagi ...?" tanya si kakek tua itu kepada Dewi.
"Tidak, Kek .... Sudah cukup .... Terima kasih" begitu kata Dewi yang sedang merasakan kekenyangan, dan perutnya sudah tidak keroncongan lagi karena kelaparan.
"Bapak di sana nanti makan apa, Kek ...?" tanya Dewi kepada si kakek tua itu, tentunya Dewi juga memikirkan bapaknya.
"Bapakmu tidak usah kamu pikirkan .... Bapakmu sudah biasa makan .... Bapakmu sudah dapat yang enak-enak ...." begitu kata si Kakek kepada Dewi.
"Tapi kalau bapak tidak makan, nanti bagaimana?" tanya Dewi kepada si Kakek itu lagi. Tentunya bagi seorang anak yang baik, bagaimanapun juga tetap memikirkan nasib bapaknya.
"Kamu tidak usah khawatir .... Bapakmu sudah bisa mencari makan sendiri .... Kalau kamu masih anak kecil .... Pasti tidak bisa cari makan sendiri .... Makanya kamu diajak Kakek kemari, biar bisa makan." kata si Kakek itu kepada Dewi.
__ADS_1
"Iya, Kek .... Terima kasih. Kek ..., memang kalau malam hari di Pulau itu rame ya, Kek ...? Banyak pengunjung juga ...?" tiba-tiba Dewi menanyakan tentang pulau yang akan dikunjungi oleh bapaknya itu. Dan sedianya, bapaknya akan mengajak Dewi. Namun sayang, si kakek itu datang, justru menarik Dewi yang akhirnya tidak jadi ikut bapaknya ke pulau itu.
"Di mana ...? Pulau itu ...?" tiba-tiba penjual makanan yang mendengar pertanyaan Dewi itu, ikut bertanya kepada Dewi tentang pulau yang dimaksudnya.
"Iya, Bu ...." jawab Dewi polos.
"Jangan sekali-sekali mendekat ke Pulau Berhala .... Itu sangat berbahaya .... Masyarakat di sini saja yang dekat, tidak ada yang berani masuk ke situ ...." kata ibu penjual nasi itu, tentu menegaskan kepada Dewi.
"Memang kenapa, Bu ...?" tanya Dewi yang ingin tahu.
"Ya, sudah .... Kita pulang saja ...." kata si kakek yang langsung mengajak pulang Dewi. Ia pun merogoh kantong untuk membayar nasi yang dimakan Dewi.
Lantas si kakek tua itu sudah memegang tangan Dewi untuk diajak keluar dari warung makan itu. Tentunya, si kakek tidak ingin Dewi mendengar cerita tentang Pulau Berhala itu dari orang-orang kampung. Tentunya si kakek tua itu khawatir, jika Dewi bertanya-tanya dan tahu tentang Pulau Berhala itu, pasti ia justru akan mengjhawatirkan bapaknya.
"Memang di pulau itu kenapa sih, Kek?" tanya Dewi pada kakek yang sudah menggandeng tangannya itu.
"Besok kalau kamu sudah besar, kamu akan tahu banyak hal. Sekarang, saat kamu masih kecil, belajar dulu pelajaran yang sesuai dengan kelasmu." jawab si kakek itu.
"Memang anak kecil tidak boleh tahu tentang pulau itu?" tanya Dewi yang justru semakin ingin tahu.
"Boleh melihat, tetapi belum tahu artinya .... Itu pelajaran untuk anak SMA, bukan anak SD .... PR nya terlalu sulit." kata si kakek itu.
Tentunya Dewi kecewa dengan jawaban si kakek itu. Tetapi ia hanya bisa berharap. Kelak kalau sudah SMA, ia ingin tahu, apa sebenarnya yang terdapat di pulau itu.
Si kakek sudah mengajak Dewi untuk pulang ke rumahnya. Karena hari sudah malam, sudah gelap, dan tentu sangat sulit untuk mencegat angkutan. Dewi juga takut kalau dimarahi oleh ibuinya, karena pergi tanpa bilang pada ibunya lebih dahulu.
Namun, Si kakek yang tentu bukan orang sembarangan itu, ia bisa melakukan apa saja yang gaib, yang aneh, yang di luar kekuatan nalar manusia.
"Dewi ..., kamu pasti lelah .... Ayo, digendong Kakek, biar tidak capek ...." kata si kakek itu yang langsung menjunjung tubuh dewi yang masih kecil itu.
Lantas Dewi digendongnya. Seakan Dewi dalam gendongan itu, oleh si kakek ia diajak berjalan cepat. Dan tanpa diketahui oleh Dewi, seberapa cepatnya si kakek itu berjalan, dan berapa lama waktu yang ditempuh oleh mereka. Dan kenyataan yang terjadi, mereka pun sudah langsung sampai di rumahnya.
Tentu jika ada orang lain yang tahu, itu adalah kejadian di luar nalar manusia. Tidak masuk akal. Tidak bisa dilogika dengan kekuatan pikiran manusia. Yaitu manakala Dewi yang digendong oleh kakek itu, diajak oleh si kakek itu untuk berjalan, Sepertinya tidak butuh waktu lebih dari satu menit.
Di rumah, Ibunya sudah geger karena merasa Dewi, anaknya yang sekolah tidak pulang. Anaknya yang kelas dua SD itu hilang. Isti sudah mencari kemana-mana, sudah menanyakan ke semua temannya. Bahkan juga ke sekolahan. Dan tentu juga menayangkan kepada guru-gurunya. Dan berita yang ia terima dari sekolahan, ternyata memang Dewi yang tadinya berangkat sekolah, diajak pulang oleh bapaknya. Tentu Isti sangat khawatir karena anaknya sudah diculik oleh bapaknya sendiri. Isti tentu merasa kehilangan, karena anaknya yang paling besar, yang dianggap bisa membantu ibunya, justru hilang yang katanya Kepala Sekolah, Dewi dijemput oleh bapaknya untuk dibawa ke Jakarta.
Namun, betapa senang rasa hati Isti, saat matahari akan terbenam, Dewi pulang ke rumahnya, diantar oleh si kakek tua. Pasti ibunya menangis sejadi-jadinya, karena sangat terharu menyaksikan kedatangan anaknya. Tentu Isti langsung memeluk Dewi dengan mata yang bercucuran air tangisan.
"Ya ampun, Dewi .... Kamu itu dari mana saja, Dewi .... Kamu pergi ke mana saja ...." begitu berkali-kali ibunya yang memeluk Dewi sambil mencium anaknya. Ibunya sangat senang, sangat gembira karena bisa kembali berkumpul bersama anaknya.
"Syukur, Nak .... Syukurlah, kamu bisa pulang ...." ibunya terus memeluk anaknya, dan seakan tidak mau melepaskannya.
__ADS_1