PULAU BERHALA

PULAU BERHALA
EPISODE 154: USAHA BARU


__ADS_3

    Setelah mendapatkan pertanyaan dari istrinya, Cik Melan, tentunya ada perasaan gentar dalam pikiran Podin. Seakan Podin ketakutan kalau caranya mencari uang dengan cara-cara yang selama ini ia lakukan sampai ketahuan oleh istrinya. Apalagi ketika Podin diajak oleh istrinya masuk ke gereja, beribadah di gereja, itu merupakan ajakan seorang istri yang benar-benar sangat terasa mendobrak hatinya. Podin merasakan ada sesuatu yang berubah dakam hidupnya.


    Terus terang, baru kali ini Podin bertekuk lutut secara sungguh-sungguh di hadapan istrinya. Baru kali Podin ketemu dengan perempuan yang seakan-akan mengubah kehidupannya. Baru kali ini Podin bertemu dengan perempuan yang dijadikan istrinya, tetapi benar-benar perempuan yang baik sempurna. Tidak hanya cantik secara fisik. Tetapi istrinya ini benar-benar sempurna jiea dan raga, jasmani dan rohani. Itulah sebabnya, kenapa Podin jadi merasa rendah di hadapan istrinya.


    Melihat kenyataan seperti itu, tentunya Podin ingin membuka usaha untuk menutup semua kegiatan irasionalnya. Ya, mestinya usaha yang akan dibuka oleh Podin ini hanya sekedar untuk dibuat agar istrinya tahu kalau dirinya punya usaha. Dan pasti, yang diharapkan oleh Podin adalah dari usaha yang dibuatnya itu akan diperoleh keuntungan, dan uang keuntungan itulah yang bagi Podin nantinya akan dijadikan cara untuk mengelabuhi agar istrinya percaya bahwa semua uang yang didapatnya adalah uang yang halal. Padahal sebenarnya itu semua hanya digunakan untuk menutup-menutupi agar rahasianya dalam mencari uang dengan menggunakan peti-peti harta karun yang ia puja, yang ia keramatkan itu tidak diketahui oleh istrinya.


    Yah, mau tidak mau, Podin terpaksa harus membuka usaha. Rencananya, ia akan membangun tempat usaha dengan membuka toko sembako.


    "Mamah, saya berencana akan membuka toko sembako. Ya ..., di pinggir kota saja .... Yang penting tidak terlalu jauh dari rumah kita ini, agar kita bisa ke sana kemari untuk mengelola toko itu. Bagaimana, Mah?" tanya Podin kepada istrinya.


    Pastinya Cik Melan senang mendengar kata-kata suaminya itu, yang berencana akan membuka usaha toko sembako. Dan pastinya Cik Melan juga senang, karena suaminya nanti tidak akan menganggur lagi, melainkan punya usaha dan bisa bekerja.


    "Saya kira baik, Pah .... Dan itu bisa dipakai Papah untuk kegiatan sehari-hari. Ya, walaupun nanti misalnya di sana dikelola oleh orang lain, tetapi setidaknya Papah bisa punya kegiatan. Tidak hanya diam terpaku di rumah ini saja. Tidak hanya ngurusi rumah, tetapi juga bisa ngurusi tempat usaha. Sebab menurut kata orang-orang pintar, menurut para ahli, orang itu kalau hanya diam di rumah saja, pikirannya itu kosong, tidak bekerja, Pah .... Pikirannya itu tidak baik, tidak sehat. Dia tidak bisa mengembangkan otaknya. Sementara otak kita itu kalau tidak pernah dipakai, hanya bengong saja setiap hari, itu nanti akan menyebabkan kepikunan. Dalam bahasa ilmiahnya itu dikatakan alzemir atau pikun. Nah, itu tidak baik, Pah. Saya tidak ingin Papah jadi pikun. Karena nanti kalau Papah pikun, siapa yang repot? Tentu saya juga repot, Papah sendiri juga nggak normal, gak baik, Pah .... Makanya saya senang kalau Papah misalnya nanti buka usaha toko sembako di daerah Parung, nanti setidaknya Papah bisa mikirin bagaimana cara mengembangkannya, bagaimana keuntungannya. Tapi sebenarnya itu semua hanya untuk mengasah otak kita agar tidak bengong saja. Papah mau usaha apapun, mau usaha toko sembako, warung dan sebagainya, saya setuju, Pah ...." begitu kata Cik Melan, istrinya, yang tentu senang mendengar kata-kata suaminya yang berniat akan membuka usaha itu.


    "Kalau bisa jangan yang terlalu jauh, Mah .... Setidaknya kita tidak kecapaian untuk bolak-balik ke tempat usaha." kata Podin.

__ADS_1


    "Iya .... Di dekat kota saja. Di pinggir Parung." sahut istrinya yang juga mulai merasa kecapaian kalau harus pulang pergi ke tempat usahanya yang ada di Jakarta.


    Ya, mereka pun mulai merencanakan untuk membuka tempat usahanya, yang letaknya berada di daerah Parung, lebih dekat ke tempat yang sudah ramai. Walaupun tidak berdekatan dengan rumahnya, tetapi setidaknya toko itu nantinya masih terjangkau dalam waktu beberapa menit, dan tidak terlalu jauh. Tidak seperti yang dialami oleh Cik Melan kali ini, yang harus bolak-balik ke Jakarta. Tidak harus menempuh perjalanan yang jauh, dan tidak harus menempuh perjalanan yang selalu kena macet setiap hari. Memang pas, kalau Podin harus membuka tempat usaha itu di Parung. Dan rencananya di sana nanti, Podin akan berjualan segala macam kebutuhan sembako dan kebutuhan rumah tangga.


    Ya, rencananya itu nanti akan dibikin sebuah toko sembako yang besar, dan di sana nanti Podin akan memenuhi semua kebutuhan dan keperluan masyarakat. Hal itu pun disampaikan kepada istrinya. Paling tidak, Podin meminta pendapat dan meminta saran dari istrinya yang dianggap memang orang yang pandai bagi Podin.


    "Tapi, Mah ..., nanti yang ngurusin tokonya siapa? Sedangkan Mamah sendiri ngurusi tempat usaha yang di Jakarta?" tanya Podin pada istrinya, yang pasti dia juga akan bingung.


    Memang, karena Podin sendiri sebenarnya orang yang tidak bisa usaha, orang yang tidak bisa memikirkan bisnis. Tentunya kalau dia harus memikirkan usaha membuka toko sembako, toh nanti dia juga tidak bakal sanggup untuk mengelolanya.


    "Iya juga ya, Mah .... Ya, udahlah, Mah .... Saya ikut, saya nurut bagaimana baiknya. Saya pasrah sama Mamah. Kalau soal modal, saya yang kasih modal ..., saya yang berikan uang itu. Tetapi kalau pelaksanaannya, saya mungkin tidak sanggup untuk melakukan hal itu. Ya ..., saya itu dulu tidak sekolah, Mah ..., mohon dimaklumi." kata Podin yang tentu juga pasrah dengan istrinya.


    Memang terus terang Podin tidak pernah sekolah. Ya, waktu itu alasannya sederhana, yaitu masalah biaya. Podin tidak punya biaya untuk bersekolah. Orang tuanya sangat miskin. Bahkan awal hidupnya Podin bersama keluarganya, dia pun hanya seorang yang miskin, orang yang tidak punya apa-apa. Bahkan rumah gubuk saja yang membangunkan adalah warga desa. Dan itu harus diakui, kala itu Podin memang benar-benar hidup dalam kemiskinan. Akibatnya, dalam segi menggunakan pikiran, Podin tidak sanggup berbuat apa-apa.


    Akhirnya, Podin bersama istrinya pun langsung merencanakan untuk membuat bangunan untuk membuka tempat usaha, yaitu toko sembako, seperti yang pernah dilakukan oleh Lesti, istrinya yang kemudian dia tinggalkan begitu saja, karena Lesti ternyata masih suka dengan kedatangan laki-laki lain yang dianggapnya lebih kaya, lebih punya uang. Ya, Lesti memang wanita yang dulunya sebenarnya sudah diberikan tempat usaha untuk membuka toko sembako di ruko yang dibelikan oleh Podin. Namun kenyataan ruko itu pun harus dijual kembali oleh Podin, karena Lesti sudah mengingkari cintanya Podin.

__ADS_1


    Belajar dari ruko yang dibeli oleh Podin, yang digunakan oleh Lesti untuk jualan sembako, tentunya Podin sudah punya pengalaman, Podin sudah pernah menyaksikan bagaimana orang itu jualan sembako. Dan kenyataan, memang waktu itu toko sembako tempatnya Lesti itu sudah laris, dan Podin menyaksikan itu semua. Maka Podin berangan kalau toko sembako itu memang nanti mau dikembangkan, mau dibangun, mau dibuka sebagai tempat usahanya yang baru, tentu Podin menghendaki toko yang lebih besar. Podin yakin keuntungannya akan besar, Podin yakin bahwa toko sembako itu bisa menghasilkan uang yang banyak. Pastinya kalau memang nanti toko sembako itu bisa berjalan lancar, mungkin Podin tidak perlu lagi untuk meminta-minta harta kekayaan kepada para tuyul maupun penguasa Pulau Berhala. Dan pastinya Podin akan menjadi orang yang bisa berbakti kepada Tuhannya, seperti yang diajarkan oleh sang pendeta. Namun setidaknya, dengan usaha itu pastinya Podin bisa memberikan bukti kepada istrinya yang cantik itu, istri yang sangat diadam-idamkan itu, pada Cik Melan. Setidaknya, Podin tidak dicurigai lagi oleh istrinya.


    "Mah ..., kalau membangun toko sembako, terus terang saya belum punya gambaran yang seperti apa modelnya. Tolong Mamah nanti bisa komunikasi dengan pengembang atau pemborong. Kira-kira seperti apa model dari bangunan toko sembako yang Mamah kehendaki." kata Podin kepada istrinya.


    "Iya, Pah .... Nanti akan saya tanyakan kepada pemborong yang membangun rumah ini saja. Karena saya melihat bangunan rumah ini sudah bagus. Dan saya senang dengan bangunannya yang bagus. Bangunan ini cocok untuk saya. Cuman saya ingin tanya, Pah, modalnya kira-kira berapa? Biaya yang akan digunakan untuk persiapan kita membangun toko sembako itu." tanya istrinya kepada Podin, yang tentu akan menyesuaikan dengan keuangan suaminya.


    "Soal modal tidak usah ditanyakan, Mah .... Yang bangunannya bagus, besar dan luas. Bila perlu tempat parkir atau halamannya juga luas, biar yang belanja leluasa. Soal biaya, berapapun akan saya bayar. Yang penting tempat usaha itu bisa jadi, bisa jalan, dan kita bisa segera berbisnis di sana. Saya takut dengan apa yang dikatakan oleh Mamah, kalau saya melamun terus di rumah, kalau saya bengong terus tanpa ada kegiatan, nanti malah saya bisa jadi orang gila, nanti saya malah jadi orang pikun, orang pelupa. Saya takut itu, Mah." kata Podin pada istrinya.


    "Maaf ..., Pah .... Saya tidak bermaksud seperti itu, tidak ingin menakut-nakuti Papah .... Tapi itu semua yang mengatakan adalah para ahli, Pah .... Makanya, saya hanya ingin Papah tidak suka melamun, tidak menganggur tanpa aktivitas seperti itu. Saya ingin Papah itu punya kesibukan. Biar nanti bisa jadi pengusaha besar yang sukses dengan berbagai macam usaha, Pah ...." kata Cik Melan yang selalu menyemangati suaminya.


    "Iya, Mah .... Terima kasih atas sarannya. Saya akan mencoba melakukan. Tetapi sekali lagi, saya minta Mamah yang mengatur semuanya." kata Podin yang tentu tersenyum senang melihat istrinya yang juga senang.


    Malam itu juga, Cik Melan langsung mengangkat teleponnya, menghubungi pengembang yang sudah biasa dimintai tolong untuk membantu membangun maupun memperbaiki bangunan miliknya. Tentunya membahas masalah rencananya untuk membuat toko sembako. Dan yang diminta oleh Cik Melan pastinya adalah tempat yang strategis.


    Akhirnya mereka pun mulai membangun toko yang lumayan besar, toko yang lumayan luas, dengan halaman parkir yang juga luas. Ya, sebuah toko yang nantinya akan digunakan oleh Podin bersama dengan Cik Melan membuka usaha baru, yaitu toko sembako.

__ADS_1


__ADS_2