PULAU BERHALA

PULAU BERHALA
EPISODE 109: GAGAL


__ADS_3

    Podin sangat senang. Podin sangat gembira, karena bisa kembali mengambil peti harta karun yang dulu pernah dibeli oleh Bang Kohar. Dan setelah mencuri peti itu dari Bang Kohar, Podin yang segera melarikan diri ke Jakarta, dan tentunya ingin segera memanfaatkan peti-peti itu untuk mendapatkan uang yang sebanyak-banyaknya, untuk mendapatkan kekayaan.


    Podin lamgsung membawa dua buah peti itu masuk di tempat hiburannya, di tempat usahanya, dan tentu sambil sembunyi-sembunyi, agar tidak diketahui oleh para karyawannya. Bahkan Podin membungkus peti itu dengan koran yang ia beli dari anak penjual koran di perempatan jalan, saat lampu lalu lintas merah. Dan Podin pun langsung menyimpannya di ruang kerjanya, ruang khusus untuk dirinya sendiri, ruang pimpinan, ruang miliknya yang ia tempati seorang diri. Tidak ada karyawan yang berani masuk ke ruang itu tanpa seizin Podin. Tentunya, Podin juga menggunakan ruangan itu untuk tidur dan untuk beristirahat.


    Setelah berhasil mencuri peti yang sebenarnya sudah disimpan oleh Bang Kohar, hari itu tentunya Podin langsung menyimpannya di dalam ruangannya secara baik-baik. Bahkan ia sembunyikan di dalam lemari ruangannya, di ruang kantornya. Podin pastinya akan memanfaatkan peti itu sebagai jimat yang bisa menghasilkan uang tanpa harus bersusah payah, tanpa harus bekerja keras. Yang pasti Podin sudah tergiur dengan keampuhan peti keramat, yang ia ketahui saat menyaksikan Bang Kohar yang bisa mendatangkan uang sangat banyak.


    Ya, peti itu ternyata dihuni oleh tuyul. Dan Bang Kohar, bisa mendatangkan tuyul dari dalam peti itu, yang kemudian tuyul itu pergi untuk mengambil uang milik orang-orang, tuyul itu mencuri uang milik orang lain, yang kemudian uang itu dimasuk-masukkan ke dalam peti tersebut, hingga petinya penuh dengan uang. Menyaksikan peristiwa seperti itu, pasti bagi seorang Podin sangat ngiler. Makanya, ia langsung merayu Bang Kohar, bahkan mau membayarnya kembali dengan harga yang sangat tinggi.


    Bahkan Podin juga terkesima dengan uang yang berjatuhan dari langit, uang-uang yang seakan berterbangan dan masuk di dalam petinya itu. Dan tentu, Podin sangat senang melihat uang yang begitu banyak, yang langsung masuk ke dalam dua buah peti tersebut. Ya, tentunya Podin ingin hal seperti itu terjadi pada dirinya. Podin ingin mendapatkan uang yang berlimpah seperti itu setiap hari, setiap jam dua belas malam, setiap tengah malam. Podin tersenyum lebar, karena dalam hatinya merasa senang, ia akan mendapatkan uang yang berlimpah ruah jumlahnya. Podin memeluk dia buah peti itu sambil tersenyum.


    Seharian Podin tidak bisa tidur. Sehabis pulang dari tempatnya Bang Kohar, setelah berhasil melarikan diri dan membawa peti yang dicurinya itu, pastinya ia ingin segera mendapatkan uang yang berlimpah dari benda yang oleh Bang Kohar disebut keramat tersebut. Dan Podin pun yakin, Bang Kohar tidak bakal menemukan dirinya di Jakarta. Jakarta itu luas. Kalau Bang Kohar mau mencari peti yang dianggapnya keramat itu, mencari Podin yang sudah mencuri peti itu, tidak bakalan ketemu. Dan Bang Kohar juga tidak tahu di mana tempat usaha Podin.


    Kini, Podin menunggu waktu hingga larut malam. Yaitu menunggu datangnya tengah malam, menunggu jam dua belas malam. Tentunya, Podin ingin membuktikan, Podin ingin menyaksikan, Podin ingin mempraktekkan bagaimana tuyul yang ada di dalam peti keramat itu akan mengirimkan uang-uangnya kepada Podin. Ia ingin melihat tuyul penghuni peti keramat itu akan membawa uang yang banyak, dan dimasukkan ke dalam peti-peti yang dicuri Podin tersebut dari tangan Bang Kohar. Tentunya Podin sudah tidak sabar untuk menjadi orang kaya.

__ADS_1


    Waktu terus merambat. Hingga menunjukkan pukul dua belas malam. Waktu yang ditunggu oleh Podin, kini sudah tiba. Dan pastinya, Podin sangat ingin untuk segera melihat tuyul yang keluar dari peti itu. Pastinya Podin sudah tidak sabar lagi untuk menyuruh tuyul itu mencari uang dan membawa kembali uang-iang yang dicurinya, dan memasukkan uang-uang itu ke dalam petinya. Ya, Podin sangat-sangat ingin merasakan mudahnya mencari uang dengan cara memelihara tuyul. Podin pun mulai bersila menghadapi dua peti yang dipuja-puja itu. Podin sudah memulai berkonsentrasi, menenangkan dirinya, mengheningkan cipta. Dan Podin sudah mulai komat-kamit seperti yang dilakukan oleh Bang Kohar, meminta agar bocah kecil gundul dan telanjang itu keluar dari peti.


    Namun ....


    "Oeee .... Oeee ...."


    "Olala .... Yayaya ...."


    "Uwo ..., uwo ..., uwo ...."


    "La ..., la ..., la .... Ooo ...."


    Terdengar suara orang yang menjerit-jerit. Mungkin mereka sedang menyanyi. Ya, suara-suara orang meneriakkan alunan lagu. Maklum, Podin berada di tempat karaoke. Podin tinggal di tempat usahanya, gedung yang memang dipakai untuk berkaraoke oleh para pengunjung yang mencari hiburan. Dan pastinya, walaupun malam sudah larut, sudah lewat tengah malam, namun tentunya Jakarta tidak seperti Padalarang. Apalagi saat di rumah kontrakan Bang Kohar, berada di pinggiran kota yang sepi.

__ADS_1


    "Waduh ..., ya ampun .... Itu pasti jeritan orang-orang yang berkaraoke ...." Podin menggerutu. Dan pastinya ia merasa terganggu oleh suara-suara itu.


    Tetapi, kali ini tempat yang digunakan untuk bermeditasi, mengheningkan cipta, berada di tempat usaha Podin, berada di tengah-tengah kota metropolitan yang tentu sangat ramai dengan hiruk pikuk masyarakat. Apalagi Podin berada di gedung hiburan, gedung karaoke yang di situ banyak para pengunjung yang menyanyi-nyanyi,  bergembira, bersorak-sorai, bahkan juga berteriak-teriak, menjerit-jerit, dan seakan mereka memang menumpahkan emosinya saat menyanyi, yang tujuannya adalah melepas penat, melepas lelah, melepas semua tekanan-tekanan pekerjaan. Ya, itu semua ditumpahkan di tempat hiburan sambil berkaraoke. Yang pastinya suaranya juga belum tentu enak untuk didengarkan. Dan hal itu tentu mengganggu konsentrasi Podin, tentu mengganggu kekusukan Podin yang akan mengundang makhluk kecil yang menghuni di dalam peti.


    Sebenarnya, Podin sudah menyiapkan ritual pemanggilan tuyul itu di ruangannya sendiri yang tidak bakal diganggu orang. Walaupun ruangan Podin itu sudah ditutup rapat, namun ternyata, suara-suara dari pengunjung gedung karaoke itu, suara-suara orang-orang yang bersenang-senang menyanyi itu, masih saja menembus dan terdengar keras di telinga Podin. Pastinya Podin tidak bisa untuk berkonsentrasi. Podin tidak bisa mendapatkan suasana yang tenang untuk mengeheningkan cipta. Podin tidak dapat melakukan ritualnya seperti saat yang dilakukan dia bersama dengan Bang Kohar di rumahnya. Yah, semuanya gagal. Gara-gara suara ribut orang-orang berkaraoke.


    Tentunya Podin tidak bisa melarang para tamu gedung hiburannya. Podin tidak bisa marah. Apalagi harus mengusir orang-orang yang bernyanyi sambil berteriak-teriak tidak karuan itu. Mereka adalah pengunjung tempat usahanya. Mereka yang menghasilkan uang bagi usahanya.


    Dan ternyata, tidak semudah itu untuk melakukan meditasi, untuk melakukan ritual pemanggilan tuyul, untuk mengheningkan cipta, untuk melakukan kekhusukan dalam rangka memanggil makhluk kecil yang disebut dengan istilah tuyul tersebut.


    Podin jengkel sendiri. Ia gagal melakukan ritual. Ia tidak bisa melakukan pemanggilan tuyul itu. Dan akhirnya, Podin menghentikan ritualnya. Sia-sia belaka hingga larut malam tidak tidur, tetapi kenyataannya apa yang dilakukannya tidak berhasil. Podinia tidak bisa memanggil tuyul itu, dan tentunya tidak bisa memerintahkannya untuk mencari uang. Yang pasti, peti-peti harta karun yang ia bawa, yang ia curu dari tempat Bang Kohar, yang ia harapkan akan menghasilkan uang yang banyak itu, ternyata setelah dibuka tetap saja kosong. Peti itu tidak ada isinya sama sekali. Peti itu kosong, tidak ada uang yang datang ke situ, bahkan makhluk kecil yang pernah ia lihat saat dipanggil oleh Bang Kohar itu pun tidak muncul, tidak berdiri di atas peti itu. Ya, makhluk kecil gundul dan telanjang yang dulu pernah berdiri di persilaan kakinya, makhluk kecil yang pernah membelit di kakinya, yang memeluk erat tanpa bisa dilepaskan, tidak muncul sama sekali.


    "Kurang ajar .... Semuanya jadi gagal ...!! Gagal .... Gagal ...!!" gerutu Podin di dalam ruangannya.

__ADS_1


    Podin tidak jadi mendapatkan uang yang setumpuk banyaknya. Podin tidak jadi kaya mendadak. Yang pasti, Podin menjadi emosi, menjadi kecewa, dan bahkan juga marah dengan dirinya sendiri. Podin gagal.


__ADS_2