
Sudah beberapa waktu lamanya Podin tinggal di Jakarta. Ia kembali tidur di tempat usahanya, seperti sedia kala waktu dia datang pertama kali di Jakarta, yang tidur di tempat karaoke, di ruang kantornya itu. Dan kini, setelah ia meninggalkan Lesti, bahkan juga menjual ruko itu, tentunya tanpa sepengetahuan Lesti, karena uang hasil penjualannya pun langsung masuk ke dalam rekening bank. Yah, itulah proses transaksi yang semakin canggih, tidak perlu ketemu dengan pembeli, tidak perlu berbondot-bondot membawa uang, tetapi semua pembayarannya langsung beres dan dijamin aman.
Namun tentunya Podin yang sudah menerima pembayaran itu, harus menandatangani akta jual beli. Seperti yang disampaikan oleh bagian pemasaran dahulu, saat Podin meminta tolong untuk menjualkan rukonya. Dan tentunya, sebelum akta jual beli itu beres, pihak pembeli baru membayar sebagian uangnya. Tentu sebagai jaminan untuk mendapatkan bukti jual beli yang sah.
Setelah menghubungi pihak pemasaran yang sudah memberikan nomor telepon kepada Podin, sudah terjadi kesepakatan untuk penandatanganan surat-surat jual beli. Podin harus kembali ke Padalarang. Pastinya menyelesaikan urusan penjualan ruko. Dan Podin harus segera ke sana, karena terkait dengan uang pembayaran yang belum diberikan sepenuhnya sebelum administrasi jual beli beres. Pasti Podin berharap uangnya akan segera dilunasi oleh pembeli ruko itu.
Siang itu, urusan administrasi pun sudah selesai. Dan tentunya pembeli ruko yang merupakan pasangan suami istri pengantin muda itu pun segera membereskan keuangan, melunasi pembayaran yang harus diberikan kepada Podin, yang harus dia transfer ke rekening Podin. Ya, lumayan banyak. Podin bisa menjual ruko itu dengan harga sembilan ratus juta. Walaupun rugi, tetapi tidak masalah bagi Podin. Kala itu memang sebenarnya Podin membelinya dengan harga satu miliar. Pasti pembeli itu senang, karena dapat harga yang lebih murah bila dibandingkan dengan harga kalau ia membeli dari pengembang ruko itu sendiri, dan yang pasti harganya sudah naik melebihi dari satu miliar. Beruntung pasangan suami istri muda itu bisa bertemu dengan Podin dan bisa membelinya dengan harga yang murah.
Akhirnya, semuanya beres, semuanya selesai. Tentu Podin tersenyum gembira karena uangnya banyak lagi. Terlebih lagi, pasangan suami istri muda itu, laki-laki dan perempuan yang baru saja menikah tersebut, juga tersenyum lebar, karena mendapatkan ruko dengan harga yang murah. Pasti mereka akan segera membuka usahanya. Demikian halnya dengan Podin yang sudah menerima uang banyak, walaupun uang itu masih berada di dalam bank, tetapi setidaknya Podin tidak lagi kekurangan uang dan kantongnya sudah tidak kosong lagi.
"Pak Podin .... Jika Bapak tidak keberatan, mohon mau bersama kami untuk melihat ruko milik bapak yang dulu. Tentunya nanti kami akan meminya nasehat, kiranya Bapak Podin nanti mau memberikan pengarahan dan saran kepada kami." si laki-laki yang membeli rukonya, ingin mengajak Podin ikut ke ruko itu.
"Boleh .... Bisa ..., bisa ...." jawab Podin.
"Mari, Pak ...." ajak yang perempuan.
Dan akhirnya, Podin bersama dua orang suami istri pembeli rukonya, dan satu orang dari pihak kantor jasa pemasaran, mereka berempat menuju ke bekas ruko Podin. Tentunya naik mobil sendiri-sendiri. Sedangkan karyawan pemasaran itu hanya naik sepeda motor. Dan dalam beberapa menit saja, mereka sudah sampai.
Sesampai di ruko, Podin mengamati bekas ruko yang ia tinggali bersama Lesti dan keluarganya. Tentu ada rasa kecewa, ada rasa jengkel, dan juga rasa marah, jika ia ingat dengan peristiwa yang menyakitkan hatinya itu. Tetapi kini, ruko itu sudah kosong, sudah tidak ada orangnya, dan bahkan semua barang dan dagangan yang dulu dijual oleh Lesti sebagai usahanya, sudah tidak ada sama sekali. Dan ruko itu benar-benar sudah bersih.
"Ini kemarin sudah kami bersihkan, Pak Podin .... Yang kemarin memakai untuk jualan sudah pindah." kata laki-laki yang membeli ruko itu.
"Iya .... Bagaimana, ruko ini? Tidak ada masalah, kan ...?" tanya Podin setelah mereka berempat berdiri di depan ruko.
"Tidak, Pak .... Semuanya berjalan lancar." sahut laki-laki yang membeli rukonya.
Mendengar jawaban itu, tentu Podin senang. Pastinya Lesti tidak kesulitan untuk pindah. Memang semula Podin khawatir kalau Lesti dan keluarganya tidak mau pindah. Namun ternyata kata si pembeli tidak ada masalah dan lancar. Pikiran Podin pun kembali teringat waktu Lesti bersama laki-laki yang ada di dalam kamarnya, yang pembicaraannya sempat dikuping oleh Podin, Lesti akan dibelikan rumah yang lebih bagus dan tempat usaha yang lebih besar. Yah, Podin pun menganggap kalau Lesti beruntung dapat laki-laki yang kaya raya.
"Rencananya untuk usaha apa?" tanya Podin yang ingin tahu.
"Kami akan membuka usaha travel dan rental mobil, Pak." jawab laki-laki muda yang membeli rukonya itu.
Ya, memang jasa travel saat ini cukup menjanjikan. Demikian juga dengan rental kendaraan, rental mobil yang juga semakin ramai.
"Wah ..., ini sangat prospektif sekali .... Ini usaha yang bagus, anak muda. Saya setuju, saya mendukung, dan semoga usaha kalian berkembang dengan baik dan menghasilkan untung yang besar." kata Podin yang tentu berapi-api dengan semangat memuji niat usaha dari pasangan pengantin muda itu.
"Terima kasih, Pak Podin. Memang Kami sebenarnya sangat tertarik dengan ruko ini sejak awal, tetapi kebetulan saat kami menanyakan ke pengembang, mereka mengatakan kalau ruko yang dibangun di sini sudah habis terjual. Dan kebetulan, saya melihat info dari jasa pemasaran properti, ada yang menawarkan toko yang di tempat ini. Makanya saya langsung menanyakan, dan ternyata harganya malah lebih murah dari yang ditawarkan oleh pihak pengembang waktu itu. Makanya saya langsung tertarik dan langsung membelinya, Pak Podin." kata laki-laki itu, yang tentu sangat beruntung karena bisa membeli ruko milik Podin justru dengan harga yang murah.
"Ya ..., itu rezeki Anda. Dan saya yakin, nanti rezeki-rezeki selanjutnya akan datang terus, mengalir melalui usaha Anda, yang akan berkembang semakin besar." kata Podin kepada laki-laki yang membeli rukonya tersebut.
"Terima kasih, Pak Podin .... Memang kalau saya lihat, sebenarnya ruko Bapak ini sangat strategis. Dulu saya sempat kepikiran, kenapa Bapak malah menjualnya? Ternyata Pak Podin lebih senang usaha di Jakarta, yang uangnya lebih besar. Jika boleh tahu, Pak Podin di Jakarta usaha apa ya?" tanya laki-laki yang membeli rukonya itu.
"Kebetulan saya di Jakarta membuka usaha hiburan .... Ya, tempat karaoke .... Tetapi lumayan, yang penting bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup." jawab Podin.
"Wah ..., kalau tempat karaoke di Jakarta, pasti besar itu, Pak. Besik kalau saya ke Jakarta akan melihat tempat usaha Bapak." kata yang perempuan, yang pastinya juga tertarik dengan dunia hiburan seperti karaoke.
"Ya ..., silakan .... Saya tunggu kedatangannya. Nanti kalau ke Jakarta silakan mampir ke tempat karaoke saya." kata Podin yang tentu juga senang dengan para pembeli rukonya itu.
Namun waktu itu, saat Podin bersama dengan pasangan suami istri pembeli ruko tersebut, dan ditemani oleh seorang pegawai karyawan jasa pemasaran properti, saat masih berbincang, berada di depan ruko itu, tiba-tiba saja ada Bang Brewok yang datang menghampiri mereka. Ya, Bang Brewok alias Bang Kohar, yang dulu pernah membeli peti antik milik Podin, dalam bentuk seperti layaknya peti harta karun, yang dibeli dari Lesti, yang katanya itu adalah milik Podin. Berkali-kali si brewok itu mencari Podin, tetapi tidak pernah ketemu.
"Wuah ..., kebetulan sekali, Pak Podin .... Saya itu udah lama mencari-cari Pak Podin .... Akhirnya, hari ini ketemu juga ...." begitu kata Bang Kohar yang langsung menyalami Podin, dan tentunya juga menyalami tiga orang lain yang berdiri di depan ruko yang sekarang sudah dibeli oleh orang lain itu.
__ADS_1
"Maaf, Bang Kohar .... Sibuk di Jakarta ...." jawab Podin.
"Ini, ruko kok sering tutup, Pak Podin?" tanya Bang Kohar.
"Iya, Bang Kohar .... Ruko ini saya jual .... Saudara-saudari ini yang membelinya. Nanti akan digunakan sebagai tempat usaha travel dan rental mobil." jawab Podin sambil menunjuk dua orang pasangan suami istri yang membeli rukonya itu.
"Berarti, Pak Podin sudah tidak tinggal di sini lagi?" tanya Bang Kohar.
"Iya, Bang Kohar .... Saya pindah ke luar kota, ke Jakarta ...." jawab Podin.
"Ala mak .... Kehilangan tetangga ini aku ...." sahut Bang Kohar.
"Tidak lah, Bang Kohar .... Saya pergi, ada yang datang ...." sahut Podin.
"Gimana nanti aku mau beli rokok?" kata Bang Kohar seakan kecewa.
"Iya, Bang Kohar .... Ruko ini memang sudah saya jual .... Karena kurang menguntungkan. Dan saya akan konsentrasi untuk buka usaha dan membesarkan usaha yang ada di Jakarta. Kalau saya harus ke sana kemari setiap saat, capek, Bang Kohar .... Makanya saya akan memilih salah satu, dan akan membesarkan di salah satu tempat saja. Biar tidak capek, Bang Kohar." kata Podin yang menjawab pertanyaan Bang Kohar.
"Bagus itu, Pak Podin .... Saya setuju dengan pendapat Pak Podin. Dan semoga usaha Pak Podin yang ada di Jakarta semakin sukses.
"Terima kasih, Bang Kohar." jawab Podin boten yang senang didoakan agar sukses.
"Oh ..., iya, Pak Podin .... Saya itu mau tanya sesuatu sama Pak Podin ...." kata Bang Kohar, yang memang ingin menanyakan petinya kepada Podin.
"Masalah apa, Bang Kohar?" tanya Podin yang tentu ingin tahu.
"Bagaimana kalau kita bicara di rumah? Masalah yang ingin saya tanyakan ada di rumah ...." kata Bang Kohar, yang tentunya berniat mengajak Podin untuk ke rumahnya.
"Iya, Pak Podin .... Terima kasih sekali sudah rela meluangkan waktunya ...." jawab orang yang membeli rukonya.
Akhirnya, Podin meninggalkan tiga orang yang masih ada di depan bekas rukonya itu. Lantas ia berjalan bersama Bang Kohar, untuk menuju rumah kontrakan Bang Kohar. Rumah kontrakan Bang Kohar tidak jauh dari ruko itu. Dua orang itu berjalan bersama. Sambil berjalan, tentu Bang Kohar terus bicara.
"Pak Podin .... Saya ingin tanya terkait barang antik yang saya beli dari Pak Podin .... Yang waktu itu saya beli dari Teh Lesti ...." kata Bang Kohar kepada Podin, yang tentunya itu adalah peti harta karun yang pernah dibelinya saat oleh Podin ditaruh di toko dan ketahuan Bang Kohar.
"Oh ..., itu, Bang Kohar .... Emangnya ada apa?" tanya Podin ingin tahu.
"Kalau Pak Budi tidak tergesa untuk pulang ke Jakarta, saya mau ajak Pak Podin menginap di kontrakan rumah saya. Saya akan tunjukkan sesuatu, Pak Podin. Saya ada sesuatu untuk Pak Podin ...." kata Bang Kohar kepada Podin, yang tentunya ingin mengajak ngobrol dengan Podin. Dan pasti terkait dengan peti harta karun itu.
"Waduh .... Bagaimana ya, Bang Kohar ...? Jadi bingung, saya ...." kata Podin.
"Nah, ini rumah kontrakan sata, Pak Podin ...." kata Bang Kohar yang akhirnya mereka berdua sampai di rumah kontrakan, yang lantas membuka pintu rumah tersebut.
Sesampai di rumah kontrakan Bang Kohar, alangkah kagetnya Podin, saat melihat isi rumah kontrakan itu. Ternyata Bang Kohar memang seorang penggemar benda-benda antik, dan mungkin juga benda-benda keramat.
"Waaah .... Barang-barang ini punya Bang Kohar semua ...?! Walah .... Apa Bang Kohar di tempat seperti ini tidak takut? Melihat barang-barang kayak gini, barang-barang antik dan unik, dan kelihatan menyeramkan ini?" tanya Podin kepada Bang Kohar, yang tentu merasa seram saat masuk ke rumah kontrakan yang penuh dengan barang-barang antik itu.
"Hahahaha .... Pak Podin ..... Ini barang-barang kegemaran saya, Pak Podin. Ini memang hobi saya .... Saya rela tidak tidur bersama istri dan anak, saya rela pergi dan tidur sendirian, itu semuanya demi barang-barang ini, Pak Podin .... Demi benda-benda kesayangan saya ini, Pak Podin ...." kata Bang Kohar yang tentunya bangga dengan hobinya mengoleksi barang-barang antik.
Tentu Podin merinding menyaksikan barang-barang yang ada di dalam rumah kontrakan Bang Kohar tersebut. Ruangan yang penuh dengan benda-benda antik, tetapi terlihat sangat menyeramkan.
"Nah ..., lihat yang ini Pak Podin .... Ini peti antik yang saya beli dari Pak Podin .... Sudah saya rawat, sudah saya bersihkan, sudah saya kasih minyak wangi. Dan sekarang sudah kelihatan kinclong, Pak Podin." kata Bang Kohar sambil menunjukkan peti yang dulu dibeli dari ruko tempatnya Lesti.
__ADS_1
Podin pun terkesima melihat benda yang dulu sempat ia bawa, dan ternyata memang setelah dirawat oleh Bang Kohar, peti itu menjadi lebih bersih dan lebih kinclong. Podin sampai hampir tidak percaya kalau itu adalah peti miliknya.
"Wah ..., Bang Kohar ini luar biasa .... Benar-benar mengagumkan. Saya baru tahu kalau Bang Kohar itu ternyata adalah orang unik, orang antik, orang aneh yang suka dengan barang-barang seperti ini." begitu kata Podin sambil tersenyum kepada Bang Kohar.
"Nah ..., cuman ada persoalannya, Pak Podin .... Begini, Pak Podin .... Saya ingin tahu, Pak Podin mendapatkan peti antik ini dari mana?" tanya Bang Kohar kepada Podin, yang tentu menyebabkan Podin menjadi kebingungan untuk menjawabnya.
Namun Podin adalah orang yang pandai menyembunyikan rahasia. Ia juga pandai berpura-pura. Maka ia pun berusaha ingin menutupi asal muasal peti yang dibeli oleh Bang Kohar itu.
"Bang Kohar .... Peti itu saya juga tidak tahu asalnya dari mana .... Kala itu saya akan pergi ke Jakarta, saya tidak punya tas atau koper. Maklum, saya orang desa. Maka untuk menaruh pakaian, saya pakai peti itu. Pakaian saya masukkan ke dalam peti itu. Ya, anggap saja peti itu adalah sebuah koper. Karena saya memang orang desa yang tidak punya koper maupun tas yang pantas untuk menyimpan pakaian. Tapi terus terang, saya tidak tahu sebenarnya awal mula yang punya peti itu siapa. Saya hanya mengambil saja dari timbunan barang-barang bekas yang ada di balai desa. Waktu itu saya pikir peti itu milik para seniman yang pentas di balai desa. Karena itu pantas untuk saya pakai sebagai tempat pakaian, maka saya gunakan begitu saja." jawab Podin yang tentu dia berbohong untuk menutupi semua peristiwa dari asal muasal peti tersebut.
"Pak Podin .... Sebenarnya itu bukan peti sembarangan. Itu peti keramat ...." kata Bang Kohar yang mulai mengecilkan volume suaranya, dan membisikkannya di dekat telinga Podin. Ia menjelaskan kalau peti itu adalah keramat.
"Hah ...?! Masak ...?! Bang Kohar itu ada-ada saja .... Keramat bagaimana maksudnya?" tanya Podin ingin tahu yang dimaksud oleh Bang Kohar.
"Pak Podin .... Peti itu sebenarnya bukan peti sembarangan. Kalau boleh saya sebut, peti itu adalah peti keramat yang bisa menghasilkan kekayaan. Kalau orang yang punya peti ini serakah dan tamak, dia akan memanfaatkan peti itu untuk mengumpulkan kekayaan."kata Bang Kohar kepada Podin, sambil menegaskan kekeramatannya peti itu.
"Yang bener, Bang Kohar ...?! Bang Kohar ini mengada-ada .... Maksudnya bagaimana, Bang? tanya Podin kepada orang yang mengajak mengamati peti itu.
"Pada awalnya, saat saya beli peti ini, saya yakin kalau Pak Podin itu sukses bukan karena usaha banting tulang keras keringat saja, tetapi saya yakin saat Pak Podin membawa peti ini, ada arwah yang membantu Pak Podin untuk mencari rezeki." kata Bang Kohar dengan membisikan kata-kata yang semakin menakutkan Podin.
"Aah .... Bang Kohar itu loh, sukanya kok mengada-ngada." sahut Podin yang tentu tidak ingin melanjutkan bicara masalah itu.
"Bukan begitu, Pak Podin .... Tapi saya justru heran sama Pak Podin, kenapa peti ini dibiarkan begitu saja, bahkan boleh saya beli .... Apa Pak Podin ndak pernah tahu sama sekali apa sebenarnya isi dari peti itu?" begitu kata Bang Kohar yang kembali membisikkan kata-katanya kepada Podin, sambil matanya membelalak dan pasti brewoknya juga menjadi kelihatan semakin menakutkan.
"Saya tidak tahum Bang Kohar .... Saya belum pernah melihat kalau peti itu bisa menghasilkan kekayaan. Pokoknya waktu itu, saya hanya memakai peti itu sebagai tas, ibaratnya sebagai koper untuk menaruh pakaian saya." Podin tetap mengatakan kalau peti itu adalah memang ua gunakan sebagai tempat pakaiannya.
"Pak Podin .... Sekarang saya kasih tahu, kalau peti itu sebenarnya adalah peti keramat yang bisa dimintai bantuan untuk mendatangkan uang, memberikan kekayaan. Kalau saya mau kaya, kalau saya mau uang yang segudang banyaknya, saya bisa undang arwah yang ada di dalam peti itu, lantas saya suruh untuk mencarikan uang, untuk mencarikan kekayaan bagi saya." bisik Bang Kohar yang semakin menegaskan apa yang ada di dalam peti itu.
"Masak sih, Bang Kohar ...?! Memang bisa seperti itu?" tanya Podin yang kali ini benar-benar penasaran. Seandainya ia tahu, dan apa yang dikatakan oleh Bang Kohar itu benar, pasti dari dulu tidak akan repot-repot buka usaha. Hanya menyuruh arwah dalam peti itu, maka uang akan datang dengan sendirinya.
"Pak Podin tidak percaya .... Pak Podin tahu, apa yang menghuni di dalam peti itu?" tanya Bang Kohar kepada Podin.
"Tidak, Bang Kohar .... Memang ada apa? Kok sampai bisa mendatangkan uang?" tanya Podin yang mulai penasaran.
"Di dalam peti itu ada tuyulnya ...." kata Bang Kohar yang kembali memberi tahu kepada Podin, siapa sebenarnya yang menghuni peti tersebut.
"Tuyul ...?! Yang bener, Bang Kohar ...?!" Podin semakin penasaran, tentunya ia tahu bahwa tuyul adalah makhluk halus yang bisa diperintah untuk mencuri uang.
"Itu kalau saya mau berbuat jelek, kalau saya mau serakah ingin mendapatkan uang tanpa bekerja, maka tuyul itu bisa saya perintahkan untuk mencuri uangnya orang-orang." kata Bang Kohar yang tentu memberi gambaran kalau penghuni yang ada di dalam peti itu, yang berupa bocah kecil, yang oleh Bang Kohar disebut sebagai tuyul, bisa dimanfaatkan untuk mengambil uang orang lain dan akan menjadikan Bang Kohar kaya raya.
"Yang benar, Bang Kohar ...?!" Podin semakin penasaran. Tentunya ia ingin bisa kaya seperti yang dikatakan oleh Bang Kohar tersebut. Tentunya kalau yang dikatakan oleh Bang Kohar itu benar, Podin tidak perlu repot-repot bekerja, daripada harus susah-susah bekerja, cukup panggil saja itu tuyulnya, suruh nyari uang sebanyak-banyaknya. Pasti langsung kaya raya.
"Pak Podin tidak percaya .... Apa mau dibuktikan? Tapi harus menunggu tengah malam .... Jika mau bukti, Pak Podin tidur di sini, nanti malam kita melihat hasilnya." kata Bang Kohar yang tentu ingin meyakinkan kepada Podin.
"Bisa seperti itu, Bang Kohar? Kok kelihatannya sangat aneh dan ajaib begitu ...." tanya Podin yang semakin penasaran.
"Makanya, kita buktikan nanti malam ...." kata Bang Kohar yang tentu sebenarnya memaksa Podin.
"Baik, Bang .... Saya akan tidur di rumah Bang Kohar nanti malam." jawab Podin yang tentu ingin tahu dan membuktikan kata-kata Bang Kohar.
"Yakin ...?! Tidak takut melihat tuyul ...?" tanya Bang Kohar.
__ADS_1
"Yakin, Bang .... Demi saya ingin tahu kebenaran omongan orang-orang tentang tuyul." jawab Podin.