PULAU BERHALA

PULAU BERHALA
EPISODE 178: PENGAKUAN


__ADS_3

    Podin sudah sembuh. Sudah sehat dan sudah boleh pulang dari rumah sakit. Kata dokter dan para perawat, Podin hanya mengalami kurang darah. Setelah diinfus dan ditransfusi, tentu langsung bisa menambah darah yang dibutuhkan dalam tubuh Podin.


    Tentu Cik Melan tersenyum bahagia, menyaksikan suaminya yang kembali sehat. Apalagi menyaksikan suaminya yang bisa tersenyum, bahkan tertawa saat diajak bercanda. Tentu Cik Melan tidak sabar untuk segera mengajak suaminya pulang ke rumah. Katanya sudah bosan tidur di rumah sakit.


    Maka siang itu, Cik Melan langsung berkemas dan mengajak suaminya untuk pulang ke rumah. Dan setelah menyelesaikan seluruh urusan administrasi rumah sakit, mereka pun terus bergegas pulang. Dengan mengendarai mobil tua kesayangan Podin, yang disopiri oleh karyawannya yang setia ikut menunggui bosnya.


    Perjalanan Jakarta - Parung tidak terlalu lama. Perjalanan dari rumah sakit tempat Podin di rawat, hingga sampai di rumah Podin hanya butuh waktu sekitar satu setengah jam perjalanan. Dan tentunya, setelah sampai di rumah, Podin sudah disambut oleh beberapa warga yang ingin tahu keadaan dirinya.


    "Sudah sehat, ya ..., Pak Podin ...?" tanya beberapa warga yang tentunya berharap Podin benar-benar sehat.


    "Ya .... Syukurlah, sudah sembuh .... Sehat ...." jawab Podin pada tamu-tamunya yang berdatangan ingin tahu kabar beritanya.


    "Semoga Pak Podin sehat terus .... Tidak sakit lagi ...." kata para tamunya.


    "Aamiin ...." sahut Podin bersamaan dengan Cik Melan.


    Mereka pun langsung beramah tamah. Sambil ngobrol dan menikmati suguhan yang disajikan oleh Cik Melan. Ada banyak buah dan roti yang merupakan parcel atau bingkisan bawaan orang-orang yang membezuk Podin saart di rumah sakit. Tapi ada juga jajanan-jajanan dan minuman yang diambilkan dari toko sembakonya, bahkan juga jajanan yang beli di pasar.


    Memang, Podin maupun Cik Melan, sangat disenangi oleh para tetangganya. Selain orangnya dermawan, yang pasti Podin sudah banyak memberi kesempatan kepada warga kampung untuk mendapatkan pekerjaan, menjadi karyawan di tempat-tempat usaha milik Podin.


    Dan para tetangga itu berdatangan silih berganti menjenguk Podin yang baru pulang dari rumah sakit. Tentu saling bertanya jawab, saling bercerita, saling bersenda-gurau, bercengkrama hingga hari menjadi gelap. Dan Cik Melan pun lega, karena pastinya ia bisa istirahat. Demikian halnya dengan Podin, yang tentunya butuh istirahat yang cukup untuk pemulihan kesehatannya.


    Malam itu, di tempat tidur, sambil merebahkan tubuhnya, Cik Melan memijit-pijit tubuh suaminya. Tentuny sambil berbincang kecil, sebagai pengantar tidur.


    "Para tetangga kita orangnya baik-baik ya, Mah ...." kata Podin pada Cik Melan.


    "Iya .... Mereka sangat perhatian pada kita." sahut Cik Melan yang masih memijit punggung suaminya.


    "Kita mesti bersyukur ...." sahut Podin.

__ADS_1


    "Iya, Pah .... Dan mesti lebih bersyukur lagi karena Tuhan sudah menolong Papah ..., sudah menyubuhkan dari penyakit yang aneh pada tubuh Papah ...." kata Cik Melan yang tentunya sangat bersyukur karena suaminya sudah sembuh.


    "Betul, Mah .... Berhari-hari saya sakit .... Bahkan sampai bulanan. Berulang kali sakit, yang secara akal dan pengetahuan dokter belum bisa menemukan apa sebenarnya penyakit yang menempel pada tubuh saya ini." kata Podin yang merenungi sakit penyakit yang dideritanya.


    "Pah .... Yang namanya sakit itu bisa jadi sebagai ujian .... Seperti kisah Nabi Ayub itu .... Tuhan sedang menguji iman kita ...." jawab Cik Melan.


    "Iya, Mah .... Tapi bisa juga sebagai hukuman, Mah ...." sahut Podin.


    "Hukuman apa ..., Pah ...?" tanya Cik Melan yang ingin tahu alasan suaminya.


    "Yah .... Saya sudah terlalu banyak berdosa ...." jawab Podin sambil pandangannya menerawang ke angit-langit rumah.


    "Dosa apa ...?" tanya istrinya lagi, yang tentu ingin tahu.


    "Mah .... Dulu saya hidup bersekutu dengan iblis .... Mungkin itu hukuman yang diberikan oleh Tuhan kepada saya .... Mah .... Apakah saya pantas menjadi murid Yesus ...? Apakah saya akan diselamatkan oleh Allah ...?" tentu Podin merenungi nasibnya selama ini.


    "Maaf, Mah .... Mungkin ini tidak pantas saya katakan kepada Mamah .... Tetapi rasanya berat kalau saya pendam dalam hati." kata Podin yang kini menatap wajah istrinya.


    "Memang kenapa, Pah ...?" tanya Cik Melan yang jemari lembutnya langsung mengelus pipi suaminya.


    "Mungkin semua penyakit yang ada dalam tubuh saya ini kutukan dari iblis jahat yang selalu menghantui hidupku ...." kata Podin.


    "Iblis jahat ...? Iblis jahat seperti apa, Pah ...? Apa yang keluar dari gerhana kemarin dulu itu ...?" tanya Cik Melan yang semakin penasaran.


    "Yah .... Iblis penguasa Pulau Berhala ...." jawab Podin.


    "Iblis penguasa Pulau Berhala ...?!" Cik Melan penasaran.


    "Saya pernah meminta pesugihan kepada penguasa istana Pulau Berhala ...." jawab Podin dengan wajah yang tampak agak ragu-ragu. Tentunya khawatir kalau istrinya marah.

__ADS_1


    "Pah ....penguasa Pulau Berhala itu seperti apa? Kenapa menyakiti Papah terus menerus?" tanya Cik Melan yang tentu penasaran dengan cerita suaminya.


    "Saya tidak tahu yang sebenarnya .... Tetapi saat terjadi gerhana dahulu itu, saat tubuh saya diseret itu, ada para algojo istana Pulau Berhala yang menyeret dan melempar tubuh saya hingga jatuh di altar istana Pulau Berhala. Kala itu, seakan para ponggawa kerajaan itu menyeret bulan ke istana itu. Namun tiba-tiba, dari bulan yang diseret itu, muncul makhluk raksasa aneh yang mengerikan. Memakai sayap seperti kelelawar yang sangat besar, kakinya besar, kepalanya seperti naga, dengan mata yang menyala seperti bola api, dari hidungnya keluar asap panas, serta dari mulutnya juga menyemburkan api. Tangannya memegang tombak dengan tiga mata tombak yang tajam menakutkan. Makhluk jelmaan iblis itu mengancamku ...." cerita Podin yang terlihat ketakutan.


    "Mengancam bagaimana, Pah ...?" tanya Cik Melan, yang tentunya ingin membantu masalah yang dihadapi suaminya.


    "Dia menuntutku untuk memberikan persembahan .... Kalau tidak ..., pasti para algojonya akan mengejar-kejar hidupku .... Makanya ..., saya selalu sakit-sakitan ..., dan dokter tidak bisa menemukan penyakitnya .... Itu pasti penyakit dari iblis yang berkuasa di Pulau Berhala ...." kata Podin pada istrinya.


    "Jadi ..., selama ini Papah masih diteror oleh iblis itu ...?" tanya istrinya yang tentu penasaran dengan nasib suaminya.


    "Iya ..., Mah ...." jawab Podin lirih.


    "Ya ampun ..., Pah .... Kenapa Papah tidak cerita dari dulu ...? Apakah kita perlu minta pertolongan doa dari Pak Pendeta dan teman-teman jemaat lagi ...?" kata Cik Melan yang tentu langsung ingin meminta bantuan doa.


    "Tapi, Mah ....?!" Podin bingung. Pastinya ia tidak ingin erahasianya itu diketahui oleh orang lain.


    "Tidak apa-apa ..., Pah .... Demi keselamatan Papah ...." kata istrinya.


    "Tapi aku malu, Mah ...." sahut Podin.


    "Malu kenapa ...?!" tanya istrinya.


    "Ya ..., harta kita berasal dari iblis ...." kata Podin yang sudh sadar kalau kekayaan yang ia peroleh dari Pulau Berhala adalah tidak baik.


    "Ya, nanti bahasanya yang kita kemas sebaik mungkin .... Agar orang lain tidak mengetahui kasus yang terjadi. Yang jelas meminta doa keselamatan." kata Cik Melan pada Podin, agar suaminya mau didoakan kembali oleh pendetanya dan para jemaat gerejanya.


    "Yah ..., silahkan, Mah .... Bagaimana baiknya, saya pasrah." kata Podin yang sudah terlanjur bercerita.


    Tentu, Cik Melan tersenyum. Dan pastinya, ia memang ingin menyelamatkan suaminya dari jeratan iblis. Hanya pengakuan dosa kepada Tuhan, serta pertobatan saja yang bisa menyelamatkan Podin. Maka, doa-doa pertobatan itulah yang diyakini bisa membantu Podin, agar ia diselamatkan Tuhan Yesus Kristus.

__ADS_1


__ADS_2