
Malam itu, adalah malam bulan purnama. Podin berjalan dari kamarnya, menuju ke luar rumah kontrakannya. Di luar rumah, ia melihat bulan purnama yang baru saja muncul di langit timur, dengan warna merah merekah, seolah bulan itu diselimuti darah.
Podin teringat, di mana pada setiap malam bulan purnama, di Pulau Berhala pasti diadakan ritual korban persembahan. Ya, seperti halnya dua bulan yang lalu, Podin membawa anak jalanan yang diculik di perempatan jalan, dan anak perempuan kecil yang diculiknya itu ia korbankan di istana Pulau Berhala untuk persembahan bagi penguasa Pulau Berhala. Kala itu, persembahannya yang mengorbankan bocah itu menghasilkan banyak uang, menghasilkan banyak perhiasan, intan permata, serta koin-koin emas yang mengalir di dalam peti harta karun yang ia bawa pulang dari Pulau Berhala.
Podin menyaksikan bulan purnama yang berwarna merah itu, seakan ia menyaksikan tetesan darah anak yang dia korbankan. Anak yang ia tusuk dengan pisau belati bergagang mata berhala itu. Podin masih teringat ketika leher sang anak itu memancarkan cairan darah yang mengalir di atas batu persembahan. Kemudian kucuran darah itu menetes ke dalam peti harta karun, yang selanjutnya setiap tetesannya berubah menjadi perhiasan-perhiasan serta permata yang indah-indah itu. Namun saat Podin pemandangi bulan yang bulat bundar itu, tiba-tiba ia terhentak kaget. Dari cahaya bulan merah itu muncul sosok bayang-bayang anak manusia. Hanya terlihat seperti sebuah siluet seorang bocah. Podin mengamati secara seksama bayangan hitam yang seakan menutupi bulan itu. Ya, Podin ingat persis, siluet itu adalah bayangan bocak kecil anak jalanan yang ia culik. Anak jalanan yang ia korbankan di istana Pulau Berhala. Bayangan yang menutup bulan merah itu semakin terlihat jelas. Bahkan kini bukan sekedar bayangan yang terlihat, tetapi itu bocah yang hidup. Bocah yang berjalan. Bocah yang semakin terlihat nyata.
Podin ingat betul dengan apa yang dilihatnya itu. Podin ingat betul dengan gadis cilik yang pernah ia bawa ke Pulau Berhala, anak perempuan untuk dikorbankan di batu persembahan. Ya, bayangan itu sudah menjelma menjadi gadis cilik. Bayangan yang menutupi bulan tadi sudah berubah menjadi anak perempuan, anak jalanan yang pernah diculik oleh Podin, anak jalanan yang pernah diajak makan oleh Podin, anak jalanan yang pernah di belikan nasi dengan ayam goreng oleh Podin, anak jalanan yang pernah dijanjikan akan diajak berwisata di sebuah pulau dengan naik perahu oleh Podin. Gadis cilik itu, kini menampakkan dirinya lagi kepada Podin.
"Pak ...." begitu terdengar suara dari bayangan siluet yang menutupi bulan merah itu.
Bergetar hati Podin. Ia mulai ketakutan. Ia tahu persis suara anak itu. Dan yang baru saja memanggilnya, adalah benar-benar suara dari anak yang diajak Podin masuk ke istana Pulau Berhala. Suara yang memanggilnya dengan kata-kata "Pak" itu, adalah suara anak perempuan, gadis cilik yang bernama Dewi, bocah kecil yang diibaratkan sebagai anaknya sendiri.
Mata Podin menatap tajam ke arah bayangan gadis kecil yang seolah menutupi bulan purnama yang sedang menyembul dari langit timur itu. Pandangan Podin hanya tertuju pada anak kecil yang menutupi bulan. Semuanya tidak ada yang beda. Semuanya sama persis dengan gadis kecil yang ia culik dari jalanan, dan ia potong lehernya di atas batu kisaran, batu persembahan di istana Pulau Berhala.
Podin yang ketakutan, mulai melangkah perlahan. Podin mencoba, ingin menghampiri anak itu. Ia ingin memastikan, benarkah gadis cilik itu benar-benar anak yang ia korbankan di atas batu kisaran? Atau itu hanya bayangan ilusi dari poden saja, yang melihat samar-samar anak yang sudah terpotong lehernya itu?
Podin kembali mendekat, menuju ke arah anak itu. Namun tiba-tiba, Podin terkaget. Podin tambah ketakutan. Kaki dan tangan Podin menjadi gemetar. Ia pun langsung menghentikan langkah kakinya. Karena tiba-tiba saja, anak perempuan kecil itu sudah melepas kepalanya dengan kedua tangannya yang memegang kepala itu. Lantas tangan kecil itu menunjukkan kepalanya yang sudah terlepas dari badannya, yang seolah terasa ringan yang hanya dipegang dengan dua tangan kecil itu, lantas didekatkan ke arah Podin. Seakan tangan itu mau memberikan kepala yang dipegangi itu kepada Podin.
"Pak .... Lihat ini, Pak .... Kepalaku ini bagaimana, Pak ....?" anak perempuan kecil itu merintih, dengan tangan kecilnya membawa kepalanya sendiri yang sudah terpisah dengan tubuhnya.
Podin berhenti. Ia tidak lagi berani melangkahkan kakinya. Bahkan ia mulai mundur dari tempatnya berdiri. Podin benar-benar ketakutan. Di saat Podin mundur itu, justru anak perempuan yang masih kecil itu melangkah maju sambil tangannya memegang kepalanya, yang akan diserahkan kepada Podin. Kepala yang sudah terlepas dari badannya itu, kepala yang ditenteng dengan dua tangan kecilnya itu, seakan memang akan diberikan kepada Podin.
"Pak .... Tolong saya, Pak .... Kepalaku ini bagaimana, Pak ...? Pak .... Kepalaku terlepas dari leher, Pak .... Kepalaku tidak lagi menjadi satu dengan badanku, Pak ...." sambil merintih, dan menunjukkan kepala yang ada di genggamannya, bocah kecil itu terus maju mendekati Podin.
Podin yang ketakutan, ia terus melangkah mundur. Namun karena rasa takutnya yang semakin menjadi, Podin pun jadi grogi. Dan tiba-tiba ia terjangkang, jatuh ke belakang. Podin tidak bisa apa-apa lagi, karena dia sudah jatuh terlentang. Dengan menyaksikan anak yang menenteng kepalanya itu, yang terus melangkah maju menuju ke arah dirinya, dan memang anak itu seakan mau memberikan kepalanya kepada Podin, seakan anak itu mau meminta pertanggung jawaban kepada Podin tentang kepalanya yang sudah terlepas dari badannya itu.
Hanya tinggal selangkah, anak itu sudah bisa menggapai Podin.
"Ini, Pak .... Kepalaku bagaimana, Pak ...???" lagi-lagi, bocah perempuan kecil itu merintih menanya kepada Podin, tentang keadaan kepalanya.
Podin tidak bisa bergerak lagi. Ia hanya bisa menggerakkan kakinya, tetapi tidak bisa berjalan. Kaki itu seakan hanya mendorong-dorong tanah yang diinjaknya. Tangannya juga tidak bisa bergerak, seakan tangan itu hanya mencengkeram tanah tempat ia jatuh. Sementara itu, perempuan kecil yang menenteng kepala itu sudah hampir sampai ke tempat Podin terjatuh. Sudah sangat dekat, bahkan hampir menyentuh.
Podin mulai melihat ada tetesan darah dari potongan leher kepala yang dipegang oleh tangan-tangan kecil itu. Ya, benar. Itu tetesan darah. Darah yang terus menetes dari potongan leher itu, kini mulai mengenai kaki Podin. Tentu Podin sangat ketakuta, ia pun menjerit minta tolong.
"Tolong ........!!! Tolong ........!!! Tolong ........!!! Aih .... Ach .... Aught .... Tolong ........!!!" Podin berteriak keras, menjerit minta tolong. Tentu karena saking takutnya. Anak perempuan kecil itu sudah akan menjatuhkan kepalanya di dada Podin.
"Mas .... Bangun ...! Mas Podin .... Bangun ...!" Rina membangunkan suaminya yang mengigau.
__ADS_1
"Hah ...?! Tolong .... Aku takut .... Jangan ...!" Podin masih kebingungan, dan ketakutan.
"Mas Podin .... Bangun ...! Jangan mengigau, Mas ...!" Rina kembali menggoyang tubuh Podin, membangunkan suaminya yang masih mengigau terus.
"Hah ...?! Saya tidak apa-apa ...?" Podin mulai sadar.
"Mas Podin mengigau .... " kata Rina yang bisa menyadarkan suaminya.
"Saya tidak apa-apa, ya ...? Saya masih hidup, ya ...?" tanya Podin yang tentu masih kebingungan dan masih takut dikejar-kejar bocah yang meminta pertanggung jawaban kepalanya yang dipenggal oleh Podin.
"Ya ampun, Mas Podin .... Makanya ..., kalau matahari mau terbenam itu jangan tidur, Mas .... Pamali .... Ya ini akibatnya orang kalau tidur saat matahari terbenam .... Didatangi penjaga malam .... Didatangi demit, memedi, gendoruwo .... Mengigau sampai teriak-teriak kayak gitu ..., tetangganya mendengar semua." kata Rina yang membangunkannya. Beruntung istrinya pulang agak awal.
Podin bangun dari tidurnya, lantas duduk di pinggir tempat tidur itu. Pandangannya masih terbayang dengan perempuan cilik yang mendatanginya dalam mimpinya tadi. Ia termangu, memikirkan apa makna dari mimpi itu.
"Ini ..., minum dulu .... Biar adem ...." kata Rina, yang sudah memberikan segelas air dingin yang diambilnya dari kulkas.
Podin langsung menerima gelas itu, dan air satu gelas itu diminum sampai habis. Segar rasanya. Tenggorokannya pun lega. Lambungnya juga tenang, setelah terisi air dingin. Pikirannya juga kembali nyaman.
"Mimpi apa, Mas ...? Kok sampai teriak-teriak seperti itu .... Menakutkan orang saja ...." tanya Rina yang ingin tahu.
"Ada hantu .... Saya dikejar-kejar hantu ...." jawab Podin yang masih termangu dengan mimpinya tadi.
"Iya ..., Rina .... Apakah ini malam purnama?" tanya Podin pada istrinya.
"Betul, Mas .... Itu, bulannya barusan naik .... Bulat ..., bundar ..., dan besar ...." kata Rina sambil tangannya menunjuk ke luar rumah.
Podin bangkit dari duduknya di tempat tidur. Lantas ia beranjak keluar. Menengok ke langit timur. Dan benar, Podin menyaksikan bulan purnama yang baru sejengkal tingginya. Dan seperti yang ia saksikan dalam mimpinya tadi, bulan purnama kali ini, berwarna merah, seakan bulan itu terbalut darah. Podin termangu menyaksikan bulan yang merah itu.
"Ada apa, Mas?" tanya Rina yang menyusul ke pintu depan.
"Bulan itu kok berwarna merah, ya ...." kata Podin yang juga berdiri di dekat pintu, sambil memandang ke arah bulan purnama yang masih terlihat besar itu.
"Itu namanya Blood Moon, Mas Podin ...." sahut Rina.
"Blood Moon ...? Apa itu ...?" tanya Podin pada istrinya.
"Blood Moon itu suatu fenomena bulan yang tampak berwarna merah seperti darah." jelas Rina, yang mungkin juga mendengar informasi itu dari orang-orang yang makan di warung Bu Hendro.
__ADS_1
"Kenapa bisa terjadi seperti itu, ya ...?" tanya Podin, yang memang tidak paham dengan hal-hal semacam itu. Maklum, Podin hanyalah orang desa, yang hanya lulusan SD, dan tidak pernah bergaul dengan orang-orang pintar. Hanya saja ia menjadi orang kaya dadakan. Kelihatannya saja sok intelek. Padahal tidak paham sama sekali dengan ilmu apapun. Gayanya mengaku teknisi, padahal tidak tahu masalah peralatan apapun. Ia dulu hanya seorang kuli bangunan, dan masih mendapat predikat pemalas.
"Waduh ..., tidak tahu, Mas .... Katanya sih, ini nanti akan terjadi gerhana bulan." kata Rina pada suaminya.
"Gerhana bulan ...?" tanya Podin.
"Iya .... Nanti, pas tengah malam .... Itu kata siaran berita di TV ...." sahut Rina.
Podin terdiam. Ia masih termangu menyaksikan bulan yang merah itu. Dalam benaknya, ia berfikir, benarkah ini pertanda bahwa darah yang mengalir di batu kisaran, tempat korban persembahan itu ikut menetes membasahi bulan? Benarkah bulan merah itu pertanda akan ada darah yang berhenti di batu persembahan, karena nanti malam akan terjadi gerhana? Atau justru di istana Pulau Berhala tidak ada pesta persembahan, karena bulan purnama akan menjadi gelap saat terjadi gerhana? Podin menduga-duga. Tentunya ia juga ingin tahu rahasia dibalik bulan merah darah itu.
"Mas ..., ayo makan dahulu .... Ini tadi dikasih sayur sama lauk oleh Bu Hendro ...." kata Rina yang mengajak suaminya untuk makan.
"Iya, Rin ..., sebentar ...." sahut Podin yang masih saja memandangi bulan purnama yang terlihat aneh itu.
"Nanti keburu berangkat kerja ...." kata Rina mengingatkan.
"Saya akan di rumah saja, Rin .... Saya tidak akan berangkat kerja .... Badan saya agak kurang enak." kata Podin yang beralasan. Kerja apaan, orang selama ini Podin juga tidak bekerja.
"Lhah ...?! Sakit, ya ...? Saya belikan obat, ya ...." kata Rina yang tentu sangat perhatian dengan suaminya.
"Tidak usah .... Saya mau istirahat saja ...." jawab Podin.
"Ya sudah ..., sini masuk. Jangan di luar saja .... Nanti tambah sakit ...." kata Rina yang tentu menyuruh suaminya segera masuk.
"Iya ...." sahut Podin.
Podin hampir saja beranjak masuk, saat ia sekali lagi menatap rmbulan merah itu. Namun betapa kagetnya Podin, saat akan melangkah masuk, tiba-tiba saja pandangan matanya menatap sosok bocah perempuan kecil yang mengenakan rok lusuh, berdiri di depan pintu masuk rumah kontrakannya. Podin terhentak seketika. Kaget dan takut. Ya, bocah yang dilihatnya itu adalah anak yang dikorbankan di atas batu persembahan di istana Pulau Berhala.
Podin langsung melompat masuk ke rumah, dan langsung menutup pintu rumahnya. Nafasnya tersengal-sengal, karena ketakutan.
"Ada apa lagi, Mas ...?" tanya Rina.
"Tidak apa-apa .... Nanti aku minta dikeroki, ya .... Biar masuk anginnya hilang." jawab Podin yang gemetarm dan langsung duduk berhadapan dengan istrinya, yang bersiap untuk makan.
"Iya .... Makanya kalau kerja malam itu pakai jaket .... Biar tidak masik angin." sahut Rina.
"Iya, Rin ...." kata Podin yang sebenarnya ketakutan melihat hantu bocah perempuan kecil yang menemuinya di depan rumah.
__ADS_1
Rembulan merah malam itu, menjadi saksi datangnya bocah yang dikorbankan oleh Podin di atas batu persembahan di istana Pulau Berhala.