
Podin jadi mencoba juru pijat jari lentik. Ya, percobaan orang dewasa. Percobaan untuk hidup berumah tangga. Tentu Podin senang. Podin merasakan kenikmatan luar biasa dari tukang pijat yang memberikan ramuan istimewanya.
"Bagaimana, Om?" tanya perempuan itu.
"Ah, kamu benar-benar hebat ...." jawab Podin.
"Mau nambah lagi juga boleh, Om ...." kata perempuan itu.
"Memang boleh nambah lagi ...?" tanya Podin yang tentu langsung hingar bingar.
"Pasti boleh, lah ..., Om ...." jawab perempuan itu.
"Trus ..., kalau nambah, yang dipijit apanya lagi ...?" tanya Podin mencoba menggoda.
"Diulangi dari awal lagi, Om ...." jawab perempuan itu, yang tangannya sudah memulai memegang-pegang bagian tubuh Podin.
Namun alangkah kagetnya Podin, saat ia memandangi perempuan yang ada di dalam kamar bersamanya itu, yang tidak lain adalah juru pijat jari lentik dari panti pijat tempat Podin tadi berpijat, yang kemudian perempuan itu mengajak Podin untuk melakukan percobaan perkawinan di dalam kamar hotel. Wanita itu ternyata wajahnya benar-benar mirip dengan Maya. Ya, Maya istri sirinya dulu. Podin menatap perempuan itu secara seksama. Tentunya ia heran dan bertanya-tanya dalam batinnya, benarkah perempuan itu Maya? Kenapa perempuan ini bisa sama persis dengan Maya, istri sirinya yang sudah ditinggal di Pulau Berhala?
Lantas Podin yang masih duduk di atas kasur hotel itu, kembali mengamati sekujur tubuh perempuan yang ada di hadapannya itu. Iya, memang benar-benar sama seluruhnya. Perempuan yang bersamanya di kamar hotel itu benar-benar mirip persis dengan Maya. Tapi benarkah perempuan ini adalah Maya?
"Ayo ..., Bang .... Kenapa Abang berhenti? Ayo, Bang .... Kita terusin lagi ..., kita ulangin berkali-kali ...." begitu kata perempuan itu yang meminta kepada Podin untuk melanjutkan pijatannya.
Tentu Podin ingat persis kata-kata yang sering diucapkan oleh Maya saat bermesraan di dalam kamarnya. Bahkan juga di hotel-hotel mewah yang sering ia kunjungi, saat acara weekend, di mana Maya selalu meminta untuk berlibur di tempat-tempat romantis, di hotel-hotel yang mewah dengan harga yang mahal. Ya, Podin ingat benar dengan kebiasaan Maya. Kata-kata itu semuanya adalah kata-kata Maya. Apalagi panggilannya pada Podin, perempuan itu sudah memanggilnya dengan sebutan "Bang", memanggilnya dengan kata-kata "Abang". Itu kata-kata Maya, bukan kata-kata tukang pijit yang semula memanggil dirinya dengan kata-kata om.
Maka Podin kembali mengamati wanita itu. Sekujur tubuhnya diamati. Ya, benar, wanita itu benar-benar Maya, istrinya yang sudah beribu kali memberikan kenikmatan pada dirinya.
"Maya ....!!! Maya ....!!!" teriak Podin yang ketakutan.
"Abang .... Ayo ..., sini, Bang ...." sahut perempuan yang mendekat kepada Podin.
"Apakah kamu Maya ...?! Benarkah kamu Maya ...?!" kata Podin yang tentu ketakutan dengan perempuan juru pijat jari lentik itu. Podin menghindar dari perempuan yang tadinya sudah memberikan kenikmatan kepada dirinya.
"Abang ..... Ayo kita lanjutkan ...." perempuan itu seakan ingin kembali mengajak Podin bergumul.
__ADS_1
"Tidak ...!! Tidak ...!!" Podin kembali berteriak. Tetapi kali ini, perempuan itu benar-benar menakutkan bagi diri Podin.
"Hihihihi .......!!!" perempuan itu mengikik, tertawa mengejek Podin.
Perempuan itu terus bergerak mendekati Podin. Matanya memandang tajam ke arah Podin, dan dua tangannya diangkat, seakan dua tangan itu sudah mengarah ke leher Podin, dan akan mencengkeram leher Podin. Ya, perempuan itu tidak lagi menjadi juru pijat, tetapi tangan itu benar-benar seakan-akan mau mencengkeram leher Podin.
Tentu Podin semakin ketakutan. Podin semakin menjauh dari perempuan itu, dan berusaha untuk menghindari terkaman perempuan yang kini wajahnya sudah berubah menjadi pucat pasi tersebut.
"Hihihihi .......!!! Hihikqkqik ....!" perempuan itu kembali tertawa mengikik, menakutkan.
"Tidak ...!! Jangan ...!!" Podin kembali berteriak ketakutan, sambil tangannya dihalangkan ke wajahnya.
"Jangan takut, Om .... Ini saya, Om .... Ada apa, Om ...?! Kenapa, Om ...?!" kata perempuan juru pijat itu yang kebingungan dengan sikap Podin yang seakan ketakutan dengan dirinya.
"Tidak ...!! Jangan ...!! Ampuni saya ...." Podin masih menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Ia masih ketakutan.
"Om ..., kenapa ...?! Ada apa, Om ...?! Kok kelihatannya ketakutan?" kata perempuan juru pijat itu, yang sudah memegangi Podin. Tentu perempuan itu juga kaget, karena menyaksikan Podin berteriak-teriak seakan ketakutan, seperti ada sesuatu yang mengganggu dirinya.
"Om ...., Om ini ada apa? Om ini kenapa?" tanya perempuan itu kepada Podin yang tentunya masih diselimuti rasa takut.
Podin masih terdiam. Ia bingung dan takut campur jadi satu. Bahkan tangannya beberapa kali masih digunakan untuk menutupi wajahnya.
"Kenapa Om, memanggil-manggil nama Maya ...? Saya bukan Maya, Om .... Nama saya Lesti." kata perempuan juru pijat itu, yang kemudian menyebut namanya dengan panggilan Lesti.
"Benar, kamu bukan Maya?!" tanya Podin pada perempuan itu, yang tentunya penasaran dengan apa yang tadi dilihatnya.
"Iya, Om .... Nama saya itu Lesti .... Bukan Maya. Memangnya ada apa dengan Maya, Om? Siapa Maya itu, Om?" tanya juru pijat jari lentik itu kepada Podin, yang tentunya dia juga ingin tahu dengan nama wanita yang baru saja disebut-sebut oleh Podin dan membuat diri pasiennya itu ketakutan.
"Syukurlah, kalau kamu memang bukan Maya .... Ya ..., saya khawatir. Saya takut ...." kata Podin yang mulai mempercayai kalau perempuan yang bersamanya itu bukan Maya.
Mungkin saja itu hanya halusinasi atau bayangan dari rasa takut Podin terhadap Maya, sehingga saat Podin melihat perempuan cantik yang mungkin potongan rambut atau badannya, bahkan mungkin juga bau keringatnya yang sama dengan Maya, sehingga seakan-akan perempuan itu nampak seperti Maya.
"Memang, Maya itu siapa, Om?" tanya perempuan itu lagi, yang masih penasaran dengan sikap pasiennya tadi yang benar-benar ketakutan.
__ADS_1
"Maya .... Dia itu dulu istri saya .... Tetapi sudah meninggal bersama dengan anaknya sesaat setelah anaknya lahir." begitu jawab Podin yang tentu dia akan menyembunyikan rahasianya, dan dia pun berbohong kalau istrinya mati saat melahirkan anaknya.
"Ya ampun ..., Om .... Saya ikut bersedih, Om .... Saya ndak menyangka, Om .... Maafkan saya, Om." begitu kata perempuan itu yang menyesali dengan apa yang ditanyakan kepada pasiennya.
"Tidak apa-apa, siapa tadi namamu, Lesti, ya?" sahut Podin yang sudah kembali tenang.
"Iya, Om .... Lesti." jawab perempuan itu yang kemudian memanja dengan menyandarkan kepalanya di bahu Podin, yang tentu tangan perempuan itu masih memijit-pijit pada bagian badan Podin.
"Iya .... Terima kasih, Lesti .... Saya selalu ketakutan dengan bayang-bayang arwah istri saya. Saya ketakutan, kalau sedang bermesraan dengan wanita lain, seakan Maya itu menjelma di situ, menjadi wanita yang bermesraan dengan saya." kata Podin yang tentu ingin meyakinkan kalau dirinya masih terbayang-bayang dengan istrinya, Maya.
"Sebegitunya ya, Om .... Berarti Om ini sangat mencintai dan sayang sama istrinya. Ya, syukurlah ada laki-laki yang setia pada istrinya, sehingga dia selalu terbayang dengan istrinya. Bersyukur ada laki-laki seperti itu. Saya juga mendambakan, semoga punya suami yang seperti itu." kata perempuan itu yang semakin memanja kepada Podin.
"Mendengar kata-kata itu, mendengar apa yang disampaikan oleh wanita itu, seakan Podin mulai terbuai oleh jerat asmara dari wanita yang sekarang sudah menempelkan kepala di dadanya. Ya, pasti ini adalah jerat asmara wanita yang ingin mendapatkan kasih sayang dari Podin.
"Tidak apa-apa .... Saya maklum ..., saya juga menyadari. Tapi entah kenapa bayang-bayang Maya masih saja menghantui diriku. Maya seakan selalu hadir dalam setiap kali saya mendekati wanita, dan wanita yang saya dekati itulah yang seakan-akan dia menjelma menjadi istri saya." kata Podin yang juga membual pada si juru pijat itu.
"Pasti istri Om dulu cantik .... Saya tahu, karena Om tidak bisa melupakan istrinya. Pasti istrinya itu aduhai dan pasti selalu memanjakan Om." begitu kata perempuan itu, yang kini tangannya sudah mengelus-elus dada Podin. Ya, wanita ini sudah memberikan harapan baru kepada Podin.
"Boleh dikatakan istri saya dulu memang cantik. Makanya, sekarang ini hidup saya sepi tanpa seorang wanita yang mendampingi. Saya tidak punya siapa-siapa. Saya tidak punya istri. Saya tidak punya keluarga. Ke sana kemari, saya hanya seorang diri. Apalah artinya hidup kalau tidak punya siapa-siapa, tidak punya tempat untuk curhat, tidak punya papan untuk bersandar, tidak punya seorang kekasih yang bisa diharapkan untuk memberikan kasih sayang." begitu kata Podin yang sebenarnya juga ingin memikat perempuan yang memicu dirinya kembali bergairah.
"Tapi kalau merasa sepi begitu, kenapa Om tidak mau menikah lagi?" tanya perempuan itu mulai memancing keinginannya.
"Yah ..., bagaimana saya mau menikah lagi? Saya ini sudah tua, siapa yang mau dengan diri saya? Sementara saya tidak punya pekerjaan, saya tidak punya penghasilan, saya juga hidup sebatang kara tanpa ada siapa-siapa." kata Podin yang juga mulai menjerat hati wanita yang sudah menyandar pada tubuhnya itu.
"Saya mau, Om ...." begitu tiba-tiba perempuan itu berkata kepada Podin. Tentunya wanita itu setidaknya juga butuh tempat menyadarkan kasih sayang, walaupun ia seorang juru pijat jari lentik yang terkadang bisa dibawa oleh siapa saja, tetapi seperti yang dikatakan oleh Podin tadi, kalau usia sudah tua, siapa lagi yang bakal mau mendekat? Siapa lagi yang bakal mau diajak berrumah tangga? Mungkin ini adalah kesempatan bagi Lesti, perempuan juru pijat yang paling tidak bisa hidup tentram berrumah tangga bersama seorang laki-laki. Dan kini, ketika ia mendengar curhatan Podin, mungkin inilah kesempatan untuk merubah nasibnya.
"Apalah artinya saya .... Saya khawatir nanti kamu kecewa." begitu kata Podin berpura-pura merendah. Padahal sebenarnya Podin sudah berharap, perempuan itu bisa menjadi miliknya.
"Tidak apa-apa, Om .... Kalau memang Om mau, saya bersedia menjadi istri Om. Dan setidaknya kita bisa memulai hidup baru, Om .... Kita bisa hidup bersama membangun rumah tangga yang baru. Itu kalau Om mau. Kalau saya bersedia menikah dengan Om ...." begitu kata perempuan itu yang kembali jemari tangannya sudah mengelus-elus Podin lagi, yang tentunya itu adalah gerakan-gerakan refleksi untuk membangunkan daerah tertentu. Dengan keadaan seperti itu, dengan cara seperti itu, pasti Podin tidak bisa melawan emosi jiwanya.
Ya, Podin hanyalah seorang laki-laki yang tentu butuh kasih sayang, yang tentu butuh pelampiasan emosi jiwanya, maka saat diperlakukan seperti itu oleh seorang wanita cantik itu pasti Podin langsung tidak karuan. Podin berusaha membalas apa yang dilakukan oleh si juru pijat tadi.
Mereka berdua sudah masuk dalam jeratnya masing-masing.
__ADS_1